
Suasana pantai itu mulai sunyi, satu persatu warga meninggalkan mata pencahariannya, pulang ke rumah karena cakrawala sudah mendekati waktu magrib. Sinar jingga keemas-emasan, mulai tenggelam di ufuk timur. Suara deburan ombak memecahkan keheningan, menjadi alunan pengiring pergantian siang menuju malam. Mega yang sudah menggantung, seakan memberi kabar, bahwa sebentar lagi kegelapan akan menyapa. Angin pesisir pantai, yang terasa dingin menusuk pori-pori kulit sama ke tulang. Tiupannya memainkan hijab seorang wanita yang nampak diam mematung menatap kearah lautan. Wajah kesedihan nampak terlihat jelas dari wajah hitam manis,yang mengguratkan ketegasan dan ketegaran.
Teriakan wanita itu menggema, namun tak terdengar. Karena terhalang oleh suara deburan ombak, yang sedang menerjang karang.
Lupakan dia! Dia tak mungkin mencintaimu. Bahkan, mengingat nama mu saja itu terdengar mustahil. Ya Tuhan, apa ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Dia benar-benar pergi! Tuhan, hapus wajah dia dalam bayang-bayangku. Aku mohon! Karena sejatinya dia tak mungkin bisa kuraih, aku hanya bisa memilikinya dalam angan-angan. Lirih pilu gadis itu dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Bibirnya bergetar menahan rasa sakit yang hatinya rasakan. Tangannya mengepal kuat, untuk menahan segala rasa yang membelenggunya. Ia sudah tak memperdulikan roknya yang basah terkena deburan ombak, yang ia pikirkan hanya ingin membuang rasa sakit yang mendera jiwanya selama ini.
Ia memegang dadanya, lalu memukulnya pelan.
Aisyah, dia sudah memiliki calon istri. Lupakan dia! Dia sangat mencintai calon istrinya, kamu harus sadar diri. Aisyah, hapuslah namanya dalam hati mu. Dia bukan untukmu, walaupun kamu sangat mencintainya.
Ratap pilu wanita itu dengan mata yang fokus menatap lautan.
Patah hati? Ya, itu yang dirasakannya sekarang. Ketika dia sudah membuka hati dan memberikan sebuah harapan pada seseorang yang selama ini berhasil membuatnya jatuh cinta. Tapi perasaannya malah dipatahkan dengan seketika, ketika mengetahui lelaki yang dicintainya ternyata mencintai wanita lain. Lelaki yang berhasil merubah hidupnya yang dulu hampa, menjadi berbunga-bunga. Salahkah dia melabuhkan hatinya? Tidak, karena untuk melabuhkan hati, itu tidak perlu alasan.
Kini kusa..dari rasa ini tak mungkin, dapat terwujud dalam kisah, kasih kita. Kini kume..ngerti tulus cin..ta ini, hanyalah mimpi panjang yang, tak pernah usai. Karena tuk bersamamu, bagai..kan langit memeluk bulan.
Parau wanita itu dengan suara terbata-bata dan tubuh bergetar. Ia tak mampu melanjutkan perkataannya yang tercekat di tenggorokan. Ia kemudian menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu kembali berteriak kencang dengan mata berlinang mengeluarkan segala sesak yang membelenggu dadanya.
Setelah menumpahkan tangisnya di pesisir pantai, ia kembali merapikan hijabnya yang berantakan tertiup angin. Tak lupa ia membasuh mukanya menggunakan air laut. Kemudian ia membelitkan kerudung segi empat ke wajahnya, yang hanya memperlihatkan mata bulatnya yang memerah.
Dengan langkah perlahan namun pasti, ia meninggalkan pesisir pantai menuju ke rumah dinasnya yang berdekatan dengan Pesantren Salafiyah Al-Muttaqin. Ia berjalan dengan tergesa-gesa dan menundukkan wajahnya. Ia hanya merespon orang yang menegurnya dengan sebuah anggukan saja.
-
“Assalamualaikum, Selamat pagi,” ucap salam itu terdengar dari depan rumah. Buya Hanafi yang sedang mengkaji kitab pun meletakkan kacamatanya, lalu menyimpan kitab itu kembali ke rak buku yang terbuat dari kayu yang berada di ruang tengah.
“Waalaikumsalam. Tunggu sebentar!” Jawabnya sambil berjalan kearah pintu depan. Rumahnya siang itu cukup sepi, karena istrinya sedang melakukan pengajian rutinan di rumah warga yang sudah di gilir setiap minggunya.
Ceklek
Pintu kayu terbuka dari dalam. Buya Hanafi nampak diam mematung melihat kearah dua lelaki yang berpakaian rapi dengan mengenakan jas hitam beserta sepatu pantofel yang kini berdiri di depannya. Ini baru pertama kalinya ia melihat secara langsung orang yang berpenampilan seperti itu, kecuali pernah dilihatnya di layar kaca.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Buya Hanafi sambil merapikan peci putihnya menatap kearah dua lelaki itu dengan bingung. Kedua lelaki dewasa itu terlebih dahulu bersalaman dengannya sambil tersenyum.
“Perkenalkan saya Adam.” Ia meletakkan tangan di dadanya kemudian sedikit membungkuk memberi hormat kearah Buya Hanafi.
__ADS_1
“Dan ini teman saya, Pak Ibrahim.” Tunjuknya kearah lelaki yang usianya lebih muda darinya. Rambut kedua lelaki itu hitam klimis, dengan membawa koper kecil di tangan mereka masing-masing.
“Apa benar ini rumahnya Buya Hanafi dan Ibu Fatimah?” Buya Hanafi menganggukkan kepalanya samar dengan sorot mata yang masih menatap dalam kedua lelaki itu. Ia terlebih dahulu mempersilahkan mereka duduk di kursi bambu yang dianyam rapi, di teras rumahnya yang bersih.
“Sepertinya Buya bingung dengan maksud kedatangan kami kesini. Kami datang jauh-jauh dari kota Surabaya kesini, atas perintah dari atasan kami. Kami disini di perintah oleh Tuan Muda Melvin Nagara, untuk menyampaikan sesuatu pada Buya.” Tutur Ibrahim sambil membuka satu koper kecil berwarna hitam yang berisi berkas-berkas penting ke hadapan Buya Hanafi yang wajahnya masih terlihat bingung. Namun Buya bereaksi cepat, ketika lelaki itu menyebut nama Melvin Nagara, anak angkatnya yang sudah pulang ke keluarganya di Surabaya.
“Kalian suruhan Melvin? Apa dia baik-baik saja disana?” Tanya Buya dengan antusias menatap kearah dua lelaki itu bergantian. Nada suaranya menyiratkan kerinduan kepada Putra angkatnya yang sudah pergi hampir seminggu. Mereka hanya bisa bertukar kabar melalui pesan saja.
“Alhamdulillah Tuan muda baik-baik saja, meskipun masih di rawat di Rumah Sakit.” Jawab sopan Adam dengan nada ramahnya. Ia tersenyum dengan matanya yang tak lepas memandang kearah Pondok Putra yang terlihat bersih walaupun bangunannya hampir roboh. Warna catnya yang sudah memudar, dengan papan kayu yang terlihat rapuh.
“Buya Hanafi, saya diperintahkan oleh Tuan Melvin untuk menyampaikan ini!” Ibrahim menyondorkan satu berkas bersampul biru kearah Buya Hanafi yang sedang memandang kearah nya dengan alis yang berkerut.
“Maksudnya apa, saya kurang paham?” Tanya Buya Hanafi sambil menolak berkas tersebut.
“Buya hanya perlu menandatangani saja. Berkas ini bukti pengesahan, bahwa tanah yang berukuran 10 Hektar² yang berada di dekat dermaga, itu sah milik Buya sepenuhnya.” Buya Hanafi diam tercengang dengan membulatkan matanya mendengar penuturan lelaki yang berada di depannya itu. Ia membuka map itu dan membacanya sekilas dengan tangan gemetar, dan benar. Di dalam surat itu tertera namanya menjadi pemilik sah lapangan luas di dekat dermaga penyeberangan kampung tersebut.
“Dan berkas selanjutnya, ini merupakan amanah dari Tuan Melvin yang mewakafkan tanah di sekeliling pesantren Buya yang luasnya sekitar 15 Hektar², untuk didirikan pesantren Al-Muttaqin. Buya silahkan menandatanganinya.” Buya Hanafi dengan tangan bergetar menerima ballpoint yang Ibrahim sondorkan. Ia membaca berkas itu dengan teliti, ia takut seseorang membohonginya.
“Silahkan Buya tanda tangan disini dan disini.” Perintahnya dengan lembut sambil menunjuk kearah kertas kosong. Dengan tangan gemetar tak percaya, Buya Hanafi berhasil mengguratkan coretan di atas kertas putih tersebut.
“Apa ini serius Nak?” Tanya Buya Hanafi dengan mata berkaca-kaca. Kedua lelaki itu menganggukkan kepalanya sambil memegang lembut bahunya.
“Serius Buya. Ini semua berkat kebaikan Buya pada semua orang. Dan Tuan muda menitipkan ini khusus untuk Buya,” Adam mengambil brangkas kecil yang berada di sampingnya, lalu diletakkan di meja kayu tersebut. Ia terlebih dahulu membuka password dengan menekan beberapa digit angka, dan setelah selesai, otomatis brangkas itu langsung terbuka dengan sendirinya. Dan isinya memperlihatkan beberapa gepokan uang dan cek di dalamnya.
“Tuan Melvin mengamanahkan ini untuk Buya, untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Terutama untuk kemaslahatan umat dan kemajuan Pesantren sesuai cita-citanya.” Adam kemudian menutup brangkas itu dan memberikannya pada Buya Hanafi yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Mulia sekali cita-cita mu Nak. Semoga segala kebaikan mu untuk umat, di balas oleh Allah dengan beribu-ribu kali lipat.” Kedua lelaki itu mengaminkan ucapan Buya Hanafi dengan tersenyum haru. Karena mereka sudah tahu betul perilaku atasannya, yang baik hati dan dermawan, hingga hidupnya pun dipenuhi keberkahan, apalagi setelah masuk Islam.
“Dan yang terakhir, Buya harus menandatangani surat bukti penerimaan barang material. Karena sekarang, sudah berlabuh 3 kapal kargo yang bermuatan bahan material di pesisir pantai yang di kirim langsung oleh Tuan Muda dari Surabaya. Niat Tuan Melvin yaitu ingin merenovasi pesantren dan rumah Buya sekaligus memperbesarnya. Untuk arsitekturnya, Buya jangan khawatir. Nanti suruhan Tuan Melvin akan standby membantu Buya di sini, sampai selesai pembangunan.” Buya Hanafi semakin tercengang dengan ucapan Adam yang membuat hatinya tak karuan seketika. Ia benar-benar di buat bingung dan schok dengan tingkah Putra angkatnya yang di luar prediksinya. Ia harus menelpon Putra angkatnya, untuk meminta penjelasan dengan serinci-rincinya.
-
Di Lantai 2
Meida dengan di bantu Jack berbaring di atas meja Traksi (Traksi adalah alat berbentuk mirip meja yang menggunakan tenaga mekanik. Alat ini sering digunakan untuk mengobati nyeri punggung bawah dan nyeri leher).
__ADS_1
Traksi bekerja dengan cara memisahkan sendi dan ruang diskus di punggung bawah atau leher. Dengan begitu, tekanan pada saraf tulang belakang jadi berkurang dan meminimalisir rasa sakit.
Dengan melakukan traksi lumbal, pasien diminta untuk berbaring di atas meja traksi, lalu menggunakan rompi dan perangkat panggul. Rompi tersebut berfungsi untuk membantu menopang tulang rusuknya agar tetap lurus. Kemudian, tangannya akan memegang tali supaya fleksibilitas dan koordinasi tubuh tetap stabil.
Sementara pada traksi leher servikal, pasien dapat melakukan terapi sambil duduk atau berbaring. Jika duduk, harness (kain pengaman) akan dipasang di kepala dan dihubungkan dengan katrol berbeban.
Bila traksi servikal dilakukan sambil berbaring, harness akan diikatkan melingkari kepala. Setelah itu, pompa pneumatik akan digunakan untuk memberikan kekuatan traksi ke lehernya.
“Jangan tegang, biasa saja. Saya gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok. Saya takut sama bodyguard kamu. Noh, liat tatapannya! Kayak singa lapar.” Kekeh Jack melirik kearah Melvin yang sedang mengamati mereka di balik dinding kaca. Melvin belum bisa menemani istrinya terapi di dalam karena beberapa peraturan yang ditetapkan oleh rumah sakit tersebut. Meida memukul perut Jack dengan mendengus kesal.
“Dia bukan bodyguard ku Jack. Lelaki tampan itu adalah my husband! You know?” Seru Meida dengan wajah kesalnya sambil melambaikan tangannya kearah suaminya yang sedang tersenyum padanya. Jack menyentil dahi sepupunya pelan
“I see. I Just kidding! Roman-romannya ada yang sedang jatuh cinta pada suaminya. Tumben kamu mengakuinya tampan?” Tanya menyelidik Jack dengan tatapan menyelidiknya. Ia sengaja menyandarkan tubuhnya ke tiang besi yang berada di ruang itu. Meida menggaruk hijabnya dengan cengengesan dan wajah merahnya.
“Jatuh cinta sama suami sendiri itu gede pahalanya Jack. Lagian, suamiku memang tampan dari sononya.” Jawab Meida sambil tersenyum kearah suaminya yang sedang mengedipkan sebelah matanya kearahnya. Ketampanan suaminya naik berpuluh-puluh kali lipat ketika memakai topi hitam dan masker putihnya,
Dia benar-benar tampan dan romantis. Yaa Allah, abadikan rasa cinta kami sampai ke Jannah-Nya. Jangan pisahkan kami, kecuali oleh kematian. Jadikan kami keluarga bahagia di dunia dan di akhirat. Aamiin. Do'a Meida yang masih menatap suaminya.
Setelah selesai melakukan traksi. Jack mengecek nadi nya terlebih dahulu, kemudian membantunya untuk bangun.
“Jadwal terapi mu 3 hari, karena hanya untuk pemulihan. Ini terapi pertama, berarti tinggal dua hari lagi. Jika keadaan mu banyak perkembangan, sebelum 3 hari pun kamu sudah saya izinkan pulang. Tapi tergantung kamu nya!” Wajah Meida terlihat sumringah setelah mendengar penuturan sepupunya yang kini menjadi Dokter pribadinya. Ia dengan semangat menggerak-gerakkan kakinya dengan memutar penggelangannnya yang masih kaku.
“Kamu serius Jack?” Jack menganggukkan kepalanya sambil mengusap kepala sepupunya.
“Ya, I'm Seriously. Untuk terapi selanjutnya, kamu bisa ditemani suami mu masuk kesini. Biar dia gak gabut di luar seperti orang gila.” Tunjuk Jack kearah Melvin yang sedang merenggangkan pinggangnya ke kiri ke kanan.
-
Happy Monday♥️
Happy reading 🤗😘
Kuyy vote sama ☕☕☕☕ nya mumpung hari senin.
Jangan lupa like, komen, rate🤗
__ADS_1
Gomawoooo♥️😘😘😍😍😍😍🥰🥰🥰🥰