
“Daddyyyyyy!!!! Jonathannnnn!!!!” Teriak Zaina menggema memanggil suami dan anaknya yang berada di ruang sebelah. Dengan setelan yang masih mengenakan daster, rambut di cepol, dan wajah bantalnya. Zaina menjatuhkan baskom dan handuknya, lalu mengecek ke seluruh ruangan. Ia memegang kepalanya, karena tak menemukan Putri dan menantunya yang berada di ruang itu. Jonathan datang terpogoh-pogoh sambil mengibaskan rambut basahnya.
“Apa sih Mom teriak-teriak? Kasian cici dan koko! Mereka pasti kaget mendengar teriakan Mommy yang menggelegar ini,” ucap Jonathan yang masih mengenakan bathrobe putihnya. Ia langsung berlari mencari Mommy-nya, ketika mendengar teriakannya. Ia belum menyadari, bahwa belangkar Melvin dan Meida sudah kosong melompong.
Zaina menepuk pelan bahu anaknya dan menunjuk kearah belangkar Meida. Wajahnya pucat pasi bagai tak dialiri darah.
“Jaslin dan Melvin tidak ada!” Jonathan langsung melihat kearah ujung telunjuk Mommy-nya dengan pandangan tercengang. Ia menghampiri belangkar yang selama ini Meida tempati. Ia tak menemukan apapun, kecuali ponsel Melvin yang tergeletak di belangkar cici-nya.
“Cici dan Koko kemana Mom?” Zaina menggelengkan kepalanya dengan mengangkat kedua bahunya pertanda tidak mengetahui keberadaan Putri nya. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya karena terlalu panik.
“Panggil Daddy-mu! Dia harus tahu! Mommy takut mereka di culik!”
Jonathan langsung memanggil Daddy-nya yang sedang memakai baju. Ia langsung menggandengnya menuju ruang yang di tempati Koko dan Cici nya selama ini.
“Ada apa Mom?” Tanya aneh Gilbert sambil mengancingkan kemejanya. Sementara Jonathan langsung pergi ke ruangannya untuk mengenakan pakaian.
“Jaslin dan Melvin dad, dia tidak ada disini.” Gilbert langsung melihat ke belangkar Putri-nya lalu memeriksakannya. Ia mengecek kearah kamar mandi, kearah pantry, hingga ke setiap sudut di ruangan itu, tapi tetap saja tak menemukan Putri dan menantunya.
Gilbert menyandarkan tubuhnya kearah sofa dengan diikuti oleh istrinya.
“Ini pilihannya cuman 2. Yang pertama mereka di culik, atau yang kedua Melvin menculik Putri kita yang belum sadarkan diri. Tapi mana mungkin dia menculik istrinya, itu sangat mustahil.” Gilbert memijit-mijit keningnya ketika mendengar perkataan istrinya yang ada benarnya.
“Daddy takut mereka di culik. Daddy takut anak buah Mak lampir itu masih berkeliaran dan berbuat jahat pada Putri dan menantu kita.” Sahut Gilbert sambil menjambak rambutnya. Ia keluar dari ruang Meida untuk menemui 2 bodyguard yang menjaga pintu masuk ruangan Putrinya. Ia pun kembali di buat terkejut,
“Ya Tuhan, bodyguard disini pun tak ada. Daddy takut mereka kenapa-kenapa. Daddy takut mereka benar-benar di culik.” Lirih Gilbert sambil menundukkan wajahnya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga putri satu-satunya dengan baik. Ia menyesal telah melonggarkan pengawalan, semenjak putrinya menikah.
“Mereka pasti baik-baik saja. Jo hubungi Jack dan Ko Andress dulu untuk berkumpul di ruang ini. Setelah itu kita mencari bersama-sama. Mommy dan Daddy masuk dulu ke dalam. Kita tunggu mereka di ruang cici.” Putus Jonathan yang diangguki lemah oleh kedua orang tuanya. Mereka masuk ke dalam ruang Meida dengan wajah lesu.
Jonathan langsung menghubungi Jack dan Andress, dan tak lama Andress pun datang dengan berlarian.
“Dad apa benar yang dikatakan Jo, Jika Jaslin, Melvin, dan bodyguardnya hilang?” Tanya panik Andress dengan wajah yang memerah karena berlarian dari lantai 5 menuju lantai 4 melalui tangga darurat. Gilbert dan Zaina menganggukkan kepalanya lemah sambil menunjuk kearah belangkar kosong.
“Lihatlah Ko! Jaslin dan suaminya tidak ada disini! Jika ada, kami tak mungkin sepanik ini,” Sahut Zaina pelan dengan wajah frustasinya.
Jack yang baru datang pun menatap bingung kearah mereka dan belangkar Meida.
Apa ini kejutan yang mereka rencanakan semalam? Jika ini kejutan, mereka bersembunyi dimana sekarang?
Batin Jack sambil mengambil ponsel Melvin yang tergeletak di belangkar Meida yang terlihat acak-acakan.
“Gak mungkin Jaslin dan Melvin di culik. Setiap malam pintu ruang ini terkunci rapat. Di tambah dengan penjagaan bodyguard bergantian di luar.” Kata Jack yang duduk di belangkar Meida sambil mengamati ruang tersebut.
“Jika mereka tak di culik. Mereka dimana sekarang Jack?” Tanya Andress yang sangat mengkhawatirkan keadaan adik perempuannya.
“Entahlah, insting saya mengatakan bahwa mereka tak di culik! Dari pada kita khawatir tak jelas. Jo, temani saya mengecek CCTV di ruang atas.” Seru Jack sambil menoleh kearah Jonathan yang sedang duduk di samping Daddy-nya.
“CCTV di lantai 4 aksesnya sudah om pindahkan ke ruang Om. Password nya masih sama.” Jack menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Saya izin masuk ruangan om. Jo, ayo!” Ajak Jack menepuk bahu jonathan untuk mengikutinya.
“Baik Jack. Mommy, Daddy, dan Koko tunggu sebentar disini. Kalau Jo sudah dapat info yang jelas, Jo pasti langsung menghubungi kalian.” Pamit Jonathan mengikuti langkah sepupunya.
__ADS_1
“Baik Nak. Kami tunggu informasi dari kalian secepatnya!”
-
Di tempat lain, seorang lelaki yang memakai celana pendek berwarna army dipadukan dengan kaos warna putih, dengan mengenakan masker putih dan topi hitamnya mendorong seorang perempuan yang masih memakai piyama tidur dan mantel tebal yang terlihat kelonggaran, wanita itu memakai masker berwarna putih dengan hijab instannya di kawal oleh 2 lelaki tinggi besar dibelakangnya.
“Yang, gak ada tukang bubur. Kita balik lagi aja yuk! Ini udah mau jam 7, nanti Daddy sama Mommy nyariin kita loh. Kita suruh orang buat beli aja ya?” Meida menggelengkan kepalanya sambil mengusap perutnya. Wajahnya cemberut, dengan mata berkaca-kaca.
“Saya lapar! Sudah sebulan ini saya gak makan. Apa kamu tega membiarkan istrimu kelaparan? Badan saya sudah kurus, daging saya sudah rapet, tubuh saya kekurangan gizi. Saya mau sarapan bubur ayam, please!” Cicit Meida dengan wajah sendu membuat Melvin tak tega. Melvin kembali mencondongkan tubuh nya ke bahu istrinya untuk membujuknya.
“Emang kamu gak capek dari tadi kita muter-muter kantin rumah sakit buat beli bubur ayam? Saya takut kamu lelah sayang. Siapa tahu sarapan kamu sudah ready di kamar. Kalau enggak, kita delivery aja ya?” Meida memegang tangan Melvin yang berada dibahunya lalu memijit punggungnya dengan lembut.
“Kalau nunggu delivery, saya keburu pingsan dong. Lagian saya gak capek kok, saya kan gak jalan. Yang capek itu pasti kamu, karena mendorong kursi roda saya dari tadi.” Melvin mengerutkan bibirnya di balik maskernya karena tak berhasil membujuk istrinya.
“Lumayan sayang, kaki saya pegal. Satu jam lebih saya muter-muter ngedorong kursi roda kamu. Gimana kalau kita suruh bodyguard aja untuk beli?” Meida menganggukkan kepalanya mengikuti saran suami nya. Melvin membalikkan tubuhnya, mengintruksikan kepada kedua bodyguard yang menjaga mereka untuk mendekat.
“Tolong belikan bubur ayam 5 porsi! Terserah beli dimana aja, yang penting berbentuk bubur. Saya tunggu kalian di taman Rumah sakit! Pake uang kalian dulu, nanti saya ganti 10 kali lipat!” Bodyguard itu menganggukkan kepalanya pergi meninggalkan mereka berdua tanpa membantah perintah Tuan nya.
“Kita tunggu mereka di taman aja ya! Disini serem, deket kamar jenazah.” Melvin kembali mendorong kursi roda istrinya. Ia berjalan melewati beberapa lorong untuk menemukan pintu keluar menuju taman.
“Yang, Saya gak bisa bayangin, pasti Mommy dan Daddy khawatir karena kita pergi gak bilang-bilang. Mana ponsel saya ketinggalan di kamar lagi. Gimana dong yang? Saya takut mereka panik nyariin kita. Kita pergi sudah lebih dari 1 jam, mana kamu belum di lap lagi.” Panik Melvin sambil memegang bahu istrinya. Bukannya khawatir, Meida malah terkekeh dengan wajah riang nya.
“Biarin aja! Itung-itung kita ngeprank mereka. Biar jadi kejutan gitu, kayak di film-film.” Kekeh Meida sambil menunjuk kearah kursi di bawah pohon palem. Agar suaminya mendorong kursi rodanya menuju sana. Melvin pun dengan patuh mengikuti keinginan istrinya dan mendorong kursi nya menuju tempat yang istrinya tunjukkan tersebut.
Mereka pun duduk di bawah pohon rindang yang terasa sejuk, sambil memandang kearah pasien-pasien yang sedang berjemur.
“Nenek kakek itu romantis banget ya!” Tunjuk Meida kearah seorang lelaki tua yang sedang menyuapi wanita tua yang duduk di atas kursi roda. Melvin pun mengikuti arah yang istrinya tunjukkan, dan ia pun tersenyum.
“Semoga kita bisa seperti mereka. Langgeng sampai kakek nenek, dan punya cucu banyak.” Meida pun tersenyum sambil mengaminkan ucapan suaminya. Kini Melvin menunjuk kearah anak kecil yang sedang berlarian, lalu kearah bayi yang menangis.
“Lucu ya anak kecil itu. Orang tuanya pasti bahagia dengan kehadirannya. Yang, kamu tahu apa yang saya bayangkan sekarang?” Meida menggelengkan kepalanya sambil melihat tangannya yang sedang di genggam suaminya lalu menatapnya,
“Kamu tahu apa yang saya bayangkan? Rasanya saya sudah tak sabar melihat mu hamil, memijit kaki mu sebelum tidur, membuatkan susu hamil untuk mu, mengawasi pergerakan mu, menemani mu pergi ke dokter, mengelus-elus perut mu sebelum tidur dan mengajaknya ngobrol, setiap hari menghadiahi mu dengan beribu-ribu ciuman, menemani persalinan, mengurus anak kita bersama-sama, bergadang bersama setiap malam untuk menjaga baby, rumah di isi oleh riuh tawa dan tangis anak-anak, setiap pulang kerja di sambut dengan pelukan hangat kalian, mengejar-ngejar mereka yang gak mau mandi, menangkap mereka yang sedang mengganggu mu, pergi piknik setiap weekend. Rasanya saya tak sabar menyaksikan itu semua. Sayang, kamu gak keberatan kan jika saya ingin segera memiliki anak?” Wajah Meida memerah takala mendengar pertanyaan suaminya yang sedang mencium tangan nya. Ia mengalihkan pandangannya ke depan sambil melihat anak kecil yang sedang menangis yang ditangani oleh para perawat berseragam putih.
“Pikiran kamu kejauhan. Gimana kita mau punya anak, bikin aja belum. Kamu aja belum ngapa-ngapain aku,” gumam pelan Meida dengan tak sadar. Ia masih fokus melihat kearah anak kecil itu sambil tersenyum. Setelah ia menyadari ucapannya, ia langsung menutup mulutnya dengan membelalakkan matanya melirik sebentar kearah suaminya yang sedang menatapnya dengan tersenyum bahagia. Melvin menggeser duduknya dan memeluk Istri nya dari arah samping, dengan meletakkan dagu di bahu istrinya dan berbisik,
“Berarti kamu mau saya apa-apain?” Tanya menggoda Melvin yang menatap dalam wajah gugup merah istrinya di balik masker. Meida menggigit bibirnya dengan memejamkan matanya.
“Bukan itu. Maksudnya gini, gimana ya ... saya bingung menjelaskannya.” Melvin tak mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya yang sedang salah tingkah. Ia malah terus memandangnya dengan senyum lebarnya.
“Jangan melihat saya seperti itu. Saya nervous!” Semprot Meida yang berusaha melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Bukannya melepaskan, melvin malah mengeratkan pelukannya dan mencium wajah istrinya dari balik masker.
“Wajah mu mengalihkan dunia saya sayang. Saya tak tertarik apapun, saya hanya tertarik pada mu.” Meida tersenyum di balik maskernya dengan wajah yang kembali memerah, melihat tingkah suaminya yang sedang mengedip-ngedipkan matanya menggoda kearahnya.
“Moduss!!” Melvin malah mencium pipi istrinya yang sedang mengalihkan pandangan darinya.
“Itu fakta sayang. Kamu ngegemesin banget. Rasanya saya gak sabar buat nguyel-nguyel kamu. Nanti saya apa-apain kamu, setelah kamu sembuh ya. Saya tak akan membiarkan mu keluar kamar seharian, pokoknya saya akan cepat-cepat membuat kamu hamil titik!” Bisik Melvin yang membuat jantung Meida berdetak cepat dengan wajahnya yang kembali memerah. Tangannya langsung keringat dingin dengan menelan salivanya kasar, bibir ranumnya pun bergetar mendengar ucapan suaminya. Meida mendorong kepala suaminya yang sedang mendusel-dusel di bahunya.
“Jangan membahas itu. Tadi jangan dianggap serius, saya cuman salah bicara. I'm Just kidding!” ucap Meida yang berhasil melepaskan pelukan suaminya. Melvin kembali mendekati istrinya yang sedang duduk di atas kursi roda, dan langsung memeluk lehernya dari arah belakang. Hingga mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang yang berada di sekeliling mereka.
“No, sudah saya anggap serius. Wacana kita 1 tahun yang lalu, jadikan buat punya 25 anak?” Meida menarik nafasnya kasar. Suaminya masih mengingat perkataan konyolnya dulu.
__ADS_1
“Pikiran kamu udah kemana-mana. Kalau kamu mau 25 anak, kamu yang ngelahirin sendiri. Emang bikin anak kayak bikin adonan kue.” Sungut Meida sambil melepaskan tangan suaminya yang berada di lehernya karena risih di lihat orang. Melvin malah tersenyum, sambil menggoda istrinya.
“Saya gak bisa hamil sayang. Tugas saya membuahi sel telur kamu supaya hamil hehe.” Bisiknya dengan enteng. Meida mencubit keras pipinya karena kesal bercampur malu.
“Pikiran kamu udah traveling kemana-mana, otak saya terkontaminasi oleh perkataan kamu. Mau pikiran kamu saya cuci pakai detergen biar gak mesum?” Melvin mengusap wajahnya lalu menyondorkan sebelah pipinya untuk di cubit istrinya lagi.
“Siapa yang mesum? Pikiran saya gak traveling kemana-mana. Atau jangan-jangan kamu ya?” Ledeknya sambil mengedipkan sebelah matanya kearah istrinya.
“Sok tahu! Orang aku gak mikirin apa-apa.”
“Terus itu kenapa wajahmu memerah?” Meida memegang kedua pipinya dan menyembunyikan di balik tangannya karena malu. Melvin terkekeh lalu memeluk istrinya yang sedang terdiam malu.
Wo de gi zi hai xiu shi geng piao liang (Istriku semakin cantik bila malu), Wo ai ni bao bei. Gumam pelannya sambil mencium puncak kepala istrinya berulang-ulang. Mereka pun berpelukan lama.
“Yang, boleh saya mengatakan sesuatu?” Tanya Melvin sambil melerai pelukan istrinya. Meida pun membuka tangan yang menutupi wajahnya, dan menganggukkan kepalanya.
“Yang, kamu gak keberatan kan? setelah pulang dari rumah sakit kita langsung tinggal di rumah kita yang berada di Malang? Saya ingin belajar hidup mandiri. Saya ingin belajar menjadi kepala rumah tangga yang bijaksana. Sekalian kita ajak Bu Ina dan Jonathan tinggal di sana.” Meida pun berpikir sebentar lalu mengelus tangan suaminya yang sedang berada di pangkuannya.
“Kalau saya sih terserah kamu. Kemana pun kamu pergi, saya pasti ikut. Karena saya hanya makmum kamu, saya pasti mengikuti apa keputusan mu asal masih berada dalam koridor kebenaran.”
Meida menatap dalam wajah suaminya lalu merebahkan kepalanya di bahunya sambil memejamkan matanya.
“Saya gak nyangka. Lelaki yang sangat menyebalkan, lelaki tukang memerintah seenaknya, lelaki narsis, lelaki yang mau menang sendiri, lelaki sok kegantengan. Ternyata kini menjadi suami saya.” Melvin tersenyum mengusap-usap kepalanya istrinya sambil menerawang ke depan.
“Saya juga. Wanita bar-bar, wanita galak, wanita ambekan, wanita tukang maksa, preman kampung, wanita keras kayak batu, wanita cerewet. Ternyata kini menjadi Istri tercinta saya.”
Meida langsung menegakkan kepalanya menatap nyalang kearah suaminya.
“Preman kampung? Kamu menyebut saya preman kampung? Saya buka preman kampung! Kamu menyebalkan.” Melvin langsung memegang tangan istrinya yang langsung membelakanginya.
“Maaf sayang, bukan maksud saya seperti itu. Saya keceplosan!” Meida melipat tangannya dengan bibir cemberut,
“Tuhh kan ... kamu mah gitu! Nyebelin!”
“Permisi Tuan, Nyonya. Ini buburnya!” Melvin mengusap dadanya dengan tersenyum sambil mengambil bubur yang disondorkan bodyguardnya.
Selamat selamat selamat,
Akhirnya terbebas dari amukan singa betina
“Xie-xie (Terima kasih)” Melvin mengambil bubur itu dengan tersenyum. Ia memberikan 2 porsi untuk anak buahnya, yang 3 porsi ia berikan pada istrinya.
-
-
Bu yao wangji..
Like, komen, vote, rate, sama hadiahnya 😘🤗
Xie-xie ..
__ADS_1
Wo ai ni buat reader semua😘♥️
Gomawooo, always stay di novel amatiran ini🤗😘😍♥️♥️♥️♥️