
“Jonathan, tutup mata mu! Usia mu belum cukup 17 tahun! Kau belum boleh melihat adegan seperti itu. Otak polos mu nanti ternodai.” Teriak Jack sambil menutup kedua mata Jonathan yang sedang menatap layar monitor yang memperlihatkan adegan Melvin dan Meida saat berciuman setelah kepergiannya tadi malam. Jonathan menepis tangan Jack dengan cengengesan dan wajah bersemu merah.
“Saya sudah terlanjur lihat Jack. Apa itu yang dinamakan ciuman yang sering orang dewasa lakukan? Saya gak nyangka koko dan cici ciuman. Padahal mereka itu sama-sama jaim hihihi.” Kikik Jonathan dengan menutup mulutnya. Jack tak menjawab celotehan sepupunya yang masih di bawah umur itu, ia malah mempercepat pemutaran CCTV ke jam 05:30, agar mata sepupunya tak ternodai oleh tingkah pasangan pengantin baru itu. Mereka kembali fokus menatap layar monitor, ketika memperlihatkan Melvin yang sedang memakaikan mantel miliknya ke tubuh istrinya. Jack menunjuk layar itu sambil menggaruk dagunya,
“Inilah alasan kenapa saya yakin kalau mereka tak culik. Orang semalam mereka akan mempersiapkan kejutan. Mana ada orang di culik sekeren itu. Lagian cici mu ada-ada saja, tahu orang lagi mengkhawatirkannya ehh malah bikin ulah.” Jonathan menyipitkan matanya menatap tajam kearah Jack yang keceplosan dengan melipat tangannya. Ternyata Jack pun sudah mengetahui kesadaran cici-nya, dan menyembunyikan darinya.
“Berarti kau sudah tahu cici sudah sadar sejak malam? Kenapa kau tak memberitahuku?” Jack menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil cengengesan.
“Cici mu yang memintanya. Katanya dia akan memberi kalian kejutan dengan berita kesadarannya. Dan saya pun tak tahu apa kejutan yang dia rencanakan, tapi sepertinya kejutan mereka gagal.” Tunjuk Jack kearah monitor yang memperlihatkan Melvin yang sedang membentur-benturkan kepalanya ke dinding, karena di buat Frustasi oleh keinginan istrinya. Agar istrinya diam dan tak terus mengoceh, seperti biasa, Melvin mencium bibirnya untuk menghentikan ocehannya.
“Woww, mereka sosweat binggo. Jiwa jomblo saya meronta-ronta. Gimana rasanya ciuman Jack? Apa kau pernah melakukannya?” Tanya Jonathan dengan wajah riangnya. Jack pun memukul pundak sepupunya dengan mencebikkan bibirnya.
“Sekolah yang bener! Jangan mikirin hal yang begituan! Masih ingusan! Nanti kalau udah punya istri tahu sendiri rasanya gimana! Sekarang fokus dulu sekolah!” Nasihat Jack sambil menyentil dahi sepupunya dan kembali fokus menatap layar monitor.
“Memang tingkah mereka itu kadang romantis bikin orang iri, tapi kadang pula tingkahnya seperti kucing dan anjing, berantem mulu, kagak tahu tempat. Udah-udah close monitornya ke semula, kita keluar sekarang untuk memberitahu keluarga mu bahwa mereka baik-baik saja.” Perintah Jack sambil mengclose layar itu. Tak lupa ia mengcopy rekaman CCTV itu terlebih dahulu ke flashdisknya dengan senyum-senyum. Banyak rencana dalam pikirannya, untuk menjahili sepupu perempuannya.
“Yang kamu lihat tadi antara Cici-mu dan Melvin jangan diberitahu pada orang tua mu. Kasian, mereka nanti pasti malu. Anggap saja kita tak melihat apa-apa. Gimana kalau sekarang kita kerjain mereka balik?” Usul Jack sambil mengacungkan jari telunjuknya. Jonathan mengerutkan dahinya melihat kearah sepupunya dengan pandangan menelisik.
“Tenang, ini tidak akan menyakiti mereka. Kita buat kejutan balik haha.”
-
Melvin menelan salivanya kasar dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat istrinya yang menghabiskan 3 porsi bubur tanpa menyisakan sedikitpun untuknya.
“Kamu kelaparan sayang?” Melvin menyondorkan botol air minum kemasan kearah istrinya yang sudah melahap semua buburnya. Meida mengambil air minum itu dan meminumnya, setelah meminumnya ia kembali memberikan pada nya.
“Saya memang kelaparan, satu bulan lebih saya gak makan. Untung saja tenaga saya masih tersisa untuk mengangkat sendoknya. Terima kasih untuk buburnya, walaupun kamu membelinya dengan cara kredit, tapi tak mengurangi cita rasanya sedikit pun. Terima kasih sudah mewujudkan keinginan saya.” Melvin menganggukkan kepalanya. Ia membersihkan bibir istrinya dengan menggunakan ibu jarinya. Setelah itu, ia kembali memakaikan masker di wajah putih istrinya.
“Sudah kewajiban saya untuk mewujudkan semua keinginan mu, karena saya adalah suami mu.” Meida tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga menerima perlakuan romantis dari suaminya yang kini sedang mencium pipinya.
“Jangan disini! Diliatin banyak orang.” Melvin tersenyum dan kembali berjongkok di depan istrinya sambil menggenggam kedua tangannya.
“Berarti nanti yah.” Meida malah melengos dengan wajah memerah dan menundukkan wajahnya.
“Yang, kita kembali ke kamar yah. Ini sudah jam 07:30, saya tak bisa bayangkan mereka pasti ribut mencari keberadaan kita yang menghilang sejak pagi.” Ajak Melvin sambil memegang tangan istrinya. Lalu kembali menciumnya,
“Keluarga besar mu akan berkumpul hari ini. Mamih, Melisa, dan Papih pun pasti datang, semoga mereka datangnya nanti siang.” Harap Melvin sambil berdiri dan mendorong kursi roda istrinya.
“Emang kenapa kalau mereka datang sekarang?” Tanya Meida dengan wajah polosnya. Matanya tak berhenti melirik kearah kiri kanan melihat pemandangan indah yang disuguhkan taman rumah sakit miliknya.
“Mereka pasti marah sama saya karena tak mengabarkan kesadaran mu. Daddy dan Mommy apalagi. Saya takut mereka memecat saya menjadi menantu.” Meida malah terkekeh dengan ucapan suaminya. Ia mengelus tangan suaminya untuk menenangkannya,
“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Mana mungkin mereka marah pada menantu kesayangannya. Kalau mereka memecat kamu, saya tinggal nyari yang baru lagi haha.” Melvin menghentikan langkahnya. Ia kesal mendengar candaan istrinya yang tak berbobot. Meida yang terkekeh pun tiba-tiba langsung diam ketika suaminya mencondongkan tubuhnya,
“Saya tidak akan melepaskanmu, kecuali saya mati. Sepertinya saya harus cepat-cepat menghamili mu, agar kamu tak berpikir sedikitpun untuk meninggalkan saya.” Meida mencerna ucapan suaminya yang penuh penekanan dengan dada bergemuruh. Ia tak bisa berkata apapun, hanya wajah memerahnya yang mampu mengatakan isi hatinya.
“Jangan pernah meninggalkan saya!” Melvin mencium pipinya sebentar. Lalu kembali mendorong kursi roda istrinya menuju ruang kamarnya di lantai 4. Ia tak mempedulikan sedikitpun kehadiran bodyguard yang mengawal mereka dari belakang.
Dengan di kawal 2 bodyguard, mereka menyusuri beberapa lorong kemudian menaiki lift menuju lantai 4.
__ADS_1
-
“Yang, kamu ngerasa aneh gak? Perasaan lantai ini sepi banget deh, padahal tadi pagi auranya biasa aja.” Meida pun merasakan apa yang suaminya katakan. Lorong menuju ruang mereka terasa sepi, hanya terdengar suara hentakan kaki mereka yang menggema di lantai tersebut.
“Bukankah ini yang kamu inginkan? Jika sepi berarti tidak ada orang diruangan kita. Berarti kita bebas dari interogasi mereka. Aman, Kan?” Sahut Meida menetlasir ketakutan dalam hatinya. Mereka berhenti di depan pintu ruang kamarnya, tapi tidak langsung masuk.
Meida memegang tangan suaminya untuk mendekatkan kepalanya kearahnya,
“Kamu intip dulu keadaan di dalam! Semoga tak ada siapa-siapa.” Bisik Meida di telinga suaminya. Melvin pun menganggukkan kepalanya, lalu mencari celah untuk mengintip keadaan di dalam. Setelah melihat ranjangnya yang kosong, dan ruang sekelilingnya nampak hening. Ia membalikkan tubuhnya untuk memberitahu istrinya.
“Aman sayang!” Gumam pelan Melvin. Ia menyuruh bodyguardnya untuk membuka pintu, lalu mendorong kursi roda istrinya masuk. Tak lupa ia mengucapkan salam terlebih dahulu,
“Untung kita datang di waktu yang tepat. Untung Daddy dan Mommy gak ada, kita selamat dari omelan mereka,” ucap Melvin dengan wajah sumringahnya sambil menutup pintu. Ia tak menyadari ekspresi terkejut istrinya, yang membelalakan matanya melihat kearah samping.
“Ohh berarti kau anggap saya tukang ngomel? Jadi begini kelakuanmu sebenarnya jika tak ada saya?” Suara bariton itu mengagetkan Melvin. Ia menolehkan kepalanya kearah samping, melihat kearah sumber suara. Ia melihat keluarganya dan keluarga Meida yang sedang duduk berjejer di sofa dengan melipat tangannya, menatap kearahnya dan kearah Meida dengan sinis.
“Bu..bukan ma..maksud saya se..se..perti itu dad.” Jawab gugup Melvin dengan wajah pusat pasinya. Ketika melihat semua pasang mata mengintimidasi kearahnya, ia langsung memegang bahu istrinya karena gugup bercampur takut.
“Papih tak pernah mengajarkan mu menjadi kurang ajar begini. Kenapa kau menyembunyikan kesadaran istri mu dari kami? Apa kami tak berharga lagi di mata kalian, setelah kamu berhasil mempersuntingnya? Hingga kau menyembunyikan ini semua dari kami?” Tanya Nagara sambil menolak pinggang menatap Putra lelakinya dengan penuh amarah. Kemarahannya tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Gilbert.
“Daddy sangat kecewa padamu Melvin! Dan kamu Jaslin, sebegitu tidak berharganya Daddy di mata mu hingga kamu enggan memberitahu Daddy? Kamu masih membenci Daddy? Kamu belum bisa menerima Daddy sebagai ayah mu?” Meida menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca melihat kesedihan di wajah Daddy-nya. Bukan maksudnya seperti itu, ia hanya ingin memberi kejutan untuk keluarganya tak lebih.
“Bu..kan maksud aku seperti itu Dad. Kalian salah paham! Aku sengaja menyuruh Melvin untuk tidak memberitahu kalian, karena keadaan sudah malam. Dan tadi kami pergi pagi-pagi, karena aku lapar. Aku minta Melvin untuk mengantarkanku mencari tukang bubur, makanya kami baru bisa kembali sekarang. Bukannya kami menyembunyikan hal ini dari kalian, sumpah kami tak bermaksud.” Jawab Meida dengan suara bergetar. Wajahnya kembali pias dengan keringat dingin di dahinya. Andress menatap sinis wajah adiknya, dengan senyum mengejek.
“Jika kau belum bisa menerima kami sepenuhnya, bilang saja! Jangan seperti ini! Kau tahu betapa khawatirnya kami mencari mu! Kau tahu bagaimana perasaan Daddy dan Mommy ketika melihat belangkarmu kosong? Mungkin kau menganggap ini semua hanya lelucon, tapi tidak bagi kami!” ucap sinis Andress sambil menatap adiknya yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Tidak ada niat dan maksud ku seperti itu ko. Maaf telah membuat kalian khawatir!” Lirih Meida sambil menundukkan wajahnya dengan rasa bersalah.
“Bibi kecewa pada kalian berdua. Kalian seperti tak menghargai keberadaan kami. Lakukanlah sesuka kalian! Jangan pernah memikirkan perasaan kami lagi!” Sahut pelan Bi Ina yang tenang namun perkataannya menusuk hati. Ia duduk di samping Melisa yang wajahnya terlihat dingin dan tak bersahabat.
“Tidak Bu! Kalian salah paham. Kami tak bermaksud seperti itu.” Tutur Melvin sambil mengusap lembut kepala istrinya.
Kini posisi Melvin dan Meida tersudutkan. Sekuat apapun mereka menjelaskan, namun keluarganya tak menerima alasannya sedikitpun.
“Mungkin kalian sudah tak membutuhkan kehadiran Mommy lagi. Apalah daya Mommy, Mommy hanyalah seorang ibu yang memiliki banyak kekurangan dengan masa lalu kelam. Wajar jika kalian tak menghargai Mommy.” Tutur Zaina yang berada di pelukan Dian. Meida mengangkat wajahnya menatap zaina dengan mata berkaca-kaca, berharap mommy-nya dapat mempercayai ucapannya.
“Mamih kecewa padamu! Kamu menyalahgunakan kepercayaan kami. Mamih malu! Kau mempermalukan kami di depan mertuamu!” Teriak Helena sambil menunjuk wajah Melvin. Ia berjalan kearah Putranya lalu menamparnya keras. Semua yang berada di ruang itu terpana melihat kearah mereka berdua. Melvin hanya diam dengan menundukkan wajahnya, ia tak melawan atau membantah sedikitpun perkataan Mamihnya.
“Mamih tahu, sekarang kamu adalah suami Meida. Tapi yang membuat mamih kecewa, kamu mengendalikan Meida hingga tak menghargai keluarganya lagi.” Pandangan Helena kini beralih pada Meida yang sedang menangis sambil menggenggam tangan Melvin erat.
“Dan Mamih pun kecewa padamu Meida. Kau menjadikan semua ini bahan lelucon hanya untuk kesenangan mu! Kau tahu betapa keluarga mu sangat mengkhawatirkanmu selama ini? Dan kau menambah kekhawatiran mereka dengan tingkah konyol mu ini! Dimana hatimu? Jika sekiranya Melvin memberi pengaruh jelek untuk mu, tinggalkan dia! Begitupun sebaliknya!” Melvin memegang lengan Mamihnya erat dengan wajah memohon.
“Mih, semuanya tak seperti yang kalian pikirkan! Percuma kami menjelaskan jika kalian tak mempercayainya. Jika tingkah kami menyakiti kalian, kami minta maaf. Melvin siap menerima hukuman dari kalian.” Melvin meluruhkan tubuhnya di samping isterinya. Ia duduk dilantai dengan melipat kakinya, yang di tumpukkan pada punggung kakinya. Meida menangis tergugu dengan menggigit bibirnya melihat kearah suaminya.
“Jika kau siap. Bersediakah kau meninggalkan Putri saya? Kau membawa pengaruh buruk untuknya. Saya akan mencarikan jodoh terbaik untuknya.” Meida langsung menatap wajah Gilbert dengan tak percaya. Hatinya tiba-tiba sakit mendengar ucapan Daddy-nya yang akan memisahkan dirinya dengan cintanya. Begitupun Melvin, ia menatap wajah Gilbert dengan mata berkaca-kaca.
“Dad, aku mencintainya! Jangan pisahkan kami. Dia tidak salah! Dia tidak membawa pengaruh buruk! Aku yang salah! Semua ini adalah ide-ku. Awalnya aku ingin memberi kejutan pada kalian, tapi akhirnya seperti ini. Semua ini salahku!” Melvin melihat kearah istrinya dengan air mata pilu. Ia merasakan ketakutan yang istrinya rasakan. Gilbert melipat tangannya mendengar pengakuan anaknya,
“Daddy bertanya padanya, bukan padamu!” Tunjuk Gilbert kearah Melvin yang sedang menggenggam tangan Putri-nya erat.
__ADS_1
“Maaf dad, saya tak bisa meninggalkan dia! Seberapa kuat pun daddy memaksa, saya akan tetap teguh pada pendirian saya untuk tetap bersamanya. Karena saya pun sangat mencintainya!” Tegas Melvin yang semakin mengeratkan pegangan tangannya. Memberikan kekuatan pada istrinya untuk tak mengkhawatirkan masalah yang tengah mereka hadapi, qgar tak memengaruhi kesehatan nya.
“Melvin ikuti apa yang diucapkan mertuamu. Lepaskan dia! Jika kalian tetap bersama, kalian akan sama-sama memberikan pengaruh buruk. Jika kamu terus melanjutkan pernikahan ini, yang papih takutkan istri mu tak menghargai keluarga kita, keluarga sendirinya pun tak dihargainya. Papih janji akan menjodohkan mu dengan wanita yang lebih baik dari istri mu. Banyak wanita cantik diluaran sana yang mengantri ingin menjadi istri mu.” Dada Meida semakin sesak mendengar ucapan mertuanya. Ia menggigit bibirnya kasar dengan menundukkan wajahnya. Hatinya kembali sakit mendengar hinaan yang dilontarkan padanya di depan keluarganya, tanpa ada satupun keluarganya yang membelanya.
“Benar apa yang diucapkan Papih mu, lepaskan Putri saya! Karena baru beberapa hari kau menjadi suaminya, kau sudah mengendalikannya, dan tidak menghargai posisi kami sebagai orang tuanya!” Sinis Gilbert yang kembali bersuara dan kini bersitegang dengan Nagara. Melihat suasana yang semakin tegang, Melvin menggeser posisinya kearah istrinya dan langsung memeluknya memberi kekuatan. Ia seolah menyalurkan energi positif pada istrinya lewat pelukannya.
Don’t cry baby! Saya disini! Saya tak akan pernah meninggalkan mu selangkah pun. Gumam pelan Melvin yang membuat Meida semakin mengeratkan pelukannya. Setelah Meida cukup tenang, Melvin melerai lembut pelukannya dan membalikkan tubuhnya menatap satu persatu orang yang berada di hadapannya dengan tajam.
“Apa gara-gara masalah ini lantas kalian memaksa kami untuk berpisah? Kalian dengar! Sampai kapanpun saya tak akan pernah melepaskan Meida, karena dia adalah istri saya. Hidup dan matinya adalah tanggung jawab saya. Saya tak mengingkari janji yang telah saya buat dengan Tuhan saya!” Tegas Melvin. Ia lalu berjalan ke belakang kursi roda Meida untuk mendorongnya. Namun lengannya di tahan oleh istrinya, yang kini sudah mengangkat wajahnya dan melihat langit-langit ruangan.
“Aku tak menyangka masalahnya akan sepelik ini. Gara-gara masalah sepele, kalian menyalahkan kami, dan ingin memisahkan kami, tanpa mau mendengar alasan yang kami katakan walaupun dengan penuh kejujuran. Kami minta maaf atas tingkah konyol kami, jika itu menyakiti hati kalian!” Parau Meida sambil menghapus air matanya yang kembali berlinang. Ia memandang kearah Zaina, lalu kearah Gilbert, dan yang terakhir kearah Andress.
“Jika tahu akan seperti ini, lebih baik aku tak bangun saja. Lebih baik aku tinggal di sana bersama Ummah dan Abi, agar aku tak merasakan pelik kehidupan lagi. Percuma aku disini, ternyata kalian tak mengharapkan kehadiran ku sama sekali. Yah, disini aku kembali sadar, ternyata kehadiranku dimana-mana tak diharapkan. Takdir ternyata belum merestuiku untuk bahagia.” Kekeh getir Meida yang kembali menghapus air matanya menggunakan lengan mantelnya. Melvin yang berada di belakang Meida memegang kedua bahunya erat dengan air matanya yang kembali berlinang.
“Sayang, Please! Jangan ucapkan kata itu lagi! Kamu berharga!” Meida mengusap punggung tangan Melvin yang berada di bahunya, dan kembali tersenyum getir.
“Rasa sayang yang pernah kalian berikan, yang membuatku terlena, dan bodohnya aku begitu menikmatinya. Rasa sayang yang kalian berikan, yang mampu mengobati rasa hausku, akan sebuah kasih sayang yang selama ini sangat kurindukan. Namun semua itu kini hanyalah angan, dan sekarang aku kembali di tarik paksa oleh kenyataan. Mungkin aku terlalu naif, merasa seperti orang yang paling bahagia di dunia ini karena memiliki keluarga yang sempurna yang dari dulu kuimpikan. Memiliki orang tua penyayang, kakak yang mengayomi, adik yang bertanggungjawab, pasangan yang selalu menjaga dan mencintai.”
Semua orang yang berada di ruang itu menundukkan kepalanya. Mendengarkan ungkapan pilu yang diucapkan Meida dengan menahan air matanya.
“Ternyata hidup ku memang bukan disini, ternyata kebahagiaan yang selama ini kurasakan hanyalah semu. Dan mulai sekarang, aku akan lebih sadar diri dalam menempatkan diri, dan lebih kokoh membentengi diri, agar tak mudah mempercayai orang lain. Apalah dayaku, aku hanyalah orang asing yang tiba-tiba datang di kehidupan kalian.” Melvin mencium pucuk kepala istrinya berulang-ulang dengan memeluknya dari arah belakang.
“Terima kasih untuk semuanya, dan mungkin sekarang aku harus mengakhirinya. Aku akan pergi bersama rasa kecewaku!” Pamit Meida dengan meminta Melvin mendorong kursinya kearah luar. Ketika mereka akan menggapai pintu,
Tiba-tiba suara confetti bersahutan di ruang itu.
Dor dor dor
“Kejutannnnnnn!!!!!!”
“Selamat, Kalian kena prankkk!!!!!!”
Teriak Jack dan Jonathan berlarian kearah mereka sambil menyanyikan lagu Happy birthday dengan membawa kue. Semua orang di ruang itu menangis gembira dan berjalan kearah mereka berdua yang sedang berpelukan. Meida dengan menangis tergugu, semakin erat memeluk Melvin dan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya.
-
Bu yao wangji..
Like, komen, vote, rate, sama hadiahnya 😘🤗
Xie-xie ..
Wo ai ni buat reader semua😘♥️
Gomawooo, always stay di novel amatiran ini🤗😘😍♥️♥️♥️♥️
Khusus malam ini aku sengaja bikin sampe 3K, biar kalian puas bacanya 🤗😘😍🥰
Tong hilap ☕☕☕☕☕☕
__ADS_1
Hatur nuhun♥️