Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Pulanglah!


__ADS_3

Hamparan hijau membentang luas sejauh mata memandang. Istana besar di kelilingi beton-beton tinggi dengan pintu-pintu besar nampak terbuka, memperlihatkan keindahan dibaliknya. Ratusan wanita cantik bergaun putih berlarian dengan wajah bersinar layak nya rembulan. Mereka berlarian ke luar istana menuju taman dengan wajah penuh suka cita.


Meida hanya diam terpaku melihat pemandangan itu, jiwanya ikut damai takala melihat senyum lebar di wajah para wanita yang umurnya sebaya dengannya.


Meida berjalan kearah mereka untuk menyapanya. Tapi sangat disayangkan, mereka malah pergi berjalaan menjauhinya. Semakin dia mengejarnya, para wanita itu malah semakin berlari menjauhinya.


Langit cerah tiba-tiba menjadi mendung. Awan hitam bergelantungan menghias angkasa. Para wanita cantik itu kembali masuk ke dalam istana takala ada seorang wanita memanggilnya.


“Berhenti bermain, saatnya masuk!” Suara nyaring wanita itu membuat para wanita bergerombol masuk kembali ke dalam istana dengan berlarian tanpa mengajaknya.


“Tunggu, saya ikut! Jangan tinggalkan saya!” Meida mencoba mengejar mereka. Tapi sayang, setelah sampai di dekat pintu, tiba-tiba pintu itu langsung tertutup dengan rapatnya.


Meida terus mengetuk pintu gerbang besar itu dengan sekuat tenaga, namun tak ada seorang pun yang menyahuti ataupun membukanya.


Ia tak patah arang. Ia terus berjalan mengelilingi pintu istana itu, dengan harapan pintu yang lain masih terbuka. Tapi sangat disayangkan, semua pintu sudah tertutup dan hanya menyisakan  dirinya sendiri di luar.


“Tolong buka pintu nya! Izinkan saya masuk! Saya mohon!” Teriakannya sambil menggedor-gedor pintu gerbang itu. Tapi kejadian tadi kembali terulang, tak ada yang membukanya ataupun menyahuti teriakannya. Malah terdengar dari dalam suara orang yang sedang bersuka cita dengan tawa renyahnya yang terdengar sampai luar.Tak ada seorang pun yang mempedulikan dirinya, yang berdiam diri di tengah gerimisnya hujan.


“Yaa Allah, kenapa mereka tak membukakan satu pintu pun untukku?” Ucap putus asa Meida sambil menjatuhkan tubuhnya di depan pintu gerbang. Badannya sudah basah kuyup karena hujan kini berubah menjadi deras.


“Pergilah! Kami tidak akan membukakan pintu untuk mu! Menjauhlah, disini bukan tempatmu!” ucap suara nyaring tanpa wujud. Meida masih diam terpaku mencari sumber suara itu berasal. Matanya mengintari semua keadaan disekitarnya. Karena tak menemukan sumber berasalnya, Meida yang kedinginan itupun berdiri dengan tubuh lelahnya. Ia kecewa, karena tak ada seorangpun yang peduli dengan keadaannya yang sudah kedinginan. Ia berjalan sambil memeluk tubuhnya menuju kearah kursi yang pernah di dudukinya. Matanya tak beralih menatap istana megah yang terbuat dari mutiara, yang penghuninya malah mengusirnya.


Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba seorang wanita muda dengan mengenakan payung yang berwarna putih nan indah datang menghampirinya. Gaun putih wanita itu berkibar indah ketika air hujan menerpanya.


Di pintu yang lain nampak keluar seorang lelaki yang mengenakan pakaian serba putih dengan senyum manis yang tak lekang dari bibirnya. Meida diam terkesima melihat wanita cantik itu tanpa menyadari kehadiran lelaki yang berada di belakangnya.


“Kenapa kamu tak mengizinkan saya masuk?” Tanya Meida sambil memegang tangan wanita itu. Wanita itu tersenyum menatapnya sambil mengusap kepalanya.


“Jika kamu masuk ke dalam. Kamu tak akan pernah kembali!” Meida mengerutkan dahinya tanpa mengalihkan matanya dari wajah cantik wanita itu. Ia masih bingung dengan perkataannya.


“Kamu masih mengenali Ummah Nak?” Tanya wanita itu memandang meida dengan menyentuh pipinya. Meida menatap wajah wanita itu dalam, namun ia tak mengenali wajah wanita cantik itu sama sekali.


"Ini Ummah Nak. Sudah lama kita tak berjumpa. Maaf, ummah meninggalkan mu lebih dulu,” ucap wanita itu dengan matanya yang sudah memerah menahan tangis. Meida menatap dalam wajah wanita itu dengan menyipitkan matanya.


“Apa benar ini Ummah? Ummah Ainun yang merawat Meida dari kecil?” Tanya Meida dengan wajah tak percaya menatap wanita cantik itu. Ia masih bingung, wanita yang berada di  depannya sekarang masih muda, sementara Ummahnya dulu sudah berusia lanjut.


“Benar Nak. Kamu tak usah meragukannya Putri ku.” Wanita itu langsung memeluk Meida erat.


“Ini benar-benar Ummah, Kan? Meida rinduu ....” Wanita itu meneteskan air matanya dengan mencium kepala meida berulang-ulang.


“Ummah pasti menjemput Meida Kan?” Tanya Meida sambil melepaskan pelukannya. Wanita itu mengelus wajah Meida sambil menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Ummah tidak menjemputmu. Ummah hanya ingin menyuruh mu pulang! Ini bukan tempat mu. Belum saatnya kamu disini.” Meida menggelengkan kepalanya menatap nanar kearah wanita itu.


“Meida ikut Ummah! Meida tak tahu harus kemana, meida tak tahu jalan pulang. Izinkan Meida ikut dengan Ummah masuk ke dalam istana indah itu.” Pinta Meida sambil menunjuk kearah istana besar yang terbuat dari mutiara.

__ADS_1


“Tidak! Ummah tak akan mengizinkan mu untuk ikut dengan Ummah karena belum waktunya. Pulanglah! Banyak orang yang menunggu mu disana. Bukankah kau ingin bahagia? Ummah yakin, setelah ini kamu akan bahagia. Percayalah!” Tutur wanita itu sambil mengajak Meida berjalan memutari taman dengan kondisi yang masih hujan lebat.


“Meida lelah Ummah. Rasanya hidup yang Meida alami sangat menyedihkan. Perjalanan yang meida hadapi selalu saja terjal. Di saat Meida baru saja bahagia, tapi dengan secepatnya kebahagiaan itu berubah menjadi luka. Bolehkah Meida menyerah Ummah?” Parau Meida sambil terus berjalan di bawah derasnya hujan.


“Jangan menyerah, tetap lanjutkan hidupmu!” Ujar wanita itu sambil mengelus kepala Meida yang sedang menangis.


“Meida, putri Ummah. Hidup didunia hanya merupakan tempat tinggal sementara untuk melanjutkan perjalanan nan jauh menuju keabadian.


Dunia adalah perniagaan, pasarnya ialah menyendiri, modalnya adalah takwa, dan labanya adalah surga.


Nak, gunakan waktu sebaik mungkin di dunia, agar tak ada yang disesali nantinya. Waktu akan terus berganti dan hanya  kebaikan yang harus kita tuju. Jangan sia-siakan kesempatan untuk hidup, jika kamu tak ingin berakhir menderita nanti.” Nasihat wanita itu sambil terus menggandeng tangan Meida sampai ketepian danau biru yang sangat indah. Wanita itu mengajak duduk, dan tiba-tiba seseorang lelaki muda nan tampan menghampirinya. Wajah lelaki itu sangat bersinar, dengan gigi putih yang berderet.


“Kak Adib.” Lirih Meida setelah memandang dalam wajah lelaki itu. Lelaki itu hanya tersenyum lalu duduk di sampingnya.


“Lama tak berjumpa. Apa kau baik-baik saja?” Tanya lelaki itu sambil menelisik wajah Meida. Meida hanya menundukkan wajahnya, perasaannya berada dalam kegamangan. Seharusnya ia bahagia bisa bertemu dengan Adib, tapi nyata nya setengah hatinya malah terasa kosong.


“Apa Kak Adib datang untuk menjemput Meida sekarang?” Pertanyaan lemah Meida. Pertanyaan sama yang pernah ia lontarkan kepada wanita yang berada disampingnya.


“Apa kau ingin pulang bersama kami? Tapi sayang, wajahmu menyiratkan keengganan.” Jawab lirih Adib dengan kecewa. Ia memandang kearah hamparan danau biru yang amat luas yang berada di depannya. Meida tak menjawab pertanyaan Adib, matanya tiba-tiba berkaca-kaca ketika mengingat wajah seseorang yang tiba-tiba mengusik pikirannya.


“Tak usah di jawab, saya sudah tahu jawabannya. Apa kau mencintainya?” Tanya ulang Adib yang kini menatap Meida yang menundukkan wajahnya sambil menangis tergugu. Karena media tak menjawab pertanyaannya, ia pun melanjutkan ucapannya.


“Saya tahu kau mencintainya. Pulanglah! Dia menunggu mu!” Meida mengangkat wajahnya perlahan-lahan lalu menatap Adib dalam.


“Dia pergi ... Dia telah pergi ....” Sahut getir Meida yang kembali menangis. Adib menatap meida dengan mata berkaca-kaca, lalu memegang bahunya.


“Meida, mungkin ini titik terberat dalam hidup saya, tapi saya harus memutuskannya. Meida, saya mengikhlaskan mu untuk nya, dia lelaki baik. Saya yakin dia mampu menjagamu menggantikan saya.” Meida kembali menangis tergugu mendengar ucapan parau Adib. Hatinya tiba-tiba dihinggapi rasa  bersalah yang amat dalam, karena kembali melukai hatinya.


“Jangan merasa bersalah Meida! Mungkin ini takdir saya dan kamu yang tak pernah bersatu. Kamu harus melanjutkan hidup mu disana. Berbahagialah! Karena jika kamu bahagia, saya pun ikut bahagia. Dia sangat mencintaimu sama seperti saya.” Tutur pilu Adib sambil mengusap kepala Meida yang sama-sama menangis seperti nya.


“Maafkan Aku Kak! Maaf aku mengingkari perasaan ku.” Lirih Meida yang masih menundukkan wajahnya.


“Tidak Meida, lanjutkan hidupmu. Mungkin semuanya memang harus seperti ini! Maaf saya memutuskan untuk tidak menunggu mu lagi. Saya akan pergi lebih dulu, kini sudah ada yang menjagamu,” ucap pilu Adib sambil mengangkat wajah Meida untuk melihat wajahnya.


“Hiduplah berbahagia dengannya. Hapuslah janji diantara kita. Saya membebaskan mu! Pulanglah!” Meida malah mengencangkan tangisnya. Ketika Adib pergi meninggalkannya menuju gerbang pintu besar itu.


Meida langsung memeluk erat wanita yang  berada di sampingnya dan menangis tergugu dipelukannya.


“Pulanglah Nak! Keluarga mu menunggu mu! Dia pasti datang! Lanjutkan hidupmu! Berbahagialah!” Lirih wanita itu sambil meneteskan air matanya dengan mengelus pundaknya.


Meida berjuanglah! Bertahan! Lawan rasa sakit itu! Kami menunggu mu! Kami mencintai mu!


Ucap suara tanpa wajah yang menggema di langit mendung itu.


“Meida, saatnya kamu pulang Nak. Akhiri masa berkelana mu. Disana tempat kamu sebenarnya!” Lirih wanita itu dengan suara bergetar dan semakin memeluknya erat.

__ADS_1


Dek, koko mohon bertahanlah! Koko, Mommy, Daddy, Jonathan, Bu Ina, Paman Johan, Tante Dian menunggu mu!


Jangan pergi meninggalkan kami. Kasian Melvin, dia sedang berjuang disana untuk mu.


Suara jerit tangis seorang lelaki menghiasi langit yang sedang kelabu. Hujan seakan ikut menangis mendengar jeritan pilu yang menusuk kalbu.


Koko ... Daddy ... Mommy ... Jonathan ... Bi Ina ... Paman Johan ... Tante Dian ... Meida akan pulang. Lirih Meida ketika dadanya semakin sesak dengan tubuh yang bergetar.


Melvin, saya pulang! Lirih Meida ketika rasa sesak itu semakin menusuk dadanya.


Pergilah! Kami mengikhlaskan mu pergi ... pulanglah! Ucap samar suara penuh kesedihan itu masih terdengar di telinga Meida.


-


“Ko, sebentar lagi kita akan sampai ke Surabaya. Aku sudah berusaha beberapa kali menghubungi nomor Tuan Gilbert, tapi tetap saja tak bersambung.” Melvin yang sedang menatap awan di langit pun menolehkan kepalanya kearah steven yang sedang mengacungkan ponselnya.


“Kita langsung landing di Rooftop Rumah Sakit Internasional saja! Tak ada bantahan!” Jawab Melvin sambil menggigit punggung tangannya. Ia kembali mengkhawatirkan keadaan meida, yang sekarang entah ada perkembangan ataupun tidak. Steven langsung mengintruksikan kepada pilot untuk mendarat sesuai apa yang di perintahkan Melvin.


“Gunakan topi dan kacamata ini, agar tak ada orang yang mengenali koko.” Steven menyimpan kacamata dan topi di paha Melvin yang masih terdiam. Ia menepuk lengan Melvin hingga Melvin memandang sewot kearahnya.


“Kita landing sekarang! Sendal jepit Koko mau di ganti dengan sepatu gak?” Tawar Steven sambil melihat kearah sendal jepit berwarna biru yang di pakai di kakinya.


“Tidak perlu! Kau tahu dimana Meida di rawat?” Tanya Melvin sambil memakai kacamata dan topi hitamnya. Steven mengambil iPad di tangannya untuk mencari sesuatu.


“Meida masih di ruang ICU di lantai 2.” Melvin pun menganggukkan kepalanya ketika helikopter yang ditumpanginya landing di helipad Rumah Sakit. Ia meminta bantuan Steven untuk turun dari helikopter lalu memintanya untuk menggandengnya menuju lantai 2.


Ting


Suara lift berdeting. Mereka berdua langsung masuk ke dalam lift.


Perasan Melvin kembali cemas, takala lift itu perlahan-lahan turun. Jantungnya berdetak cepat dengan keringat di wajah dan tangannya.


“Tenang, semua akan baik-baik saja!” Steven mencoba menenangkan dengan menepuk-nepuk pundaknya.


Lift kembali berdeting, menunjukkan bahwa mereka sudah sampai di lantai yang di tuju.


Melvin langsung mengangkat kepalanya takala pintu lift itu terbuka. Ia berjalan melewati jejeran ruang ICU yang tampak hening dan sepi. Ketika ia berjalan menuju belokan ruang paling ujung, ia melihat satu ruang ICU yang tampak ramai. Di depan ruang itu nampak ramai orang yang sedang menangis. Ia menatap tajam kearah orang yang berjejer di depan ruang itu, matanya tiba-tiba memanas ketika beradu pandang dengan seorang remaja yang membelalakkan matanya, memandangnya dengan air mata berurai.


“Ko Melvinnnnnnnnnn!” Teriak remaja lelaki itu sambil berlari kearahnya.


-


☕☕☕☕☕☕☕☕☕


Like, komen, vote, sareng hadiahnya 😘♥️♥️♥️

__ADS_1


di antos pisan🤗


__ADS_2