Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Dia menjemputmu!


__ADS_3

“Ko Melvinnnnnnnnnn!” Teriak remaja lelaki itu sambil berlari kearahnya. Melvin diam terpaku dengan meneteskan air matanya. Semua orang yang berada di depan ruang itu memandangnya dengan tatapan tak percaya. Orang yang selama ini mereka tunggu, akhirnya kembali. Namun, bukan dalam keadaan seperti ini yang mereka harapkan.


“Mel ... Melvin.” Lirih Bi Ina yang kembali meneteskan air matanya ketika melihat sosok lelaki yang dirindukannya datang. Ia melihat kearah Jonathan yang menangis tergugu dipelukan lelaki itu.


“Ko ... cici ko ....” Lirih Jonathan di pelukan Melvin. Melvin mengedarkan pandangannya kearah semua orang yang berada di ruang itu dengan wajah bertanya-tanya, rautnya memancarkan kegelisahan yang amat kentara.


“Meida kenapa Jo? Apa dia baik-baik saja?” Melvin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Jonathan yang sedang menangis dengan mengguncangkan tubuhnya pelan.


“Jo. Tatap mata Koko! Tolong jawab pertanyaan Koko! Meida baik-baik saja, Kan?” Jonathan menggelengkan kepalanya dengan menundukkan wajahnya. Ia malah menangis tergugu dengan menunjuk kearah ruang ICU yang nampak ramai oleh beberapa Dokter.


Lutut Melvin tiba-tiba bergetar. Ia berjalan dengan perlahan-lahan mendekati ruang ICU dengan kaki pincangnya.


“Bu, Meida baik-baik saja, Kan?” Tanya ulang Melvin menatap Bi Ina dengan air mata yang sudah berurai di wajahnya. Bi Ina menyentuh wajah Melvin dan memeluknya.


“Sabarlah! Do’akan Meida. Semoga dia mampu melewati semuanya,” Jawab Bi Ina dengan suara paraunya. Zaina langsung berdiri memegang bahu Melvin lalu mengguncangnya.


“Kenapa kamu baru datang sekarang? Jaslin menunggumu .. dia menangis merindukanmu ... dia mencintaimu ... kenapa kamu baru datang ....” Raung Zaina sambil memukul-mukul bahunya pelan. Mendengar itu, hati melvin seakan teriris, lukanya semakin menganga lebar mendengar pengakuan calon mertuanya. Bukannya menjawab, ia malah mengeraskan tangisnya. Ia melepaskan pelukan Bi Ina kemudian menatap nanar kearah Zaina dan memegang kedua lengannya.


“Maafkan saya membuat Putri tante menunggu ... Maafkan saya ...” Parau Melvin dengan rasa penuh bersalah. Ia meluruhkan tubuhnya, lalu duduk bersimbuh di depan Zaina dengan menundukkan wajahnya. Orang yang berada di depan ruang ICU itupun ikut menangis, ketika melihat sisi kerapuhan Melvin jika berkaitan dengan Meida.


“Sudah ... sudah ... Ini semua sudah terjadi. Ini semua takdir Tuhan yang harus kita alami dan jalani. Jangan seperti ini, kamu tidak bersalah Nak. Terima kasih telah datang! Terima kasih atas rasa cinta mu yang teramat besar untuk Putri Om.” Gilbert membantu Melvin untuk berdiri lalu memegang kedua bahunya, dan kemudian memeluknya.


“Om tidak akan menyalahkan mu. Kamu dan Jaslin sama-sama menghadapi banyak kesulitan. Hingga kalian baru dipertemukan sekarang. Yang perlu kamu tahu, Putri  Om sangat mencintaimu. Terima kasih telah kembali dengan selamat,” ucap Gilbert yang mengelus-elus rambut menantunya yang sedang menangis tergugu dipelukannya.


“Maafkan saya, yang baru bisa datang sekarang. Maafkan saya, yang pergi tanpa pamit. Maaf saya, membuat Putri Om menunggu. Sebenarnya saya ingin cepat-cepat datang, tapi keadaan yang memaksa saya untuk bertahan dan bersabar.” Gilbert mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menghapus air matanya, lalu melepaskan pelukannya.


Melvin menolehkan pandangannya kearah kaca yang berada di sampingnya, hatinya tak kalah hancur takala melihat sang pujaan hati sedang terkapar lemah tak berdaya di kelilingi oleh para dokter.


Melvin mengusap kaca itu dengan tangan bergetar. Tangisan pilu takut kehilangan kembali terdengar, menyayat hati semua orang yang sedang melihatnya. Keluarga Atmadja semakin terisak takala mendengar raung tangisnya yang sedang mengusap-ngusap kaca ICU dengan bercucuran air mata.


Meida, saya datang ... saya disini ... Bertahanlah ... Saya mencintai mu ... Saya menepati janji saya untuk pulang ... Jangan pergi ... jangan membuat hidup saya hancur. Maaf saya datang terlambat. Lirih terbata-bata  Melvin dengan suara paraunya membuat orang yang mendengarnya semakin di balut luka kesedihan.


Bi Ina yang berada di belakangnya menepuk-nepuk bahunya tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia merasakan ketakutan yang sama, seperti apa yang Melvin rasakan.


Meida, apa kamu ingat? tepat hari ini setahun kita bertemu. Apa kamu mengingatnya? Jika tidak, biarkan saya yang akan mengingatkanmu. Bukankah kita akan mengukir sejarah di hari dan tanggal ini? Bukankah kita sudah berjanji akan membuat moment bersejarah yang tak pernah terlupakan seumur hidup kita?


Tanya nanar Melvin menatap kearah belangkar Meida dengan tatapan menerawangnya.


Saya tahu awal pertemuan kita bukan di sengaja, tapi entahlah takdir terus saja menuntun saya untuk terus dekat dengan mu ... takdir membuat saya jatuh cinta pada mu lagi dan lagi. Jatuh cinta pada sosok wanita cantik, tangguh, yang memiliki kelembutan hati, dan menyembunyikan di balik wajah dinginnya. Melvin menghapus air matanya lalu melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Asal kamu tahu, saya jatuh cinta pada mu sejak pertemuan pertama kita. Saya jatuh cinta pada seorang gadis polos yang jauh-jauh datang ke Surabaya, yang kepolosannya dimanfaatkan oleh temannya sendiri. Saya masih ingat mimik gelisah mu saat itu, ketika kamu akan di jual kepada lelaki hidung belang.


Gilbert yang berada dibelakangnya menepuk-nepuk pundaknya. Ia pun terisak mendengar gumaman melvin untuk Putri-nya.


Kamu tahu? Saya bersyukur Tuhan mempertemukan kita di malam itu. Saya bersyukur karena berhasil menemukan cinta saya ... saya bersyukur karena berhasil menemukan separuh hidup saya ... saya bersyukur karena berhasil  menemukan tulang rusuk saya ... Saya bersyukur karena berhasil menemukan mu Meida ...


Bangunlah, saya mohon! Apa kamu tak ingin mewujudkan mimpi kita? Saya masih ingat dengan jelas perkataan mu malam itu. Ayoo kita wujudkan mimpi itu bersama-sama. Gilbert menangis tergugu mendengar ucapan cinta sepenuh hati Melvin yang begitu dalam untuk Putrinya. Melvin lebih tahu tentang diri anaknya, daripada dirinya.


Bukankah kamu akan menunggu saya pulang? Saya datang sekarang. Saya datang untuk mempersuntingmu ...


Meida, saya mohon sadarlah! Teriak Melvin di balik kaca itu.


Melvin tak mampu menahan bobot tubuhnya yang semakin melemah. Ia meluruhkan tubuhnya ke lantai dengan menyadarkan dahinya ke kaca.


Tit ... tit ... tit .. tit


Suara monitor dari dalam terdengar nyaring sampai ke luar. Melvin, Zaina, Gilbert, Bi Ina, Jonathan, dan Johan  langsung membelalakan matanya dengan tangan menutup mulut mulut masing-masing.


Tanpa memikirkan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Melvin langsung berlari, mencoba masuk ke dalam. Ia tak menghiraukan teriakan orang yang berada di sekelilingnya. Ia mendorong tubuh bodyguard Atmadja yang menghalangi jalannya.  Ia tak mempedulikan rasa sakit yang teramat dalam di kakinya, rasa cintanya mampu mengalahkan segalanya. Ia berhasil masuk ke dalam ruangan, dan berdiri di belakang seorang Dokter yang wajahnya nampak panik yang tertutupi oleh maskernya.


“Denyut pasien semakin melemah!”


Bunyi monitor terdengar semakin nyaring, memberikan aura mencekam di ruang itu.


Melihat tubuh orang yang dicintainya diam tak berdaya, Melvin tak mampu mengontrol perasaannya.


Meidaaa ...


Teriak Melvin sambil menyingkirkan Dokter yang berada di depannya. Ia berjalan semakin mendekat kearah belangkar Meida dengan bercucuran air mata.


Semua Dokter yang berada di ruang itu kembali terkesima menatap kearah Melvin yang sedang menangis memegang tangan Meida, tak terkecuali Andress dan Jack. Air mata takut kehilangan bercucuran sambil membisikkan sesuatu di telinganya.


Assalamualaikum, calon istri ku... saya datang ... saya disini ... saya menunggumu ... berjuanglah ... Saya mencintaimu.


Melvin menatap wajah Meida dalam, ia tak mempedulikan tatapan orang yang sedang menatapnya dengan jengah. Jack mengangkat sebelah tangannya, mengintruksikan para Dokter yang berada di ruang itu untuk membiarkan Melvin, begitupun Andress. Jack dan Andress malah meneteskan air mata takala melihat Melvin menangis tergugu sambil memeluk tubuh adiknya.


Meida, sadarlah. Kau ingat hari ini hari apa? Ini hari pernikahan kita sayang. Sadarlah! Ini hari bersejarah bagi kita. Bagaimana saya akan menikahi mu jika keadaan mu seperti ini. Melvin menyusupkan wajahnya di ceruk leher Meida. Inilah ketakutan terbesarnya selama ini. Ia takut Meida pergi jauh dan meninggalkannya. Melvin kembali membisikkan sesuatu ke telinga Meida.


Sayang, Bukankah kamu ingin pergi Honeymoon ke Afrika? Bukankah kamu ingin memiliki 25 anak. Walaupun itu hanya sebuah candaan, tapi saya tak sedikitpun keberatan untuk mewujudkannya asalkan dengan mu. Sayang, Mari kita bangun keluarga yang bahagia, keluarga yang hangat, keluarga yang saling menyayangi.

__ADS_1


[Lihatlah Meida, dia benar-benar datang! Dia menjemputmu.] Pandangan samar Meida melihat kearah seorang lelaki yang berjalan kearahnya. Lalu duduk bersimpuh di depannya.


[Sayang, ayoo kita pulang! Mereka sudah menunggu kita.] Ucap lelaki tinggi nan tampan dengan memakai tuxedo warna putih dengan senyum khasnya. Lelaki itu menggenggam tangan Meida lalu menciumnya.


[Hari ini adalah hari pernikahan kita. Kenapa kamu masih berdiam diri disini? Jangan mengingkari janji-mu, saya pun tak mengingkarinya.] Meida tak bisa melihat jelas wajah lelaki itu. Dadanya kembali sesak, tubuhnya malah semakin bergetar.


[Pulanglah sayang! Saya menunggu mu!]


Teriak suara itu terngiang-ngiang di kepala Meida.


“Sayang jangan seperti ini! Jangan pergi! Jangan tinggalkan saya! Saya sangat mencintaimu! Saya mohon!” Ratap pilu Melvin ketika melihat tubuh Meida yang kembali kejang-kejang. Jack memegang bahu Melvin menyuruhnya untuk pergi dari ruang itu, tapi melvin malah menggelengkan kepalanya dengan wajah putus asa nya.


“Saya mohon, kamu keluar dulu! Saya akan melakukan yang terbaik untuk Meida. Jangan seperti ini! Ini akan menyulitkan Meida.” Lirih Jack lalu menggandeng tangan Melvin keluar dari ruang itu.


Pasien kritis!


 Teriak satu suara yang mampu meruntuhkan dunia Melvin. Tubuhnya melemah, langkahnya gamang, dan pertahanannya jebol. Tubuhnya terjatuh ke lantai dengan pandangan nanar.


“Kokooooo....”


“Melvinnnn...."


Teriak Gilbert, Bi Ina, Steven dan Jonathan sambil berlari kearah Melvin yang sedang tergeletak di lantai.


“Meida, saya menunggumu!” Parau Melvin sebelum kesadarannya menghilang.


-


☕☕☕☕☕☕


Punten pisan, otor telat Up. minggu-minggu ini otor lumayan sibuk.


Alhamdulillah lagi proses ngerintis usaha keluarga, jadi up nya gak teratur, tapi diusahakan up setiap hari🤗


Harap di maklum yah😁


 Terima kasih buat yang masih setia menunggu Novel receh ini, hatur nuhun pisan🤗😘🥰


Jangan lupa, like, komen, vote, rate, sama hadiahnya🤗♥️♥️♥️

__ADS_1


Wilujeng Weekend 🤗♥️


__ADS_2