Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 32 (Perempuan di sudut ruangan)


__ADS_3


Vanessa duduk menikmati sinar mentari pagi di gazebo penginapannya, di temani roti panggang dan satu gelas coklat panas yang dia pesan. Matanya menatap lurus lautan di depannya. Pikirannya tidak karuan akibat berdebat dengan Nathan semalam.


Ada keraguan yang menyelimuti hatinya karena ucapan Nathan, dia memang yakin Nathan pasti bisa hidup kembali, tapi Nathan bilang kesempatan dia hidup kembali hanya 10 persen. “Apa yang harus aku lakukan?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa.


Vanessa menghela nafasnya, dia tidak mungkin membuat Nathan terkurung di dunia karena menjadi arwah penasaran. Meskipun nanti dia harus kehilangan Nathan untuk selamanya setidaknya itu lebih baik dari pada bisa bersama namun di dunia yang berbeda.


“Aku lanjutkan pecarian ini, bagaimana pun hasilnya nanti setidaknya aku sudah berusaha,” ucap Vanessa yakin. Dia meminum coklat panas nya dan masuk ke dalam kamarnya. Mengambil tas kecil miliknya.


Vanessa mengedarkan pandangannya mencari sosok Nathan, namun sejak dia bangun hingga sekarang Nathan tidak muncul di hadapan Vanessa. “Nathan,” panggil Vanessa lembut.


Vanessa terkejut sekaligus gembira saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang, lagi-lagi dia harus menormalkan detak jantungnya karena ulah Nathan.


“Ayo kita harus menemukan siapa pelakunya,” ajak Vanessa seraya melepaskan tanggan Nathan di pinggangnya.


Namun Nathan menolak melepaskan pelukannya, “Lebih baik kita nikmati liburan ini lalu pulang,” ucap Nathan lembut.


“Tidak Nathan, kita harus membuat kamu kembali pada ragamu, kamu harus hidup,” ucap Vanessa yakin.


“Apa kamu rela jika aku harus mati?” tanya Nathan.

__ADS_1


Vanessa merasakan sakit di hatinya mendengar ucapan Nathan, jujur dia tidak sanggup kehilangan Nathan. “Aku tidak pernah rela kalau kamu harus pergi, tapi aku yakin kamu pria kuat dan akan kembali kedalam pelukanku sebagai Nathan yang bisa dilihat banyak orang.”


Vanessa merasakan Nathan yang melepaskan pelukannya, dan berjalan mendahuluinya. “Nathan pasti bisa hidup kembali,” yakin Vanessa menyemangati dirinya.



Vanessa berjalan mengikuti Nathan, menatap pepohonan yang berjejer rapi menemani perjalanan mereka. Dia tidak biasa berjalan jauh seperti ini, tubuhnya terassa lelah, Vanessa memilih duduk sebentar di akar pohon.


Nathan yang tidak mendengar langkah kaki Vanessa pun membalikan tubuhnya, melihat Vanessa yang sedang duduk di akar pohon sambil memegang botol minum yang isinya tinggal setengah. Nathan menghampiri Vanessa, “Lemah kamu, baru juga setengah jalan,” ledek Nathan.


Vanessa melempar botol minumnya ke tubuh Nathan, dia semakin kesal saat melihat botol itu melayang mengenai tubuh Nathan tapi Nathan tidak merasakan sakit sedikitpun, “Aku lupa dia kan arwah,” batin Vanessa kesal. 


“Masih lima kilo meter lagi,” jawab Nathan santai.


“Apa masih lima kilo meter lagi ?” tubuh Vanessa rasanya ingin ambruk ke tanah mendengar fakta tempat pembunuhan Nathan yang masih sangat jauh. Melirik jam di pergelangannya sudah menunjukan pukul dua belas siang, namun matahari tidak terlalu menyinari perjalanan mereka karena rimbunnya pepohonan sepanjang perjalanan mereka.


Rasanya Vanessa sudah kehabisan tenaganya, dia memilih duduk dan memakan snak yang dia bekal di tasnya.


Nathan hanya diam memperhatikan Vanessa yang terlihat kelelahan, dan sedang mengisi tenanganya dengan makanan yang memenuhi mulutnya. Sebenarnya Nathan tidak setuju dengan keputusan yang Vanessa ambil, tapi tidak bisa dia pungkiri Nathan juga ingin hidup dan bisa memiliki Vanessa seutuhnya.


Setelah merasa tenanganya kembali Vanessa kembali berjalan mengikuti arahan Nathan. Tidak jauh dari tempat peristirahatannya tadi ada sebuah bangunan tua yang tampak tidak terawat dan sudah di tinggalkan puluhan taun oleh pemiliknya, “Apa ini bangunan peningalan belanda?” tanya Vanessa pada Nathan.

__ADS_1


“Mungkin iya,” jawab Nathan asal. Sebenarnya dia pun tidak tau menau soal bangunan di depannya.


“Tapi betul di sini tempatnya?” tanya Vanessa memastikan.


“Iya betul.”


Vanessa memasuki rumah tersebut dengan perlahan, dia melihat boneka di dekat jendela. Entah apa yang di pikirnya dan dia mendekati jendela tersebut, rasa penasarannya muncul dengan perlahan Vanessa mengambil boneka itu.



“Simpan kembali!” 


“Kenapa?” tanya Vanesa penasaran.


Tiba-tiba bulu kuduknya merinding, saat Nathan menunjuk sudut ruangan, “Dia tidak suka barangnya di setuh orang lain,” ucap Nathan dingin dengan pandangan lurus.



Refleks Vanessa melempar boneka itu hingga jatuh ke kakinya.


Nathan melihat wanita itu ingin mencekik leher Vanessa, dia marah karena Vanessa melepar barang miliknya, “Simpan kembali ke tempatnya!”

__ADS_1


__ADS_2