Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Berhasil Move on?


__ADS_3

“Melvin ingat! Besok kamu harus menginap di rumah mertuamu. Biarkan Meida tidur disini bersama kami.” Melvin langsung membulatkan mata dengan  mengerucutkan bibirnya, menatap wajah Nagara dengan menghiba.


“Pih, kenapa nginep nya gak bareng Meida aja. Canggung Melvin disana sendiri, Melvin gak bisa jauh-jauh dari Meida, kita tak terpisahkan pih. Benarkan sayang?” Meida membulatkan matanya malas dengan tangan mencubit perut suami nya.


Lebayy – Gumam pelan Meida. Lalu ia menatap wajah mertuanya dengan tersenyum.


“Benar apa yang dikatakan Papih. Kamu harus nginep di rumah aku, biar lebih dekat dengan Daddy.” Sahut Meida dengan mengangkat kedua alisnya. Ia tersenyum mengejek kearah suaminya, dengan menjulurkan lidah.


“Yang, bantuin saya. Please! Saya gak bisa jauh-jauh dari kamu.” Bisik pelan Melvin yang terdengar oleh Nagara, hingga Nagara menatap Putra nya malas. Meida menggelengkan kepalanya dengan mengedipkan sebelah matanya.


“No, turuti perintah Papih! Cuman 2 hari By, bukan sebulan.” Melvin menarik nafasnya kasar, karena tak mendapatkan pembelaan dari istrinya. Ia menolehkan kepala kearah Papih nya dengan wajah menghiba agar Nagara mengubah keputusannya.


“Pih, Please! Sama Meida berdua yah?” Rajuk Melvin sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan tersenyum.


“Tak ada bantahan! Itu tradisi di keluarga kita, agar kamu lebih akrab dengan mertua mu. Meida pasti baik-baik saja disini bersama kami.” Putus Nagara yang tidak bisa di ganggu gugat. Ia merapikan kaca mata lalu berdiri.


“Ini sudah malam. Papih ke kamar dulu! Ingat, jam 12 siang kamu harus sudah standby di rumah mertua mu.” Melvin menganggukkan kepalanya pasrah. Melihat kepergian Papihnya ke lantai 2, dimana kamar semua anggota keluarga berada disana.


“Udah jangan cemberut By! Jelek! Tidur yuk, aku ngantuk!” Melvin menatap kearah istrinya dengan wajah di buat sesedih mungkin.


“Berarti besok kita gak bisa tidur bareng dong.” Meida menganggukkan kepala, lalu bangkit dari sofa berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka. Melvin pun mengejar istrinya lalu menggandeng pinggangnya.


“Besok jangan kangen!” Ledek Meida sambil menyandarkan kepala di lengan suaminya.


“Mau di gendong atau di bopong ke atas? Mumpung gak ada orang yang lihat!” Meida menggigit bibirnya lalu membisikkan sesuatu ke telinga suaminya.


“Di bopong aja. Kalau di gendong ini nya masih sakit, nanti ke gesek sama punggung kamu.” Setelah mendengar jawaban dari istrinya, Melvin langsung membopong tubuh mungil Meida menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar mereka.


“Do’akan saya supaya sehat, biar setiap hari bisa menggendong atau membopong kamu seperti ini.”  Meida mengedip-ngedipkan matanya dengan melingkarkan tangan di leher suaminya.


“Aamiin. Semoga kamu selalu sehat, biar bisa membopong aku sampai tua.” Melvin mengecup dahi istrinya dengan tersenyum. Lalu mengaminkan do'anya.


“Ciee ... ciee ... pengantin baru, dunia serasa milik berdua, yang lainnya cuman ngontrak.” Meida langsung membulatkan mata ketika mendengar suara mertuanya. Ia langsung menyembunyikan wajah merah padam di dada bidang suaminya. Sementara wajah Melvin merah sampai ke telinga, karena malu kepergok Helena sedang bermesraan dengan istrinya.


“Mamih mau kemana? Bukannya kata Papih udah tidur.” Helena mengacungkan wadah air yang terbuat dari kaca kearah Melvin.


“Air minum Mamih habis. Kamu tahu sendiri kan kalau Mamih tidak bisa tidur tanpa air.” Melvin menganggukkan kepala  samar sambil cengengesan menyembunyikan rasa malunya.


“Santai aja kali gak usah tegang. Pegang istri kamu yang kuat, biar gak jatuh! Meida, kamu sudah tidur Nak?” Kekeh Helena meledek putra dan menantunya. Ia dengan keras menepuk bahu anaknya ketika melewatinya.


“Buatkan Mamih cucu yang banyak!” Wajah Melvin kembali merah bagai tomat busuk ketika mendengar bisikan dari Mamih-nya.


Melvin kembali melanjutkan perjalanan ke dalam kamar dengan terburu-buru, karena takut kepergok oleh Papihnya.


“Udah sampai ke kamar. Kita aman sekarang!” Meida langsung mengangkat kepala dari dada suaminya lalu memintanya untuk menurunkannya ke bawah.

__ADS_1


“By, aku malu sama Mamih! Tadi pas datang kesini kita diketawain karena penampilan kita berantakan. Sekarang kita kepergok, akuu malu banget tahu!” Meida langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dengan memejamkan mata dengan wajah yang memanas.


“Mamih pasti ngerti! Mamih juga pernah muda! Kita udah terlanjur ketahuan, tapi gak papa. Yang penting kita masih dalam jalur koridor gak keblablasan sayang,” ucap Melvin sambil membaringkan tubuh di samping istrinya.


Meida mengambil guling yang berada di atas kepalanya lalu memeluknya dengan erat.


“Tadi aku sempet denger Mamih bisik-bisik sama kamu, emang kalian ngomongin apa?” Melvin memeluk istrinya dari arah belakang dengan menyandarkan kepala di bahunya.


“Yakin kamu pengen tahu?” Meida menolehkan wajah kearah suaminya dengan mencium pipinya sekilas. Bahasa tubuh bahwa ia ingin mengetahuinya. Melvin mendekap tubuh istrinya erat dengan menghirup aroma sampo di balik kerudung instannya.


“Mamih request, katanya pengen dibikinin cucu yang banyak.” Meida pun langsung tergelak dengan permintaan mertuanya yang ingin di buatkan cucu yang banyak.


“Mamih lucu, kenapa setiap request mintanya cucu.” Melvin mencium pucuk kepala istrinya dengan bertubi-tubi. Dengan tangan melingkar di leher istrinya.


“Biar rumah gak sepi sayang. Keluarga Nagara membutuhkan anak-anak kita dan anak-anak Melisa untuk menjadi penerus perusahaan. Karena kamu pasti tahu, kekayaan papih tak sedikit. Dia membutuhkan banyak penerus. Dan saya pun butuh penerus untuk mewarisi perusahaan saya. ” Meida menganggukkan kepala menyimak perkataan suaminya. Ia menuntun tangan Melvin untuk mengusap-usap perutnya.


“Kamu baru nanemnya beberapa kali, emang bibit nya bisa jadi?” Melvin terkekeh dengan mencium pelipis istrinya.


“Do’ain, mudah-mudahan bibit unggul yang saya tanam jadi sayang. Dan cepat berkembang besar disini.” Melvin mengelus-elus perut istrinya dengan lembut. Ia dengan pelan menyimbak piyama yang menutup perut istrinya. Meida memejamkan mata menerima perlakuan lembut suaminya. Tiba-tiba hawa ngantuk mendera, ketika Melvin melafalkan do'a dengan tangan masih standby di atas perutnya.


“By, tangannya jangan ke bawah. Perut aku ini! Tangan kamu nakal deh.” Meida memukul pelan tangan Melvin dan menuntut kembali tangan suaminya untuk mengelus-ngelus perutnya.


“Tangannya tadi kepeleset sayang, makanya ke bawah.” Meida kembali mencebikkan bibirnya dengan mata terpejam.


“Biar gak repot, mending kita buka puasa yuk!” Meida kembali memukul lengan suaminya dengan menatapnya tajam.


“Tunggu sampai aset berharga ku sembuh! Kamu baru boleh buka puasa.”  Melvin terkekeh dengan mendusel-dusel ceruk leher istrinya yang sedang terpejam.


“Enggeh ndoro. Tapi saya kangen sama kamu, kamu gak mau kangen-kangenan apa? Apalagi besok saya di pingit di rumah kamu.” Meida membalikkan posisi tidur menghadap Melvin dengan melipat tangannya.


“Aku ada di depan kamu. Kenapa harus kangen?” Melvin mendekap erat tubuh mungil istrinya dengan menciuminya bertubi-tubi.


“Aku kangen nyangkul kamu sayang.” Meida melepaskan dekapan suaminya. Lalu menyentil dahinya keras.


“By, tadi pagi kamu masih nyangkul, kenapa sekarang udah pengen nyangkul lagi? Gak bosen?” Melvin menggelengkan kepalanya dengan terkekeh. Ia kembali mengelus perut istrinya dengan mata terpejam.


“Saya harus rajin nyiramnya, biar bibit nya cepet tumbuh disini.” Meida membulatkan matanya malas. Ia kembali membelakangi suaminya dengan mendumel.


“Alesan aja!”


-


“Melisa apa kita tak akan terkena masalah meninggalkan wanita itu sendirian di kamar club?” Melisa menarik pelan tangan Jack untuk segera masuk ke dalam mobil. Karena ia takut, diketahui keberadaannya oleh anak buah Sandra yang sudah stay di sekitar club malam tersebut. Setelah masuk ke dalam mobil, ia baru menjawab pertanyaannya.


“Tidak papa Jack, orang dia yang memesan kamar itu sendiri. Aku sudah memasang kamera disana yang terhubung langsung ke ponselku. Jika ada apa-apa dengan Sandra, kita langsung mengetahuinya. Terima kasih karena kamu sigap menukarkan minuman itu, hingga obat perangsang itu terminum sendiri oleh wanita culas itu.” Melisa menepuk-nepuk kedua tangan lalu mencepol rambutnya ke atas. Hati nya senang, karena berhasil melancarkan aksinya untuk membalas perbuatan wanita yang ingin menghancurkannya.

__ADS_1


“Tapi bagaimana dengan Sandra? Obat perangsang itu pasti sudah bereaksi, mana dia sedang mabuk parah lagi.” Melisa menatap tajam kearah Jack dengan melipat kedua tangannya. Membuat Jack salah tingkah  ditatap seperti itu. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Jack langsung menyalakan mesin mobil lalu melajukannya cepat ke jalan raya meninggalkan Club malam tersebut.


“Jangan mengkhawatirkannya! Orang licik harus di balas licik juga Jack, agar dia tidak berulah. Bukan kah kita harus memiliki kartu As nya agar dia tak banyak bertingkah? Apa kamu tahu, dia sudah menyiapkan 3 orang untuk memperk*sa ku ketika aku tak sadar, namun sekarang, semua itu berbalik padanya. Biarlah sekarang dia merasakan buah dari perbuatannya. Aku memang kejam, tapi semua itu tergantung dia memperlakukan ku seperti apa.” Jack menghela nafasnya. Ekor matanya melirik kearah Melisa yang sedang menolehkan kepala ke samping dengan nafas yang tidak beraturan.


“Apa ini tidak akan menjadi masalah untuk kedepannya? Saya takut dia malah semakin mengganggu mu dan keluarga besar kita.” Sahut Jack meluapkan kekhawatiran yang dirasakannya. Melisa kembali menolehkan kepala kearah Jack, dengan tangan tak sadar memegang lengan lelaki yang duduk disampingnya.


“Aku jamin tidak akan, semua akan baik-baik saja. Percaya padaku! Maafkan aku melibatkan mu dalam masalah ini. Karena tak ada yang bisa kumintai bantuan, selain kamu Jack.” Jack pun tersenyum, ia melihat tangan Melisa yang sedang menggenggam tangannya. Hingga Melisa melepaskan tangannya dengan seketika.


“Maaf!”


“It’s ok Melisa. Kamu melakukan ini untuk koko-mu, dan saya melakukan ini untuk sepupu saya. Jadi tak perlu ada yang dipermasalahkan oke!” Melisa menganggukkan kepala dengan tersenyum, memamerkan senyum termanisnya untuk Jack.


“Ada waktu sekitar 40 menit lagi. Saya lapar! Cari angkringan yuk!” Tawar Jack setelah melihat jam yang melingkar di tangannya. Melisa mengerucutkan bibirnya untuk mempertimbangkan ajakkan Jack,


“Aku juga lapar sih. Yaudah ayukk!” Jack pun langsung tertawa, melajukan kendaraannya menuju angkringan yang berada di alun-alun kota.


“Maafkan saya membawa Putri Pembisnis nomor 1 Indonesia ke tempat ini.” Melisa pun langsung memukul lengan Jack dengan tersenyum.


“No problem Jack. Aku sering ke tempat ini bareng koko. Kita sering makan mie ayam di ujung sana, tidak ada masalah. Lagian makanan disini pada enak-enak.” Tutur Melisa sambil membuka pintu mobil lalu menutupnya. Ia menunggu Jack di depan mobil lalu berjalan bersisian.


“Saya gak nyangka loh orang kaya mainannya kesini. Biasanya kan orang kaya mainannya ke tempat wah-wah kayak gitu. Jauh bedalah seleranya sama kita-kita ini.” Tunjuk Jack kearah pedagang kaki lima yang memenuhi trotoar tersebut.


“Cara pandang kamu yang salah Jack, tak semua orang kaya seperti itu. Lagian Papih aku yang kaya, bukan aku. Hidup aja aku masih numpang di rumah mereka, kaya darimana nya?” Kekeh Melisa sambil memukul-mukul bahu Jack yang berjalan disisinya.


“Kamu terlalu merendah Melisa. Tapi saya menyukai didikan orang tua kamu. Walaupun kalian kaya, namun hidup kalian sederhana, apa adanya, mudah membaur, dan jiwa sosial kalian tinggi.” Melisa menganggukkan kepala membenarkan ucapan Jack, dengan menatap wajahnya dari arah samping.


Aku pun mengagumi sikap mu Jack.  Sikap mu sangat jauh berbeda 360 derajat dengan kak Andress.


Batin Melisa dengan wajah memerah dan langsung kembali menatap ke depan.


“Papih yang mengajari kami untuk hidup sederhana. Karena harta yang kita miliki sekarang adalah titipan dari Tuhan, kapan pun Tuhan dapat mengambilnya hingga tak bersisa. So, apa yang patut kita sombong kan Jack?” Jack mengelus rambut Melisa dengan lembut dan tersenyum.


“That right!” Melisa diam terpaku melihat kearah Jack yang berjalan di depannya setelah mengusap kepalanya. Hatinya tiba-tiba berbunga-bunga menerima perlakuan lembut tersebut.


“Melisa ayoo! Kamu nungguin siapa?” Melisa mengangkat kedua bahunya dengan tersenyum. Jack yang beberapa langkah berada di depannya memutarkan tubuhnya lalu memegang lengan Melisa untuk mengikuti langkahnya.


“Jangan jauh-jauh, nanti kamu hilang!” Wajah Melisa langsung memerah. Senyum nya kembali merekah ketika lengannya di pegang erat oleh Jack seperti anak kecil.


Jack, jantungku berdebar-debar. Kenapa aku sebahagia ini ketika kamu memegang lengan ku? Apa ini pertanda jika aku berhasil move on?


-


Vote sama giftnya kuyyy


Like nya jangan pelit-pelit 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2