Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Vampire


__ADS_3

“Dulu, waktu di kota Bandung. Aku tinggal bersama Almarhum Ummah dan Abi, bersama Bang Faiz dan Kak Amel. Di keluarga mereka aku hidup kurang lebih selama 20 tahun. Ummah dan Abi memperlakukan ku dengan sangat baik, hingga aku merasa seperti anak kandung mereka, bukan sebagai anak angkat. Begitupun Bang Faiz, dia selalu mengalah padaku, memberi apapun yang kuminta. Ia bersama Kak Adib yang menjagaku dari bully-an orang sekampung. Namun aku tidak terlalu dekat dengan kak Amel, dia sangat membenciku karena Ummah dan Abi lebih menyayangiku. Apalagi setelah pernikahannya dengan Bang Zidan, dia semakin membenciku.” Lirih Meida yang kembali memejamkan matanya. Menyembunyikan wajah di ceruk leher suaminya, menghirup aroma maskulin yang menguar dari kulit putihnya.


“Waktu sekolah, aku sering mengalami pembullyan, hingga tragedi penyekapan di gudang oleh kakak kelas ku. Mereka membenciku karena banyak kakak kelas yang menyukaiku, apalagi aku cukup dekat dengan Kak Adib yang merupakan idola sekolah. Padahal kami dekat bukan karena pacaran, tapi kak Adib memang teman ku dari kecil. Tapi sayang, setelah kak Adib lulus sekolah. Aku kembali menerima pembullyan itu, gara-gara aku terpilih mewakili sekolah dalam lomba vokal solo mengalahkan anak pemilik yayasan. Hidupku sangat tak mudah, hingga aku memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan kebangku perkuliahan. By, apa kamu tidak malu memiliki seorang istri yang hanya tamatan SMA, sedangkan kamu lulusan universitas ternama di luar negeri?” Melvin menggelengkan kepala dengan menyusut sudut matanya. Ia memegang wajah istrinya lalu kembali mencium keningnya.


“Untuk apa saya malu? Saya bangga memiliki mu sayang. Saya tak pernah mempedulikan pendidikan, harta, kedudukan, ataupun itu. Dari awal pertemuan kita, saya hanya ingin menjadikan mu istri saya. Karena hatimu baik, penuh ketulusan, sederhana, dan penuh cinta walaupun terbungkus oleh sikap  galak, cerewet, dan bar-bar. Dan itu yang menjadi pertimbangan saya, untuk terus mengejarmu menjadi kamu sebagai istri saya.” Meida kembali menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.


“By, kenapa dari dulu kamu selalu ada untukku? Selalu ada disampingku? Selalu membayang-bayangi setiap langkahku? Selalu ada ketika aku membutuhkan perlindungan? Selalu ada di saat aku benar-benar rapuh? Padahal dulu aku tidak mencintaimu.” Melvin menghapus air mata istrinya dengan lembut. Ia kembali menenggelamkan wajah Meida di dadanya untuk memberikan ketenangan dan rasa nyaman.


“Karena hati saya yang terus menuntun agar selalu berdekatan dengan kamu. Rasanya hati saya hampa jika tidak melihat mu sebentar saja, hingga saya memutuskan menjadikanmu pengawal pribadi saya. Kamu tahu alasannya apa? Alasannya agar kamu selalu berada disamping saya, dan saya bisa melihat mu setiap saat.” Melvin kembali mengusap lembut punggung istrinya dan merebahkan di sampingnya tanpa merubah posisinya.


“By, aku pergi ke Surabaya karena menghindari keadaan. Kak Adib mengutarakan perasaannya untuk menikahiku, begitupun dengan Bang Zidan yang merupakan kakak iparku, suami dari kak Amel, dia pun berniat menikahi ku.” Melvin mengerutkan dahinya dengan memainkan rambut istrinya yang tertimpa angin.


“Kok bisa kakak iparmu ingin menikahi kamu sayang?” Meida menyentuh lembut dada suaminya, memainkan telunjuk di kerah kaos suaminya.


“Ternyata Bang Zidan memendam perasaannya dan  menungguku hampir 4 tahun lamanya. Dia kira perjodohan itu antara aku dan dirinya, nyatanya dengan kak Amel, karena Putri Abi satu-satunya memang kak Amel. Bang Zidan yang menolongku dari amukan kak Amel, dan membawaku ke rumahnya. Aku di rawat baik oleh orang tuanya, karena aku tak sadarkan diri selama 3 hari. Tubuhku penuh luka, salah satunya di punggung ini. Ternyata inilah alasan kak Amel membenciku, karena Bang Zidan terang-terangan mengakui bahwa dia mencintai ku, dan hanya ingin menikahi ku. Aku tahu hati mereka sama-sama hancur, tapi bodohnya aku tak mengetahuinya.” Parau Meida yang kembali menghapus air matanya. Sementara tangan Melvin dengan lembut menepuk-nepuk pelan bahunya.


“Dan kamu tahu By? Aku merasa bersalah telah hadir di kehidupan mereka. Jika saja aku tak hadir di keluarga itu, semua akan baik-baik saja. Aku tak akan menyakiti perasaan siapapun. Perasaan Bang Zidan, Kak Amel, dan Kak Adib dengan menolak cinta mereka dan pergi menghindar kesini. Aku merasa mereka berdua mencintaiku dengan tulus, dengan merelakan kepergianku walaupun hati mereka sama-sama sakit. Dan yang membuatku terharu, ternyata setiap pulang sekolah, bang zidan selalu mengawal ku di belakang tanpa sepengetahuanku, hingga 2 tahun lamanya. Dia rela pulang kuliah buru-buru hanya demi mengawasiku, agar sampai rumah dengan selamat. Dan yang membuatku menangis, di kamarnya penuh dengan potretku, dia mengabadikan setiap moment ketika melihatku. Dan terpampang besar lukisan ku yang ia buat untuk hadiah pernikahan, yang dulu ia pikir pernikahan aku dengan dirinya. Aku merasa bersalah karena tak bisa membalas perasaannya, karena aku tak mencintainya. Dan aku hanya menganggapnya sebagai abang saja, dan dia dengan setia menunggu ku, ketika aku memintanya untuk pergi. Aku jahat By.. aku sangat jahat.” Tangis Meida pecah dipelukan suaminya. Ia meluapkan perasaan di dada lelaki yang kini sah memilikinya. Melvin hanya diam, membiarkan istrinya meluapkan semua yang mengganjal di hatinya, yang faktanya baru ia ketahui sekarang. Meida mendongakkan kepala, melihat wajah Melvin yang ia pikir sedang marah karena ia menceritakan orang dimasa lalunya.


“Kamu jangan marah By, aku hanya meluapkan perasaan ku saja, tak berniat membandingkan mu dengan nya. Aku tidak ingin menutupi sesuatu dari mu, agar kamu mengetahui diri ku dalam dan luarnya seperti apa.” Melvin pun mengecup mata istrinya sambil tersenyum,


“Saya tidak marah pada mu, sayang. Hanya saja, saya cemburu dengan ketulusan cinta mereka yang mencintaimu setulus itu. Saya bersyukur, karena akhirnya kamu menjadi milik saya, yang sah di mata Agama dan Negara, tidak bisa di gugat dengan apapun. Terus tinggal dimana kakak angkatmu yang bernama Amel? Ketika kita di Bandung, saya tidak melihatnya.”


“Kak Amel berada di rumah sakit jiwa. Mentalnya terguncang ketika berada dalam sel tahan akibat kasus kekerasan yang dilakukannya padaku. Dia terus saja berceloteh ingin membunuhku dan menyakiti dirinya sendiri, hingga dipindahkan dari sel ke Rumah Sakit Jiwa. Dari sanalah keluarga Abi dan Ummah sangat membenciku, kecuali Bi Ina.”


“Mungkin jika aku tidak punya Tuhan, aku sudah mengakhiri hidup ini By. Hidup dikucilkan oleh orang sekampung, jadi bahan hinaan, di cap sebagai anak haram, dijadikan budak, korbaan kekerasan, dan tak memiliki tempat untuk bersandar. Dan kenyataannya, aku memang anak yang tak diharapkan. Inilah alasan kenapa aku tak memaafkan kesalahan Mommy dan Daddy begitu saja, terlalu banyak luka yang mereka torehkan dihatiku by.” Melvin kembali menghapus air mata yang terjatuh di sudut mata istrinya. Lalu membantu istrinya bangun, ia mengambil air minum yang berada di meja, lalu menyondorkan padanya.


“Sudah sayang, jangan nangis lagi. Setelah ini jangan ada lagi air mata kesedihan, namun air mata kebahagiaan. Saya akan berusaha semampu saya, untuk terus mengukir senyuman dibibirmu. Sebelum Dzuhur, ada waktu 30 menit, ayo kita tidur siang!” Meida menganggukkan kepalanya. Melvin memeluk tubuh istrinya, lalu merebahkan tubuhnya di kursi panjang tersebut.

__ADS_1


Ketika mereka akan terlelap, suara dering telepon memanggil, membangunkan mereka yang akan terlelap menuju alam mimpi.


Melvin langsung menjawab panggilan tersebut dengan mata yang masih terpejam.


“Ko, saya sudah berada di depan rumah!” Melvin  mengiyakan panggilan tersebut dan langsung mematikannya.


“Kenapa By?” Tanya Meida sambil mengerjap-ngerjapkan matanya menatap suaminya yang sedang menguap.


“Baju kamu sudah datang sayang! Steve sudah di depan! Kamu tunggu disini, jangan keluar!” Meida menganggukkan kepalanya, melepas tangan suaminya yang menjadi bantal tidurnya.


“Iya By. Lagian aku gak berani keluar dengan pakaian seperti ini.” Melvin mengusap rambut istrinya yang sedang membelakanginya.


“Good Baby. Tunggu disini!” Melvin mencium kening istrinya dan berlalu menuju pintu depan.


“Lagian aku mau pergi kemana? Dasar aneh!” Gumam Meida sambil tersenyum dan melanjutkan tidurnya.


-


“Xie-xie Steve, maaf merepotkan mu.” Steven menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Tak sengaja matanya melihat tanda merah bekas gigitan di leher bos nya yang sangat kontras dengan warna kulit putihnya.


“Disini ada vampir yah ko?” Ledek Steven sambil tertawa. Melvin mengerutkan dahinya menatap bingung kearah Steven.


“Maksud nya? Kamu ngaco! Disini gak ada mahkluk yang begituan!” Sewot Melvin sambil menenteng paper bag untuk istrinya. Steven menunjuk kearah leher bosnya dengan ekor matanya.


“Itu di leher bos ada bekas gigitan vampir.” Melvin memegang lehernya sambil mencebikkan bibirnya dengan sedikit malu. Karena ia pun tak sadar dengan tanda itu.


“Kau sebut istri saya vampir?” Steven menggelengkan kepalanya dengan cengengesan.

__ADS_1


“Saya gak bilang istri koko vampir. Berarti itu ulah Nyonya besar? Nyonya besar ternyata ganas juga.” Melvin malah tersenyum sambil mengusap-usap lehernya yang sudah terlanjur ketahuan oleh bawahannya.


“Makanya nikah!” Kekeh Melvin yang kembali mengingat kejadian semalam ketika istrinya menggigit lehernya ketika sedang *******.


Ya Tuhan, untung hanya Steven yang melihat. Jika Mamih dan Papih melihatnya, saya pasti habis di bully.


“Ihh dasar gila.” Gumam Steven yang melihat atasannya senyum-senyum sendiri.


Pantesan aura wajahnya terpancar, ternyata udah pecah telor. Maklum pengantin baru,


Lirih Steven dengan menggelengkan kepala melihat aneh kearah bos nya.


-


“Bu, semalam Mamih menghubungi ibu gak?” Bi Ina menganggukkan kepalanya. Lalu membantu Melisa terbaring di kamar Meida.


“Mamih mu menanyakan kamu, karena nomor ponsel mu tak bisa dihubungi. Kamu kenapa Nak? Kenapa bisa bersama Jack?” Melisa menatap langit-langit kamar dengan tangan di lipat diperutnya.


“Ceritanya panjang Bu. Jack yang menolongku! Jika tak ada Jack, mungkin hidup ku tinggal nama.” Parau Melisa dengan suara gentirnya. Bi Ina menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Melisa lalu mengusap rambutnya.


“Ada apa sebenarnya Nak? Perasaan ibu jadi tak enak seperti ini. Ceritalah!”


-


☕☕☕☕☕☕☕☕


Vote, like, komennya di tunggu guys🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2