Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Payah!


__ADS_3

Hidup itu antara menerima dan tersadar akan takdir. Bahwa, belum tentu jalan hidup ini baik menurut kita, tapi belum tentu baik menurut Tuhan. Dan terkadang, jalan hidup buruk menurut kita, namun baik menurut Tuhan.


Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian akan kamu dapat. Ingat, hidup itu antara menabur dan menuai, antara memberi dan menerima, antara menolong dan di tolong, antara pasrah atau mengabaikan, antara berlari atau berjalan, antara di depan atau di belakang, antara menangis atau tersenyum, antara pergi atau tetap tinggal, antara sendiri atau bersama, antara bahagia atau luka, antara rasa sakit dan kecewa, antara tegar atau rapuh, antara mencintai atau dicintai, antara penyesalan dan tangisan, antara sad ending atau happy ending.


-


Sandra masih menangis di sudut taman dengan menundukkan kepala, perkataan Melisa masih terngiang-ngiang di otaknya. Ia tak boleh mengingkari janji yang telah dibuat dan disepakatinya, jika ia melanggar, konsekuensi yang didapat hidupnya akan semakin hancur.


Aku akan memaafkan mu, asal kau enyah dari kehidupan keluarga ku. Terserah kau mau pergi kemana, asalkan tidak mengganggu keluargaku. Aku akan memastikan perusahaan ayahmu tetap stabil, asalkan kau tidak berulah. Lanjutkan hidupmu sesuai keinginan mu, asalkan jangan muncul dihadapan ku lagi. Aku akan menghapus video ini setelah memastikan, bahwa kamu benar-benar pergi. Aku tidak segan akan langsung menguploadnya, jika kamu tak mematuhi perkataan ku. Semua pilihan ada ditangan mu, antara pergi atau hancur! Aku akan membuat jejak rekaman mu di media, 1 tahun, 2 tahun, 10 tahun, bahkan seumur hidup mu, orang akan mengingat mu berserta skandal panasmu, model yang menjajakan tubuhnya pada lelaki hidung belang. Bukan hanya 1, tapi 5 sekaligus.


Biarlah jejak media yang menyimpan sepak terjangmu selama ini. Kau mau itu terjadi? Kau bukan hanya dihakimi satu orang atau dua orang, tapi seluruh dunia. Bukankah medsos dan netizen itu lebih kejam daripada ibu tiri? Apa kau mau seperti itu?


Dan kau harus ingat, kau bukan lawan yang pantas untuk kuhadapi, sekali sentil saja aku bisa merubah hidupmu menjadi lebih mengerikan.


“Tuhan, apa aku benar-benar harus pergi? Aku tak siap pergi jauh meninggalkan kedua orang tuaku, dan aku pun tak siap melihat mereka hancur akibat dari perbuatanku. Aku tak bisa melanjutkan hidup ku sebagai model, yang kuperjuangkan mati-matian dari dulu. Rasanya hidup ku kini hampa dan tak berarti. Aku tak memiliki semangat hidup lagi. Jika aku mengakhiri hidup ku, apa semua akan baik-baik saja?


Batin Sandra seraya mendongkakkan kepalanya ke langit. Air matanya terus berjatuhan seiring rinai hujan yang baru saja turun membasahi bumi.


Sandra, aku harap ini pertemuan terakhir kita. Dan jika kita nanti bertemu lagi, aku harap kau sudah berubah. Maaf aku menghancurkan hidup mu! Aku tak punya pilihan lain, karena kau ingin menghancurkan hidup ku lebih dulu.


Sekarang, hiduplah apa adanya tak perlu memakai topeng lagi. Aku tak akan mengusikmu selagi kau tak mengusik kehidupan ku. Hapuslah rasa dendam! Aku harap kamu tak memiliki dendam padaku, dan aku minta padamu untuk merenungi segala kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat padaku di waktu lalu. Sekarang, semua tergantung pada mu!


Bahwasanya air mata tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun.


Itulah peribahasa yang menggambarkan perasaan Sandra sekarang. Ia tak mempedulikan tatapan aneh pengunjung taman yang mulai menepi untuk berteduh, ia masih asik dengan pikirannya, yang kian hari menggerogoti tubuhnya. Postur tubuh tinggi semapai bak gitar spanyol itu kini telah berubah, karena sudah seminggu ini ia sudah tak mempedulikan lagi penampilannya.


“Berhentilah menangis, atau semua orang akan menatapmu dengan tatapan kasihan. Lihatlah! Mereka menatap mu aneh sejak tadi. Apa kau ingin dikasihani mereka? Berusahalah tegar di depan banyak orang, walaupun hidupmu banyak masalah. Kesedihan mu tak perlu diketahui orang lain.”


Seorang pria muda bertubuh sedang berdiri di depan Sandra dengan membawa payung. Ia menutupi  kepala Sandra agar tidak terkena air hujan.


Sandra masih diam terpaku menatap pria asing yang kini sedang berdiri dihadapannya. Seorang pria berpostur tinggi sedang yang mengenakan seragam BUMN berwarna putih, dengan kacamata minus yang bertengger di hidungnya. Raut wajah lelaki itu tegas, namun tersimpan kelembutan yang terpancar di kedua bola matanya.

__ADS_1


Pria itu menatap Sandra dengan menyunggingkan sebelah bibirnya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celananya.


“Payah! Kau lebih memilih menyerah dan duduk hujan-hujanan disini seperti anak kecil, daripada bangkit untuk terus melangkah menghadapi masalah yang tengah menimpa mu. Dengan menangis seperti ini, apa bisa menyelesaikan masalah? Tidak, Kan?” Sahutnya dengan memberikan gagang payung itu ke tangan Sandra yang masih diam tak mengedipkan mata menatap dalam pria yang berdiri didepannya dengan wajah datarnya. Tenggorokan nya serasa tercekat, hingga ia tak bisa mengeluarkan suara untuk menjawab perkataan pria asing didepannya.


“Jika kamu terfokus pada masalah, maka kamu akan lebih banyak mendapatkan masalah. Jika kamu berfokus pada berbagai macam kemungkinan, maka kamu akan mendapatkan lebih banyak kesempatan.” Sandra mengedipkan- ngedipkan mata tanpa menerima gagang payung itu. Tatapannya masih fokus menatap pria asing berwajah tampan, dengan rambut tipis yang sangat pas dengan wajahnya.


“Jangan melihat saya dengan tatapan seperti itu! Pakailah payung ini, untuk melindungi mu dari hujan. Saya melakukan ini bukan Karena saya peduli, tapi saya kasihan padamu. Saya pergi dulu!” Pria itu memberikan paksa payung itu ke tangan Sandra. Ia mengangkat kedua tangan ke atas kepala, untuk melindungi kepalanya dari rintik hujan. Pria itu kemudian berlari tanpa mempedulikan teriakan Sandra yang melempar payung yang diberikannya.


“Heyy siapa kamu pria lancang!!! Saya tak butuh kasihan dari kamuuu!!! Saya tak ingin dikasihani!!!” Teriak Sandra dengan mata terus menatap punggung pria itu yang berjalan kearah lobby kantor yang terletak di samping gedung DPD kota Surabaya.


PT Asuransi Jiwasraya


Sandra menyipitkan mata membaca dengan seksama plang yang tertulis di atas gedung 3 lantai yang terletak beberapa ratus meter dari tempat duduknya yang terhalang jalan raya. Ia mengamati gedung itu seraya berdiri lebih dekat kearah nya.


Pria lancang itu pasti bekerja disana, pantas saja seragamnya berlebel BUMN. Tapi aku tak ingin dikasihani olehnya, pria itu benar-benar keterlaluan. Tapi, bagaimana aku mengembalikan payung jelek ini?


Gumam Sandra yang masih menatap gedung berlantai 3 itu, yang cukup ramai dengan orang yang berlalu lalang di balik dinding kaca tersebut.


-


“Iya Bu. Zidan seminggu lagi pulang kesana, seperti biasa tugas Zidan sebulan disini, kalau tidak ada penambahan hari. Do'akan Zidan semoga semuanya lancar, biar Zidan bisa cepat-cepat pulang.”


Yah, pria berpostur tubuh sedang dengan rambut yang di cukur pendek itu adalah Zidan. Seorang PNS yang bekerja di perusahaan BUMN di bidang Asuransi. Seperti biasa, setiap 1 tahun sekali, ia ditugaskan ke Surabaya bersama teamnya untuk mengaudit perusahaan asuransi tersebut di saat tutup buku di akhir tahun.


Zidan mengusap-usap handuk kerambutnya yang masih basah, dengan ponsel genggam yang masih berada di tangannya.


“Aamiin. Ibu dan Ayah selalu mendo'akan kamu agar urusanmu cepat kelar disana. Kamu baik-baik saja kan nak? Suara mu terdengar serak dan berat.” Zidan mengusapkan handuk ke wajahnya, lalu menggosokkan ke hidung yang memerah karena sering bersin.


“Ibu jangan khawatir. Zidan hanya flu, tapi pas mau masuk ke mobil Zidan kehujanan. Kebetulan siang tadi disini cuacanya hujan.” Jawabnya dengan berbohong. Padahal tadi ia hujan-hujanan masuk kantor setelah memberikan payung kepada wanita muda yang terlihat sedang putus asa.


“Emang gak bawa payung?”

__ADS_1


Bawa. Tapi Zidan berikan pada wanita asing yang baru pertama kali Zidan temui siang tadi. Jawabnya dalam hati seraya menutup gorden, karena senja sudah menguning di sebelah barat.


“Enggak Bu. Karena dari kemarin-kemarin cuacanya panas, siang tadi doang yang hujan. Jadi Zidan gak bawa payung.” Jawabnya yang masih menempelkan ponsel ditelinganya.


“Salah kamu. Lain kali bawa payung kemana pun kamu pergi, simpan di dashboard mobil biar kamu gak lupa. Oh yah Nak, apa kamu sudah bertemu dengan Meida dan Bi Ina?” Zidan menghela nafasnya. Ia memijit pangkal hidungnya dengan sedikit keras dengan mata tertutup.


“Belum Bu. Zidan tak bisa sembarangan menemui mereka, karena mereka di jaga ketat oleh para bodyguardnya. Aktivitas keluarga mereka tertutup, sampai Zidan pun tak pernah melihatnya. Apalagi setelah Meida keluar dari rumah sakit dan menikah dengan Putra orang kaya itu, Zidan belum mendengar lagi berita tentangnya sampai sekarang.”


“Apa perasaan mu baik-baik saja?” Zidan dengan mantap menganggukkan kepala walaupun kedua orangtuanya tak melihatnya.


Yah, perasaan Zidan sudah lebih membaik dari 1 tahun lalu. Karena Zidan sadar, cinta itu tak bisa di paksa begitupun dengan jodoh. Zidan masih mengingat dengan jelas perkataan ayah waktu itu, “Jika Engkau mencintai seseorang, berdoalah untuk mereka. Berdoalah untuk kedamaian mereka. Berdoalah untuk kemajuan mereka. Berdoalah untuk kesuksesan mereka. Berdoalah untuk kebahagiaan mereka walaupun tanpa kehadiran kita.


Mencintai dalam diam, tanpa perlu takut kehilangan. Karena Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi hamba-Nya yang sabar dalam mencintai.” Zidan pun tersenyum setelah mengingat perkataan ayah-nya  yang masih terngiang-ngiang ditelinganya. Ia lalu menjawab pertanyaan ibu nya dengan menggaruk alisnya.


“Perasaan Zidan baik-baik saja Bu. Zidan sudah melupakan perasaan Zidan padanya walaupun tidak 100%. Zidan tidak ingin terpuruk lagi, dan Zidan pun sadar Meida bukanlah jodoh terbaik untuk Zidan. Kini ia sudah bersuami, tak elok rasanya jika Zidan menyukai istri orang.” Terdengar helaan nafas tenang di ujung sana. Zidan pun kembali tersenyum simpul sambil memegang dadanya, kini menyebut nama Meida tak semenyakitkan dulu. Ia sudah berada dalam titik keikhlasan, ia sudah benar-benar menghilangkan rasanya pada Meida.


“Bagus. Lupakan dia, jangan biarkan perjuangan mu selama setahun ini sia-sia. Dia sekarang sudah bahagia, kamu pun harus bahagia. Pantaskan dirimu, semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk mu.


Karena ridha Allah yang kita cari dari setiap cinta, maka cintailah si dia dengan cara yang Allah ridhai. Semoga ridha Allah pula yang menyatukanmu dengan wanita yang tepat untuk mu.


Ingat Zidan, Prinsip jodoh itu sungguh sangat sederhana, karena kamu hanya tinggal mengikuti pilihan yang baik. Seorang lelaki baik dan berakhlak baik pasti berjodoh dengan perempuan yang baik, dan adapun seorang lelaki yang berperilaku buruk dan berakhlak buruk maka akan berjodoh dengan perempuan yang sama. Ingat, jodoh itu cerminan dari diri kita.”


-


Assalamualaikum guys🥰🥰🥰


Maaf baru nonghol lagi hehe. Sebelumnya, Minal Aidzin Walfaidzin. Mohon maaf lahir dan bathin🙏🙏


Inn Shaa Allah ke depannya, up nya kembali normal. Otaknya kembali fresh setelah healing healing wkwkwkw.


Jika suka dengan novel ini, jangan lupa vote, like, komen, rate, sama giftnya yah🥰🥰🥰♥️♥️♥️

__ADS_1


Hatur nuhun buat yang masih stay di novel ini...


Hatur nuhun🤗 Maaf buat kalian nunggu lama🥰🙏


__ADS_2