Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Acara Tea Pai


__ADS_3

“Kamu udah makan sayang?” Meida menganggukkan kepala. Mengikuti langkah suaminya yang membawanya entah kemana.


“Kita mau kemana By?” Melvin menyodorkan telapak tangan kearah istrinya dengan menaikkan sebelah alisnya agar istrinya menautkan jemari tangannya, hingga jemari tangan mereka saling bertautan.


“Kita lihat dekorasi ruangan di dalam, soalnya belum selesai 100%, sekitar 5% lagi.” Melvin menggandeng erat tangan istrinya menuju satu ruang yang di dekorasi dominan berwarna merah dan putih.



“Sebelum menggelar acara resepsi, kita terlebih dahulu akan menggelar acara Tea Pai atau upacara minum teh dalam pernikahan adat Tionghoa. Karena saya dan kamu sama-sama keturunan Tionghoa, makanya kita terlebih dahulu menggelar acara tersebut. Untuk gaun merahnya, sudah saya siapkan di kamar atas.” Meida mengerutkan dahinya mengulang ucapan suaminya. Ia di buat heran, karena baru pertama kali mendengar kata Tea Pai.


“Acara Tea Pai?” Melvin menganggukkan kepala menuju kearah dinding yang sudah tertulis Hanzi Tradisional China (Mandarin). Ia menunjuk tulisan itu yang di atasnya dihiasi lampion berwarna merah.


“Iya, sayang. Tea Pai merupakan salah satu rangkaian acara yang sering diadakan dalam pernikahan ala China (Chinese Wedding) untuk menghormati orang yang lebih tua.” Tutur Melvin sambil menuntun Meida untuk duduk di kursi sambil melihat kearah beberapa orang yang sedang menggantung beberapa lampion. Ia kembali melanjutkan ucapannya dan berdiri di belakang istrinya.


“Upacara Tea Pai adalah upacara minum teh yang dilakuan oleh pengantin keturunan Tionghoa bersama dengan keluarganya. Upacara minum teh ini biasanya dilakukan di pagi hari setelah upacara agamis dilaksanakan. Untuk yang Islam tentunya acara ini dilakukan setelah akad nikah, dan sebelum resepsi. Kebetulan untuk akad nikah, kita sudah melaksanakannya, jadi tinggal melakukan upacara minum teh sebelum resepsi.” Meida menganggukkan kepala dengan mata tak lepas memandang Hanzi yang tertulis di dinding yang dihiasi ornamen berwarna merah dan putih. Walaupun ia keturunan Chinese, ia tak mengerti sama sekali tentang Hanzi dan tidak bisa berbicara menggunakan bahasa Mandarin, kecuali kata-kata sederhana yang sering diucapkan oleh suaminya.


“Aku baru tahu keturunan Chinese beberapa bulan yang lalu, makanya aku kurang tahu banyak tentang Tradisi Tionghoa. Yang aku tahu, cuman tradisi pernikahan adat Sunda, karena sedari kecil aku sering melihatnya. Dan untuk upacara Tea pai tadi, aku baru denger sekarang dari kamu.” Tutur Meida seraya menyentuh lampion yang tergantung di atas kepalanya. Lalu kembali duduk di depan suaminya. Melvin melingkarkan tangan di leher Meida lalu menyandarkan dagu di bahunya.


“Yaudah, saya beri tahu sekarang. Upacara Tea pai ini adalah sebuah acara penghormatan kedua mempelai (Pengantin) kepada anggota keluarga mereka yang lebih tua. Acara yang satu ini diikuti bukan saja oleh orang tua, tapi juga kakek-nenek, paman-bibi, kakak yang sudah menikah, dan sepupu-sepupu yang dituakan. Penyuguhan secangkir teh kepada orang-orang tersebut merupakan sebuah simbolisasi rasa hormat si pengantin kepada mereka.” Meida mengangguk-anggukkan kepala dengan memainkan bibirnya. Ia mendengarkan perkataan suaminya dengan antusias. Sementara Melvin menatap istrinya dari arah samping lalu mencium sebelah pipi nya. Ia pun melanjutkan perkataannya dengan menempelkan wajahnya dengan wajah istrinya.


“Meskipun diikuti oleh hampir seluruh anggota keluarga yang lebih tua, ada beberapa anggota keluarga yang dilarang untuk hadir. Pertama, tentunya adik dari pengantin dilarang hadir terutama adik yang sudah menikah. Kakak juga dilarang hadir apabila mereka belum menikah atau sudah dilangkahi. Meskipun begitu, ada pengecualian tersendiri yaitu ketika orangtua sudah tiada, si kakak boleh menjadi wali yang sah.


Jadi, Ko Andress, Jack, Melisa, dan Jonathan tidak bisa hadir. Hanya keluarga yang dituakan dan sudah menikah baru bisa hadir. Nanti kamu dapat angpao banyak loh dari anggota keluarga kita.” Meida tersenyum sambil menyampingkan wajahnya yang otomatis mencium pipi suaminya. Ia dengan perlahan menjauhkan wajahnya, karena jaraknya yang terlalu dekat. Hingga beberapa orang melihat kearah mereka tersenyum kemudian menunduk.


“Dapet angpao? Kayak amplop dari tamu undangan gitu bukan By?” Melvin merasakan ketidaknyaman yang dirasakan istrinya yang sedang berada di tempat ramai. Ia melepaskan lingkaran tangan di leher Meida, lalu duduk di sampingnya.


“Beda, kalau itu beda lagi sayang. Angpao itu kita dapat dari keluarga kita. Sedangkan amplop itu dari tamu undangan. Tapi isinya sama-sama uang sih.” Kekeh Melvin seraya menggenggam tangan istrinya.


“Aku baru tahu sekarang.” Seru Meida tersenyum, membalas genggaman tangan suaminya lalu menyandarkan kepala dibahunya.


“Buya dan Umi jadi kesini By?” Melvin mencium tangan Meida lalu memainkan kuku putih yang berada di jemarinya.


“Gak jadi sayang. Buya dan Umi ada halangan jadi tidak bisa kesini. Disana sedang pembangunan Pesantren, jadi Buya tak bisa meninggalkannya. Apalagi Dokter Aisyah yang sering membantunya sakit, dan di bawa pulang ke Makassar oleh kedua orangtuanya. Jadi gak ada yang menghandle pekerjaan Buya sekarang. Jika ditinggalkan kesini, semua pasti berantakan.” Meida respect terbangun ketika mendengar nama Dokter Aisyah, wanita yang pernah diceritakan suaminya di malam pertama mereka.


“Dokter Aisyah sakit apa By?” Melvin mengangkat kedua bahu seraya menggelengkan kepala pertanda tidak tahu.

__ADS_1


“Saya kurang tahu. Saya kan gak kepo seperti kamu sayang.” Meida membulatkan matanya malas dengan melipat tangannya.


“Kamu nyebelin. Setidaknya kamu bertanya By dia sakit apanya, dia pernah merawat kamu loh dulu! Balaslah kebaikan orang lain dengan beribu kebaikan, jangan seperti kacang yang lupa sama kulitnya.”


“Iya, nanti saya tanyain sama Buya.” Melvin mengajak  istrinya untuk berdiri, lalu berjalan kearah ballroom yang sudah selesai di dekorasi.



“Melisa tidak mengganggu kamu, Kan?”


“Enggak, dia cuman ngeledek aja. Kenapa kamu bisa keceplosan seperti tadi?” Meida menatap dalam wajah Melvin dengan melipat tangan. Melvin yang di tatap seperti itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Lihat wajah kamu, saya lupa segalanya. Makanya saya tak sadar bicara seperti itu.” Meida memanyunkan bibirnya lalu kembali berjalan ke dalam ruang hotel yang luas yang sudah di dekorasi dengan sangat indah.


“Kamu pinter bikin alasan, untung Melisa bisa di negoisasi. Kalau tidak, kita ketahuan loh sama Papih dan Daddy. Mungkin pingitan kita lebih la...” Meida diam terpaku melihat ruang yang sudah di dekorasi dengan sangat mewah. Beberapa meja melingkar dengan di kelilingi beberapa kursi berwarna putih, kiri kanannya dihiasi berbagai macam bunga. Pelaminan nampak megah berada di ujung sana.



“Amazing .” Lirih Meida dengan mulut menganga. Melihat kekaguman Meida, Melvin langsung memeluk istrinya dari arah belakang.


“Nanti kita berdiri disana selama 4 jam. Ini semua orang tua kita yang siapkan, mereka memang luar biasa. Kita harus berterima kasih pada mereka.” Meida menganggukkan kepala dengan tak mengedipkan mata.


“Jangan kepo By, itu masalah perempuan.” Melvin membalikkan tubuh istrinya agar menghadap kearahnya.


“Jawab sayang, atau saya cium bibir kamu disini.” Senyum licik tersungging di bibir Melvin sambil menaikkan sebelah alisnya. Meida menyentuh wajah suaminya dengan salah tingkah.


“Kamu maksa By, pake ngancam segala. Tanyain aja sama melisa sana.” Melvin menggelengkan kepala. Ia melingkarkan tangan di pinggang istrinya agar tidak beranjak pergi.


“Saya mau tahu jawabannya dari kamu bukan dari Melisa. Atau besok malam saya tidak akan melepaskan mu sama sekali.” Meida menghela nafasnya kasar. Ia menatap dalam wajah suaminya dengan menggigit bibir ranumnya lalu memukul dada bidangnya dengan pelan.


“Mulai deh ngancam!”


“Jawab sayang!” Meida melingkarkan tangan di leher suaminya dengan menyampingkan wajahnya. Untung di ruang itu hanya ada mereka berdua,


“Kamu itu adalah vitamin aku. Setiap malam kamu suntik aku menggunakan rudal mu hingga aku tak berdaya, lalu melepaskan laharmu di rahimku. Kata orang wajah wanita yang sudah menikah akan mengeluarkan cahaya, karena telah melakukan making love. Mungkin wajahku bercahaya, karena aku sering making love sama kamu.” Melvin terkekeh seraya membelai wajah istrinya.

__ADS_1


“Emang ngaruh? Itu teori dari mana? Apa ada perbedaan wajah saya sebelum nikah dan sesudah nikah?” Meida merapikan rambut Melvin dengan mengerlingkan sebelah matanya.


“Wajahmu berseri-seri dan semakin tampan. Dan aku selalu saja terjerat oleh pesona mu hingga ribuan kali.” Melvin tertawa terbahak-bahak mendengar gombalan istrinya lalu mendekapnya erat.


“Sejak kapan kamu bisa gombal?” Meida tersenyum memamerkan gigi putihnya yang berderet rapi.


“Kamu yang ajarin aku By. Oh yah, aku menyukai yang semalam.” Melvin mengerutkan dahi dengan menyipitkan matanya.


“Serius?” Meida menganggukkan kepala seraya memainkan alis tebal nya dengan pandangan menerawang.


“Iya, aku sangat menyukainya. Rasanya itu enak bercampur nikmat, bikin aku ketagihan. Nanti kamu bikinin aku lagi yah nasi gorengnya!” Melvin mencium sekilas pucuk kepala istrinya sambil tersenyum menggoda,


“Asal ada imbalannya, saya dengan siap sedia akan membuatkan untuk mu setiap hari,” Meida sontak mencubit hidung suaminya dengan kesal.


“Kamu perhitungan banget By.”


“Bukan perhitungan sayang. Ada hak dan kewajiban, hak kamu makan nasi goreng buatan saya, kewajibannya kamu harus bayar.” Meida sontak memukul pelan dada suaminya dengan mengerucutkan bibirnya.


“Iya, nanti aku bayar 15 ribu.”


“Di bayarnya gak mau pakai itu, tapi pengen minum ini.” Tunjuk Melvin kearah dada istrinya. Meida langsung menepis tangan suaminya kemudian menutup dadanya dengan kedua tangannya.


“Kamu ngaco, ini belum ada ASI nya. Jadi gak bisa di minum. Lagian kamu mah omes By, gak ada hubungannya nasi goreng sama ini.” Melvin menggigit bibirnya lalu mencuri ciuman dari bibir istrinya yang nampak sedikit terbuka.


“Gak papa, karena saya sangat menyukainya. Bentuknya kenyal ngegemesin, membuat saya ingin  terus mengh*sapnya dan m*rem*asnya.” Meida langsung memukul kepala suaminya hingga mengaduh memegang kepalanya. Ia ingin menghapus pikiran kotor suaminya yang tidak tahu tempat.


“Tuh kan kamu makin omes.” Melvin memanyunkan bibirnya menatap istrinya dengan kesal.


“Omes sama istri sendiri gak haram ini, dari pada omes sama istri orang.”


-


☕☕☕☕


Vote sama jempolnya jangan pelit-pelit yah guys😘😘😘

__ADS_1


Komennya di tunggu 🤗


Gomawooo 😘😘😘😘


__ADS_2