
“Hanif, bisa antar abang ke rumah Pak Abdul sekarang?” Hanif menganggukkan kepalanya. Sementara Buya dan Umi saling pandang dengan wajah kebingungan.
“Mau apa kamu kesana Nak? Ini sudah malam, angin malam tak baik untuk kesehatan mu. Keadaan kamu masih lemas, kamu belum makan dari siang.” Melvin menatap wajah Umi Fatimah sambil menggenggam tangannya.
“Buya dan Umi jangan khawatir. Saya ada perlu dengan Pak Abdul, saya akan menghubungi teman saya yang berada di Surabaya. Semoga dia sudah membuka e-mail yang saya kirimkan dan langsung menghubungi kontak Pak Abdul. Saya harus memastikannya sekarang.” Melvin menatap lembut kearah Buya yang masih memandangnya dengan sayu.
“Tak bisakah besok Nak? Ini sudah malam. Jam segini tak ada perahu getek yang akan menyebrang ke kampung sebelah.” Buya berusaha melarang Melvin untuk pergi. Karena keadaannya pun nampak terlihat tak sehat. Wajahnya masih terlihat pucat, dengan suhu tubuhnya yang panas.
“Tak bisa Buya, Umi. Saya sudah memikirkan segalanya, saya harus cepat-cepat pulang ke Surabaya. Keluarga besar calon istri saya sudah menunggu saya. Saya tak ingin merusak kepercayaan yang telah mereka berikan pada saya,” ucap Melvin tanpa keraguan sedikitpun. Ia membuka selimut yang membalut tubuhnya. Lalu menatap Buya dan Umi dengan tatapan memohon, agar mereka mengizinkannya untuk pergi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi itu tak menyurutkan sedikitpun niat melvin untuk tetap pergi ke kampung sebelah.
“Baiklah Buya dan Umi mengizinkan kamu pergi. Hanif tolong jaga Faris!” Kata Umi sambil menatap kearah Hanif yang duduk di samping Buya.
“Inn Shaa Allah Hanif akan menjaga bang Faris semampu Hanif Umi.” Jawab Hanif tersenyum sambil menundukkan wajahnya. Ia semakin segan kepada Melvin setelah mengetahui jati dirinya, karena pria yang berada di depannya itu merupakan orang berada dari kota yang wajahnya sering ia lihat di layar televisi.
“Jika nanti kalian pulang kemalaman, menginaplah disana. Do'a Buya selalu menyertai kalian.” Hanif dan Melvin pun menganggukkan kepalanya sambil mencium tangan Buya dan Umi bergantian.
“Buya, Umi. Kami pamit pergi, Assalamu’alaikum,” Pamit Melvin yang tangannya di gandeng Hanif. Karena keadaannya yang masih lemas.
“Wa’alaikumsalam.” Umi Fatimah dan Buya Hanafi menatap kepergian mereka sampai menghilang di balik pintu.
“Bang tunggu sebentar ya! Aku mau ngambil senter dulu di kamar.” Melvin pun menganggukkan kepalanya. Ia menunggu hanif di depan pondok putra, sambil melihat kearah bintang.
Meida, tunggu saya! Sebentar lagi saya akan datang! Sadarlah jika kau ingin melihat wajah saya. Lirih Melvin menatap bintang yang bertebaran di langit.
Melvin dan Hanif berjalan menuju gerbang Pesantren, lalu berbelok kearah selatan membelah gelapnya malam dengan senter kecil yang berada di tengah mereka sebagai sumber cahaya yang menerangi perjalanan panjang mereka.
Kampung Sido Mukti cukup sepi, hanya suara jangkrik yang terdengar sepanjang jalan. Aktivitas masyarakat hanya di batasi sampai Jam 7 malam. Sebelum jam 7, masyarakat sudah masuk ke dalam rumah masing-masing. Keadaan kampung yang berbanding terbalik 180 derajat dengan di keadaan kota yang sangat ramai.
Hanif nampak canggung berjalan di samping Melvin. Ia hanya diam dengan tangan kiri memegang senter dan tangan kanan menggandeng tubuh Melvin yang fokus meniti jalan yang masih terbuat dari tanah.
“Nif, kenapa kamu diam saja?” Tanya Melvin sambil menolehkan kepala kearah Hanif yang masih mengenakan sarung dan jaket. Hanif pun menjawab pertanyaan melvin tanpa melihat wajahnya.
“Gak papa Bang. Aku cuman canggung aja, ternyata abang benar-benar orang yang pernah kulihat di televisi. Abang ternyata orang kaya, sementara aku hanyalah anak kampung biasa. Rasanya aku malu, jika berjalan bersisian dengan abang.” Jujur Hanif sambil menundukkan wajahnya. Melvin pun terkekeh sambil mengusap kepalanya.
“Kamu ngomong apa sih Nif? Saya sama seperti kamu. Ngapain kamu harus malu? Bukankah kita di hadapan Allah itu sama? Harta hanya titipan, ketenaran itu hanyalah bonus. Nif, jangan anggap saya Melvin, anggaplah saya Faris. Memang di Surabaya saya bisa memiliki semuanya, tapi disini? Disini saya hanyalah pemuda kampung yang tak memiliki apa-apa, hidup pun hanya menumpang. Jadi saya harap tak ada perbedaan diantara kita.”
“Nif, Terima kasih kamu selalu menolong saya. Terima kasih telah menemani perjalanan saya malam ini, kamu lebih memilih menemani saya berjalan jauh dengan angin yang lumayan kencang daripada berkumpul bersama teman-temanmu di pondok.” Ucap tulus Melvin. Mereka terus saja berjalan melewati satu persatu rumah warga menuju dermaga.
__ADS_1
“Sama-sama Bang. Bukankah sesama manusia kita harus saling menolong? Aku ikhlas bantu abang Lillahi Ta'ala.” Melvin pun tersenyum sambil mengusap kepala Hanif yang tingginya hanya sebahunya. Ia di buat takjub oleh ketulusan hati Hanif yang benar-benar menyentuh hatinya.
“Cita-citamu apa Nif?” Hanif pun menerawang dengan melihat cahaya yang bersumber dari senternya.
“Hanif ingin menjadi seorang Dokter yang sholeh bang, itu pun jika ada biayanya. Abang tahu sendiri di kampung ini jarang sekali ada Dokter, karena letaknya berada di pelosok, dan jaraknya jauh dari kota. 1 kecamatan cuman ada satu Dokter, yaitu Dokter Aisyah saja. Hanif ingin mengabdikan diri untuk menolong masyarakat disini, rata-rata masyarakat disini meninggal karena kurang penangan ketika sakit. Karena letak rumah sakit yang jauh berada di kota, dan minimnya alat transportasi menuju kesana. Rata-rata masyarakat meninggal dalam perjalanan sebelum mendapatkan penanganan.
Jika Allah mengizinkan dan meridhoi niat Hanif, Hanif ingin membuat Rumah sakit disini bang, agar memudahkan masyarakat disini untuk berobat, dan menolong mereka yang sakit untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang lebih baik.” Tutur Hanif sambil tersenyum. Melvin yang berjalan disampingnya pun terkesima dengan ucapannya. Ternyata di balik seorang Hanif remaja kampung yang hidup jauh dari kota, terdapat banyak niat baik dan ketulusan untuk masyarakat di kampungnya.
“Niat mu sangat mulia Nif. Usia kamu berapa? Pikiran mu melebihi orang dewasa .” Seru Melvin yang kembali mengusap-usap kepalanya yang memakai peci hitam yang sudah lusuh.
“Aku baru 14 tahun Bang, baru kelas 2 Madrasah Tsanawiyah.” Jawab Hanif sambil terus menggandeng tubuh Melvin yang sangat dingin karena terkena angin malam.
“Nif, jika abang pulang nanti. Maukah kamu ikut abang ke Surabaya? Abang berniat menyekolahkanmu sampai sarjana. Abang ingin mewujudkan cita-cita mu menjadi seorang Dokter. Dan Inn Shaa Allah abang berniat membangun Rumah Sakit disini, jika kamu sudah besar nanti, kamu abang percaya untuk mengurusnya. Kamu mau, Kan?” Tanya Melvin serius menatap remaja di sampingnya yang sedang membelalakkan mata.
“Abang serius? Terima kasih bang. Alhamdulillah, akhirnya ada orang baik yang mau menyekolahkan Hanif sampai menjadi Dokter.” Hanif meluapkan kebahagiaannya dengan memeluk Melvin erat.
“Tapi untuk pergi ke Surabaya aku gak bisa bang. Aku masih ingin menimba ilmu di Pesantren Buya. Lagian aku masih 14 tahun, aku gak bisa pergi jauh-jauh dari keluarga di rumah.” Tutur Hanif sambil melepaskan pelukannya. Melvin pun tersenyum sambil memegang kedua bahunya.
“Yaudah, biaya sekolah kamu biar abang yang tanggung ya. Setelah kamu lulus SMA nanti, hubungi abang, biar abang yang memasukkan kamu langsung ke Fakultas kedokteran terbaik. Do'akan abang panjang umur, biar abang bisa cepat-cepat pulang ke Surabaya, supaya abang bisa cepat-cepat mewujudkan cita-cita mu membuat Rumah Sakit disini.” Hanif pun mengangguk kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya. Mengaminkan ucapan Melvin.
“Aamiin. Calon istri saya memang cantik Nif, cantik luar dalam. Makanya saya cinta mati sama dia.” Tawa Hanif dan Melvin memecahkan keheningan malam. Kesunyian sepanjang jalan mampu mereka lewati dengan obrolan hangat layaknya orang dekat.
Melvin sudah tak menghiraukan dinginnya angin malam yang menerpa kulit putihnya. Ia tak menghiraukan perut lapar dan tubuh lemas nya, ia terlalu semangat berjalan menuju kampung sebelah, menuju kediaman Pak Abdul untuk menghubungi Steven tangan kanannya. Karena kini hanya satu tujuannya, ia harus cepat-cepat pulang ke Surabaya, menemui keluarga besar Meida untuk menikahinya, dan menemui Mamih, papih, dan adiknya untuk meminta restu menikahi gadis impiannya.
-
Jam 4 pagi mereka baru sampai di kampung Hanif. Mereka terpaksa berjalan memutar melewati gunung dan beberapa bukit, karena tak ada satu pun perahu etek yang berlabuh di dermaga untuk menyeberang.
Lelah dan lemas tak lagu dirasakan, yang ada dipikiran mereka hanya ingin cepat-cepat sampai.
Setelah melaksanakan shalat subuh di kediaman Hanif. Mereka berdua langsung bertamu ke rumah Pak Abdul yang terhalang beberapa rumah dari kediaman Hani. Mereka sengaja bertamu pagi-pagi, agar lebih leluasa berbincang dengan pak Abdul, karena pukul 7 pagi, pak Abdul sudah harus berangkat mengajar ke sekolah yang berada di perbatasan kampung.
Keluarga Pak Abdul menerima mereka dengan baik, dan menjamunya seadanya.
“Malam sempat ada nomor baru yang menghubungi saya. Karena tak ada jaringan, panggilannya terputus dengan sendirinya. Bang Faris bisa menghubungi ulang nomor itu, siapa tahu dari orang yang bang Faris kirimin E-mail kemarin. Tapi jangan disini menghubunginya, karena gak ada sinyal. Di bukit sana biasanya sinyal bagus! Bang faris harus berjalan beberapa menit dari sini. Nif, tolong kamu antarkan bang Faris ke bukit kembar itu! Maaf, saya gak bisa anter, karena belum shalat subuh.” Pak Abdul mengeluarkan ponsel android dari kantong piyamanya. Lalu memberikan ponsel itu pada Melvin. Ponsel android di kampung itu merupakan ponsel yang paling bagus, walaupun di kota rata-rata jarang ada yang memakainya, karena sudah beralih ke ponsel iPhone. Melvin pun tersenyum menerima ponsel itu, semangatnya telah kembali berkumpul, walaupun semalaman ia tidak tidur. Perjalanan jauhnya ternyata tak sia-sia.
“Tidak papa Pak. Saya yang harus minta maaf, karena mengganggu ketenangan Bapak pagi-pagi. Dan saya sngat berterima kasih, karena Bapak bersedia meminjamkan ponsel pada saya. Saya permisi dulu Pak. Assalamualaikum,” Pamit Melvin sambil berdiri yang diikuti oleh Hanif.
__ADS_1
“Pak Guru, saya antar Bang Faris ke bukit dulu ya. Assalamualaikum.” Pak Abdul pun menganggukkan kepalanya tersenyum sambil menjawab salam.
“Waalaikumsalam.” Ia pun lantas pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
-
Jam 5 pagi, Hanif dan Melvin sudah berada di bukit kembar. Melvin sedang berdiri dengan menggerutu, sementara Hanif sedang duduk di tanah yang di alasi daun talas dengan merungkupkan sarung keseluruh tubuhnya. Suasana di atas bukit itu sangat dingin, karena berdekatan dengan gunung dan pantai.
“Steve bangun! Jangan tidur mulu! Ini sudah pagi!” Omel Melvin dengan wajah kesalnya. Karena steven baru menerima panggilan teleponnya setelah berkali-kali di telpon.
[Gak ada kerjaan ganggu orang tidur! Ini masih pagi, gak sopan!] Suara kesal khas orang bangun tidur terdengar di ujung sana. Dia tak menyadari orang yang menelponnya adalah atasannya sendiri.
“Gak sopan, gak sopan. Kamu yang gak sopan! Mau saya potong gaji kamu!” Steven yang berada di ujung sana langsung membelalakan matanya. Ia langsung melihat nomor yang berada di layar ponselnya lalu mencocokkan dengan nomor yang berada di e-mail nya.
[Ya Tuhan, ini benar-benar Ko Melvin,Kan?] Tanya heboh steven yang sudah berdiri di atas kasur spring badnya.
“Ya, saya Melvin. Makanya saya menghubungi mu!” Ketus Melvin dengan nada tak bersahabat.
[Ko, koko ada dimana sekarang? Padahal kami sudah menabur bunga di Pantai Karimata kemarin. Kami sudah mengikhlaskan kepergian koko, kenapa baru muncul sekarang, setelah nomor tak bisa dihubungi, dan menghilang hampir sebulan. Aku sampai bingung harta kekayaan koko harus diwariskan kemana, mana koko gak ngasih surat wasiat lagi. Tapi Puji Tuhan, koko masih hidup.] Melvin mencebikkan bibirnya mendengar omelan panjang lebar dari Steven.
“Saya sekarang berada di pedalaman Sulawesi. Papih mengasingkan saya ke pulau ini. Saya ingin pulang, saya ingin menemui Meida.” Ucap To the point Melvin sambil menatap kearah gunung.
[Ya Tuhan, pedalaman Sulawesi. Bagaimana kami kesana? Pasti membutuhkan waktu yang lama. Meida masih koma ko. Sumpah aku gak nyangka Meida adalah Jaslin. Apa Koko sudah tahu kebenarannya?] Melvin memejamkan mata sambil memijitkan pangkal hidung nya mendengar kekepoan dari tangan kanannya.
[Saya sudah tahu dari dulu! Hari ini kamu harus menjemput saya ke kampung ini. Sewalah helikopter ataupun Jet pribadi milik keluarga saya agar cepat sampai kesini, tapi jangan bilang untuk menjemput saya. Belikan saya beberapa ponsel terbaru, dan tolong sertakan kontak telepon milik Om Gilbert. Danjangan lupa bawakan saya uang cash sebesar 500jt.” Steven yang berada di ujung sana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Walaupun ia merasa aneh dengan permintaan Bos nya.
[Baik ko. Saya perintahkan anak buah saya dulu untuk menyewa helikopter. Ada permintaan yang lain lagi?]
“Sudah! Saya tak bisa bicara banyak-banyak, karena ponsel ini pun saya pinjam. Saya kirim alamatnya sekarang! Jika kurang jelas, kau bisa cari di Maps. Nanti setelah sampai sini, kau datanglah ke Pesantren Al-Muttaqin, dan carilah nama Faris. Saya menunggumu disana. Ingat jangan sampai Papih mengetahui semua ini, biar saya yang akan langsung datang padanya.” Ucap tegas Melvin. Hanif yang sedang duduk di tanah hanya diam, ia hanya menyimak apa yang Melvin ucapkan.
[Baik ko. Jam 8 sekarang aku usahakan helikopter sudah take off kesana. Tunggu saja! Perjalanan mungkin memakan waktu seharian.]
“Ok! Saya tunggu kamu disini!”
-
☕☕☕☕☕☕
__ADS_1