
Melvin diantar oleh supir pribadi mertuanya, menuju rumahnya yang berada di kota Malang. Mereka hanya pergi berdua. Karena Zaina, Gilbert, Jonathan, Andress, dan Jack mengendarai mobil terpisah menuju pesisir Surabaya. Sedangkan kedua orang tuanya tak bisa mengantarnya, Papihnya masih berada di China. Sedangkan Mamih dan adiknya sudah memiliki janji dengan Bi Ina siang ini.
“Yang, mukanya tegang amat. Senyum dong, jangan diem mulu.” Meida mengerucutkan bibirnya melihat kearah suaminya sekilas. Ia merapikan gamis birunya agar tak terinjak lalu menggeserkan posisinya lebih ke samping, menjaga jarak dengan suaminya.
“Jangan jauh-jauh dari saya. Nanti kamu kangen loh!” Narsis Melvin sambil menggeser posisi tubuhnya mendekati istrinya yang sedang membuang muka kearah luar. Jari telunjuknya tengah asik menggambarkan sesuatu yang tak terlihat di kaca mobil. Senandung lirihnya terdengar, mengikuti alunan musik yang di putar oleh supir pribadi Daddy-nya. Kegiatannya pun terhenti ketika suaminya menoel-noel pipinya.
“By, jangan deket-deket. Gerah tahu!” Meida mendelik kan matanya. Mendorong tubuh suaminya agar menjauhinya. Melvin bukannya menjauh, tapi ia malah semakin memepetkan jarak dengan istrinya.
“Sayang ini dingin, ada AC. Kenapa dari pagi kamu menghindari saya? Kalau ada salah, saya minta maaf. Tolong beritahu kesalahan saya, agar saya bisa memperbaikinya.” Pinta Melvin sambil memegang lengan istrinya. Mendengar permohonan suaminya, ia pun merasa tak enak. Suaminya tak memiliki satupun kesalahan padanya, hanya saja ia merasa canggung sekaligus malu bila berduaan dengan suaminya setelah kejadian tadi pagi.
“Kamu gak salah By.” Jawab Meida dengan santai. Ia kembali memainkan telunjuknya di kaca mobil. Melvin mengerutkan dahinya menyampingkan kepalanya melihat kearah istrinya dengan wajah bingung, karena sikapnya tak seperti biasanya.
“Dari pagi, kenapa kamu menghindari saya kalau saya gak salah?” Meida menggigit ujung jari telunjuknya dengan wajah bersemu merah.
“Aku hanya malu padamu setelah kejadian tadi pagi By.” Jujur pelan Meida tanpa melihat wajah suaminya. Ia malah menerawang kearah luar, melihat hiruk pikuk kendaraan di jalanan.
Melvin kembali tersenyum dengan wajah memerahnya. Sebenarnya ia pun malu, tapi ia pandai menyembunyikan rasa malunya. Toh, itu kejadian tak di sengaja dan sudah berlalu.
Kini ia menemukan akar permasalahannya. Alasan kenapa istrinya menghindarinya sejak pagi, ternyata istrinya masih mengingat accident memalukannya. Pantas saja setelah tadarus Al-Qur’an, istrinya langsung menghilang, ternyata menghindarinya dan masuk ke kamar Jonathan.
“Kenapa harus malu? Kamu berhak melihatnya.” Kekeh Melvin dengan wajahnya yang kembali normal dengan memeluk istrinya dari arah samping. Meida langsung mendelikkan matanya dengan mencubit perut suaminya.
“Aku gak mau melihatnya! Lagian kamu sih, ngapain pake acara gak pake baju segala.” Sungut Meida pelan penuh penekanan karena takut terdengar oleh supir pribadi Daddy-nya yang anteng memegang stir tanpa berani melihat kebelakang. Ia kembali mencubit perut suaminya yang malah anteng mencium pipinya.
“Saya panik sayang. Pas saya selesai buka baju, ehh kamu teriak. Yah, saya langsung lari lah. Saya takut kamu kenapa-kenapa.” Sahut Melvin sambil mencuri ciuman di bibir cemberut istrinya.
Meida kembali mendelikkan matanya kearah suaminya, yang sedang memayunkan bibirnya kearahnya. Secara tak di sangka ia langsung menepaknya,
“Kenapa sih kamu curi-curi kesempatan mulu? Di saat keadaan genting kayak gini, kamu masih aja nyium-nyium aku. Mau aku sekolahin bibir kamu?” Sewot Meida sambil melipat tangannya dan menyerongkan posisinya kearah samping untuk membelakangi suaminya.
“Jangan galak-galak sayang, itu sebagian dari ibadah. Nyium kamu itu pahalanya besar loh. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memegang tangan istri sambil merayunya (dengan kata-kata indah), maka Allah SWT akan menuliskan satu kebaikan, dan melebur satu kejelekan serta mengangkat satu derajat. Apabila merangkul istri, maka Allah SWT akan menuliskan sepuluh kebaikan dan melebur sepuluh keburukan, dan mengangkatkan sepuluh derajat baginya. Apabila mencium istri, maka Allah SWT akan menuliskan dua puluh kebaikan, melebur dua puluh keburukan, dan mengangkat dua puluh derajat baginya. Apabila bersenggama dengan istri, maka hal yang demikian lebih baik daripada dunia dan seisinya,” Ucap Melvin mengulang sebuah Hadist yang ia hafal sambil meragakan dengan tangannya, seperti seorang mubaligh yang sedang berceramah. Meida hanya bengong dengan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia di buat tak berkutik, jika suaminya sudah mengeluarkan sebuah Hadits untuk meredakan kekesalannya.
Setelah selesai, Melvin bukannya menjauh. Ia malah memeluk istrinya erat dari arah belakang, dengan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. Menikmati wajah cantik istrinya yang sedang mengomelinya dengan suara pelan.
“Sudah sudah, saya minta maaf. Jangan marah-marah, gak baik buat kesehatan.” Rayu Melvin yang kembali mencium pipi istrinya yang sedang cemberut. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil, lalu menyandarkan tubuh istrinya diatasnya, tanpa merubahnya sedikitpun.
“By, posisinya jangan seperti ini. Nanti pak supir melihat kita! Jangan mesum deh! Ini di mobil!” Sungut Meida yang berusaha bangkit dari posisinya. Namun tak bisa, karena melvin menahan tubuhnya dengan sekuat tenaga.
“Yang, kamu sakit. Jangan banyak ngomel-ngomel, nanti darah tinggi. Walaupun keadaan mu belum normal, tapi tenaga mu seperti baterai ABC, gak ada lelah-lelahnya.” Meida langsung mencebikkan bibirnya mengalah pada suaminya. Dengan membiarkan tangan suaminya melingkar di perutnya.
“Sekarang kamu tidur! Kalau udah sampai nanti saya bangunin. Kamu harus punya banyak tenaga buat nanti malam, saya tak akan melepaskanmu dengan mudah.” Bisik Melvin dengan senyum smiriknya yang langsung membuat pundak meida merinding. Dengan seketika, ia langsung berhenti berkicau.
__ADS_1
“Saya tak akan ngapa-ngapain kamu disini. Saya akan menagih janji kamu sekaligus meminta bonusnya nanti malam. Sekalian, biar double.” Bisiknya kembali sambil terkekeh melihat mata istrinya yang terpejam dengan nafas yang tak beraturan. Wajahnya memerah, bak pualam yang merekah, bulu matanya yang hitam lentik, hidungnya sedang, dengan bibir ranumnya yang memerah.
Melvin dengan jahil mengusap lengan istrinya dengan menahan tawanya.
“Jangan tegang sayang, rileks aja. Nanti malam, bukan sekarang. Persiapkan dirimu! Karena nanti malam adalah malam terindah yang tak pernah bisa kamu lupakan seumur hidup. Saya akan memberi kesan terindah dalam hidup mu di malam pertama kita.” Bisik Melvin sambil mencium tengkuk Meida yang terhalang kerudung pashmina beige-nya. Meida menarik nafas dengan teratur agar kembali tenang, dengan tangan mencubit pelan perut suaminya.
“By. Kenapa sih kamu ngomongnya ngejurus kesana mulu? Malu tahu! Gimana kalau pak supir denger? Mesum banget otakmu!” Bisik Meida menolehkan kepalanya kearah suaminya dengan menatapnya tajam. Lalu ia melirik kearah supir yang berada di depannya. Melvin kembali mencium bibir istrinya sekilas dengan cengengesan.
“Yang, kamu tahu gak? Betapa bahagianya saya menanti waktu malam. Setelah perjuangan panjang, akhirnya saya akan memilikimu seutuhnya. Kamu tak tahu bagaimana saya menahannya selama ini ketika berdekatan dengan mu, sampai kepala saya pusing tujuh keliling. Di ibarat kata, saya akan memecahkan sebutir telur yang selama ini saya pikul di kepala saya. Sekarang kamu tidur, malam tinggal beberapa jam lagi.” Meida langsung memejamkan matanya dengan menangkup wajahnya takala merasa dipinggangnya ada sesuatu yang mengganjal dan menggeliat. Wajahnya langsung memerah dengan detak jantung yang kembali tak beraturan.
Kenapa malah bangun sih? Dasar murahan, gak bisa jual mahal dikit napa! Pahami sikon, malam masih jauh.
Sungut Melvin dalam hati sambil memejamkan matanya dengan nafas terasa sesak. Merasakan benda miliknya yang terbangun.
“Yang, diem! Saya mohon, kamu jangan bergerak. Jika tidak, saya bisa merubah waktu malam menjadi siang.” Pinta Melvin dengan berbisik ke telinga istrinya. Meida langsung tak berkutik dengan wajah yang sama-sama merah.
Mati aku!
Batin Meida dengan tubuh tak bergerak sedikitpun. Ia menahan nafasnya, dengan memejamkan matanya rapat agar tak bergerak sedikitpun. Namun ide begitu saja muncul di otaknya untuk mengerjai suaminya.
Pluk
Botol obat miliknya terjatuh menggelinding di bawah kakinya. Ia spontan langsung membuka matanya, mengambil obat itu tanpa mempedulikan wajah Melvin yang merah padam dengan menggigit bibirnya dengan nafas yang tidak beraturan, yang memeluknya erat dari arah belakang. Setelah mengambil botol obat itu, meida kembali menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya yang memanas dengan wajah tak berdosa nya.
“Sayanggg, please diam! Atau saya benar-benar tak akan melepaskan mu sekarang.” Ancam Melvin penuh penekanan. Dengan kondisi tubuhnya yang tersiksa oleh keinginan dan hasratnya. Naluri dalam dirinya ingin segera terpuaskan, tapi ia bingung harus berbuat apa. Ia tak mungkin memaksa istrinya, apalagi keadaan mereka masih dalam perjalanan. Gejolak dalam dirinya berperang, tapi ia tetap berusaha berpikir jernih untuk tidak melakukan kebodohan.
Meida malah tersenyum dengan menolehkan wajah kearah suaminya dengan mengedipkan sebelah matanya mengejek. Ia menggesek-gesekkan pinggangnya kearah benda suaminya yang semakin menegang. Ia memandang wajah suaminya yang sudah memerah dengan mata terpejam yang terlihat pasrah, dengan perlahan ia mengusap lengannya, lalu melepas tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Melvin di buat tak berdaya dengan apa yang dilakukan istrinya, ia hanya diam ketika istrinya mengelus lembut wajahnya.
“Makanya jangan mesum! Ini akibatnya! Mau aku sekolahin biar pinter?” Ledek Meida yang langsung menggeserkan tubuhnya kearah samping menjauhi suaminya.
Melvin langsung membelalakkan mata kearah istrinya dengan wajah kesal bercampur hasratnya.
“Tunggu nanti malam! Saya tak akan membiarkanmu istirahat sebentar pun.” Ancam Melvin sambil menutup perutnya menggunakan tote bag nya agar tak di ledek istrinya yang sedang menjulurkan lidah kearahnya sambil menunjuk kearah benda pusakanya yang sudah menjulang.
-
“Bagaimana dengan ini? Apa menantuku akan suka?” Tunjuk Helena kearah kalung berlian The Heart of The Ocean. Berlian biru berbentuk hati yang cantik, di tengahnya dikelilingi oleh puluhan berlian putih yang harganya di banderol $20 Juta, atau setara dengan 280 Miliar.
Bi Ina terpaku menatap kalung tersebut yang sangat indah menurutnya. Ia di buat tertegun dengan banderol harga yang terpasang di bawahnya.
“Kalung berlian ini memang bagus. Apa Meida akan menyukainya? Setahu saya dia tidak terlalu suka dengan barang- barang mewah.” ujar Bi Ina sambil menunjuk kalung berlian yang berada di dalam kaca tersebut. Melisa yang berada di belakang mereka pun menatap dalam kearah berlian tersebut, berlian yang sangat tak asing baginya.
__ADS_1
“Kalung ini seperti yang sering di pakai Rose di film Titanic Mih?” Helena menganggukkan kepalanya. Ia mengiyakan ucapan Putri-nya.
“Betul Nak. Ini kalung rancangan Harry Winston yang satu-satunya di import ke Negara kita. Gimana? Beli atau jangan?” Sahut Helena yang sudah biasa membeli berlian di Jewelry tersebut. Ia meminta pendapat pada Bi Ina dan Melisa,
“Yaudah Mih ini aja, bagus kok.” ujar Melisa sambil menunjuk kalung berlian tersebut. Ia lalu menyuruh pegawai untuk mengeluarkannya.
“Kira-kira aku beli apa yah buat kado pernikahan mereka?” Tanya Melisa sambil mengusap pelan berlian tersebut.
“Ibu pun bingung Nak, harus beli apa. Mereka sudah punya semuanya?” Sahut Bi Ina dengan wajah lesunya.
-
Melvin menumpu sebelah kepalanya memperhatikan wajah istrinya yang tertidur lelap. Ia memainkan telunjuknya menyelusuri wajah mulus istrinya yang sudah terlelap sekitar 3 jam.
Ia mencium keningnya, namun tak ada respon sedikitpun dari istrinya. Lalu ia mencium kedua pipinya, tetap tak ada respon, istrinya masih betah berkelana di alam mimpinya. Yang terakhir, ia mencium bibirnya berulang-ulang dengan harapan istrinya segera terbangun, namun yang ada istrinya hanya melenguh sambil menyampingkan posisi kearahnya.
Cantik-cantik tidurnya kayak ******, susah di bangunin. Gumam pelan Melvin sambil mengelus kerudungnya yang masih terpasang sempurna di kepalanya.
“Yang bangun! Kamu belum shalat Dzuhur! Ini sudah jam 2.” Melvin menggoyangkan tubuh istrinya yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Dengan jahil ia mendekatkan bibirnya ketelinganya untuk membisikkan sesuatu.
“Man Rabbuka?” Ucapnya dengan suara menggelegar di telinga istrinya. Meida langsung membuka mata dengan menahan nafasnya. Sementara Melvin yang berada disampingnya menahan tawa sambil menyusupkan wajahnya ke bantal istrinya.
Ternyata ini rahasia untuk membangunkannya.
-
Man Rabbuka?
Yang tidur juga ngeder itu langsung bangun wkwkwk.
Jangan lupa vote sama ☕☕☕☕
Like sama komennya di tunggu 🤗😘♥️♥️♥️
Gomawooo ♥️♥️♥️
Sekarang malam Nisfu Sya'ban.
Saya mohon maaf jika ada salah, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Mohon maaf, jika pernah ada kata-kata yang menyinggung perasaan kalian, menyakiti perasaan kalian.🤗👍🙏
__ADS_1
Mohon maaf pokoknya 🙏😘😘😘