Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Nyetak


__ADS_3

Adzan isya berkumandang. Mereka menyudahi bacaan Al-Qur’an lalu menyimpan mushaf ke atas rak paling atas. Melvin merapikan peci yang ia kenakan lalu duduk di atas sajadah menunggu adzan selesai dikumandangkan. Begitupun Meida. Ia memejamkan matanya dengan wajah memerah, dengan degup jantung yang tak beraturan. Ia berharap adzan isya berkumandang dengan lama, atau tiba-tiba ia tak sadarkan diri, agar terbebas dari suaminya malam ini. Ia gugup harus melakukan apa, setelah selesai menunaikan shalat isya nanti.


Setelah Adzan selesai berkumandang, mereka langsung shalat berjamaah dengan jantung yang sama-sama berdetak cepat. Tak dipungkiri ada kegugupan yang melanda mereka, menelusup ke relung hati, setelah menunaikan shalat magrib berjamaah. Melvin berusaha khusu dalam shalatnya, mengusir segala pikiran yang meracuni otaknya. Ia dengan tartil membaca surah Al-Qadar dengan suara indahnya.


Shalat isya pun selesai mereka tunaikan, setelah berdo’a Melvin membalikkan tubuh kearah istrinya yang sedang menunduk.


“Yang, kita shalat sunnah dua rakaat dulu yah,” ucap Melvin dengan menyembunyikan rasa gugup pada istrinya. Ia mengajak Meida untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum melakukan kewajiban mereka nanti malam.


Tadi siang, ia sudah berkoar-koar akan menerkam istrinya. Namun faktanya sekarang, ia malah bingung harus berbuat apa. Ia pun di buat gugup, karena ini merupakan kali pertamanya  menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami, memberikan nafkah bathin padanya istrinya.


Yaa Tuhan, apa semenebarkan ini malam pertama? Niatnya mau punya banyak anak, tapi caranya gimana? Melihat wajahnya saja, membuat jantung saya seakan meloncat-loncat. Batin Melvin sambil menatap istrinya yang tertunduk.


Melvin, tadi kau berkicau tak akan melepaskannya. Tapi sekarang, memeluknya saja kau tak berani. Gentle Melvin! Malam ini, kau harus meluluhkan singa betina kesayangan mu ini.


Meida menganggukkan kepalanya tanpa mengangkat wajahnya. Ia tiba-tiba segan menatap wajah suaminya yang sering dijahilinya tersebut.


Setelah mendapat persetujuan dari istrinya. Melvin langsung berdiri untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat yang baru bisa mereka laksanakan sekarang.


Meida mengikuti gerakan suaminya, dan berakhir ketika suaminya mengucapkan salam. Ia mengadahkan tangannya ketika suaminya berdoa.


Allaahumma thowwil ‘umuuronaa, wa shohhih ajsaadanaa, wa nawwir quluubanaa, wa sabbit iimaananaa wa ahsin a’maalanaa, wa wassi’ arzaqonaa, wa ilal khoiri qorribnaa wa ‘anisy-syarri ab’idnaa, waqdhi khawaa-ijanaa fiddiini waddunyaa wal aakhirati innaka ‘alaa kulli syai-in qodiirun.


(Ya Allah! Panjangkan umur kami, sehatkan jasad kami, terangi hati kami, tetapkan iman kami, baikkan amalan kami, luaskan rezeki kami, dekatkan kami pada kebaikan dan jauhkan kami dari keburukan, kabulkan semua kebutuhan kami dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau (Allah) Maha Kuasa atas segala sesuatu.)


Alloohumma Bariklana Fii Asmaa’inaa wa abshoorinaa Wa quluubinaa wa azwaajina wa dzurriyyatinaa wa tub’alainaa innaka antattawwabur rohim.


(Ya Allah, berkahilah kami dalam pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri-istri kami, dan anak keturunan kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.)


Dengan khusu, meida mengaminkan doa suaminya dengan mata berkaca-kaca.


Allaahumma innaa nas-aluka salaamatan fid diini wa ‘aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wa barokatan fir rizqi wa taubatan qoblal mauti wa rohmatan ‘indal mauti wa maghfirotan ba’dal mauti.


(Ya Allah kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama, dan kesejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rezeki, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati.)


Rabbana hab lana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a'yuniw waj'alna lil-muttaqina imama.


(Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.)


Robbanaa Aatinaa Fiid Dun-Ya Hasanah Wa Fil Aakhiroti Hasanah Waqinaa ‘Adaabannar


Subhaana Robbika Robbil ‘Izzati ‘Ammaa Yashifuun. Wa Sallamun ‘Alal Mursaliin Walhamdu Lillaahi Robbil ‘Aalamiin.


Meida menangkupkan kedua tangan kewajahnya lama. Ia terharu dengan do'a-do’a yang dipanjatkan suaminya.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Yaa Ummu Awlaadii (Ibu dari anak-anakku),” lirih Melvin sambil menyondorkan tangan kanannya untuk dicium istrinya.


Meida membuka tangkupan tangannya, wajahnya merah merona dengan setetes air di sudut matanya.


Sifat bar-bar nya tak berfungsi malam ini. Ia seperti singa ompong, yang kehilangan taringnya.


“Waalaikumsalam, Hubby (Sayang).” Jawabnya lirihnya sambil mencium tangan suaminya dengan Takdzim.


Setelah melepaskan tangannya. Dengan jantung yang bertalu-talu, Melvin meletakkan tangan di ubun- ubun istrinya dengan sebelah tangan memegang wajahnya. Ia kembali berdoa untuk kebaikan istrinya.


Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih.”


(Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan atasnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan atas yang Engkau ciptakan.)


Meida kembali mengaminkan ucapan suaminya.


Setelah selesai mendoakan istrinya, Melvin mencium keningnya lama. Lalu mengusap wajahnya istrinya yang sedang memejamkan matanya,


“Yang, saya ganti baju dulu yah!” Pamit Melvin dengan mencium sebelah pipi istrinya, lalu beranjak ke ruang ganti. Jantungnya seakan meledak ketika mencium pipi istrinya. Meida menetralkan nafasnya dengan mengelus-ngelus dadanya dan menghapus sudut matanya. Setelah melipat mukenanya, ia buru-buru berjalan menuju walk in closet untuk membasuh wajahnya yang memerah.


Meida memandang pantulan dirinya di depan cermin yang hanya mengenakan kemeja putih suaminya yang kebesaran, dengan panjang di atas lutut, dan lengan yang di lipat sampai penggelangan tangan.


Yaa Allah, kenapa aku gugup seperti ini. Tadi sore aku masih berani menjahilinya. Tapi sekarang, aku tak bisa berkutik sama sekali. Kenapa jantungku tak bisa di ajak kompromi? Ada apa dengan perasaanku?


Meida, ingat dia suami mu! Jangan takut! Jangan gugup! Kamu tak boleh ingkar janji! Kamu harus memenuhi haknya malam ini! Bismillah.


Meida kembali membasuh wajahnya, lalu berjalan kembali ke kamarnya. Sebelum ke kamarnya, terlebih dahulu ia mengintip kearah ruang ganti untuk melihat suaminya, dan ia pun tak menemukan Suaminya di dalam sana.


“Berarti dia sudah di kamar. Apa yang  harus pertama kali kulakukan? Menggodanya? Aku tak pandai dalam hal menggoda. Menciumnya? Aku tak ahli dalam hal sosor mensosor. Apa langsung buka baju? Tidak tidak, itu ide yang buruk. Bagaimana jika dia melemparku? Mau di taruh dimana harga diriku. Ahhhh bagaimana ini? Padahal ini bukan malam pertama kami tidur bersama, ini hari ke-10. Tapi kenapa sekarang beda rasanya?” Gumam frustasi Meida sambil membuka pintu dengan pelan. Ia kembali dapat bernafas lega, karena tak menemukan Melvin di kamarnya. Meida langsung duduk di depan meja rias untuk bercermin.


“Dia tahu semua make up yang kupakai. Dia memang suami idaman.” Kekeh Meida sambil mengambil cream wajah dan memakainya. Lalu merias sedikit wajahnya yang memang sudah cantik dari lahir, yang terakhir ia memakai lipstik berwarna punch di bibir ranumnya.


“Ini pertama kalinya aku berhias diri setelah koma. Dan kini aku berhias untuk suamiku. Rasanya menggelikan. Aku seperti wanita penggoda.” Gumam pelan Meida sambil menatap wajahnya yang sudah di make up natural. Ia menyisir rambut nya sambil tersenyum,


“Meida, ternyata kau sangat cantik. Pantas saja suamimu klepek-klepek.” Narsis Meida sambil memegang wajahnya. Ia menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya, rambut hitam nya dibiarkan tergerai, dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.


Buang rasa malu mu! Hilangkan rasa gengsi mu! Jangan mengecewakan suami mu.


Ujarnya dalam hati sambil memutar-mutar dirinya di depan cermin. Setelah selesai merias diri, ia berjalan kearah pintu kolam renang, karena mendengar suara suaminya berasal dari dalam sana. Dengan pelan-pelan ia membuka pintu, dan menemukan suaminya yang mengenakan piyama navy menghadap kearah tengah kolam dengan ponsel di telinganya, posisinya kebetulan sekali membelakanginya.


Dengan mengendap-endap Meida menghampiri suaminya dan memeluknya dari belakang. Ia dapat merasakan jantung suaminya yang berdetak cepat seperti yang dirasakannya.


“Iya Mih, gak papa kalau gak bisa datang kesini besok. Nanti Melvin bilang sama menantu kesayangan mamih, kalau mamih belum bisa datang untuk melihatnya.” Kekeh Melvin sambil mengusap-usap tangan istrinya yang melingkar di dadanya.

__ADS_1


-


“Iya Mih. Nanti tak kasih cucu yang banyak, do'ain aja. Melvin sih gimana menantu Mamih siapnya aja.” Meida menenggelamkan wajahnya di punggung suami.


Pasti Mamih request cucu. Mamih belum tau, kitanya aja baru mau proses. Batin Meida sambil memejamkan matanya. Udara dingin yang menusuk kulit tak digubrisnya, walaupun ia hanya memakai sepotong kemeja milik suaminya.


-


“Iyaiya Mih, siap. Malam Mih.”


Melvin mengakhiri panggilan teleponnya dengan berdehem. Mereka diam sebentar untuk mengatur nafasnya, yang sama-sama nervous.


“Mamih bilang apa By?” Tanya Meida memecahkan keheningan diantara mereka. Melvin menarik nafasnya dalam, lalu menjawab pertanyaan dari istrinya.


“Kata Mamih, bilangin sama menantu kesayangannya, kalau besok mereka gak jadi berkunjung kesini. Mamih bilang, kita di suruh fokus buat nyetak banyak cucu.” Wajah Meida kembali memerah dengan senyum-senyum. Tebaknya ternyata benar, mertuanya sudah memesan di buatkan cucu padanya.


“Biar cepet, kita cetak dari terigu aja By.” Kekeh Meida yang mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang. Suaminya pun ikut tertawa dengan menggigit punggung tangannya.


“Gak bisa sayang, beda proses. Kita buat anak, bukan buat goreng bala-bala.” Melvin pun bergerak ingin merubah posisinya untuk berhadapan dengan istrinya. Tapi Meida malah menahannya.


“Bi, jangan banyak gerak! Diem! Aku malu.” Melvin mengerutkan keningnya dengan bingung.


“Malu kenapa yang?” Meida mengerucutkan bibirnya. Menyembunyikan wajah di punggung suaminya.


“Aku malu sama kamu. Jantung ku berdetak cepat jika berdekatan dengan kamu by. Rasanya seperti akan meledak, tapi gak ada bom nya.” Sahut polos Meida mengutarakan apa yang dirasakannya sekarang. Seketika keberanian muncul dalam diri Melvin, rasa gugupnya entah hilang kemana. Wajah tegangnya berubah menjadi berseri-seri. Dengan pelan, ia memegang tangan istrinya, lalu membalikkan tubuhnya yang kini berhadapan dengan istrinya.


“Sini saya periksa.” Meida langsung menenggelamkan wajah di dada bidangnya. Ia malu melihat suaminya, apalagi memperlihatkan riasan di wajahnya.


“Mana jantung yang mau meledak? Saya mau tahu?” Kekeh Melvin dengan senyum lebarnya. Dengan lembut, ia mengangkat wajah istrinya yang sedang memejamkan mata dengan menggigit bibirnya. Ia merapikan rambut yang menutupi wajah nya, dan langsung tertegun dengan jakun naik turun.


Ia menatap dalam mahakarya Tuhan yang sedang mendongkakkan wajah kearahnya. Ia seakan terhipnotis oleh kecantikan paripurna istrinya. Matanya terpejam, memamerkan bulu mata lentik yang saling bertautan. Bibir ranumnya yang sedikit terbuka, yang menggoda imannya. Pipi merah merona alaminya yang tak perlu mengenakan blush on.


“Malam ini, kamu sangat cantik sayang.” Gumam pelan Melvin sambil membelai wajah istrinya yang nampak malu-malu.


Meida membuka mata, memamerkan senyuman termanisnya.


“Aku memang cantik By. Kamu baru nyadar yah?” Jawab Meida sambil mengedipkan sebelah matanya. Melvin pun terkekeh, ia menuntun tangan istrinya untuk melingkar di lehernya, sementara tangannya ia lingkarkan di pinggang istrinya.


-


☕☕☕☕☕☕


Jangan lupa, like, komen, vote sama hadiahnya 🤗🤗🤗♥️♥️♥️

__ADS_1


Gomawooo


__ADS_2