
“Memangnya siapa yang mau menikah sama kamu?” tanya Vanessa sambil memeluk Nathan.
“Emang gak mau?” tanya Nathan.
“Engga tau.”
Vanessa memang terlalu muda untuknya namun Nathan sudah jatuh cinta pada wanitanya. Nathan akan menunggu sampai Vanessa siap untuk menikah dengannya.
“Kita pulang yah,” ajak Nathan.
“Kenapa pulang?”
“Aku harus segera kembali ke ibu kota, Niko sudah menggerutu mengenai pekerjaan yang menumpuk di kantor.”
“Yaudah yuk pulang, tinggal lurus aja ikutin jalan.”
“Kalau nanti ke ibu kota hubungi aku yah,” ucap Nathan.
“Oke.”
Sesampainya di rumah Vanessa Nathan memarkirkan motornya dan turun. Di pandanginya wanita cantik di hadapannya yang terlihat cantik, “Aku pulang dulu yah,” ucap Nathan dan mengecup kening Vanessa.
Vanessa memejamkan matanya saat Nathan mengecup keningnya, “Hati-hati,” ucap Vanessa sambil melambaikan tangannya pada Nathan yang masuk ke mobil hitam yang parkir di pinggir jalan. Setelah kepergian Nathan, Vanessa masuk ke rumahnya tampak empat orang teman Riko yang sedang berdiskusi mengenai laporannya.
Vanessa hanya tersenyum pada mereka dan berjalan menuju kamarnya, dia tidak ingin mengganggu adik dan teman-temannya. Sore itu Vanessa lebih memilih merebahkan tubuhnya di kasur, dan memejamkan matanya untuk segera tidur, setelah menangis tadi rasanya mata Vanessa lelah.
***
Vanessa terbangun dari tidurnya saat Riko memukul kakinya, “Apa sih de?” tanya Vanessa tanpa membuka mata. Memang kebiasaan adiknya itu jika membangunkan pasti memukul-mukul kaki dan Vanessa sudah tau itu tanpa harus membuka mata.
“Teteh itu di suruh papa bangun katanya,” ucap Riko.
__ADS_1
“Iya teteh bangun bentar,” Vanessa bangkit dari tidurnya, dengan mata yang belum terbuka sempurna.
“Jangan lama yah, ade lapar tadi ayah bawa ikan,” ujar Riko sambil melangkah pergi meninggalkan kamar Vanessa.
Setelah kesadarannya pulih Vanessa berjalan menuruni anak tangga, dia melihat papanya yang sedang menerima telpon sementara Riko fukus pada layar ponselnya. Vanessa memilih cuci muka terlebih dahulu baru memasak. Acara makan malam berjalan seperti biasa, setelah makan Riko memilih masuk ke kamarnya, “Mungkin ini saatnya,” batin Vanessa.
“Nathan kemana teh? Enggak main?”
Vanessa menggelengkan kepalanya, “Tadi sore mampir sebentar tapi langsung pamit mau pulang, banyak kerjaan di kantor katanya.”
“Pah,” panggil Vanessa.
“Iya kenapa teh?”
“Ibu,” Vanessa sengaja menggantungkan ucapannya, dia ingin melihat reaksi yang di tunjukan Papanya.
Papanya Vanessa berusaha memperlihatkan senyuman pada anaknya, “Kenapa tanya soal ibu teh?”
“Rasanya teteh udah dewasa Pa, teteh pingin tau alasan ibu ninggalin kita?” tanya Vanessa sambil menatap mata papanya, wajahnya yang terlihat sedih mendengar pertanyaan Vanessa.
Vanessa diam, dia menunggu jawaban dari pertanyaannya. Ternyata papanya malah balik bertanya, “Kalau menurut teteh, alasan ibu pergi ninggalin kita karena apa?”
“Karena papa bangkrut, setelah pindah rumah teteh sering liat ibu sama papa bertengkar,” jawab Vanessa mengungkapkan pikirannya.
“Ibu orang baik teh … ibu ninggalin kita bukan karena papa bangkrut.”
“Lalu karena apa?” tanya Vanessa.
“Ada pria kaya yang menyukai ibu, dan orang tua ibu merasa senang atas apa yang pria itu berikan. Apalagi setelah kita jatuh miskin papa tidak bisa mengabulkan keinginan orang tua ibu ….”
Vanessa menatap papanya, dia masih menunggu kelanjutan cerita dari papanya. Saat itu dia memang masih kecil, Vanessa tidak pernah tau tentang hubungan oma dan kakeknya dari ibu, setelah perusahaan papa bangkrut Vanessa tidak pernah lagi main ke rumah oma dan kakeknya.
__ADS_1
“Entah ada perjanjian apa yang membuat ibu berani melakukan gugatan cerai pada papa. Alasan papa tidak mencegahnya pergi saat perpamitan pada kalian karena papa tau apa yang di lakukannya bukan tanpa alasan … ibu pasti tau yang terbaik untuk kita … meski ayah tidak rela ibumu bersama orang lain tapi papa juga tidak ingin wanita yang papa cintai merasa tertekan hidup sederhana dengan papa, apalagi oma dan kakek selalu mendekatkan pria itu dengan ibu … saat ibu pergi papa tau, ibumu berat meninggalkan kita. Papa masih bisa melihat rasa tidak rela di wajah ibumu saat meninggalkan kita, meskipun surat gugatan cerai telah ada di tangan papa tapi papa masih bisa merasakan cinta dan kasih sayangnya pada kita lewat tatapan matanya.”
Ini untuk pertama kalinya Vanessa melihat tetesan air mata milik papanya, selama ini papanya selalu bersikap baik-baik saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan setelah ibu pergi papa selalu ada untuk aku dan Riko, papa sangat perhatian pada kami meskipun papa lelah bekerja Karena pulang malam, tapi papa tidak pernah mengeluh jika harus bangun pagi menyiapkan sarapan untuk kami. Saat pengambilan rapot semester papa selalu datang untuk mengambilnya, tanpa rasa malu padahal hanya papa seorang pria yang mengambil raport untuk anaknya karena seluruh teman sekelasnya di ambil oleh ibunya bukan papanya.
“Sekarang ibu di mana pa?” tanya Vanessa, dia ingin bertemu ibunya dia ingin meminta maaf karena telah berburuk sangka pada ibunya. Dia kira ibunya pergi karena tidak mau hidup sederhana setelah perusahaan papanya bangkrut.
“Papa tidak tau, terakhir papa dengar saat kamu masuk SMK ibu pergi bersama oma dan kake untuk tinggal bersama suaminya di luar negri,” lirih Papa.
Vanessa menghambur kepelukan papanya, dia baru tau kalau papanya sangat terpukul karena kepergian ibu. Vanessa sempat membenci papanya dia berpikir kalau papa yang mengusir ibu karena setelah ibu pergi Vanessa tidak bisa bertemu lagi dengan ibu, namun melihat perhatian papa padanya dan Riko membuat Vanessa tidak bisa membenci papanya. Apalagi melihat papa yang banting tulang bekerja kesana kemari untuk memberi kehidupan yang layak untuknya dan Riko.
“Vanessa sayang sama papa, maafin teteh karena sempat membenci papa, teteh benci karena papa gak bisa bawa ibu pulang dan kembali bersama kita.”
“Kamu gak salah sayang, maafin papa karena tidak bisa menjaga perusahaan dengan baik, membuat ibu pergi dari kita dan membawa kalian hidup sederhana seperti sekarang.” Vanessa merasakan pelukan papanya yang semakin erat.
“Teteh tidak masalah hidup sederhana seperti ini, justru teteh sangat berterimakasih atas kerja keras papa untuk membiayai kuliah teteh.”
“Itu sudah kewajiban papa untuk menyekolahkan teteh … udah yah jangan nangis,” papa melepaskan pelukannya, menghapus air matanya lalu menghapus air mata Vanessa.
“Terima kasih karena papa udah jadi papa dan ibu untuk Riko dan teteh,” ucap Riko di lantai dua dengan air mata yang menetes ke lantai.
“Anak laki-laki harus kuat gak boleh nangis A,” ucap Papa sambil tersenyum pada Riko.
Riko turun menghampiri kami dan memeluk papa. Melihat adiknya yang memeluk papanya Vanessa pun memeluk mereka berdua.
“Papa beruntung punya anak-anak yang hebat seperti kalian,” ucap papanya sambil memeluk erat Riko dan Vanessa.
***
Bab ini khusus jawaban kepergian ibunya Vanessa yah, sekian kisah dari ibunya Vanessa author tidak ingin memperpanjang jadi bab selanjutnya kita fokus pada Vanessa yah.
Author jadi kangen sama bapak nulis bab ini, udah 3 bulan gak ketemu beliau
__ADS_1
Oh iya author jadi ingin curhat sedikit, author mau kasih alasan kenapa author gak bisa kaya penulis lain yang upnya itu sehari lebih dari dua bab. Jadi ini karya kedua author, author ingin memberikan yang terbaik setiap bab nya, author tidak ingin asal up saja karena author belajar dari kayra sebelumnya yang author kebut dan jalan ceritanya amburadul, author gak pinggin kalian pergi dari cerita ini. Sudah cukup di tinggalkan readers itu sungguh menyakitkan apalagi komentar nya sangat menyayat hati author.
Jadi mohon bersabar ya jika author Cuma up satu bab, author ingin memberikan karya terbaik untuk kalian. Author tidak ingin kalian pergi karena ceritanya jadi garing atau membosankan. Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan sarannya, tapi jangan kaya boncabe level 30 yah hihi 😁