Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Cemburu


__ADS_3

“Kupu-kupu tidak akan pernah tahu apa warna sayap mereka, tapi orang tahu bagaimana indahnya mereka. Seperti juga diri mu ... Engkau tidak tahu bertapa indahnya dirimu, tapi Allah tahu bagaimana istimewanya diri mu di matanya.” Melisa tersenyum membaca note kecil mang tertulis di dashboard mobil Jack. Ia mengusap tulisan tangan itu dengan jari lentiknya.


Jack memang berbeda dengan lelaki lain, aku semakin mengaguminya.


Yah, seperti biasa.  Bila Jack sedang menunaikan kewajibannya, Melisa dengan setia menunggu di dalam mobil. Kebetulan sekali sore ini, mereka berdua pulang bersama menuju hotel yang masih ditempati oleh keluarga Nagara dan Atmadja untuk mengambil barang mereka masing-masing.


“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.” Note selanjutnya yang Melisa baca di bawah note tersebut. Dengan pelan Melisa mengambil note itu lalu memasukkan ke dalam kantong jas birunya.


Dia sangat pandai menyusun kata-kata yang sangat menyentuh hatiku. Dia seorang lelaki baik dan taat dalam beragama. Andai saja keyakinan dia sama seperti ku, mungkin aku tak perlu berpikir ulang untuk memilihnya. Ishhh Melisa jangan berandai-andai, apa yang sebenarnya kau pikirkan?” Melisa membentur-benturkan kepala ke pintu mobil seraya memegang dadanya.


Kamu hanya mengaguminya bukan mencintainya! Jangan berlebihan!


Melisa mengarahkan matanya kearah perantaran Masjid yang di duduki beberapa orang yang sedang membuka ataupun yang mengenakan sepatu. Ia tertegun melihat kearah Jack yang sedang tersenyum lepas bersama dengan seorang lelaki paruh baya yang sedang memegang jenggot putihnya dengan abaya berwarna coklat. Mereka nampak terlihat akrab, dan sangat dekat.


Apa yang membuatnya sampai tersenyum lepas seperti itu? Senyuman Jack sungguh menawan dan menenangkan. Apa yang Jack bicarakan dengan lelaki tua itu? Di lihat dari interaksinya, sepertinya mereka cukup dekat.


Gumam pelan Melisa yang masih memperhatikan Jack yang sedang memakai sepatu sambil menyauti ucapan lelaki paruh baya yang duduk di sampingnya. Ia kembali mengalihkan pandangannya, ketika melihat Jack yang sedang berjalan kearahnya dengan tersenyum lebar.


“Maaf membuat mu menunggu lama.” Melisa merapatkan bibirnya dengan menganggukkan kepala. Lalu menyampingkan kepalanya kearah samping.


“It’s okey, no problem.” Jack mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum. Ia langsung duduk di belakang kemudi kemudian menyalakan mesin mobilnya. Ia melajukan mobil miliknya pelan, meninggalkan parkiran masjid tersebut menuju jalan raya. Ia nampak senyum-senyum sendiri seraya mengusap- usap dagunya.


“Kenapa kamu senyum-senyum? Sepertinya kamu sedang bahagia?” Jack masih memfokuskan matanya kearah depan dengan menggelengkan kepalanya.


“Seperti biasa. I' m very happy everyday.” Melisa menolehkan kepalanya dengan tersenyum simpul. Ia menyandarkan kepalanya ke jok mobil, dengan melipat tangannya. Ia penasaran apa yang membuat lelaki disampingnya itu tersenyum tak jelas seperti orang gila.


“Tadi aku melihat mu tertawa lebar dengan kakek-kakek di pelantaran Masjid. Apa yang kalian bicarakan sampai seperti itu? Biasanya kamu paling cuek jika bertemu dengan orang asing.” Jack mengerucutkan bibirnya dengan menggaruk-garuk kepala. Ia menoleh sebentar kearah Melisa dan kembali fokus mengemudikan mobil.


Berarti dia memperhatikan saya sejak tadi. Batin Jack dengan menggesek-gesek tangan kehidungnya.


“Kakek-kakek tadi namanya Pak Abdul, saya sering bertemu dengannya di kajian Ustadz Zhaf. Kebetulan barusan kami bertemu disini, karena Pak Abdul  sedang  mengunjungi Putri bungsunya yang rumahnya di sekitar pelantaran masjid tersebut.” Jawab Jack dengan santai tanpa mengalihkan pandangannya. Melisa mendengarkan jawaban Jack dengan seksama, ia kembali menolehkan kepala kearahnya dengan mengerutkan dahinya.


“Apa yang kalian obrolan kan sampai tertawa seperti tadi?” Jack mengernyitkan dahinya dengan terkekeh. Ia mengusap kepala Melisa dengan lembut.


“Ternyata seorang Melisa kepo juga haha. Kami hanya mengobrol biasa, bercanda dan membuat lelucon hingga kami tertawa bersama seperti tadi.” Melisa mencebikkan bibirnya dengan menepis tangan Jack yang sedang mengacak-acak rambutnya. Ia tak percaya dengan jawaban yang diucapkan Jack. Ia melihat kearah Jack dengan wajah yang bertumpu pada sebelah tangannya.


“Aku hanya penasaran Jack, itu saja. Tell me! Aku hanya ingin mendengarnya, obrolan apa yang membuat seorang Jack tertawa lebar.” Jack mengerutkan bibirnya dengan mengetuk-ngetuk telunjuk di atas kemudi. Kemudian ia melirik sebentar kearah Melisa.

__ADS_1


“Baiklah, saya akan menceritakannya pada mu. Pak Abdul tadi ingin menjodohkan saya dengan Putrinya yang lulusan dari Al-Azhar. Putrinya itu belum pernah pacaran, dan Pak Abdul menginginkan saya menjadi menantunya.” Sahut Jack dengan tersenyum lebar tanpa melihat kearah Melisa. Senyum Melisa seketika menghilang ketika mendengar jawaban dari Jack, ia membuang pandangannya ke samping dengan dada yang tiba-tiba bergemuruh.


“Dan kau bahagia setelah menerima tawaran darinya?” Jack menahan tawa ketika mendengar nada suara Melisa yang tiba-tiba berubah menjadi ketus. Entah apa yang dipikirkannya, ia hanya ingin membuat Melisa cemburu.


“Maybe. Tapi saya terlebih dahulu harus bertemu dengannya, biar tahu perangainya seperti apa. Karena kamu pasti tahu,  wanita yang saya idam-idamkan adalah wanita yang sederhana, lembut, dan keibu-ibuan. Dan saya berharap dia wanita seperti itu.” Melisa langsung mengatur nafasnya dengan cemberut. Ia tak sadar, tingkatnya dari tadi tak lepas dari pandangan Jack.


Kenapa aku yang kepanasan ketika Jack menceritakan wanita lain? Melisa, ada apa denganmu? Jangan jadi wanita bodoh! Ahh, Tuhan. Kenapa perasaanku tak karuan seperti ini. Batin Melisa seraya memejamkan matanya.


“Semua wanita juga pasti keibu-ibuan dan lembut. Jika kau mau, aku akan mengantarkan mu bertemu dengannya. Sepertinya kau sudah terpesona dengan putri kakek tua itu, hingga kelakuan mu mirip seperti orang gila kayak gini.” Ketus Melisa tanpa berani melihat wajah Jack.


Jack pun yang sedang mengemudikan mobilnya tersenyum lebar dengan sebelah tangan menutup mulutnya.


Sepertinya dia cemburu. Tapi mana mungkin dia cemburu? Orang dia tak menyukai saya. Jack kau jangan geer, mana ada seorang Melisa Nagara menyukai mu. Sadar diri, itu mustahil! Tapi, kenapa hati saya merasakan sebaliknya?


Batin Jack yang kembali melirik kearah Melisa.


Tak ada salahnya, jika saya memanas-manasinya. Saya hanya ingin tahu responnya seperti apa.


Jack menarik nafasnya dan kembali menatap kearah jalanan.


“Dengan senang hati, saya akan mengajakmu bertemu dengannya. Dan kau tahu? Wanita itu ternyata bekerja di rumah sakit yang sama dengan saya. Dan mungkin setelah ini saya akan sering menemuinya.” Sahut enteng Jack dengan menyunggingkan sebelah bibirnya.


Yaa Tuhan, kenapa perasaanku sakit begini ketika mendengar Jack akan bertemu dengan wanita lain. Kenapa hatiku rasanya tak rela? Apa yang sebenarnya kurasa? Ya Tuhan, kenapa dengan hatiku? Kenapa ungkapan mulut dan hati berlainan?


“Melisa, kenapa kau diam? Kau baik-baik saja?” Melisa terlonjak kaget ketika Jack menepuk bahunya. Ia mengelus-ngelus dada dengan mengatur nafasnya.


“Emm... aku baik-baik saja!” Jawabnya dengan berusaha tersenyum.


“Jadikan kamu nganter saya bertemu dengan wanita itu?” Melisa membulatkan matanya malas. Ia kembali melipat tangannya dengan menyampingkan tubuhnya membelakangi Jack.


Aku tak sudi mengantar Jack bertemu dengan wanita itu! Aku bukan wanita bodoh!


“Aku berubah pikiran. Aku tak ingin mengantarmu bertemu dengan wanita itu! Aku banyak kerjaan, aku tak ingin membuang waktu ku dengan percuma. Menjadi obat nyamuk diantara kalian.” Jack menghentikan mobilnya ke pinggir jalan. Ia memegang bahu Melisa dengan wajah yang pura-pura memohon.


“Ayoolahh ... antar saya menemui wanita itu. Atau kamu takut kalah saing dengan wanita itu? Antar saya  yah! Please!” Melisa menepis tangan Jack yang mengguncang sebelah bahunya dengan kesal.


“No! Aku gak mau!” Jack langsung membalikkan tubuh Melisa untuk menghadapnya. Ia mengangkat wajah Melisa dengan lembut untuk melihat kearahnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu marah-marah? Apa kamu cemburu? Kenapa nada suaramu tiba-tiba ketus seperti ini?” Melisa membuang muka kearah samping. Ia ingin mengubah posisi duduknya, tapi Jack menahan kedua bahunya hingga ia tak bisa bergerak sedikitpun


“Ishhh siapa yang cemburu. Apa peduliku?” Jack pun terkekeh seraya menyentuh wajah Melisa agar kembali melihat kearahnya. Ia menatap dalam wanita yang kini berada didepannya dengan tersenyum,


Melisa menelan salivanya kasar, ia dapat dengan jelas melihat wajah Jack yang begitu menawan dengan senyum manisnya.


Yaa Tuhan, kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini? Kenapa wajahku rasanya memanas? Wajahnya ... wajahnya sangat menawan, aku.. aku sungguh terpesona. Batin Melisa yang diam kaku dengan membelalakkan mata.


Jika seperti ini, wajah Melisa sangat menggemaskan. Rasanya aku ingin mencium pipi merahnya itu. Ahh Jack, apa yang kau pikirkan? Buang pikiran kotor mu itu. Gumam Jack dalam hati dengan spontan melepa kedua tangan yang memegang bahu Melisa.


“Yakin kamu tak cemburu? Kalau pun kamu cemburu, malah itu jauh lebih baik.” Melisa langsung membulatkan mata menatap Jack sampai tak berkedip. Ia tak mengerti maksud dari perkataan lelaki yang kini duduk disampingnya.


“Maksudmu?” Jack mengangkat kedua bahunya. Ia kembali melajukan kemudinya dengan tersenyum. Wajahnya pun sedikit memerah, namun ia berusaha menutupinya dengan pura-pura cool.


-


“Kapan rencana bulan madu kalian?” Tanya Nagara kepada pasangan di depannya yang sedang menyuapkan cemilan ke mulut mereka sambil menonton televisi. Melvin mengunyah cemilannya seraya melirik kearah istrinya.


“Iya, kapan koko berangkat buat honeymoon?” Melisa lantas mengambil beberapa makanan ringan yang berada di meja lalu memakannya. Ia menatap seksama kearah pengantin tersebut dengan mengangkat sebelah alisnya.


“Honeymoon nya di tunda dulu pih, nunggu Meida pulih benar. Karena perjalanan jauh – (Gak mungkin kan saya berangkat honeymoon jika Meida saja sedang datang bulan. Bisa buyar honeymoon saya, tanpa membuat istri saya kelelahan. Apalagi saya sudah janji untuk mengunjungi Buya dan Umi terlebih dahulu sebelum mengantar Bu Ina pulang ke Bandung) – Batin Melvin dalam hati seraya mengunyah cemilan yang berada di mulutnya.


“Kira-kira kapan? Kalian mau keliling Eropa dulu atau menemui orang tua angkat mu di Sulawesi?” Tanya Helena dengan meminum soft drink bekas suaminya.


“Kami mau menemui Buya dan Umi terlebih dahulu Mih. Setelah itu mengantar pulang Bi Ina ke Bandung, setelah mengantar Bi Ina baru kami berangkat honeymoon keliling Eropa.” Sahut Meida seraya menyandarkan kepala di bahu suaminya.


“Berarti perjalanan honeymoon kalian memakan waktu hampir 1 bulan. Jadi gini, sebelum kamu pergi bulan madu, Papih mau minta bantuanmu untuk membantu Melisa menyelesaikan pekerjaan mu yang sudah menggunung. Kasian Melisa sudah 2 bulan lebih menghandle pekerjaan mu.” ucap Nagara seraya melirik putrinya yang sedang cemberut. Melisa mengiyakan ucapan papihnya dengan menusukkan garpu pada kentang goreng yang berada di piringnya.


“Iya ko. Bantuin aku, biar kerjaan koko cepat kelar. Karena aku pun ingin ikut honeymoon bareng kalian ke rumah orang tua angkat Koko di pedalaman Sulawesi. Aku pengen jalan-jalan kesana. Koko udah janji loh sama aku, akan membawaku kesana.” Melvin saling pandang kearah Meida dengan saling melempar senyum. Pertanda mereka memperbolehkan Melisa untuk ikut bersamanya menemui keluarga angkatnya di pedalaman Sulawesi.


“Tenang saja, koko pasti mengajakmu kesana. Lagian kita kan mau holiday bareng-bareng. Jadi mamih dan papih pun pasti kami ajak. Gimana Pih Mih, apa kalian mau ikut?” Ajak Melvin sambil tersenyum. Helena langsung menatap kearah suaminya seraya senyum-senyum.


-


Jika suka dengan novel ini, jangan lupa vote, like, komen, rate, sama giftnya yah🥰🥰🥰♥️♥️♥️


Hatur nuhun buat yang masih stay di novel ini...

__ADS_1


Gomawooo pisan 😘🥰🥰🥰


__ADS_2