Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Move on


__ADS_3

“Kak, aku turut berdukacita yah!” Andress tersenyum samar dengan  menganggukkan kepalanya kearah wanita yang mengenakan kemeja berwarna putih. Ia menerima uluran tangannya lalu menjabatnya.


“Terima kasih telah datang Melisa.” Wanita yang mengenakan kacamata hitam itu pun tersenyum dengan perasaan berbunga-bunga karena berhasil melawan rasa malunya untuk sekedar menyapa pujaan hatinya. Ia sampai lupa melepas tangannya, dan malah menggenggam tangan nya erat sambil menatapnya.


“Khemm, bisa kamu lepaskan tangan saya Melisa?” Tanya Andress sambil berusaha melepaskan tangannya.


Melisa pun kembai tersadar ketika andress menggoyang-goyangkan tangannya. Ia cepat-cepat melepas tangannya dengan wajah merah karena malu.


Kenapa dengan wanita ini? Batin Andress menatap Melisa dengan mengerutkan dahinya.


“Maaf kak. Tadi kakak nanya apa?” Andress menggaruk kepalanya. Ia tahu wanita yang berada di depannya pasti malu jika ia mengulang pertanyaannya yang tadi. Ia lalu memasukkan tangan ke kantong celana hitamnya dengan mata menatap kearah karangan bunga.


“Kamu kesini dengan siapa?” Tanya  Andress mengalihkan topik pembicaraan. Ia menyandarkan tubuhnya kearah dinding dengan melipat tangannya. Melisa menunjuk kearah mamihnya yang sedang mengobrol dengan Gilbert dan Zaina.


“Aku kesini sama Mamih kak. Papih gak bisa datang, karena masih meeting di Beijing dari kemarin.” Terang Melisa dengan antusias. Ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena bisa berbicara panjang lebar dengan Andress. Ia tak bisa membohongi perasaannya yang membuncah, jantungnya kembali berdegup kencang, seperti pertemuan pertama mereka 8 tahun lalu.


Berbeda dengan Andress, raut wajahnya terlihat tak nyaman. Ingin pergi dari hadapan Melisa, tapi tak enak. Ia berusaha tersenyum untuk  menghalau rasa tak nyaman nya.


“Pantesan saya gak lihat Om Nagara.” Sahut singkat nya sambil mengambil ponsel di saku celananya.


“Kak, apa Meida sudah datang kesini?” Tanya basa-basi Melisa sambil mencari keberadaan Meida dan Melvin. Andress menganggukkan kepalanya dengan wajah melirik ke segala arah. Karena keluarga dari pihak Zaina terus saja melihat kearahnya dengan wajah bertanya-tanya dan senyum meledek.


“Dia sudah datang dari tadi. Sekarang dia sedang beristirahat di kamar atas bersama suaminya. Kondisinya belum pulih benar, jadi dia tak bisa berlama-lama di tempat ramai kayak gini.” Sahutnya kembali tanpa melihat wajah Melisa. Ia kembali tersenyum lebar, takala melihat keluarganya melambaikan tangan kearahnya. Ia seakan menemukan jalan pulang ketika tersesat.


“Oh yah Mel, saya pergi dulu kesana! Jika ingin menemui Jaslin, kamu langsung aja ke lantai 2. Ada nama di atas pintunya. Nanti kamu tanyain aja sama mbak-mbak yang bekerja di lantai atas, dimana kamar Jaslin.” Melisa menganggukkan kepalanya dengan raut wajah kecewa. Sikap Andress dari dulu sampai sekarang tak berubah, dia selalu saja menjaga jarak dengan nya.


“Baik kak.” Sahut pelannya dengan senyum terpaksa. Andress pun berlalu begitu saja dari hadapannya menuju kearah keluarganya yang sedang berkumpul.


Melisa menatap kepergian Andress dengan wajah sendu nya.


Benar apa yang dikatakan Mamih, aku harus menjauhinya. Sikapnya dari dulu tidak pernah berubah, dia sulit sekali ku dekati. Mungkin aku harus mengikhlaskannya, menyerah mungkin itu jalan terbaik agar hatiku tak terluka dan berdarah.


Guman pelan Melisa dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca. Untung saja kacamata hitamnya mampu menyamarkan air mata di wajah sedihnya.


Melisa kamu harus move on, kamu harus mengubur rasa cinta mu selama 8 tahun ini. Dia bukan terbaik untukmu! Jangan terjebak dalam harapan palsu.


Ia menatap kearah Andress yang sedang tertawa renyah bersama saudara dari pihak ibunya.


Lihatlah raut wajahnya! Ketika bersama mu dia terlihat sekali tak nyaman, tapi bersama orang lain dia dapat tertawa lepas.


Melisa, berjuang sendiri itu menyakitkan. Belajarlah untuk melepaskan!


Lirih pelannya menyemangati dirinya sendiri lalu pergi dari tempat itu.


-


Meida menyandarkan kepalanya di headbord ranjang, ketika Jack sedang memeriksa denyut nadinya.

__ADS_1


“Kamu kelelahan Meida! Perbanyak minum air putih dan istirahat, supaya kondisi mu cepat membaik seperti semula,” ucap Jack setelah memeriksa kondisi sepupunya. Ia kembali merapikan alat medisnya ke dalam tas. Melvin yang duduk di ujung ranjang pun mendekat kearah istrinya.


“Berarti tak ada sesuatu yang serius kan Jack?” Jack menggelengkan kepalanya lalu berdiri dengan menenteng tasnya.


“Tidak Vin. Kalau ada apa-apa, kamu panggil saya aja di lantai bawah,” ucapnya sambil berjalan kearah pintu. Melvin menyusul langkah Jack lalu menepak bahunya pelan.


“Jack, kapan jenazah neneknya Meida akan dikebumikan?” Melvin kembali membalikkan badannya dengan tangan yang sudah memegang gagang pintu.


“Tidak dikebumikan Vin. Kata om sih jenazahnya akan di kremasi di Krematorium Keputih Surabaya besok siang, dan abu nya akan di larung di Pantai Batu Batu Kenjeran. Itu sih info yang saya dengar. Kalian bisa tanyakan langsung aja pada Om Gilbert dan Tante Zaina, agar infonya lebih akurat.” Melvin menganggukkan kepalanya melihat kearah istrinya yang sedang menatapnya dengan mengerutkan kedua alisnya.


“Baiklah Jack. Terima kasih infonya!” Jack menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kamar itu.


Setelah pergi, Melvin kembali menghampiri istrinya yang sedang duduk dengan menyandarkan kepalanya di headbord ranjang. Ia kembali duduk di samping istrinya, dan menyandarkan kepala istrinya di bahunya.


“Besok, kamu mau ikut ke krematorium?” Tanya nya lembut. Meida menggelengkan kepalanya dengan memejamkan matanya.


“Enggak. Aku disini saja!” Putus Meida. Ia tak ingin ikut mengantar jenazah oma-nya yang akan di kremasi (di bakar) karena kondisinya pun belum sepenuhnya stabil.


“Yaudah. Kalau kamu gak ikut, saya pun gak ikut. Saya akan selalu berada di sampingmu, menjaga mu dengan baik sayang.” Meida tak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya. Ia kembali menatap suami dengan tersenyum.


“Kalau kamu mau ikut, ikut aja. Aku gak papa disini sendiri.” Melvin pun tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya dan mengusap-usap punggung tangannya dengan lembut.


“Dimana ada kamu, disitu ada saya. Kita satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Saya akan terus membayangi langkah mu. Saya tak mungkin meninggalkan mu sendirian kecuali dalam keadaan darurat,” ujar Melvin dengan mencium tangan istrinya yang tersipu malu. Meida dengan lembut menautkan jemarinya di lengan suaminya,


“Sekarang aku tak bisa berkata banyak. Aku bahagia berada di sisimu. Aku merasa seperti wanita paling sempurna di dunia ini, karena kamu By. Terima kasih telah melengkapi hidupku.” Melvin kembali mencium tangan istrinya dan kini menatapnya.


“Saya pun merasa seperti lelaki paling bahagia, paling sempurna di dunia ini karena kehadiran mu. Terima kasih telah bersedia menjadi istri saya, menjadi ibu dari anak-anak saya.” Meida kembali terhipnotis oleh tatapan hangat suaminya. Ia seakan tersihir oleh kata-kata manis yang keluar dari mulut suaminya. Ia memejamkan matanya ketika suaminya kembali memagut bibirnya dengan penuh perasaan, dengan perlahan ia membalas pagutan itu dengan lembut.


“Tahu pacaran setelah nikah rasa nya nikmat kayak gini, mungkin saya sudah menikahi mu dari dulu. Yang, kamu kayaknya ketagihan deh!” Kekeh Melvin sambil mengelus lembut bibir istrinya. Meida pun langsung membuka matanya,


Blusshhhh


Wajahnya kembali memerah, ia pun langsung menundukkan kepalanya malu. Karena Melvin sedang menatapnya sambil tersenyum-senyum.


Walaupun terdengar naif, ia sangat menikmati ciuman lembut suaminya yang mampu menenggelamkannya. Dan benar, ia sangat ketagihan memagut bibir merah alami milik suaminya yang tengahnya sedikit terbelah.


“Sekarang kamu tidur! Jika disini tak nyaman, kita pulang ke apartemen atau ke rumah kita yah.” Meida menganggukkan kepalanya lalu menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


Melvin kembali terkekeh, ia malah merebahkan tubuhnya dan memeluk istrinya yang berada di balik selimut.


“Cepet sembuh, yang! Biar saya bisa bebas nguyel-nguyel kamu! Saya tak tahan jika harus menganggur lebih lama lagi.” Meida memegang selimutnya erat dengan dada yang bergemuruh. Ia semakin menenggelamkan kepalanya ke bantal ketika tangan suaminya  yang sedang berusaha membuka selimutnya.


Meida langsung membuka selimutnya, lalu menatap wajah suaminya dengan kesal.


“By, singkirkan tanganmu!” Kesalnya sambil menepis tangan suaminya yang sedang bergerilya di atas selimut.


Melvin malah cengengesan, mengedipkan sebelah matanya kearah istrinya.

__ADS_1


“Gak dosa, Kan?” Tanyanya dengan wajah di buat sepolos mungkin menggoda istrinya yang wajahnya terlihat kesal. Ketika Meida akan menjawab pertanyaan nya, ia lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibirnya. Rasa kesal dalam diri meida kembali hilang, ia kembali terbuai oleh ciuman lembut suaminya. Ia kembali menikmatinya dengan mata terpejam.


Bibirnya, sekarang candu untuk saya. Dia semakin cantik jika matanya terpejam seperti ini. Yaa Allah, terima kasih telah menghadirkan dia dalam hidup saya.


Bibirnya terasa manis melebihi rasa gula. Dia benar-benar membuat saya terlena.


Batin Melvin sambil menghisap bibir istrinya dengan mata tak beralih dari wajahnya sedikitpun. Ia menyusupkan sebelah tangannya ke dalam selimut, lalu dengan perlahan-lahan menyusupkannya kepinggangnya dan memiringkan tubuhnya istrinya agar lebih condong kearahnya. Ia dengan lembut mengecap bibir istrinya dengan lebih intens.


-


“Wanita benar-benar makhluk aneh! Bahagia nangis, sedih nangis, kecewa pun nangis. Berapa kilo sih stock air mata kalian?” Melisa buru-buru menghapus air matanya ketika melihat seorang lelaki memakai kemeja warna putih yang di gulung sampai siku yang sedang berjalan kearahnya.


“Jack, ngapain kamu disini?” Tanya paraunya yang buru-buru mengenakan kacamatanya. Jack duduk di samping Melisa yang sedang berada di halaman belakang rumah Atmadja. Ia melihat kearah depan dengan mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya


“Saya cari udara segar! Di dalam panas, banyak orang.”


“Apa kau dekat dengan nenek tua itu, sampai menangisi kematiannya seperti ini?” Melisa tergelak. Ia menatap Jack dengan menggelengkan kepalanya. Ia memetik bunga yang berada di sampingnya lalu menghirupnya.


“Ada sesuatu yang membuat saya sedih, tapi bukan kematian wanita itu. Saya tak mengenalnya, apalagi dekat dengannya.” Jack mendengar  seksama perkataan wanita yang berada di sampingnya.


“Apa kau sedang patah hati, lalu menyendiri disini? Sedangkan Mamih mu berada di dalam sedang mengobrol dengan keluarga besar saya.” Melisa menyandarkan kepalanya kearah pot bunga Rosemary di sampingnya. Tangannya memetik satu persatu daun rosemary tersebut.


“Hati saya sedang tak baik-baik saja Jack. Ternyata berharap pada manusia itu sangat menyakitkan.” Jack merasa iba mendengar suara parau Melisa. Ia dapat melihat air mata kesedihan yang meluncur dari wajah tirus nya.


“Jangan terlalu berharap pada manusia. Tuhan sebaiknya tempat pengharapan.” Jack mengelus pelan bahu melisa yang menangis tergugu.


“Tapi saya menunggunya sudah 8 tahun Jack. Saya tak berani membuka hati pada lelaki lain, karena hati saya sudah terpaut padanya. Dia cinta pertama saya, saya selalu berdo'a dia akan menerima saya . Tapi barusan saya merasa tertampar, dia tak berubah, dia masih menjaga jarak dengan saya. Dia belum membuka hatinya untuk saya.” Melisa memegang tangan Jack, lalu menatap nya dalam.


“Jack, salahkan jika saya mencintainya?” Jack menggelengkan kepalanya. Ia mengelus lembut rambut Melisa yang menyandarkan kepalanya di bahunya. Ia membiarkan gadis itu meluapkan kesedihan di bahunya.


“Perasaan kau tak salah. Memang siapa lelaki yang kau cintai?” Melisa menggelengkan kepalanya. Ia malu jika menyebutkan nama lelaki itu, karena lelaki disampingnya pun pasti mengetahuinya.


“Apa itu ko Andress?” Melisa masih diam. Ia tidak mengiyakan ataupun menyangkalnya.


“Jika Lelaki itu adalah ko Andress, kau harus bersabar. Dia sama seperti mu, dia sedang mengobati lukanya. Dia pun pernah terluka seperti mu.” Melisa membulatkan matanya dengan menegakkan kepalanya menatap Jack.


“Bukan dia Jack.” Sangkal Melisa. Jack malah terkekeh dengan melihat ke depan.


“Wajahmu tak bisa membohongi saya. Saya sering memergoki mu menatap dalam ko Andress dengan penuh cinta."


Glekk😘


-


☕☕☕☕


Wilujeng Weekend.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote sama hadiahnya 😘♥️


Hatur nuhun


__ADS_2