Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Izinkan Saya Untuk Menikahinya


__ADS_3

“Meidaaaa!!!” Teriak Melvin sambil membuka matanya. Dahinya berkeringat dengan nafas memburu, ia menatap kearah selang infusan yang berada di tangannya. Ia menatap ke sampingnya, nampak Bi Ina tersenyum kearahnya.


“Kamu sudah sadar Nak?” Tanya Bi Ina sambil memegang tangan Melvin yang sedang berusaha melepas selang infusan nya. Melvin menggelengkan kepalanya berusaha menghalau tangan Bi Ina yang sedang mencekal tangannya. Ia kembali teringat dengan kondisi meida yang sedang kritis di ruang ICU.


“Tolong lepaskan tangan saya Bu! Saya harus melihat Meida. Saya harus pergi! Saya harus ke ruang ICU!” Bi Ina menggelengkan kepalanya sambil memeluknya. Ia membiarkan Melvin tenang terlebih dahulu baru melepaskan pelukannya.


“Tolong lepaskan saya Bu! Saya harus menemui Meida.” Pinta Melvin dengan suara bergetar. Ia tak menyadari dengan kehadiran banyak orang yang berada di ruangannya. Ia terlalu fokus mengingat Meida sampai tak memperhatikan keadaan di sekelilingnya.


Bi Ina melerai pelukannya lalu memegang kepalanya lembut.


“Untuk apa kamu pergi ke ICU? Mencari Meida? Kamu tak akan menemukannya.” Mata Melvin berkaca-kaca. Ia sudah menduga kejadian buruk telah menimpa calon istrinya. Tapi ia di buat bingung dengan raut wajah Bi Ina, bukannya wajahnya terlihat berduka tapi malah terlihat bahagia.


“Bu, jangan bilang Meida ....” Melvin tak mampu melanjutkannya perkataannya. Bi Ina langsung menolehkan kepalanya kearah samping dan menyuruhnya untuk melihatnya.


“Meida ada disini, dia ada di sampingmu!” Kekeh Bi Ina dengan tersenyum haru. Melvin membelalakkan matanya tak percaya, ternyata di samping belangkarnya terdapat belangkar Meida. Dan nampak keluarga besar Atmadja, yaitu keluarga Gilbert dan Johan sedang berkumpul di sofa di samping Meida. Adapula Steven yang sedang tertidur nyenyak di kasur bersama Sabiru karena kecapean. Ruang luas dan besar itu kini di buat senyaman mungkin dan hanya di isi oleh keluarga Atmadja. Rumah sakit itu kini telah menjadi rumah kedua bagi mereka.


Nampak Gilbert dan Johan tersenyum kearahnya lalu berjalan menghampirinya.


“Alhamdulillah, Meida mampu melewati masa kritisnya. Kehadiran mu memberikan energi positif bagi dirinya. Keadaan nya sekarang sudah membaik, dan tinggal menunggu sadar. Benar apa yang dikatakan Jonathan, kamu adalah pawang Meida.” Bisik Bi Ina sambil menunjuk kearah Meida yang sekarang hanya terpasang selang infus. Alat ventilator telah di lepas dari hidungnya, begitupun beberapa alat medis yang ada di dadanya.


Kini Meida terlihat seperti orang yang sedang tertidur dan hanya menunggu bangun, nafasnya nampak teratur. Wajahnya terlihat damai dan menenangkan siapa saja yang melihatnya.


“Alhamdulillah,” Gumam pelan Melvin tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat wajah Meida dan melihat kelegaan di wajah keluarganya yang sedang tersenyum kearahnya.


“Kamu tidak papa Nak? Kenapa kamu bisa seperti ini? ” Tanya Gilbert ramah sambil duduk di belangkar Melvin.


Melvin menggelengkan kepalanya sambil menghapus sudut matanya. Dia bersyukur, praduga negatifnya tidak menjadi kenyataan.


“Saya tidak papa Om,” Jawabnya yang berlainan dengan keadaannya.


Johan yang berdiri di sampingnya pun ikut menyaut.

__ADS_1


“Tidak papa gimana? Tubuhmu kelelahan dan kurang cairan. Kalau tidak cepat di tangani mungkin kamu sudah terkena penyakit tifus. Apa yang sebenarnya terjadi Nak?” Melvin menundukkan wajahnya. Ia pun menceritakan di balik kepulangannya ke Surabaya. Johan dan Gilbert duduk di sampingnya sementara Bi Ina berjalan kearah Sofa, dan duduk di samping Zaina dan Dian yang sedang menatap kearahnya. Jonathan yang berada di samping Meida pun ikut menyimak apa yang diucapkannya.


“Om, Tante, dan semuanya. Mungkin kalian harus tahu, saya tak berniat untuk meninggalkan Meida, apalagi menjadikannya  seperti ini. Saya pergi bukan karena keinginan saya, tapi takdir memaksa saya untuk pergi menjauh dari kalian.” Semua orang yang berada di ruang itu memusatkan matanya hanya pada Melvin yang sedang menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal dengan bantuan Johan. Ruang itu kembali senyap, menunggu Melvin melanjutkan perkataannya,


“Satu bulan yang lalu, saya diasingkan oleh keluarga saya ke sebuah pulau terpencil yang tak pernah saya bayangkan akan di hidup di dalamnya. Keluarga besar saya menghukum saya karena keislaman saya. Semua itu terjadi begitu saja, tanpa memberi saya ruang waktu untuk berpamitan pada kalian.” Gilbert mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Johan menatapnya tanpa berkedip. Jonathan yang sedang duduk di samping Meida pun ikut menimpali ucapan nya,


“Ko, surat itu menjadi petunjuk kami ketika kami mencari keberadaan koko yang menghilang entah kemana. Waktu itu kami buntu harus mencari koko kemana, sementara keadaan cici koma. Dan Alhamdulillah, Akhirnya Allah memberikan jalan lewat mbak Melisa melalui surat itu, hingga kami mengetahui kebenarannya. Maafkan kami yang sempat meragukan ketulusan Koko,” Sahut Jonathan sambil menundukkan kepalanya. Melvin pun tersenyum sambil menyusut sudut matanya, ia pun kembali bersedih takala mengingat awal pengasingannya.


“Ya, 30 menit sebelum kepergian saya. Saya menulis surat itu dan menitipkannya pada Melisa adik saya untuk diberikan pada Meida, dengan harapan surat itu cepat sampai ke tangannya. Tapi takdir berkata lain, semua akses Mamih dan Melisa di sita. Mereka tak diperbolehkan untuk keluar rumah semenjak kepergian saya. Jangankan untuk memberikan surat itu pada Meida, Mereka pun terkurung di sangkar emas tanpa bisa beraktivitas bebas seperti biasanya.” Terang Melvin. Ia yakin Mamih dan adiknya masih terkurung di dalam rumah, karena nomor mereka pun belum bisa di hubungi sampai sekarang.


“Apa kalian tahu saya diasingkan kemana?” Tanya Melvin menatap bergantian kearah keluarga Atmadja yang sedang menggelengkan kepalanya.


“Saya diasingkan ke pedalaman Sulawesi.” Semua orang yang berada di ruang itu membelalakkan matanya tak percaya. Mereka pun mulai membayangkan pulau Sulawesi yang jaraknya sangat jauh dari Surabaya.


“Kenapa kamu tak langsung menghubungi Om? Jika Om tahu, Om akan langsung menjemput mu kesana.” Timpal Gilbert sambil memegang lengan Melvin. Melvin pun menatap Gilbert dan menggelengkan kepalanya.


“Saya diasingkan ke pelosok om, di sebuah perkampungan yang masih tertinggal. Saya merasa hidup di zaman dulu, untuk menghubungi kalian pun sulit. Kehidupan disana tak semodern disini, hidup disana masih serba tertinggal. Walaupun begitu, orang disana memperlakukan saya dengan baik, walau saya berbeda dari mereka.” Tutur Melvin dengan pandangan menerawang, mengingat kembali ke perkampungan nan jauh disana yang sebulan ini dia hidup disana. Semua orang yang berada di ruang itu dapat bernafas lega, karena Melvin tak hidup terlunta-lunta disana.


“2 minggu disana, saya baru sadarkan diri dari pingsan saya yang entah selama berapa hari. Saya tak tahu apapun mengenai keadaan yang menimpa keluarga Atmadja ataupun Meida. Saya baru mengetahui keadaan Meida 3 hari yang lalu, ketika saya baru pulang dari rumah teman saya yang berada di kampung sebelah.” Jonathan memandang nanar kearah Melvin lalu mengajukan pertanyaan,


“Pasangan suami istri yang sudah tua yang merawat saya. Mereka pemilik pesantren di kampung itu, hingga saya banyak belajar tentang agama darinya. Namanya Buya Hanafi dan Umi Fatimah, mereka memperlakukan saya dengan baik, mereka mengangkat saya menjadi anak angkatnya. Mereka yang menguatkan saya, ketika saya  merindukan rumah, merindukan keluarga, merindukan Meida, dan merindukan kalian. Mereka yang membimbing saya untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik.” Semua orang yang berada di ruang itu kembali menarik nafasnya lega. Mereka tenang, ternyata Melvin tak hidup sengsara disana. Malah dia menemukan keluarga baru yang menyayanginya dengan tulus.


“Setelah mengetahui berita tentang keadaan Meida. Nafsu makan saya hilang, separuh jiwa saya seakan pergi, saya tak memiliki semangat hidup untuk bertahan. Saya hanya bisa menangis ingin pulang melihat keadaannya, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Uang sepeserpun saya tak punya. Jiwa saya kembali hancur, melebihi hancur ketika saya akan diasingkan kesana. Sampai saya kembali tak sadarkan diri. Setelah sadar, saya di temani oleh seorang santri berjalan meminjam ponsel ke kampung sebelah. Bayangkan, hanya untuk meminjam sebuah ponsel saya harus berjalan sekitar 8 jam, dari jam 8 malam sampai jam 4 subuh. Saya tak mempedulikan apapun, saya menghilangkan segala ketakutan saya, saya mengabaikan segala sakit di seluruh tubuh saya. Yang ada dipikiran saya hanya ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengan Meida dan kalian selaku keluarganya. Karena sebelum saya pergi, saya sudah berjanji pada Meida untuk segera melamarnya, dan secepatnya saya akan menikahinya. Tapi saya malah mengingkari janji yang saya buat, saya baru datang sekarang ...” Lirih Melvin sambil meneteskan air matanya. Gilbert kembali menghapus sudut matanya, lalu menepuk-nepuk bahu Melvin yang sedang menunduk.


“Perjuangan untuk pulang kesini sangat luar biasa, saya bersyukur Allah masih memberikan saya kesempatan untuk bisa pulang kembali kesini. Padahal yang ada dipikiran saya, saya akan mati disana dengan rasa penyesalan.” Bahu Melvin kembali bergetar. Rasanya pulang ke Surabaya hanyalah mimpi yang selama 2 minggu ini diimpikannya.


“Om bingung harus mengatakan apa? Om sangat terharu mendengar perjuangan cintamu untuk Putri Om. Dan Om bersyukur setelah kepulangan mu kondisi meida kembali membaik. Padahal sudah 3 minggu ini, keadaannya tak ada perkembangan sedikitpun. Malah kami sudah berniat akan menerbangkannya ke Jepang untuk melakukan pengobatan, dengan harapan dia kembali sadar jika berobat kesana.” Lirih Gilbert yang kini sedang meneteskan air matanya di samping Melvin. Ia semakin yakin, Melvin adalah lelaki baik untuk Putri satu-satunya.


“Terima kasih Nak, karena kehadiran mu kondisi Tuan Putri kami telah membaik.” Sahut parau Johan sambil memegang tangan Melvin untuk bersalaman. Sejak pertama kali bertemu, ia sudah yakin, jika Melvin adalah lelaki baik, penyayang, dan bertanggungjawab. Ia sudah tak meragukan sedikitpun mengenainya.


“Bukan karena saya Om, tapi karena Tuhan. Lewat kuasa Tuhan keadaan Meida kini membaik. Jika Om tak keberatan, bolehkah saya menikahi meida sekarang? Malam ini?” Gilbert, Johan, dan semua orang yang berada di ruang itu terkejut dengan permintaan Melvin. Gilbert membuang nafasnya kasar, menatap dalam wajah Melvin yang berada di depannya.

__ADS_1


“Kenapa harus malam ini? Meida pun masih belum sadar. Apa tak sebaiknya nanti?” Melvin menatap wajah Gilbert, Johan, Bi Ina, Zaina, dan Dian bergantian.


“Sebenarnya hari ini adalah hari pernikahan kami. Saya sudah berjanji akan menikahinya hari ini, dan Kami sudah merencanakannya dari bulan lalu. Om, tolong bantu saya untuk mewujudkan janji saya pada Meida. Saya tak ingin dia kecewa setelah sadar nanti. Terlalu banyak janjinya yang saya ingkari.” Lirih Melvin menghiba sambil memegang tangan Gilbert.


“Izinkan saya untuk merawat, menjaga, dan mencintai Meida tanpa batas Om. Mungkin selama sebulan ini keluarga Om menjaga dan merawat Meida Full 24 jam, sampai tak memiliki waktu untuk beristirahat. Kini, biarlah saya yang menggantikannya untuk menjaga dan merawatnya. Saya janji akan menjaga dan merawatnya dengan sepenuh hati saya. Biarlah nyawa saya sebagai jaminan nya. Om bisa memegang kata-kata saya.” Pinta Melvin sambil mencium tangan Gilbert. Ia meminta restu pada Gilbert untuk mengizinkan nya merawat Meida dengan cara menikahinya, agar tak ada batasan untuknya dalam menjaganya.


Hati Gilbert pun kembali terenyuh dengan kesungguhan hati Melvin. Ia mengusap kepalanya lalu mengangkatnya,


“Tapi keadaan Meida masih tak sadarkan diri Nak.” Bagaimana Ia akan menikahkan putrinya. Sementara Putri-nya masih terbaring tak sadarkan diri di sampingnya.


“Apa Om ingin melihat wajah Meida kecewa setelah sadarnya nanti? Saya tak sanggup melihat wajah kecewanya Om. Melihat dia seperti ini pun hati saya sudah tak sanggup. Saya membutuhkan restu dari Om dan keluarga. Saya janji akan menjaga Meida dengan jiwa raga saya. Saya janji, akan selalu mencintainya. Rasa cinta yang saya miliki untuk Meida melebihi rasa cinta yang saya miliki untuk diri saya sendiri. Entahlah rasanya saya tak sanggup jika hidup berjauhan dengan Meida. Saya mohon Om.” Pinta Melvin dengan kesungguhan hatinya. Ia sudah tak perduli lagi dengan air mata yang bercucuran dipipinya, biarlah orang mengatakannya lemah. Memang kenyataannya ia lemah, jika berkaitan dengan Meida.


“Om tak akan pernah menghalangi cinta kalian, karena kalian saling mencintai. Om tak sedikitpun meragukan kesungguhan mu. Lewat perantara mu, Om bisa menemukan Putri Om. Lewat perantara mu, Putri dan Putra Om baik-baik saja, karena kamu jaga. Lewat perantara mu, mereka memaafkan dan menerima Om dan Tante sebagai orang tuanya. Dan lewat perantara kamu juga, keluarga Om bisa kembali berkumpul sekarang. Om tak punya alasan untuk tak mengizinkan mu. Karena Om tahu, Putri Om pun sangat bergantung padamu. Om tak ingin menghalangi kebahagiaan Putri om, karena Om yakin, kamu adalah kebahagiaannya.” Melvin tak percaya dengan ucapan Gilbert yang diangguki oleh semua orang yang berada di ruang itu. Semua orang yang berada di ruang itu mengizinkannya untuk menikahi Meida, walaupun keadaan Meida yang belum sadarkan diri. Mereka berharap lewat Melvin, Meida akan semakin cepat tersadar. Mereka pun tak bisa menghalangi niat baiknya, karena hari ini memang benar-benar hari pernikahan mereka. Melvin menangis haru di pelukan Gilbert, begitupun Gilbert. Ia harus ikhlas melepas Putri satu-satunya kepada lelaki yang memiliki ketulusan hati bak samudera, yang telah menyatukan keluarga mereka, hingga tak ada dendam dan permusuhan.


“Te...te..rima kasih Om.” Gilbert menganggukkan kepalanya sambil menepuk lembut pundaknya.


“Tapi bagaimana dengan keluarga mu?” Gilbert melerai pelukannya menatap dalam kearah Melvin.


“Jika tak keberatan. Maukah Om mengantar saya pulang sekarang? Saya ingin meminta restu mereka untuk menyaksikan pernikahan saya nanti.” Gilbert pun melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 19:30.


“Tak bisakah hari pernikahan mu di undur besok? Ini terlalu dadakan Nak, kita disini belum mempersiapkannya.” Melvin menggelengkan kepalanya, tersenyum kearah Gilbert dan Johan.


“Tidak Om. Biar saya yang mengaturnya. Om hanya perlu mengantar saya untuk pulang. Saya janji semuanya akan beres ketika kita kembali lagi nanti. Saya akan menikahi Meida secara agama terlebih dahulu, dan setelah dia sadar saya akan langsung mengesahkannya secara Negara.”


-


☕☕☕☕☕☕☕


Wilujeng dinten senen😘


Wilujeng beraktivitas 💪

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate sama hadiahnya mumpung hari senin😘🥰♥️♥️


Hatur nuhun 😘


__ADS_2