Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Memberikan Pelajaran


__ADS_3

Akhirnya Sandra menghubungiku.


Melisa menepi dari ruang ramai, menuju kamarnya yang berada di lantai 7. Ia berjalan cepat menuju lift lalu menjawab panggilan darinya,


“Hallo Sandra, ada keperluan apa kau menghubungiku?” Sinis Melisa sambil menekan angka 7. Pintu lift itu langsung tertutup dan berjalan naik ke lantai atas.


“Jangan bergalak tidak tahu apa-apa hah! Apa yang kau lakukan padaku kemarin malam hah?” Melisa terkekeh mendengar suara Sandra yang terdengar sangat emosi. Ia menggigit jari telunjuknya dengan wajah mengejek.


“Menurutmu aku melakukan apa? Perasaan, aku tidak melakukan apa-apa. Memang apa yang terjadi dengan mu?” Tanya pura-pura Melisa berlagak seperti orang bodoh. Sandra yang berada di ujung sana mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih dengan wajah merah padam karena sudah terbawa emosi.


“Jangan pura-pura bodoh Melisa! Kau dalang dari semua kejadian yang menimpaku, Kan?”


Melisa menyunggingkan senyum devil nya. Ia ingin bermain-main dulu dengan Sandra, menguji seberapa jauh kesabaran wanita culas itu.


“Kenapa menyalahkan ku atas semua kejadian yang menimpamu? Kau sangat naif Sandra. Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai. Kenapa menyalahkan ku?” Terdengar Sandra menarik nafasnya kasar dengan gigi yang bergemelutuk.


“Waiters club itu memberitahuku bahwa kau yang menggandengku ke kamar club ketika aku mabuk berat.” Jawab Sandra dengan penuh penekanan. Melisa langsung terkekeh dengan menggigit jari telunjuknya. Ia keluar dari lift menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Mamih dan Papihnya.


“Bukankah kamar itu sudah kau pesan terlebih dahulu? Aku mengetahuinya langsung dari Manager club ketika akan memesan kamar untuk mu, apa aku salah mengantarmu kesana?” Tanya santai Melisa dengan merapikan rambutnya.


Di ujung sana, Sandra nampak menggigit punggung tangannya dengan mata melotot. Kamarnya sudah seperti kapal pecah, peralatan make up berceceran di lantai, beberapa vas bunga yang berada di kamarnya pecah, ranjang yang berantakan, tas mewahnya yang tercecer dimana-mana karena amukannya..


“Jangan bertele-tele! Apa kau sengaja melakukan itu?” Tanyanya seraya menghapus tanda merah yang memenuhi leher dan d*danya dengan menggesek-gesekkan kasar menggunakan tangannya. Nampak dada dan lehernya memerah akibat terlalu lama di gesek.


“Menurutmu?” Sahut enteng Melisa yang membuat gejolak amarahnya memuncak.


“Jawab Melisa! Aku butuh jawaban dari mu!” Teriaknya seraya melempar cermin menggunakan vas bunga yang berada di atas nakas.


Pranggggg

__ADS_1


Cermin itu langsung pecah, serpihannya bertaburan di lantai kamarnya. Nafasnya kembali memburu dengan mata yang sudah memerah.


“Aku sengaja mengantarmu ke kamar yang telah kau pesan, agar kau hemat biaya. Aku tak bisa membawamu pulang ke rumah, karena Papih dan Mamih tidak akan mengizinkan mu untuk masuk. Kau pasti tahu itu!” Sandra menghapus air mata yang jatuh di wajahnya dengan tangan bergetar. Ia hanya memakai tank top berwarna putih dengan celana hotpants sepaha.


“Kau membubuhkan obat p*rangsang di minumanku, Kan?” Parau Sandra dengan nada suaranya yang lemah tidak seperti tadi. Ia melihat bayangan wajahnya yang berantakan. Rambut yang tidak di sisir, maskara yang luntur karena air mata, hidung yang memerah karena terlalu lama menangis.


“Bukankah kau yang akan membubuhkannya di minumanku?” Tanya sinis Melisa di seberang sana dengan penuh penekanan. Sandra langsung membulatkan matanya dengan degup jantung yang berdebar-debar.


“Maksud mu? Aku tidak mungkin melakukan perbuatan kotor itu.” Jawab gugupnya dengan tangan yang kembali bergetar. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, tanpa mempedulikan kakinya yang berdarah karena menginjak serpihan kaca yang bertebaran di lantai.


“Jangan berkilah! Aku sudah tahu rencana licik mu Sandra. Bukankah di pertemuan pertama kita, kau membubuhkan obat perangsang di minumanku? Dan mempersiapkan 3 preman di depan restoran untuk menculik dan memperk*saku? Apa kau ingat? Atau pura-pura lupa? Tapi sayang, aku tak sebodoh itu!” Sandra memegang erat stand hanger di pojok kamarnya. Ketakutan begitu saja mendera hatinya, ketika ia mengingat dengan jelas rencana untuk mendapatkan Melvin dengan cara menghancurkan hidup Melisa dengan menyuruh orang untuk menculik dan memp*rk*sanya.


“Ka..ka..u tau darimana? Kau jangan sembarang menuduhku!” Kilahnya dengan suara bergetar menahan tangis bercampur takut.


“Kau masih tak ingin mengakuinya? Kau memperalat ku untuk mendapatkan Ko Melvin, agar kembali ke pelukanmu, Kan? Walaupun itu sangat mustahil, karena ko Melvin tak mungkin melirikmu. Aku mendengar semua percakapan mu malam itu Sandra!” Tegas Melisa dengan jelas. Dada Sandra kembali bergemuruh, ternyata dia yang dipermainkan tergetnya selama ini. Ia kira Melisa tak mengetahui rencananya malam itu, nyatanya Melisa mengetahui semuanya.


“Shittt, ternyata kau menipuku dengan pura-pura tidak tahu. Yah, aku memang melakukan itu semua. Karena aku masih mencintai Melvin!” Teriak Sandra seperti orang kerasukan dengan melempar semua barang yang berada didekatnya ke lantai. Ia sudah tak memperdulikan rasa sakit dikakinya. Ia membanting stand hanger di pojok ruangan, hingga pakaiannya ikut terlempar.


“Aku pasti mendapatkannya! Lihatlah nanti! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk merebutnya kembali dari istri kampungannya itu,” ucap pongahnya dengan bibir bergetar. Ketakutan bercampur penyesalan kini merasuki hatinya. Karena bersikap angkuh dan serakah, masa depannya kini dipertaruhkan.


“Tidak semudah itu Sandra. Oh yah, apa malam mu menyenangkan? Sepertinya kau melewati malam itu dengan panas dan sangat panjang. Apa kau ingin melihat diri mu malam itu seperti apa? Ketika kau menari dengan er*tis di depan orang suruhanmu sendiri. Kau sangat menikmati c*mbuan dari mereka dengan bertingkah agresif.” Sandra pun terpancing oleh ucapan Melisa. Ia langsung melempar pigura fotonya ke lantai, lalu menjambak-jambak rambutnya seperti orang gila.


“Apa yang kau ucapkan s*tan! Jangan main-main dengan ku!”


Melisa yang berada di balkon kamarnya tersenyum lebar sambil menutup mulutnya. Ia merasakan kekhawatiran dan ketakutan wanita culas yang ingin menghancurkan hidupnya, yang kini malah berbalik pada dirinya sendiri.


“Seharusnya kau tidak bermain-main denganku! Kau ingin melihatnya? Aku tak keberatan untuk memperlihatkannya padamu!” Ucap santainya seraya duduk di kursi rotan yang tergantung pada besi.


“Kau merekamnya? Kau sungguh keterlaluan Melisa!” Melisa pun berdiri ke sisi balkon yang dikelilingi pagar besi. Menghirup udara dengan memejamkan matanya,

__ADS_1


“Kurang kerjaan sekali aku merekam kegiatan panas mu seperti itu. Bukankah sekarang zamannya canggih Sandra? Aku tak perlu menyaksikannya secara langsung untuk melihatnya! Benarkan?”


“Aku yakin kau merekamnya. Hapus rekaman itu Melisa! Atau aku akan melaporkan mu ke polisi.” Ancam Sandra dengan sungguh-sungguh. Melisa kembali tertawa, suara tawanya bergema diantara semilir angin dengan mata membentuk bulan sabit.


“Tak salah kau akan melaporkanku ke polisi? Kau mau menuntut apa? Yang ada aku akan melaporkan mu balik! Kau lucu sekali Sandra, kau ingin berdalih dari pelaku menjadi korban? Sadarlah! Masalah yang menimpa mu sekarang adalah hasil dari perbuatan mu sendiri, jangan menyalahkan orang lain.” Melisa menyugar rambut panjangnya kebelakang. Ia membiarkan angin sore memainkan rambutnya. Ia pun melanjutkan perkataannya,


“Bagaimana respon orang tuamu jika melihat video itu. Putri yang selama ini dibangga-banggakannya, tak ayalnya seperti p*lacur. Bagaimana jika video ini tersebar luas? Bagaimana dengan karier yang telah kau bangun selama 2 tahun ini? Ya Tuhan, aku yakin hidupmu pasti hancur! Nama keluarga mu pun pasti ikut terseret! Bagaimana keluarga mu menghadapi judge, dan cibiran dari masyarakat? Bagaimana keluarga mu menghadapi semua ini?”


Suara tangis Sandra terdengar di balik telpon. Ia tak menjawab sama sekali perkataan Melisa, yang ada suara tangis keputusasaannya terdengar semakin keras.


“Sandra, ingatlah sekarang Kartu As mu berada di tangan ku. Jika kau menuruti kemauan ku, aku jamin video ini tak akan tersebar. Dan jika kau tak mau diam, dan terus berulah menggangu keluargaku, apalagi mengganggu rumah tangga Koko ku. Siap-siaplah! Dengan sekali tekan, video panas mu akan tersebar keseluruh negeri. Terserah kau mau sebut aku wanita jahat ataupun kejam, karena kamu yang membuatku menjadi seperti ini.” Dengan terbata-bata dan terisak Sandra menyauti ucapan Melisa dengan suara pelan.


“Kau mengancam ku?” Meida mengerucutkan bibirnya lalu tersenyum,


“Pilihan ada di tangan mu! Aku tunggu jawaban mu malam ini! Enyahlah dari kehidupan keluarga ku, jika kau ingin hidup normal, dan nama baik keluarga terjaga, serta karier mu tidak hancur!”


Melisa langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Sandra. Ia menarik nafasnya dalam seraya tersenyum.


Akhirnya masalah pertama selesai. Semoga tidak ada yang mengusik keluarga ku lagi. Sandra maafkan aku, jika aku terlalu kejam. Tapi ini salah mu, hingga aku berbuat sekejam ini.


-


Semoga NT cepet lulusin review, soalnya udah 2x revisi hehe


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕


Like sama vote nya yah guys😘😘😘


Hatur nuhun buat yang masih setia di Novel amatiran ini.😘

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa guys♥️♥️♥️


__ADS_2