Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Jadilah Suami dan Ayah yang Hebat!


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah Pak Abdul. Mereka berdua berjalan ke kediaman Hanif dengan raut wajah sumringah penuh kepuasan, karena semuanya sudah menemukan titik terang. Kini tubuh Melvin mulai terasa sakit, kantuk mulai menyerangnya. Mereka berdua memutuskan untuk tidur terlebih dahulu di rumah Hanif sebelum pulang ke Pondok Pesantren Al-Muttaqin.


Kumandang Adzan Dzuhur membangunkan mereka. Lemas di tubuh Melvin mulai terasa, suhu tubuhnya semakin naik, dengan tubuh menggigil. Mukanya terlihat pucat pasi bagai tak dialiri darah. Dua kakinya sulit digerakkan karena sakit, karena terlalu jauh menempuh berjalan tadi malam.


“Bang, tubuh abang panas sekali!” Kaget Hanif ketika kulit tangannya bersentuhan dengan kulit Melvin. Hanif bangun dari ranjang dipan yang terbuat dari kayu lapuk lalu memegang dahi Melvin yang terbaring disisinya. Melvin membuka matanya perlahan walaupun sulit, ia berusaha  menghiraukan rasa sakitnya, karena kebahagiaannya tak sebanding dengan rasa sakit itu.


“Abang gak papa. Mungkin abang hanya kecapean. Setelah Shalat Dzuhur kita pulang ya ke Pesantren. Abang harus bersiap-siap untuk pulang, untuk berpamitan dengan Buya, Umi, dan para santri.” Melvin pun bangun dengan di bantu Hanif. Ia duduk sebentar sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk berwudhu. Hanif memandang wajah Melvin dengan pandangan penuh keraguan.


“Abang yakin? Kondisi abang tidak meyakinkan! Apa abang kuat untuk berjalan ke dermaga?” Melvin pun memandang ke sekeliling kamar Hanif yang dindingnya terbuat dari bambu. Lalu ia melihat kearah jendela zaman dulu yang memperlihatkan pohon bambu di luarnya.


“Inn Shaa Allah abang kuat Nif. Abang cuma demam sama pusing kepala doang. Kamu nanti gandeng abang lagi ya, kaki abang sakit.” Pinta Melvin yang kembali menatap Hanif yang sedang memandangnya lalu menganggukkan kepalanya.


“Kaki Abang pasti sakit, karena tak terbiasa jalan jauh. Kalau aku sih udah biasa. Nanti aku pasti gandeng abang lagi kok.” Jawab Hanif sambil tersenyum. Melvin pun mengusap kepala Hanif dengan lembut, setiap mengusap kepalanya, seakan mengingatkannya akan sosok Jonathan, calon adik iparnya.


“Makasih Nif.”


Melvin dengan tertatih-tatih berjalan ke kamar mandi yang berada di belakang rumah, ia berusaha melawan rasa sakitnya untuk menunaikan kewajiban yang diperintahkan Tuhan-nya.


Setelah shalat Dzuhur, mereka langsung berangkat kembali ke Pesantren Buya Hanafi. Cuaca panas tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap melangkah menuju dermaga yang terlihat ramai hari itu.


-


Setelah shalat Ashar Melvin berjalan menghampiri Buya dan Umi yang sedang duduk di ruang tengah. Mereka berdua nampak sedang mengobrol ringan sambil menonton ceramah yang ada di televisi. Melvin duduk di kursi kayu yang berada di samping mereka berdua.


“Buya, Umi. Saya ingin berpamitan dengan kalian berdua. Terima kasih telah menolong saya, terima kasih untuk segala kebaikan kalian selama ini. Maaf, saya tak bisa membalas kebaikan kalian satu persatu, hanya Allah yang mampu membalasnya.” Buya Hanafi dan Umi Fatimah pun saling pandang. Mereka belum paham dengan apa yang diucapkan anak angkatnya tersebut. Melihat kebingungan di wajah mereka berdua, Melvin pun melanjutkan ucapannya.


“Buya, Umi. Saya harus pulang ke Surabaya. Saya harus pulang ke tempat asal saya, walaupun hati saya berat meninggalkan kalian. Tapi tak ada jalan lain, banyak orang yang menunggu saya disana, ada seseorang yang membutuhkan kehadiran saya. Saya harap Buya dan Umi mengizinkan saya untuk pulang.” Umi Fatimah  menggeser posisinya lebih dekat dengan Melvin. Ia mengusap lembut wajah pucat putra angkatnya, dengan mata berkaca-kaca.


“Secepat ini kamu akan pergi Nak? Walaupun umi berat melepaskan mu, tapi umi akan berusaha ikhlas. Karena kehidupan mu yang sebenarnya bukan disini, tapi disana. Umi tak punya alasan untuk tetap menahan mu.” Melvin pun tersenyum haru sambil menganggukkan kepalanya. Matanya pun nampak berkaca-kaca, karena ia harus pergi meninggalkan Buya dan Umi yang begitu baik padanya.


“Saya janji. Setelah Meida sadar, saya akan membawanya kesini menemui Buya dan Umi. Saya akan memperkenalkannya pada kalian. Umi, Buya jangan khawatir, Inn Shaa Allah nanti saya akan sering berkunjung kesini.” Melvin menghapus air mata di wajah keriput Umi Fatimah yang sedang memandangnya dalam sambil mengelus kepalanya. Buya pun menggeser posisinya lalu duduk di samping Melvin.


“Apa kamu yakin akan pulang Nak? Buya khawatir dengan kondisi mu. Wajahmu sangat pucat, suhu tubuhmu panas. Buya takut terjadi apa-apa dengan mu di perjalanan, apalagi kamu akan menempuh perjalanan jauh,” Melvin pun menolehkan kepalanya kearah Buya yang sedang memandangnya dengan sendu. Ia lalu menggenggam tangannya.

__ADS_1


“Buya tak perlu khawatir. Teman saya akan menjemput saya kesini. Mungkin malam ini mereka akan tiba.” Melvin menjawab kekhawatiran di wajah Buya. Ia melihat kesedihan di mata lelaki paruh baya yang menyimpan banyak cinta dan ketulusan.


“Mereka menjemputmu menggunakan apa Nak? Tak mungkin bisa cepat-cepat kesini. Jarak dari sini ke kota pun memakan waktu hampir 10 jam, belum ke bandaranya. Mungkin akan memakan waktu selama 3 hari.” Buya belum mengetahui kalau Melvin akan di jemput menggunakan helikopter. Ia menyangka melvin akan melakukan perjalanan darat lalu udara.


“Mereka langsung menjemput saya menggunakan helikopter Buya. Palingan mereka landing di lapangan di dekat dermaga. Karena hanya helikopter kendaraan yang aksesnya paling mudah dan cepat masuk ke kampung ini. Buya, Umi, maukah kalian ikut saya ke Surabaya? Saya ingin memperkenalkan kalian sebagai orang tua saya.” Buya dan Umi pun saling pandang. Lalu menggelengkan kepalanya. Mereka tak mungkin pergi ke Surabaya. Jika mereka pergi, siapa yang akan mengurus Pondok Pesantren yang muridnya hampir 100 itu.


“Maaf Nak. Umi dan Buya tidak bisa ikut dengan mu. Jika Buya dan Umi ikut ke Surabaya, bagaimana dengan para santri disini. Mereka masing membutuhkan bimbingan kami.” Buya menggenggam tangan Melvin yang raut wajahnya nampak terlihat kecewa. Umi menepuk lembut bahunya sambil tersenyum.


“Kami hanya bisa mendoakan mu semoga selamat sampai tujuan. Nanti sering-seringlah main kesini, bawalah istri dan keluarga mu. Buya dan Umi menunggu kedatangan mu. Jangan pernah melupakan kami, dan memutuskan tali silaturahmi diantara kita.”


“Walaupun kamu bukan anak kandung kami, kami sangat menyayangi mu Nak.” Tutur Umi Fatimah yang sudah menangis. Melvin pun tak tega melihatnya.


“Tak mungkin saya melupakan orang sebaik kalian. Buya dan Umi tidak ingin menyaksikan saya menikah? Inn Shaa Allah, jika Allah meridhoi niat saya. Besok adalah hari pernikahan saya. Saya ingin Buya dan Umi melihat hari paling bersejarah dalam hidup saja.” Pinta Melvin dengan wajah memelas memandang mereka bergantian. Buya Hanafi menganggukkan kepalanya dengan mengelus lengan Melvin.


“Sebenarnya kami ingin Nak, tapi kami tak bisa meninggalkan adik-adik mu disini. Tanggung jawab kami sangat besar Nak. Buya dan Umi hanya bisa mendoakan, semoga pernikahan kalian lancar tak ada halangan, dan menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.” Do'a Buya sambil mencium kening Melvin sebagai bentuk rasa kasih sayangnya.


“Aamiin. Baiklah jika itu keputusan Buya dan Umi, saya menghargainya.” Putus Melvin dengan berlapang dada.


“Umi, apa umi masih menyimpan pakaian yang saya kenakan waktu pertama kali datang kesini?” Umi Fatimah berjalan ke kamarnya untuk mengambil pakaian melvin yang disimpannya. Ia membawa lipatan  sweater dan Jeans warna hitam lalu diberikan pada Melvin.


“Terima kasih Umi.”


-


Setelah shalat isya Melvin menggunakan pakaiannya lengkap. Dengan penampilan kasual yang biasa ia kenakan ketika masih berada di Surabaya. Biasanya disini dia hanya memakai celana kain hitam dan koko warna coklat, kini ia memakai celana Jeans dan sweater berwarna abu-abu yang membalut tubuh tinggi tegapnya. Di depannya nampak Buya Hanafi dan Umi Fatimah sedang memberikan wejangan sebelum kepergiannya.


“Nak sebelum kamu pergi Buya hanya ingin berpesan, “Teguhlah dengan keimanan mu, walaupun banyak masalah berdatangan. Karena IMAN adalah segala-galanya, miliki satu hal ini, maka kita akan menaklukan apa saja.” Buya menepuk-nepuk pundak Melvin dengan lembut.


“Jangan mencari Tuhan karena kamu butuh jawaban. Carilah Tuhan karena kamu tahu bahwa Dia-lah jawaban atas pertanyaanmu itu.”


Melvin menganggukkan kepalanya mencerna ucapan Buya Hanafi yang matanya menyiratkan banyak kesedihan.


“Baik Buya. Melvin akan selalu mengingat semua ucapan Buya. Do'akan Melvin agar tetap istiqamah dengan keimanan Melvin.” Jawab Melvin dengan perasan harunya. Buya Hanafi dan Umi Fatimah pun mengaminkan ucapannya.

__ADS_1


“Nak, pesan Umi. Menikahlah dengan wanita yang memiliki hati tulus dan kebaikan hati. Wanita yang tidak takut mencintai dan dicintai. Seorang wanita yang bisa mandiri, tetapi juga menghormatimu. Dia tidak berjalan di depanmu atau di belakangmu, tetapi dia berjalan di sampingmu, menggandeng tanganmu, saling menopang dalam suka dan duka.” Lirih Umi Fatimah. Melvin pun terdiam memikirkan perkataannya, ia menemukan semua yang Umi Fatimah katakan, semuanya berada pada diri Meida.


“Jika wanita itu lucu dan bisa membuatmu tertawa, pilihlah dia. Jangan nikahi wanita yang terlalu serius dengan hidupnya, karena hidupmu juga akan kacau. Tapi nikahilah wanita yang mau tertawa dan bercanda denganmu, karena hidup kadang terlalu keras, kamu butuh teman untuk tertawa bersama.” Melvin pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Rasanya ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Meida walaupun keadaannya masih koma.


“Inn Shaa Allah Umi, Melvin sudah menemukan sosok yang umi sebutkan berada pada diri Meida, calon istri Melvin. Inn Shaa Allah dia wanita yang tepat untuk hidup Melvin.” Tutur Melvin yang diangguki kepala takdzim oleh Umi Fatimah dan Buya.


“Jika kamu sudah menemukan wanita seperti itu, selalu ucapkan terima kasih padanya dan berikan dia cinta, setiap hari. Karena seorang istri adalah harta paling berharga untuk berbagi hidup denganmu. Hormati dia dan dukung apapun impiannya. Selalu utamakan kompromi, namun jangan biarkan impian pernikahan kalian tersesat.” Nasihat Buya Hanafi yang disahuti oleh istrinya dengan suara parau,


“Jika kamu sudah menemukannya, jadikanlah dirimu sebagai suami dan ayah terhebat. Ingat! Anak-anak tidak menuruti apa yang kamu katakan, tetapi meniru apa yang kamu lakukan” Umi Fatimah kembali menghapus air matanya. Rasanya perpisahan dengan Melvin terasa semakin dekat.


Buya Hanafi berjalan kearah kamarnya untuk mengambil sebuah buku. Lalu buku itu ia berikan pada Melvin sebagai kenangan darinya. Buya Hanafi meletakan buku itu di tangannya dengan tatapan sendu,


“Nak, ketahuilah bahwa istrimu nanti adalah tulang rusukmu yang telah kamu temukan, sebagaimana tulang yang membangun badanmu, maka lindungi dia dengan darah dan dagingmu.


Nak, bahwasanya istrimu adalah penyeimbang dalam kehidupanmu, maka dengarkanlah dia, berikan perhatian kepadanya tiap saat sehingga dia akan selalu merasa dihargai.


Nak, kamu adalah pemimpin keluarga kecilmu kelak, jadilah imam yang arif, bijaksana serta pintar, niscaya keluarga kecilmu akan merasakan kedamaian yang luar biasa.” Mata Melvin pun berkabut mendengar Nasihat Buya Hanafi yang begitu dalam menyentuh hatinya. Ia pun menerima buku itu lalu memeluknya erat.


“Assalamualaikum Buya, Umi.” Hanif masuk ke dalam rumah setelah mengetuk pintu. Umi pun menolehkan kepalanya kearah Hanif yang sudah berdiri di depan mereka.


“Ada apa Nif?” Tanya Umi Fatimah pelan. Hanif mengalihkan pandangannya kearah Buya dan Melvin yang sedang menangis sambil berpelukan. Lalu ia kembali menatap wajah Umi Fatimah dengan segan,


“Umi, di gerbang Pesantren ada orang bule yang nyari bang Faris.”


-


☕☕☕☕☕☕☕


Pokoknya like, vote, rate, komen sama hadiahnya jangan lupa.


Maaf yah baru up, disini hujan sama petir.🙏


Hatur nuhun buat yang masih setia di novel receh ini♥️♥️♥️

__ADS_1


Gomawooo😘😘😘😘


__ADS_2