
“Happy Birthday sepupu perempuan ku. Maaf kejutan saya membuatmu menangis. Tapi yakinlah, semua orang yang berada disini menyayangi mu.” Melvin bungkam mendengar ucapan Jack. Ia mengelus-elus kepala istrinya yang masih betah memeluknya. Ia begitu jengkel kearah lelaki yang berada di depannya, yang kini tersenyum bagai orang tak berdosa.
“Kalian jangan marah! Kejutan ini di buat, untuk merayakan ulang tahun pertamamu bersama kami. Kami sangat memperdulikan mu, semua orang disini menyayangimu. Kue ini mertuamu sendiri yang buat loh! Kue istimewa untuk menantu perempuan kesayangannya,” ucap sumringah Jack sambil mengangkat kue tart 2 tingkat yang berada di tangannya. Melvin menatap kesal kearah Jack dengan menatapnya tajam,
“Kejutan mu sangat berlebihan Jack. Istri saya sampai ketakutan dan bersedih seperti ini. Ini tak masalah bagi saya, tapi lihatlah keadaan sepupu perempuanmu!” Kesal Melvin dengan menghapus air matanya. Ia kembali mengingat ucapan istrinya tadi malam. Bahwa mengingat hari kelahirannya sama saja mengingat penderitaannya dulu.
“Jack, kamu tak akan pernah mengerti apa yang istri saya rasakan. Ia masih dalam proses mengobati luka hatinya, dan dengan seperti ini dia kembali mengingatnya. Saya menghargai niat mu, tapi saya mohon jangan mengulanginya lagi. Karena keadaan hati seseorang, kita tak mampu untuk menyelaminya.” Mendengar ucapan Melvin yang begitu tajam, Jack menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah. Kejutan yang direncanakannya, malah mengundang kemarahan suami dari sepupu perempuannya.
“Maafkan atas segala kecerobohan saya! Saya tak bermaksud seperti itu. Maafkan saya Meida! Maafkan saya Melvin! Saya membuat kejutan ini, karena terlalu bahagia melihat Meida yang sudah kembali.” Tutur pelan Jack sambil memegang bahu Meida lalu beranjak lesu kearah sofa dengan kue ulang tahun yang masih di tangannya. Jonathan yang barusan berada di belakangnya pun memajukan langkahnya, ia menatap wajah Melvin lalu kearah Meida yang membelakanginya dengan sendu.
“Maaf telah membuat cici dan koko bersedih. Kami terlalu bahagia mendengar kesadaran cici, kami dengan antusias membuat kejutan ini. Maafkan kami! Ini salah Jo dan Jack, karena kami berdua yang merencanakan semua ini, ketika kalian pergi." Lirih Jonathan yang kini menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Jika tahu akan seperti ini. Jo dan Jack tak mungkin melakukannya!” Mendengar penuturan adik iparnya, Melvin pun merasa iba. Ia tahu niat mereka baik ingin menyambut istrinya yang kini sudah sadar, tapi caranya saja yang salah. Melvin dengan kebesaran hati nya menepuk bahu Jonathan, agar mengangkat wajahnya.
“Iya Jo. Lain kali jangan seperti ini lagi ya! Pertimbangkan semuanya! Pahami keadaannya dulu! Karena yang terbaik untuk kita, belum tentu terbaik untuk orang lain.” Nasihat Melvin sambil tersenyum. Ucapannya tenang dan santai. Namun, tersimpan makna dalam di balik setiap perkataannya tersebut.
“Iya Ko. Jo harap, kalian tidak marah pada Jo. Cici maafkan Jo! Jo sangat mencintai cici. Terima kasih telah kembali.” Jonathan memeluk Meida sebentar dengan mencium pucuk kepalanya. Lalu menatap kearah Melvin,
“Koko tidak marah Jo. Koko hanya kesal saja.” Jonathan pun melepaskan pelukannya sambil tersenyum. Setelah mengucapkan terima kasih pada Koko-nya, lantas ia pun berjalan kearah Jack yang nampak terlihat murung.
“Happy Birthday Jaslin Putri kesayangan daddy. Maafkan sikap daddy barusan, daddy hanya berakting. Semua ini ide Jack dan Jonathan, daddy hanya ikut-ikutan. Maafkan daddy ya! Jangan marah!” Meida masih memeluk Melvin dan tidak melepaskanya sedikit pun. Ia masih menangis di pelukan suaminya, tanpa sedikitpun menggerakkan kepalanya.
Gilbert kini mengelus kepala putrinya yang tak menggeserkan sedikit pun kepalanya, ia sedih melihat putrinya yang tak merespon ucapannya. Melvin menggelengkan kepalanya menatap mertuanya sendu, walaupun ini sebuah kejutan, ia tahu isterinya ketakutan dan sangat bersedih.
“Biarkan Meida tenang dulu dad! Putri Daddy dari tadi ketakutan. Saya tak bisa membujuknya, karena yang sakit bukan hanya jasmaninya, tapi batinnya. Daddy tenang saja! Nanti, istri saya akan baik dengan sendirinya. Dia tak bisa marah lama-lama.” Mata Gilbert berkaca-kaca sambil mengelus hijab yang dikenakan putrinya.
“Ending yang tak Daddy harapkan, kamu marah seperti ini. Jika tahu seperti ini, daddy tak akan mengikuti ajakan mereka. Jika kamu marah, Daddy minta maaf sebesar-besarnya. Daddy sangat mencintaimu.” Gilbert dengan sorot mata penuh kesedihan memeluk putrinya dari belakang dan menghadiahinya dengan ciuman manis di pucuk kepalanya.
“Marahnya jangan lama-lama ya! Daddy tak bisa hidup tenang jika kamu marah!” Bisik Gilbert sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap kesal kearah Jack yang sedang dimarahi oleh kedua Putranya.
__ADS_1
“Jack, gara-gara kamu Jaslin marah sama om. Pokoknya kamu harus tanggung jawab!” Teriak kesal Gilbert yang mendapat pukulan keras dari istrinya agar segera bergeser. Melihat itu, orang yang berada di ruang itu menahan tawanya melihat kelakuan bar-bar zaina pada suaminya, tak terkecuali Melvin. Ruangan yang sempat tegang itu, kini perlahan-lahan mulai mencair.
“Anak Mommy, selamat menginjakkan kaki di usia yang ke 22 tahun. Do'a terbaik Mommy untuk mu. Jangan marah! Kami disini menyayangi mu,” ucap Zaina sambil mencium kepala anaknya lalu menepuk bahu menantunya.
“Tolong bantu tenangkan Jaslin yah! Hanya kamu yang mampu melakukannya!” Bisik Zaina di telinga menantunya. Melvin tersenyum samar sambil menganggukkan kepalanya.
“Menantu Mamih, maafkan kami. Kami terlalu berhiporia menyambutmu. Terima kasih telah kembali. Mamih menyayangi mu. Mamih sudah tak sabar menanti mu di rumah.” Helena kembali mencium kepala menantu dan Putranya bergantian. Ia berharap menantunya memaafkannya, atas tingkah konyolnya barusan.
“Jack, Jaslin marah! Sebagai gantinya, kamu kami gantung berjamaah,” ucap sewot Andress berjalan kearah adiknya. Yang dihadiahi tawa semua orang yang berada di ruang itu. Wajah Jack pun memerah karena malu, karena sekarang ia menjadi bualan semua orang yang berada di ruang itu.
“Ini koko dek, kakak yang paling the best di alam raya ini.” Gurau Andress sambil mengelus-elus pundak adiknya. Dengan perlahan-lahan, ia membalikkan lembut tubuh adiknya yang tak memberikan perlawanan, hingga kini menghadapnya. Ia terlebih dahulu menghapus air mata di wajahnya sambil tersenyum penuh kehangatan.
“Adik koko sudah besar sekarang. Jangan menangis, air mata mu terlalu berharga Dek!” Andress dengan lembut mengusap hijab instan adiknya yang kini sedang menatapnya dengan sesenggukan. Ia memeluk adiknya lalu mengusap-usap pundaknya lembut,
“Terima kasih telah kembali kesini. Terima kasih untuk perjuangan mu sampai berada di titik ini. Maaf, kami menyakitimu dengan perkataan kami tadi. Sejujurnya, kami tak memiliki satu rencana pun untuk menyambut mu, kami pun dadakan mengetahui kesadaran mu dari Jack. Kami melakukan ini, karena kami tak mempersiapkan apapun untuk mu.” Tutur Andress yang membiarkan adiknya kembali menangis di pelukannya. Melvin hanya diam, menyaksikan sikap lembut dan penyayang Andress yang ditunjukan pada istrinya
“Kalian jahat membuatku ketakutan! Membuatku seperti orang yang tak berharga!” Jawab parau Meida yang akhirnya mengeluarkan suaranya hingga orang yang berada di ruang itu kembali menarik nafasnya tenang.
“Daddy akan berusaha menjadi Ayah yang terbaik untuk mu.” Sahut Gilbert sambil berjalan kearah putrinya lalu berjongkok di depannya menyetarakan tingginya dengan putrinya yang mengenakan kursi roda.
“Mommy akan berusaha menjadi ibu penyayang dan ibu terbaik untuk hidup mu.” Sahut Zaina yang kini berjongkok di samping suaminya dengan senyum ketulusan.
“Mamih akan menjadi mertua yang baik, mertua penyayang, mertua idamanan semua menantu.” Timpal Helena dengan senyum menawan dan berjongkok di samping besannya.
“Bibi akan berusaha selalu ada untukmu. Bibi akan siap sedia jika kamu butuhkan.” Sahut Bi Ina dengan wajah menenangkannya berjongkok di belakang Zaina.
“Jo akan menjadi lelaki bertanggung jawab dan bijaksana, agar bisa menjadi benteng cici. Jika ko Melvin berbuat macam-macam pada cici, jo yang akan langsung meremukkan tulangnya.” Sahut Jonathan dengan membusungkan dadanya dan menepuk-nepuknya pelan. Membuat orang melihatnya pun terkekeh.
“Mbak akan berusaha menjadi ipar yang tahu diri. Mbak pasti akan selalu mendukungmu. Jika ko Melvin berbuat macam-macam pada-mu, mbak dengan sukarela akan menghajarnya.” Timpal Melisa sambil mengangkat kedua tangannya bak binaragawati. Semua orang di ruang itu menahan tawanya melihat kepedean yang dimiliki wanita yang identik berwajah Chinese.
__ADS_1
“Paman akan menjadi paman idaman. Jika kamu ingin apapun, mintalah pada paman. Uang paman banyak, aset paman dimana-mana, tak akan habis di makan oleh 40 turunan, 50 tanjakan sampai 100 pengkolan. Jika kamu ingi n dibelikan menara Eiffel untuk hadiah ulang tahun mu sekarang, paman dengan senang hati akan membelikannya.” Semua orang yang berada di ruang itu kembali menahan tawanya. Wajah mereka memerah dengan pipi yang memgembung mendengar gurauan Johan. Dian yang berada di depan suaminya, memukul spontan bibir suaminya yang riya, hingga pecahlah tawa di ruang itu. Andress tertawa terbahak-bahak begitu pun Melvin, mereka memegang perut mereka masing-masing dengan pipi yang terasa pegal.
“Saya akan menjadi sepupu yang baik untuk mu. Melindungi mu dari berbagai macam jenis penyakit dalam, salah satunya penyakit diare. Jika kamu menderita penyakit itu, kamu bisa langsung menghubungi saya Nyonya besar.” Jack tertawa garing sendiri. Hingga semua orang menatap aneh padanya.
“Mom, keponakan mommy ngelawak, tapi garing. Mana tawanya kayak kucing kejepit lagi haha.” Tawa Andress yang kembali menggelegar. Menularkan tawa pada yang lainnya. Ruangan itu kini di selimuti kebahagiaan, oleh tawa riuh penghuninya.
Nagara dengan memasukkan tangan kearah kantong celananya. Berjalan cool menghampiri semua orang yang kini sudah berjongkok di depan Putra dan menantunya. Ruang itu kembali hening, semua orang memusatkan pandangannya padanya.
“Papih tak bisa berkata banyak, Papih hanya ingin memastikan kalian semua hidup bahagia. Menjadi keluarga rukun yang jauh dari KDRT. Dan terbebas dari tekanan para wanita di samping kalian.” Kekeh Nagara sambil melirik kearah istrinya.
Meida menatap satu persatu kearah orang-orang yang dicintainya. Ia kembali menangis sambil merentangkan tangannya. Dan semua orang pun berhamburan memeluknya dan memeluk Melvin bersamaan.
“Kami akan menjaga pernikahan kalian bersama-sama, hingga kalian hidup bahagia sampai tua. Cinta yang kalian miliki semoga abadi dan tak tergerus masa,” Do'a tulus Andress sambil memeluk Meida dan Melvin.
“Inilah Ending yang saya harapkan.” Kekeh Jack dengan senyum sumringahnya dan berjalan kearah pintu.
“Tuan Melvin dan Nyonya besar. Jangan lupa jam 10 sekarang jadwal kalian melakukan terapi di lantai 2.” Teriak Jack dengan menyandarkan kepalanya ke daun pintu melihat pemandangan yang menenangkan di depan matanya.
“Baik Jack.”
“Karena kalian sudah akur kembali, saya pamit pergi dulu. Pasien saya sudah menunggu. Pagi semua”
-
-
Maaf yah otor telat up🙏
2 hari ini ada acara keluarga, khitanan keponakan. Jadi otor gak up date saking riwehnya🙏 Harap di maklum🤗
__ADS_1
Hatur nuhun buat yang masih setia di novel amatiran ini🤗🥰
Hatur nuhun pisan😘