Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Dia Suamimu!


__ADS_3

“Apa saya benar-benar sudah menikah? Apa lelaki mesum ini benar-benar suami saya? Perasaan sebelum tak sadarkan diri, saya masih single? Gumam pelan Meida yang terdengar samar-samar olehnya. Melvin kembali menahan tawanya dengan pipi yang mengembung, ia memegang dagu meida agar melihat kearahnya, lalu memegang tangannya dan diletakkan di dadanya.


“Kamu sudah menikah bukan single lagi. Kamu Ibu rumah tangga, bukan gadis lagi. Saya suami mu, itu kenyataannya.” Melvin berusaha menyakinkan Meida yang masih diam memikirkan ucapannya. Ia pun melanjutkan perkataannya,


“Maafkan saya yang pergi tanpa pamit, maafkan saya yang tak memberimu kabar selama ini, maafkan saya yang baru datang. Tapi percayalah! Saya berusaha menepati janji kita. Kamu ingat kita akan menikah, Kan? Kamu tahu, berapa hari kamu tak sadarkan diri?” Meida masih diam sambil menatap wajahnya seksama. Melvin tersenyum sambil meraba pelan wajah istrinya menggunakan punggung tangannya.


“Ingat janji saya? Saya akan menikahi mu bertepatan dengan tanggal pertemuan pertama kita. Kau tahu sekarang tanggal berapa? Kamu tidur terlalu lama sayang, sehingga melewatkan banyak moment penting. Saya sudah menikahimu kemarin malam, bertepatan di tanggal pertemuan pertama kita di Restoran itu. Maaf membuatmu menunggu selama ini.” Dengan tangan bergetar dan wajah shock. Meida meraba wajah Melvin dengan mata tak berkedip. Ia masih meragukan ucapan pria di depannya.


“Kamu serius kita sudah menikah? Kamu tidak bohong, Kan?” Meida mencoba menyelami kembali sorot matanya dengan wajah tak percaya dengan menelan salivanya.


“Kalau kamu bohong, saya yang rugi! Wajah saya sudah menjadi korban keganasan bibirmu.” Sewot Meida sambil menyentil bibir merah alami suaminya. Melvin kembali menarik nafasnya dengan menahan kekesalan sambil memijit pangkal hidung nya.


Sabar Melvin, dia istri tercintamu. Maklumi, dia butuh adaptasi ulang. Mungkin akibat terlalu banyak healing ke beberapa alam. Dia baru saja pulang sehabis berkelana, kamu harus ekstra sabar menghadapinya.


Meida, kenapa kau bisa semenyebalkan ini? Apa kau memakan sesuatu disana hingga seperti ini? Sungut Melvin dalam hati. Ia kembali tersenyum kearah istrinya, bertolak belakang dengan isi hatinya.


“Saya serius. Untuk apa saya berbohong?” Melvin memegang sebelah tangan Meida dan mengangkatnya tepat di depan wajahnya.


“Ini buktinya sayang! Ini cincin pernikahan kita. Kamu dapat lihat di dalamnya bertahta indah nama kita. Kamu jangan pernah menjualnya, karena cincin ini sangat berharga dan langka. Di Toko loak, di Afrika, ataupun di kedalaman segitiga bermuda, kamu tak akan menemukannya.” Meida menatap penasaran wajah suami nya dengan wajah polosnya.


“Selangka itu? Dimana kamu membeli nya?”


“Saya beli cincinnya di Surabaya. Makanya gak bakalan ada di Afrika ataupun di segitiga bermuda hehe.” Tutur Melvin dengan candaan garingnya. Meida mencebikkan bibirnya dengan mendorong pelan tubuh Melvin yang hanya berjarak beberapa senti di atasnya. Ia pun perlahan-lahan duduk, dan meminta Melvin untuk menyusun bantal di belakangnya agar ia bisa bersandar.


“Jangan pernah meragukan ucapan saya, karena saya tak bisa membohongi mu,” ucap pelan Melvin takala melihat Meida membuka cincinnya lalu melihat di lingkaran dalamnya terukir namanya dan Melvin.


“Ada bukti yang lainnya? Bukannya saya tak mempercayai mu. Tapi saya ingin semuanya jelas, agar tak ada keraguan di hati saya.” Pinta Meida dengan wajah imutnya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya kearah suaminya.


Yaa Allah Yaa Tuhanku, apa dia benar-benar istriku? Ya Allah, jangan sampai jiwanya tertukar dengan arwah-arwah disana. Do’a Melvin dalam hati menghadapi sikap istrinya yang tiba-tiba menyebalkan seperti awal pertemuan mereka.


Melvin pun menjambak-jambak rambutnya pelan sambil menyalakan ponselnya. Ia dengan wajah yang dipaksakan tersenyum memutar video pernikahannya, agar istrinya melihatnya.


Ekspresi Meida berubah-ubah ketika melihat video itu. Ia melihat kearah layar dan Melvin dengan berganti. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca ketika melihat Melvin dengan kemeja putih dan peci hitamnya mengucapkan Ijab Qabul, sementara dirinya masih terbaring dengan mata terpejam mengenakan gamis dan hijab berwarna putih dengan tangan terinfus. Meida menonton habis video yang berdurasi 30 menit itu lalu kembali menatap Melvin dengan air mata berlinang. Ia pun kini semakin gamang, tak menyangka jika dirinya sudah menjadi istri sah dari seorang Melvin Nagara.


“Believe me! Karena saya tak mungkin membohongi mu. Saya sangat mencintai mu. Jangan pernah meragukannya sedikitpun,” ujar lembut Melvin sambil menghapus air mata di wajah istrinya menggunakan ibu jarinya. Hatinya kembali bersorak, karena mampu meluluhkan hati istrinya yang menyebalkan itu.


“Berarti kamu suami saya?” Melvin kembali menganggukkan kepalanya dengan mencium sekilas bibir ranum istrinya yang nampak terbuka.


Meida pun hanya diam ketika Melvin mencium bibirnya. Ia tak berontak dan tak sehisteris tadi, karena ia sadar, jika ia berontak ataupun memukul Melvin, yang ada dosanya sebagai istri malah akan semakin bertambah.


“Iya. Saya adalah suami kamu, dan kamu adalah istri saya. Saya imam kamu, dan kamu adalah makmum saya. Terima kasih telah kembali.” Meida memejamkan matanya. Mencoba menerima semuanya, ada perasaan kesal bercampur bahagia. Namun, perasaan bahagia lebih mendominasi hatinya. Melvin memegang tangan istrinya dan menciumnya kembali.

__ADS_1


“Kamu harus ingat dengan janji saya! Sejauh apapun saya pergi, sejauh apapun saya melangkah. Kamu adalah tempat saya kembali. Kamu adalah rumah saya, kamu adalah cinta saya,  kamu adalah hidup saya.” Meida seakan terhipnotis oleh perkataannya. Namun tak bisa dipungkiri, masih banyak pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Ia hanya diam saja takala Melvin menggenggam kedua tangannya lalu mengalungkannya di lehernya.


Yeayy, akhirnya dia nurut. Singa betina ku mulai luluh.


“Dimana buku nikah kita?” Senyum Melvin tiba-tiba hilang atas pertanyaan istrinya yang tak pernah usai. Ia memilih mengalihkannya, dengan menghubungi Jack.


“Saya telpon Jack dulu untuk memeriksa kondisi kamu. Setelah itu, saya akan menceritakan semuanya.” Melvin mengambil ponsel di depan Meida dengan tangan nya. Ia masih menatap istrinya dengan penuh cinta, yang masih melingkarkan tangannya di lehernya. Ia  tak sedikit pun mengalihkan  pandangan dari wajah istrinya, ketika menghubungi Jack.


Setelah menghubungi Jack, Melvin langsung meletakkan ponselnya di samping Meida. Dan mereka saling menatap satu sama lain dengan mata penuh binar cinta dan tatapan penuh kerinduan.


“Setelah ini, jangan meragukan apapun! Saya mencintai mu!” Gumam pelan Melvin sambil menyentuh wajah istrinya. Dengan perlahan-lahan ia mendekatkan bibirnya ke wajah Meida yang sudah memejamkan matanya. Ia kembali memanggut lembut bibir istrinya dengan penuh perasaan. Meida hanya diam, ia menahan nafasnya dengan tubuh yang membeku, tiba-tiba wajahnya memanas dengan geleyar aneh yang mengaliri seluruh tubuhnya. Ia tak bisa menolaknya, ia malah membiarkan Melvin terus  memagut lembut bibirnya dan ikut terlena dengan permainannya.


“Hey bernafaslah! Saya tak ingin kamu mati.” Kekeh Melvin sambil memandang wajah istrinya yang memejamkan matanya dengan wajah merahnya menahan nafas. Meida membuka matanya, lalu mengeluarkan nafas yang di tahannya. Ia kembali menatap Melvin dengan pandangan sayu dengan menggigit bibirnya karena malu, yang Melvin yakini sebagai bentuk ketidaknyamanan istrinya.


“Maaf, jika saya membuat mu tak nyaman. Maaf, saya yang tak bisa menahan diri. ” Lirih Melvin dengan raut bersalah sambil mengusap pelan wajah istrinya. Ia memegang kedua tangan Meida yang berada di lehernya untuk melepaskannya, Meida menggelengkan kepalanya dengan menggigit bibirnya, dan ia malah semakin mengeratkannya. Melvin kembali tersenyum  dengan kode yang diberikan istri nya, ia pun melingkarkan tangan di pinggang istrinya lalu menempelkan dahi mereka. Meida menundukkan wajahnya sekilas, lalu mengangkatnya kembali.


“Bukannya saya tidak nyaman, namun saya bingung harus melakukan apa? Membuka atau menutupnya? Saya tak berpengalaman sedikit pun mengenai hal ini. Karena ini ciuman pertama saya.” Jujur Meida dengan wajah merah seperti tomat busuk kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Melvin terkekeh gemas melihat tingkah istrinya. Ia mengelus lembut bibir Meida dengan tersenyum penuh kebanggaan, karena menjadi yang pertama untuk istrinya. Hatinya bahagia ketika mendengar pengakuan istrinya, melebihi kebahagiaan mendapatkan tender yang harganya ratusan milyar.


“Sudah saya duga. Terima kasih sudah menjadikan saya yang pertama.” Melvin kembali mencium bibir istrinya sekilas. Kekesalannya pun lenyap tak tersisa, yang ada kini rasa cinta yang semakin membuncah pada istrinya.


“Saya sangat sangat bahagia! Saya terharu! Malam ini adalah malam terindah bagi saya. Terima kasih!” Melvin kembali melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Ia kembali memagut bibir ranum istrinya, dan mengelus-elus pundaknya pelan untuk menenangkan kegugupan yang dirasakan istrinya.


“Kamu hanya perlu membukanya dan ikuti saya!” Bisik Melvin yang kembali membuat tubuh Meida meremang dengan jantung bertalu-talu.


Dengan nafas yang terengah-engah Meida langsung mendorong tubuh suaminya yang sontak melepaskan ciuman mereka. Melvin menatap istrinya dengan nafas yang sama-sama terengah-engah sambil tersenyum, ia mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya, agar tak ada saliva yang tertinggal disana. Ia kembali tersenyum lebar, melihat wajah memerah istrinya yang tiba-tiba menutup tubuhnya dengan selimut.


Melvin menormalkan nafas dan detak jantungnya, lalu berjalan kearah pintu untuk membukanya.


Untung saya tak lepas kontrol. Jika tak ada yang mengetuk pintu, bisa jadi saya sudah kebablasan. Gumam pelan Melvin sambil membuka pintu dari dalam.


Cekrek.


Pintu itu terbuka, dan menampilkan wajah khawatir Jack yang masih menyampirkan stetoskop di lehernya.


“Ada apa? Apa Meida baik-baik saja? Kenapa lama sekali membuka pintunya? “ Tanya beruntun Jack langsung masuk ke dalam, tanpa menunggu jawaban dari Melvin. Ia langsung berjalan terburu-buru kearah belangkar Meida untuk memeriksa keadaannya.


“Yaa Allah, apa yang kau lakukan? Apa kau membunuhnya?” Pekik Jack yang melihat tubuh Meida tertutup selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala. Melvin berjalan mengikutinya dari belakang lalu memukul bahunya keras, hingga Jack mengaduh kesakitan.


“Sembarangan!” Ketus Melvin dengan menyuruh Jack membuka selimut  melalui kode matanya. Jack membuka bed cover yang menutup tubuh Meida dengan tangan bergetar.


“Hallo Jack.” Meida terlebih dahulu membukanya hingga Jack terperajat sampai mundur beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


“Astaghfirullah Meida ...” Jack memegang jantungnya yang teras copot. Melvin tersenyum kearah istrinya dengan senyum mesumnya, sedangkan meida membuang mukanya dengan mencebikkan bibirnya. Jack langsung berjalan kearah sepupu perempuannya dan memeluknya.


“Alhamdulillah, akhirnya kamu kembali Meida. Semua orang sangat mengkhawatirkan mu. Kami merindukan mu.” Meida pun tersenyum sambil melepaskan pelukannya karena Melvin terus saja menatapnya,


“Apa kamu sudah beritahu keluarga mu? Kenapa wajahmu merah dan panas seperti ini? Apa yang kamu rasa?” Tanya khawatir Jack sambil menyetuh dahi dan wajah Meida. Meida melepaskan tangan Jack yang berada di wajahnya dengan malu-malu.


“Saya baik-baik saja Jack. Cuman kaki saya masih kaku untuk digerakkan. Saya mohon, Jangan beri tahu keluarga saya dulu! Lagian ini sudah malam! Biarlah ini jadi kejutan mereka besok.” Kekeh Meida sambil tersenyum lepas. Senyum yang hilang dari wajah nya selama sebulan ini.


Meida memegang tangan Jack untuk menanyakan sesuatu agar dia bisa memantapkan hatinya 100%.


“Saya sudah menikah, Kan Jack? Dia benar-benar suami saya, Kan?” Jack mengerutkan keningnya lalu melihat kearah Melvin yang wajahnya memerah, yang sedang pura-pura memandang kearah langit-langit kamar.


“Emang kenapa? Apa dia melakukan sesuatu?” Tanya kepo Jack dengan cengengesan. Ia yakin, lelaki itu telah melakukan sesuatu pada sepupunya.


“Wajah kalian sama-sama memerah. Itu sudah menjadi bukti kuat, jika telah terjadi sesuatu diantara kalian.” Melvin dan Meida menjadi salah tingkah. Untuk mengusir rasa malunya, Meida dengan keras memukul bahu Jack sambil terkekeh.


“Jack jangan ngaco ah! Ngomongnya jangan ngelantur kemana-mana. Jawab dulu pertanyaan saya?” Jack pun menunjuk kearah Melvin yang sedang duduk di sofa,


“Dia memang benar suami mu, kalian sudah menikah. Jadi kalian sudah bebas melakukan apapun. Cepatlah pulih, suami mu butuh obat untuk mengobati sakit kepalanya.” Kekeh Jack yang kini menjahili sepupu perempuannya. Meida langsung memandang Melvin dengan pandangan menelisik.


Perasaan dia baik-baik saja. Jika dia sakit, tak mungkin seganas itu.  Batin Meida


“Kamu sakit? Kenapa gak minum obat? Mumpung Jack ada disini, periksalah kondisi mu! Biar sakit kepala mu hilang.” Jack kembali menahan tawanya dengan menutup wajahnya menggunakan lengannya melihat ekspresi polos sepupunya yang begitu saja mempercayai ucapannya.


Yaa Allah, pasangan ini benar-benar polos dan bodoh. Apa perlu saya les kan mereka ke dr. Boyke?


Melvin berjalan kearah istrinya sambil mengelus kepalanya.


“I'm good baby!” Ia menatap nyalang kearah Jack yang masih tertawa.


“Bisa kamu periksa istri saya sekarang?” Jack pun menghentikan tawanya dan tersenyum meledek kearahnya.


“Baik Tuan. Saya akan periksa Tuan Putri secepatnya.” Jack mengambil stetoskop di lehernya dan langsung mengecek kondisi sepupunya.


 -


Yang jomblo gigit jari di pojok kamar haha.


Tong hilap, like, komen, vote, rate, sama hadiahnya 🥰


☕☕☕☕☕☕

__ADS_1


biar malam bisa up lagi hehe


Hatur nuhun♥️


__ADS_2