
Melvin mengenakan kemeja warna putih dengan celana kain warna hitam, di gandeng oleh Melisa dan Zaina masuk ke dalam mobil Alphard milik keluarganya. Sementara Gilbert pulang terlebih dahulu ke rumah sakit ditemani sang driver pribadi, karena ada sesuatu yang harus di urus mengenai keselamatan calon menantu dan calon besannya. Wajah Melvin nampak terlihat tampan, setelah bulu-bulu halus di wajahnya di cukur oleh Melisa, wajahnya terlihat lebih fresh dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya.
“Aura pengantin terpancar membahana, bawaannya senyum mulu.” Ledek Melisa yang duduk di samping Melvin di kursi paling belakang. Melvin hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, wajahnya memerah sampai ke kupingnya karena malu.
“Ya, namanya juga calon pengantin Lisa. Jangan ngeledekin Koko-mu nanti dia ngambek loh.” Sahut Helena sambil terkikik di kursi paling depan. Ia menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
“Vin, ini ponsel dan dompet mu! Papih mengembalikannya lagi pada mu. Untuk kunci mobil dan fasilitas lainnya, nanti menyusul. Papih tahu kamu pasti sangat membutuhkan ini.” Nagara mengambil ponsel dan dompet Melvin dari kantong celananya. Lalu diberikan pada Putra-nya itu.
“Terima kasih banyak Pih.” Ujar Melvin sambil mengambil ponsel dan dompet yang disondorkan pada nya.
Melvin langsung mengambil ponselnya, sementara dompetnya ia simpan di kantong celana hitamnya.
Melvin menyalakan ponsel miliknya yang selama sebulan lebih tak dipegangnya. Ketika menyala, terpampang jelas di layarnya seribu lebih panggilan tak terjawab. Dan terdapat beribu pesan masuk ketika ia menghidupkan data nya.
Pesan yang pertama kali ia lihat adalah pesan dari Meida yang tertumpuk oleh beberapa pesan. Ia membaca pesan itupun satu persatu.
[Saya sudah berbaikan dengan keluarga saya. Bahkan tadi kami sempat makan malam bersama. Daddy dan Mommy menanyakanmu, kapan kamu kesini? Jadikan menjemput saya?] Isi pesan itu. Melvin mengscrollnya layar ponselnya ke bawah
[Kamu dimana? Apa masalahnya sudah selesai? Jawab pesan dari saya! Jangan membuat saya khawatir. Saya mohon!] Mata Melvin berkaca-kaca, ternyata Meida sangat mengkhawatirkannya.
[Apa jempol mu hilang hingga tak bisa membalas pesan dari saya? Apa tangan mu patah?]
[Kamu baik-baik saja, Kan? Perasan saya tidak enak.]
[Daddy masuk rumah sakit. Kamu dimana sekarang? Kapan kamu kesini? Kamu harus menepati janji mu untuk datang!] Melvin menggigit punggung tangannya, dengan sebelah tangan memegang ponsel.
[MELVIN NAGARA!!! KENAPA NOMOR MU SUSAH DIHUBUNGI!! APA KAMU SUDAH PUNYA SIMPANAN BARU? JIKA KAMU BERPALING DARI SAYA, SAYA AKAN MEREMUKKAN TULANG MU MENJADI SOP DAGING!] Melvin terkekeh pelan sambil menghapus sudut matanya.
Masih sempat-sempatnya kamu berpikir seperti itu Meida.
Gumam pelan Melvin yang semakin fokus membaca pesan dari Meida. Ia tak menghiraukan obrolan kedua orang tua dan adiknya, saking fokusnya.
[HEY LELAKI BODOH!]
[LELAKI MENYEBALKAN!]
[Apa kamu sudah gila membiarkan saya seperti ini tanpa kepastian! Ingat dengan janji-mu! Kenapa kamu menghilang di saat haru pernikahan kita sebentar lagi! Mana janji-mu untuk melamar saya? Apa kamu hanya mempermainkan perasaan saya? Jika kamu memang sudah menemukan wanita pengganti saya, datanglah! Kita bicara baik-baik bukan menghilang seperti ini.]
Melisa yang berada di samping Melvin melihat aneh kearah Koko-nya yang sedang fokus menatap layar ponsel. Ia menggeser tubuhnya untuk melihat layar ponsel itu, namun Melvin lebih dulu menyampingkan ponselnya, agar Melisa tak bisa membacanya. Melisa mencebikkan bibirnya, dengan menggerutu ia kembali duduk di kursinya.
[Jonathan dan Sabiru di culik. Saya harus apa? Sementara Daddy masih sakit. I need you!]
__ADS_1
[Lelaki bodoh! Kamu berhasil membuat saya seperti orang gila! Sebelum kita mengakhiri semuanya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada mu karena berhasil membuat saya jatuh cinta. Entahlah apa yang akan terjadi ke depannya, asal kamu tahu... Saya mencintaimu. Saya harap kamu membaca pesan ini.]
“Mengakhiri apa? Jangan ngaco! Sampai kapanpun saya tak akan melepaskan mu. Karena saya pun sangat mencintai Mu!” Batin Melvin sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
[Kamu tahu perasaan saya seperti apa sekarang? Saya marah pada mu! Saya kecewa! Saya rindu! Saya khawatir! Saya ketakutan. Saya takut kamu benar-benar pergi meninggalkan saya, di saat saya sudah melabuhkan hati saya pada mu, di saat saya benar-benar mencintai mu, dan kamu malah memilih pergi. Saya sangat merindukan mu, rasanya separuh raga saya mati, separuh jiwa saya hilang. Walaupun di tengah rasa ketakutan ini, saya berdoa semoga kamu menepati janji-mu. Saya menunggumu! Saya akan selalu menunggu mu sampai kamu benar-benar datang menjemput saya! Saya yakin, kamu adalah takdir yang diberikan Allah untuk saya. Datanglah! Ada seseorang yang menunggu mu disini, menunggu kepastian dari mu.]
Pesan terakhir meida yang di kirim untuknya. Mata Melvin berkaca-kaca. Rasanya untuk Meida tak bertepuk sebelah tangan. Meida pun sangat mencintainya, Melvin mengalihkan pandangannya ke luar kaca jendela. Dan memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya.
Saya tidak akan mengingkari janji saya lagi Meida. Semoga setelah melewati ujian panjang ini, kita akan merasakan kebahagiaan itu. Terima kasih telah bersedia menjadi Nyonya Melvin Nagara.
“Sumpah Papih gak nyangka akan menyaksikan pernikahan mu malam ini. Melepas mu untuk menjalani sebuah biduk rumah tangga. Menjadi seorang kepala keluarga, dan menjadi Ayah untuk anak-anak mu kelak. Waktu terasa begitu cepat, Putra kecil Papih kini akan mengarungi bahtera bersama pilihan nya,” ucap Nagara sambil mengelus rambut panjang istrinya. Ucapannya menyadarkan Melvin dari lamunannya. Ia mengalihkan pandangannya, melihat kearah Papih-nya yang berada di depannya.
“Do'akan Melvin Pih. Semoga bisa menjadi Suami dan Kepala keluarga yang baik seperti Papih.” Nagara dan Helena tersenyum. Lalu melihat kearah Putranya yang berada di belakang mereka.
“Setelah menikah, kamu akan membawa Meida tinggal dimana? Papih sarankan kamu tinggal di rumah kita saja. Biar Istri mu tak kesepian dan ada temennya nanti.” Melvin menggigit bibirnya sambil menimbang-nimbang sesuatu.
“Gimana nanti aja Pih, Melvin pikir-pikir dulu.” Jawab diplomatis Melvin. Karena ia perlu membicarakan ini nanti bersama Meida.
“Yaudah, gimana kamu aja.” Nagara dan Helena kembali membalikkan posisinya dengan menghadap ke depan dengan menyenderkan kepalanya satu sama lain.
“Mamih, Papih! Ngapain sosweat sosweatan? Inget umur! Ada anak di bawah umur di belakang! Jangan pamer kemesraan mulu!” Sewot Melisa meledek kedua orangtuanya yang lengket bagai perangko. Padahal sudah sebulan ini mereka perang dingin dengan tak saling menyapa. Nagara menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat wajah Putri-nya yang terlihat kesal.
“Kami hanya mencontohkan! Jika kalian sudah punya suami ataupun istri nanti, harmonislah seperti kami. Walaupun umur kalian sudah tua. Makanya kamu cari pasangan, biar gak jomblo terus. Koko sekarang mau nikah, lah kamu kapan? Jangan betah jadi jomblo, gak ada reward nya!” Melvin kembali menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Papihnya yang meledek adiknya yang sekarang wajah terlihat cemberut.
“Papih jangan ngeledek Melisa mulu, kasian. Nanti dia ngambek loh! Jangan tambah beban pikirannya, dia sudah lelah jadi jomblo akut yang belum bisa move on dari cinta pertama nya haha.” Melisa langsung melepaskan pelukannya mendelik kearah koko nya dengan memukul bahu nya pelan. Melvin malah tertawa dan kembali memeluk adiknya.
“Iya Mamih juga aneh. Padahal Melisa mewarisi kecantikan Mamih yang tiada tara ini, tapi dia gak laku-laku. Apa Mamih salah kasih mantra ya?” Semua yang berada di mobil itu tertawa mendengar kelakar Helena. Setelah sekian lama, akhirnya mereka dapat tertawa lepas seperti ini. Berkumpul, bercanda, dan saling meledek, mencerminkan sebuah keluarga yang penuh kehangatan dan cinta.
“Mamih kemarin mah musuhan sama Papih, ketemu juga suka buang muka. Koko tahu? Mamih mengusir Papih dari kamarnya, dan setiap malam Papih tidur di kamar Koko. Kemarin mah bilang si Tua keras kepala, Singa liar, si kaleng rombeng, ehh sekarang mah lengket kayak lem korea. Emang efek membully sedahsyat ini, bisa menyatukan orang marahan selama satu bulan tanpa berkepanjangan haha.” Kini giliran Melisa yang tertawa terbahak-bahak. Wajah Zaina memerah sambil menundukkan wajahnya. Sementara Nagara yang berada di sampingnya menatapnya dengan menyelidik.
“Mih, kamu nyebut Papih kaleng rombeng?” Zaina malah cengengesan memamerkan giginya ketika Nagara menuntut jawaban dari nya. Sementara Melisa yang berada di belakang mereka masih tertawa dengan mulut di bekap oleh Melvin.
“Tuan, Nyonya. Kita sudah sampai!” Ucap driver itu mengakhiri drama keluarga Nagara. Mereka berhenti di basement rumah sakit khusus keluarga Atmadja.
Rumah sakit Internasional malam itu cukup lengang. Mereka turun dari mobil, yang sudah di tunggu oleh beberapa bodyguard Atmadja yang menunggu mereka. Bodyguard itu mengawal mereka sengaja lewat pintu belakang, tidak lewat pintu depan yang bertepatan dengan Lobby. Karena untuk mengatasi gosip miring kedua belah pihak yang akan menurunkan pamor mereka. Melisa dan Helena yang mengenakan dress senada dengan di lapisi blazer berjalan terlebih dahulu. Mereka mengenakan masker, agar orang yang melihatnya tak mengenalinya.
Melvin nampak berjalan tanpa kursi roda, kakinya sudah mulai membaik setelah di beri obat oleh Jack. Ia berjalan bersisian dengan Papihnya yang sama-sama memakai kacamata hitam dan masker putihnya.
“Meida di rawat di lantai berapa?” Bisik Nagara yang masuk lewat lift khusus petinggi Rumah Sakit. Melvin menjawabnya sambil menekan angka 4.
“Meida di rawat di lantai 4 Pih.”
__ADS_1
Dengan perlahan Lift itu berjalan ke atas menuju lantai 4 yang di tempati khusus keluarga Atmadja. Ruang itu kini sudah di dekorasi sederhana oleh tangan Sabiru dan Dian.
“Tarik nafas teratur! Jangan gugup kayak gini!” Helena melap dahi Putranya menggunakan tisu yang selalu tersedia di tas mewahnya.
Jantung Melvin kembali berdetak kencang, tangan dan kakinya bergetar, keringat membasahi telapak tangannya ketika lift itu terbuka, dan menandakan mereka sudah sampai di lantai 4.
Dua orang bodyguard sudah menunggu mereka di depan pintu lift. Dan kembali mengawal mereka menuju sebuah ruangan yang tampak ramai berisikan keluarga Atmadja. Lantai 4 itu tidak diperkenankan di isi oleh pasien manapun, melainkan sudah di booking oleh keluarga Atmadja sendiri.
Setelah mengucapkan selamat malam. Nagara terlebih dahulu membuka pintu itu. Ia tercengang melihat ke dalam ruang itu nampak sudah berkumpul banyak orang yang menunggu mereka. Mereka terlebih dahulu bersalaman. Sementara Melisa dan Helena terlebih dahulu menghampiri Meida yang masih terbaring tak sadarkan diri memakai gamis dan hijab berwarna putih, aura kecantikannya masih tetap terpancar, walaupun matanya masih terpejam. Helena lebih dulu mengusap lembut wajah calon menantunya yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.
“Sayang, maafkan Tante yang baru bisa datang! Maafkan Tante yang baru sempat menjengukmu. Sadarlah! Hari ini kamu akan menikah dengan Putra Tante. Dia sangat tampan malam ini, apa kamu tak ingin melihatnya?” Bisik Helena yang tak mendapat respon apa-apa dari Meida. Kemudian ia mencium keningnya. Setelah itu ia berjalan kearah kumpulan orang untuk bersamalam, lalu duduk di samping suaminya yang sedang mengobrol dengan penghulu dan Gilbert.
“Meida, maafkan Mbak yang baru bisa melihat mu sekarang. Sadarlah dan lihatlah! Dia akan mengucapkan janji suci untuk mu. Koko keren, Kan? Dia memang lelaki keren. Calon Suamimu memang lelaki yang luar biasa.” Gumam pelan Melisa sambil mencium pipi Meida. Setelah menciumnya ia berjalan kearah Bi Ina yang sedang mengobrol dengan Zaina dan Dian.
Steven berjalan kearah Melvin untuk memberikan kotak cincin pernikahannya.
“Semua aman Ko! Tak ada kendala sedikitpun,” Ucapnya yang kembali menenangkan hati Melvin yang nampak terlihat gugup.
Kini ruang itu benar-benar penuh. Saksi pernikahan sudah ada, penghulu sudah ada, dan kedua keluarga pun sudah datang untuk menyaksikan. Kini Melvin yang nampak pucat berkeringat itu berhadapan langsung dengan Jonathan dan penghulu. Gilbert sengaja menyuruh Jonathan untuk menjadi wali kakaknya, karena Ia dan Andress masih dengan keyakinan lamanya. Hanya Jonathan yang keyakinannya sama dengan cici nya.
Setelah penghulu selesai membaca pengantar pernikahan. Jonathan menjabat tangan Melvin yang terasa dingin dengan wajah gugupnya. Syahadat dan do'a terlebih dulu diucapkan. Tepat di jam 11 malam, Melvin melangsungkan ijab kabul di saksikan oleh semua orang yang berada di ruang itu. Semua nampak terharu, ketika melvin mengucapkan kata sakral itu dengan lancar. Dan kini ia mengambil alih tugas dan tanggungjawab jiwa raga Meida dunia dan akhirat.
Sahhhhhh
Ucapan itu menggema di dalam ruang itu. Kini ia sudah sah menjadi suami dari wanita yang di cintainya. Berjanji untuk menjaga dan mencintainya di hadapan Tuhan, Para Malaikat, dan keluarga besarnya.
Setelah bersalaman dengan penghulu dan Jonathan, Melvin langsung menghampiri pujaan hatinya dengan mata berkaca-kaca untuk memasangkan cincin nikah di jarinya.
Ia memasangkan cincin nikah di jari Meida dengan tangan bergetar, akhirnya ia benar-benar mempersunting pujaan hati nya, yang kini telah sah menjadi istrinya. Karena tak ada memasangkan cincinnya, Zaina berinisiatif memasangkan cincin nikah di jari menantunya dengan perasaan haru.
Melvin mencium kening Meida lama dengan penuh penghayatan diantara air matanya, hingga semua orang yang berada di ruang itu terbawa suasana haru melihat kedua anak manusia yang saling mencintai yang kini sudah dipersatukan. Melvin melepaskan ciumannya, lalu ia membisikkan sesuatu di telinga wanita yang kini menjadi istrinya.
Assalamualaikum Istri Ku...
Cepatlah sadar sayang! Saya disini menunggu mu. Ini hari bahagia kita, hari yang sudah lama kita nantikan, kini telah menjadi kenyataan. Mari kita wujudkan mimpi kita bersama-sama! Mari kita bangun keluarga bahagia! Cepatlah sadar, saya sangat mencintai mu lebih dari apapun. Saya akan menjadikan mu wanita paling bahagia di dunia ini. Saya merindukan mu bidadari ku. Bisik Melvin sambil menghapus air matanya. Lalu ia kembali mencium kening Meida dengan penuh cinta.
-
☕☕☕☕ pokok namah🤭 udah panjang kali lebar ini.
Yeah akhirnya Meida sama Melvin nikah juga🥳 Congratss buat kalian berdua😘😘♥️♥️♥️
__ADS_1
Like, vote, komen, rate, sama hadiahnya diantos😘
Hatur nuhun♥️🥰