
“Umi, di gerbang Pesantren ada orang bule yang nyari bang Faris.” Buya dan Melvin pun saling melepaskan pelukannya. Mereka berdua menatap kearah Hanif,
“Suruh masuk Nif! Biar abang mu menunggu disini.” Hanif pun kembali menganggukkan kepalanya sambil berjalan keluar rumah.
“Teman saya sudah datang Buya, Umi,” ucap Melvin sambil berusaha berdiri. Buya pun menuntun Melvin untuk menuju ruang tamu yang berada di ruang depan.
“Selamat malam.” Sapa 2 orang lelaki yang berjalan di belakang Hanif. Mereka menundukkan tubuhnya memberi hormat pada Melvin dan Buya Hanafi. Steve berjalan di belakang mereka dan nampak shock melihat Melvin dan langsung berlari kearahnya.
“Ya Tuhan. Ini beneran Melvin Nagara pemilik brand ternama Putra Mahkota Shinwa? Kenapa sekarang terlihat seperti gembel ibu kota yang tak mendapat subsidi pemerintah?” Steven menelisik penampilan Melvin dari atas sampai bawah. Rambutnya yang sedikit lebih panjang, di tambah bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di pipinya, dengan wajah pucat seperti mayat hidup. Melvin langsung menjitak dahi Steven dan menyentil bibirnya, dengan tatapan tajam bagai elang yang akan memangsa lawannya.
“Beraninya sekarang meledek sana! Potong gaji baru tahu rasa!” Sewot Melvin sambil mencebikkan bibirnya. Buya, Umi, dan Hanif malah terkekeh lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.
“Jangan dong Ko. Saya gak bisa nikah kalau gaji saya di potong. Walaupun penampilan koko sedikit mirip gembel, tapi kegantengan koko tak pernah memudar.” Rayu Steven sambil cengengesan. Ia mengalihkan pandangannya kearah Buya Hanafi dan Umi Fatimah lalu membungkukkan badannya.
“Perkenalkan saya Steven Pak, Bu. Bawahan dari Ko Melvin, ini Assisten saya, dan ini pengawal saya. Tapi kami semua adalah karyawannya Koko.” Hanif hanya menyimak ucapan mereka. Ia menatap kearah bule tinggi besar yang merupakan pengawal steven dengan menelan ludahnya.
“Terima kasih sudah memperbolehkan kami masuk. Setelah berkeliling-keliling kampung ini, akhirnya kami menemukan Pesantren ini.” Buya dan Umi Fatimah pun menganggukkan kepalanya tersenyum kearah Steven, lelaki keturunan Chinese Indonesian seperti Melvin.
“Sama-sama Nak. Silahkan duduk.” Steven pun duduk di samping pengawalnya.
“Bu, Pak saya lapar. Disini restoran di sebelah mana ya? Dari tadi kami tak menemukan tempat makan satu pun. KFC, AW, Solaria, HokBen, ataupun Rumah Padang, disini adanya dimana?” Tanya polos Steven yang mendapat pelototan dari Melvin. Sementara Buya dan Umi malah terkekeh mendengar pengakuan tamunya yang blak-blakan tanpa rasa malu walaupun baru pertama kali bertamu. Steven kembali cengengesan memperlihatkan gigi nya dengan tangan yang sedang mengelus-ngelus perutnya.
“Dasar tamu tak tahu malu!” Sewot Melvin sambil memukul perut Steven. Steven pun mengaduh dengan wajah yang di buat menghiba.
“Aku lapar ko, bekal makanan ku habis. Lagian kami baru satu kali makan, pas tadi waktu landing di Makassar doang.” Jawab Steven dengan wajah kesalnya.
“Yaudah kalau kalian lapar, mari kita makan! Tapi maaf, hanya seadanya.” Umi Fatimah menengahi pembicaraan mereka lalu mengajak mereka kearah dapur untuk makan.
Setelah makan, mereka kembali bersiap-siap. Steven mengeluarkan semua pesanan Melvin dari koper kecilnya. Ia membawa 4 iPhone beserta uang 500 juta yang terbungkus plastik hitam. Melvin langsung meletakkan semuanya di atas meja yang membuat Buya dan Umi bertanya-tanya.
“Umi, ini ponsel untuk Buya dan Umi. Melvin sengaja membelikannya, agar mempermudah komunikasi kita nanti. Umi dan Buya bisa menyaksikan Melvin menikah besok, walaupun tak melihat secara langsung. Dan kalau ada apa-apa, Buya sama Umi bisa langsung menghubungi Melvin.” Melvin menyondorkan kedua ponsel iPhone nya kearah Buya dan Umi. Lalu ia meletakkan 1 iPhone nya lagi ke tangan Hanif.
“Nif, ini kenang-kenangan dari abang buat kamu, gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika kamu butuh apa-apa kamu bisa langsung hubungi abang. Terima kasih untuk bantuan mu selama ini.” Hanif menatap Melvin dan iPhone yang masih terbungkus dus di tangannya dengan bergantian.
“Ini ponsel apa bang? Aku baru pertama kali melihatnya. Apa ini benar-benar untukku? Rasanya ini terlalu bagus.” Tutur Hanif sambil membolak-balikkan dus ponselnya.
“Udah, kamu terima aja. Biar abang mudah menghubungi mu. Ingat kalau ada apa-apa hubungi abang!” Melvin mengusap kepala Hanif yang masih diam terpaku menatapnya tak percaya.
“Buya, Melvin ingin membantu membesarkan bangunan Pesantren ini. Apa Melvin boleh menyumbang sekaligus menjadi Donatur tetap Pesantren ini? Melvin ingin pesantren ini semakin berkembang dan menjadi Pesantren terbesar di pulau ini.” Melvin mengutarakan niat yang tersimpan dalam hatinya selama ini. Ia prihatin, karena bangunan pesantren milik Buya Hanafi dindingnya masih terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari injuk.
__ADS_1
“Tentu saja Nak. Jika kamu ingin berbuat kebaikan, tak ada alasan Buya untuk menghalangi.”Jawab Buya dengan tersenyum haru.
“Alhamdulillah jika Buya dan Umi berkenan. Untuk sekarang Melvin hanya membawa uang 500 juta. Melvin ingin menyumbangkan yang 300 juta untuk Pesantren. 100 Juta untuk Buya dan 100 Juta untuk para santri. Inn Shaa Allah jika Melvin sudah sampai di Surabaya nanti, Melvin akan langsung mengirimkan biaya untuk pembangunan Pesantren ini.” Buya dan Umi membelalakan matanya mendengar ucapan Melvin.
“Apa ini tidak kebesaran Nak?”
“Tidak Buya. Ini tak seberapa. Dan Hanif, tolong berikan ini pada Pak Abdul sebagai ungkapan terima kasih dari saya. Sampaikan salam dari abang padanya.” Melvin menyondorkan amplop coklat dan 1 iPhone kearah Hanif untuk memberikannya pada Pak Abdul. Lewat perantara Pak Abdul akhirnya ia bisa menghubungi steven dan kembali pulang ke Surabaya.
“Baik bang.”
-
Jam 12 malam. Mereka berempat berjalan meninggalkan Pesantren Al-Muttaqin menuju ke dermaga, ke tempat helikopter mereka terparkir. Melvin sengaja tak membiarkan Buya Hanafi untuk mengantarnya, karena hari sudah cukup malam. Angin malam tak baik untuk kesehatan Buya Hanafi yang sudah sepuh.
“Ko, kenapa bisa sampai seperti ini?” Tanya Steven yang sedang menggandeng bahu Melvin menatap dalam kearah kakinya yang berjalan seperti orang pincang.
“Ini bukan masalah besar Stev. Kaki saya hanya sakit karena terlalu jauh berjalan.” Jawab Melvin dengan santai dengan sebelah tangannya berada di bahu Steven.
“Maksudnya?”
“Kamu tahu sendiri kan kalau di sini tidak ada kendaraan, jadi ke mana-mana saya harus jalan. Disini beda dengan di Surabaya!” Sewot Melvin. Karena Steven tak berhenti bicara.
“Koko kok betah di sini? Padahal di sini tempatnya sangat terpencil jauh ke mana-mana. Letaknya di ujung dunia, butuh waktu 12 jam sampai kesini. Pokoknya Butuh tenaga ekstra untuk sampai kesini.” Melvin pun menjitak dahi Steven dengan wajah kesalnya.
Steven pun membantu Melvin untuk naik ke Helikopter yang sedang terpangkir itu. Jam 1 dini hari, ketika manusia sedang bergelut dengan selimut dan bantal, Melvin dan keempat anak buahnya malah akan melakukan perjalanan jauh menuju Surabaya.
Meida, Saya pulang!
Gumam pelan Melvin sambil melihat kearah bulan yang seakan dekat dengannya. Ia merebahkan tubuh lelahnya lalu tertidur.
-
Hari yang cerah. Tapi tak secerah dengan kondisi keluarga Atmadja, mereka dirundung kepanikan ketika detak jantung Meida tiba-tiba melemah dengan tubuh kejang-kejang.
Suasana di ruang ICU itu kini kembali menghadirkan rasa ketakutan, rasa takut kehilangan yang amat dalam di tinggal orang yang sangat dicintai. Isak tangis menyayat hati kembali terdengar, takala beberapa Dokter datang dengan berlarian menuju ruang Meida.
“Jack, bantulah Jaslin! Selamatkan dia!” Raung Zaina ketika Jack dengan wajah pucat pasi nya masuk bersama Dokter lain ke ruang Meida.
“Om mohon, tolong selamatkan Jaslin! Lakukan yang terbaik!” Ucap Gilbert memegang tangan Jack dengan wajah kesedihan penuh ketakutan.
__ADS_1
“Om, Tante dan semuanya. Tolong bantu Do'a. Semoga Meida baik-baik saja.” Jack berjalan ke dalam ruang Meida. Sementara Andress di dalam sedang menangis memeluk tubuh adiknya yang sedang kejang.
Dek, koko mohon berjuanglah! Hadapi rasa sakit itu! Kamu kuat! Kamu pasti bisa! Lirih Andress dengan air mata yang membasahi wajah adiknya. Jack pun menepuk bahu Andress untuk segera menepi dari tubuh adiknya.
“Meida harus segera ditangani! Koko menepilah.” Andress pun melepaskan pelukannya. Ia berjalan menepi menuju pojok ruangan, melihat Dokter senior yang sedang menangani keadaan adiknya.
“Kondisi pasien semakin melemah, lakukan tindakan kedua!” Perintah panik Jack yang diangguki oleh Dokter yang lainnya sambil mengambil alat Defibrilator (Alat kejut jantung) yang berada disamping mesin monitoring.
Meida bertahanlah! Kami menyayangi mu! Jangan dulu pergi, Kau harus bahagia! Lirih Jack menatap wajah sepupu perempuannya dengan meneteskan air mata.
Keadaan di luar ICU tak kalah jauh panik. Gilbert berjalan kesana-kemari dengan wajah frustasinya. Johan tak kalah kacaunya, ia menangis sambil membentur-benturkan kepalanya ke dinding rumah sakit.
Meida, seharusnya paman yang harus mati bukan kamu. Seharusnya paman yang berada disana bukan kamu. Kamu tak bersalah, tapi kenapa kamu yang harus menanggungnya? Bertahanlah, paman mohon! Jangan hukum paman dengan perasan bersalah ini. Bagaimana paman akan melanjutkan hidup paman setelah ini.
Seharusnya kamu tak menumbalkan dirimu sendiri untuk melindungi paman. Seharusnya paman yang melindungi mu. Paman memang lelaki pengecut. Raung Johan yang kembali membenturkan kepalanya semakin keras.
Tuhan, tak banyak yang saya pinta. Saya hanya meminta keajaiban dari mu, tolong selamatkan nyawa keponakan saya. Jangan kau ambil dia lebih dahulu, dia baru saja bahagia, dia baru saja menemukan keluarganya, jangan kau akhiri hidupnya dengan penderitaan. Tuhan, tunjukkan mukjizat mu untuk keponakan saya.
Parau Johan dengan bercucuran air mata. Dian yang berada di belakangnya tak berhenti mengusap kepala suaminya untuk menguatkan.
Menangis tak akan menyesalkan masalah, walaupun kamu sampai menangis darah. Do'akan dia, karena do'a dari kita yang dia butuhkan sekarang.
Johan pun membalikkan tubuhnya. Lalu memeluk istrinya erat. Ia tak mampu menyembunyikan kesedihan dan ketakutannya. Ketakutan terbesar di tinggal pergi oleh keponakan perempuan satu-satunya
Semua akan baik-baik saja! Teruslah berdo'a, keajaiban Allah pasti datang untuk Meida.
Parau Bi Ina sambil mengusap rambut terurai Zaina. Zaina malah semakin mengeraskan tangisnya sambil memukul-mukul kepalanya.
Saya takut dia pergi! Saya belum menebus semua kesalahan saya! Saya belum bisa jadi ibu yang baik! Saya takut ... Saya takut tak bisa melihat senyuman di wajah Putri saya lagi. Saya lebih baik mati jika Jaslin pergi ...
Ucap putus asa Zaina yang menangis tergugu dipelukan Bi Ina. Di sampingnya nampak Jonathan yang diam mematung, matanya tak berkedip melihat kearah kaca ICU. Ia sudah tak bisa berkata-kata lagi, air matanya seakan kering. Karena terlalu banyak menangis.
Yaa Allah, Jika Kau memang benar-benar ada. Tunjukkan kekuasaan mu terhadap Cici-ku.
-
☕☕☕☕☕
Musim hujan butuh☕ 😂
__ADS_1
jangan lupa like, komen, vote, rate, sama hadiahnya 🤗♥️♥️♥️
Hatur nuhun😘