Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Ibu Negara


__ADS_3

Rumah kediaman Melvin dan Meida nampak sepi, mereka berdiam diri di teras rumah untuk menyambut kedatangan keluarga besarnya yang akan berkunjung hari ini. Meida duduk di pangkuan Melvin yang mengenakan jelana jeans warna hitam yang sedang duduk di kursi rotan, ia dengan asik memainkan game yang berada di ponsel suaminya.


“Yang, ini gak keliatan, Kan?” Tunjuk Melvin kearah lehernya yang sudah terpasang plester berwarna putih.


“Gak kelihatan baby, ke tutup plester. Lagian cuman 1 ini kok.” Kekeh Meida  yang kembali memainkan game ditangannya.


“Untung kamu semalam nambahinnya disini!” Tunjuk Melvin kearah dadanya.


“Kalau disini, bisa-bisa saya di bully berjamaah nanti.” Meida pun tertawa seraya menyimpan ponsel suaminya di meja. Ia melingkar tangan nya di leher Melvin dengan tersenyum.


“Apalagi aku By. Leher aku habis karena keganasan kamu, belum lagi disini dan disini.” Tunjuk Meida kearah dada, perut, dan pahanya. Melvin pun ikut tersenyum dengan mendekap tubuh istrinya.


“Untung aku pakai kerudung. Kalau enggak, aku bingung nutupinnya kayak gimana. Plester se box  pun kayaknya gak bakalan cukup deh.” Kekeh Meida sambil memencet hidung suaminya yang sedang tertawa.


“Dimana pun jangan pernah lepas kerudungnya. Kecuali saat kita berdua, baru kamu boleh melepasnya. Melepas semuanya di depan saya itu jauh lebih berpahala sayang,” goda Melvin sambil mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas.


“Itu mau kamu! Yang ada aku masuk angin. Ini aja udah masuk angin, karena tiap malem kamu ajak begadang terus. Tubuhku pegal semua By, apalagi pinggang. Rasanya mau copot,” ucap Meida sambil mengerucutkan bibirnya memainkan alis suaminya. Melvin meniup wajah istrinya lalu mengecup bibir istrinya dengan lembut.


“Nanti malam tak saya pijitin.” Bisik Melvin dengan nada jawa medoknya.


“Kamu mau jadi tukang pijit plus-plus?” Melvin kembali tertawa dengan menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung istrinya.


“Khusus kamu baru plus-plus sayang. Asal ada bonusnya hehe.” Meida tersenyum geli mendengar perkataan suaminya.


“Bonusnya nanti aku traktir baso di perempatan jalan. Mau?” Melvin menggelengkan kepalanya dengan bibir yang tak berhenti mencium wajah istrinya.


“Gak mau itu. Bonusnya pengen di manja kamu plus di kasih serv*se yang baik.” Meida mencubit pipi suaminya dengan gemas.


“Suamiku yang tampan rupawan, ini masih pagi jangan ngebahas itu. Kamu mah aneh By, setelah nikah ngomongnya ngejurus kesana mulu. Aku pengen tahu itu alasannya kenapa?” Melvin kembali tersenyum sambil membelai wajah istrinya.


“Sayang, ini yang dinamakan romansa pengantin baru. Bawaannya pengen nempel terus sama kamu. Saya selalu merindukanmu, padahal kamu selalu berada di samping saya setiap waktu. Inilah berkah pacaran setelah nikah, apa-apa jadi ibadah. Coba bayangin dulu, boro-boro kita bisa ciuman, pegangan tangan juga bisa ke hitung jari.” Meida menggelengkan kepala dengan menarik nafasnya kasar ketika suaminya menciumi pipinya berulang-ulang.


“Iyaiya sayang. Tapi kamu omes mulu tahu, apa-apa pasti larinya kesana.” Melvin mencondongkan tubuhnya ke depan merapikan rok istrinya yang terangkat karena angin.


“Ingat ceramah Ustadz Abdul Somad di YouTube? Kata UAS juga, nikah itu 5% nya enak, 95%nya enak banget. Selain bisa menyempurnakan separuh agama kita, apapun itu dihitungnya ibadah. Makanya saya sering pengen ibadah bareng sama kamu, apalagi ibadah di bawah selimut.” Meida kembali mencubit wajah suaminya yang sedang menghirup ceruk lehernya.


“By, ketika kita sedang berhubungan, kenapa kamu selalu menutupi tubuh kita dengan selimut?” Melvin kembali mengangkat kepalanya dan kini ia semakin mengeratkan pelukannya.


“Itu merupakan adab dan tatak ramanya sayang. Suami tidak meny*t*buhi istrinya dalam keadaan berpakaian. Suami hendaknya melepas semua pakaian istrinya, kemudian bersenggama dalam satu selimut. Jadi harus di tutup selimut ataupun kain. Hal ini merupakan upaya untuk tetap menjaga satu sama lain dan melindungi diri satu sama lain. Rasulullah SAW ketika hendak bersenggama beliau menggunakan tutup kepala dan melirihkan suaranya serta berkata kepada istri beliau: "Hendaklah kamu tenang". Makanya saya sering bilang, “Sayang, tenanglah!”.” Terang Melvin menjawab rasa penasaran istrinya dengan tersenyum.


“Terus, kenapa kamu selalu memakai kaos dalam ketika kita bersenggama, padahal udah ke tutup sama selimut?” Tanya Meida kembali setelah mengingat kebiasaan suaminya yang selalu memakai kaos ketika mereka sedang berhubungan.”


Melvin kembali mencium pipi Meida. Menjawab pertanyaan kritis istrinya dengan membelai kerudung pashmina nya.


“Itu merupakan tatakrama dan adabnya juga. Dimana suami tidak boleh melepas seluruh pakaiannya, minimal mengenakan kaos dalam dan kain penutup. Itu yang tercantum di kitabnya sayang.” Meida manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya dengan seksama lalu mengecup bibirnya sekilas.


“Pintarnya suamiku!” Kekeh Meida dengan menciumi wajah suaminya bertubi-tubi. Tak dipungkiri, tersimpan rasa bangga dalam hatinya mengetahui pengetahuan luas suaminya yang melebihi dirinya.


“Aku semakin mengagumi mu sayang.” Melvin hanya terkekeh menerima serbuan dari bibir istrinya.


Obrolan mereka langsung terhenti ketika melihat Mobil Pajero sport berwarna putih yang baru saja terparkir di halaman rumahnya yang hanya berlantai satu.


Meida kemudian berdiri dari pangkuan Melvin dengan dituntun suaminya. Pengantin baru itu tersenyum hangat menyambut anggota keluarganya dengan wajah ceria penuh kebahagiaan.


“Behhh pengantin baru wajahnya bersinar bet dah. Wajah kalian cerah banget kayak awal bulan waktu turun gaji.” Kekeh Jack yang baru datang bersama Bi Ina dan Melisa yang menenteng paper bag berisikan rantang makanan dan cemilan. Melvin dan Meida pun tersipu malu dengan menyalami mereka.


“Kau bisa aja Jack. Tiap hari juga wajah kita mah ceria, iya kan sayang?” Meida mencubik perut Jack dengan menganggukkan kepalanya. Lalu ia merentangkan tangan kearah Bi Ina dan Melisa.


“Bibi gimana kabarnya? Jadi yah tinggal disini bareng Meida?” Bi Ina pun tersenyum dengan mengelus pundak keponakan angkatnya.


“Gimana nanti aja Nak. Bibi akan tinggal disini, tapi tidak sekarang. Bibi tidak ingin mengganggu quality time kalian yang masih anget-angetnya.” Jawab Bi Ina meledek Meida dan Melvin sambil melerai pelukannya lalu mencium kedua pipinya.

__ADS_1


“Ibu Negara, bagaimana kabarmu?” Meida pun jengah mendengar penuturan adik iparnya yang kini memeluknya.


“Ibu Negara?” Melisa pun langsung melepas lembut pelukannya dan tertawa sambil menunjuk kearah Jack yang sedang bersiul dengan tangan dimasukkan ke dalam kantong celana. Dengan wajah pura-pura tidak tahu nya.


“Jack yang mengajariku, agar memanggil kakak ipar dengan sebutan Ibu Negara. Karena komandan perangnya adalah Ko Melvin.” Mendengar penjelasan Melisa. Mereka berdua pun membulatkan matanya menatap Jack dengan menggelengkan kepalanya.


“Dasar gila!” Sungut Melvin menatap Jack yang sedang cengengesan.


“Jangan kamu turuti perkataan dia dek, dia itu sesat. Kamu mau ketularan gilanya?” Melisa dan Bi Ina tertawa dengan menutup mulutnya ketika melihat Melvin menyentil dahi Jack dengan mendengus.


“Sudah, sudah kalian jangan bertengkar. Papih sama Mamih mana?” Tanya Meida mengakhiri perdebatan antara sepupu dan suaminya yang sedang saling jitak. Ia celingukan kearah halaman rumah karena baru melihat satu mobil saja.


“Papih sama Mamih sebentar lagi sampai Ibu Negara. Kalian tahu sendiri rempongnya Mamih jika akan berpergian, apapun pasti di bawa. Apalagi berkunjung ke rumah menantu kesayangannya ini.” Melvin pun terkekeh sambil menoel dagu istrinya yang sedang tersenyum dengan pipi merona. Yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pengantin baru yang sedang curi-curi pandang.


“Bi, Jack, dan adik ipar. Mari kita masuk ke dalam sambil nunggu yang lainnya.” Ajak Meida kearah 3 tamunya. Sementara Melvin masih di teras rumah menunggu keluarga yang lainnya.


“Jangan sungkan, anggaplah rumah sendiri. Maaf sedikit berantakan, aku belum sempat merapikannya.” Kekeh Meida sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mereka pun tersenyum serempak sambil berjalan kearah ruang keluarga yang berukuran luas dengan desain yang sangat nyaman. Nuansa alam nampak kentara di ruang tersebut, yang menggunakan tekhnologi 3D.


“Maklum pengantin baru, lagi rajin-rajin nya nyangkul. Mana sempet ngerapihin rumah segede jaban begini. Ini rancangannya keren banget deh, sumpah.” Jack terpukau melihat ruangan itu dengan mata terbelalak dengan melihat ke segala arah, begitupun Bi Ina dan Melisa.


“Sumpah, ini amazing banget! Koko memang the best.” Puji Melisa yang langsung duduk di replika gubuk yang menghadap kearah gambar air terjun 3D yang yang mengalir dari dinding ruang tersebut.


“Yang ... sayang ....” Panggil Melvin dari arah luar.


“Meida, suami mu memanggil mu!” Meida pun menganggukkan kepala dengan tersenyum sambil mengeluarkan cemilan dan air minum yang sudah disiapkannya sedari pagi.


“Sok, di makan cemilannya! Aku keluar dulu yah!” Pamit Meida berlalu setelah mendapat anggukan dari tamunya.


“Jonathan ...” Teriak Meida kearah Jonathan yang memakai kacamata hitam sedang menyandarkan dirinya ke tiang di samping suaminya. Meida langsung berlari kearah adiknya dan memeluknya erat.


“Cici sangat merindukan mu adik bontot.” Jonathan pun terkekeh membiarkan Meida memeluknya erat dengan menggoyang-goyangkan tubuh tingginya.


“I miss you so much my sugar. Tinggal disini yah bareng cici?” Pinta Meida dengan memegang lengan adiknya. Jonathan kembali memeluk tubuh mungil cici-nya dengan tersenyum.


“Sekolah Jo gak bisa di cabut ci, 3 bulan lagi Jo lulus. Nanti diusahakan Jo sering nginap disini. Setelah lulus sekolah, Jo berniat melanjutkan study ke UK.” Terang Jonathan mengusap pundak cici-nya yang sedang cemberut.


“Kenapa gak study disini aja? Banyak loh universitas ternama disini.” Sahut Meida dengan mengerucutkan bibirnya lalu melepas pelukan adik lelakinya.


“Oh yah. Daddy dan Mommy mana? Kamu kesini sama siapa?”


“Daddy dan Mommy ke rumah paman Johan dulu menunggu Pak Albert. Setelah di rumah paman, baru mereka barengan kesini. Katanya sih pengesahan ahli waris dari harta Opa Max.” Terang Jonathan sambil mengambil kunci mobil di kantong kemejanya lalu mengacungkan kunci mobil kearah Meida.


“Jo, bawa mobil sendiri kesini ci. Jo udah 17 tahun, jadi  gak perlu khawatir. Lagian Jo udah punya SIM sendiri. Tuhh mobil Jo Lamborghini warna merah, hadiah dari Ko Melvin.” Tunjuk Jonathan kearah Melvin yang sedang tersenyum menggaruk kepalanya. Meida pun mengerutkan dahinya menatap kearah suaminya,


“Hadiah apa Jo?” Tanya Meida yang kembali menatap adiknya.


“Hadiah karena Jo menjaga cici dengan baik.” Meida langsung menatap suaminya sambil tersenyum.


“By ... manisnya suamiku. Terima kasih sayang!” Meida berhamburan memeluk suaminya yang dihadiahi kecupan di kedua pipinya. Mereka seakan lupa dengan kehadiran Jonathan yang sedang menggigit jari.


“Hemmm, inget ada anak di bawah umur disini.” Melvin langsung melepaskan pelukan istri nya dengan mengedipkan matanya. Mereka pun tersenyum malu-malu dengan wajah yang sama-sama memerah.


“Ci, Tuhh mobil mertua cici! Jo, ke dalam dulu yah!” Pamit Jonathan masuk ke dalam menyusul Melisa, Bi Ina dan Jack yang sudah ada di dalam.


Rumah itu semakin ramai dengan kedatangan 3 mobil yang menambah jajaran barisan mewah koleksi mobil di halaman rumah tersebut. Gilbert, Zaina, Albert dan 3 rekan pengacara, dan terakhir keluarga Johan beserta anak-anaknya. Ruang keluarga itu penuh dengan kehadiran anggota keluarga, mereka mengobrol hangat dengan diselingi canda tawa.


“Vin, disini gak ada ART?” Tanya Helena yang celingukan mencari ART di rumah putranya. Ia mengeluarkan makanan yang ia bawa untuk disuguhkan di ruang keluarga.


“Ada Mih, tapi sedang pulang kampung ke Madura. 3 hari lagi mereka balik kesini.” Sahut Melvin yang menurunkan beberapa gelas dari rak kaca.


“Yaudah. Besok Mamih kirim 2 ART, biar rumahnya gak sepi gini. Biar istrimu gak kecapean ngurus rumah.” Melvin pun mengangkat bahunya menatap kearah istrinya yang sedang merapikan makanan bawaan mertuanya.

__ADS_1


“Terserah Mamih aja. Ini ngapain Mamih bawa makanan sejaban gini, kayak yang mau ke gunung aja.” Helena pun terkekeh sambil memotong kue yang dibuatnya semalam.


“Mamih sengaja bawa makanan banyak kayak gini, biar kalian gak belanja. Cukuplah stock buat 3 hari. Sekalian kita makan siang bareng disini.” Meida pun menenteng rantang besar yang di bawa Bi Ina lalu diletakkan di atas meja makan.


“Bi Ina juga bawa serantang makanan Mih.” Helena pun membuka Tupperware besar yang di bawanya.


“Gak papa, kita satuin aja. Kapan lagi kita bisa makan bareng kayak gini.” Kekeh Helena sambil mengambil nampan besar yang berada di laci kitchen set.


“Bener banget mbak, kita makan bareng. Kapan lagi kita bisa kumpul kayak gini. Kalau kurang, nanti saya deh yang masak.” Sahut Zaina sambil menawarkan jasanya. Suasana di ruang itu lebih cair, ketika kedatangan Bi Ina dan Melisa.


“Siap Besan!”


“Oh yah, menantuku  nanti ada kado pernikahan dari Mamih. Tapi Mamih gak bisa berikan sekarang, tas Mamih ada di ruang keluarga, kado nya ada di dalam tas. Nanti ingetin Mamih, soalnya Mamih pelupa.” Meida pun tersenyum sambil menuangkan jus yang di buat suaminya.


“Makasih Mih. Padahal gak usah repot-repot bawa kado segala, restu dan do'a Mamih jauh lebih berharga dari segalanya.” Helena pun tersenyum mendengar jawaban dari menantunya.


“Do’a dan restu Mamih tidak akan terputus untuk kalian. Itu hanya cenderamata dari Mamih, sedikit sambutan untuk anggota baru keluarga Nagara.”


Melisa yang berada di tengah-tengah mereka pun tersenyum bahagia, karena dua keluarga kini bisa membaur jadi satu tanpa perbedaan dan pertentangan.


Ya Tuhan, semoga selamanya keluarga ini tetap rukun seperti ini. Tidak ada lagi pengganggu untuk rumah tangga koko. Dan semoga Sandra menemukan karmanya.


“Mommy dan Daddy juga sudah mempersiapkan kado untuk kalian. Nanti kalian ambil dari daddy yah.” Meida mengusap lengan Mommy dengan tersenyum lebar.


“Mommy juga gak usah repot-repot. Kalian kumpul disini saja itu merupakan kado terindah, benarkan By?” Melvin pun menganggukkan kepalanya menatap kearah Mertua dan Mamihnya bergantian.


“Iya benar sekali. Kalian bisa berkumpul disini aja seperti ini, ini merupakan suatu kebahagiaan yang tak ternilai bagi kami. Entahlah, kebahagiaan ini serasa sempurna.” Meida pun mengiyakan perkataan suaminya dengan menganggukkan kepalanya.


“Aku dan Bu Ina pun memiliki kado untuk kakak ipar. Tapi tertinggal di dalam mobil Jack hehe.” Meida menghampiri adik iparnya dan memeluknya.


“Terima kasih. Padahal jangan repot-repot.” Melisa melerai pelukan kakak iparnya dengan tersenyum.


“Tidak merepotkan sama sekali.”


Meida menggeser tubuhnya kearah Bi Ina dengan mata sendu.


“Bibi, terima kasih banyak!” Meida kembali memeluk Bi Ina dengan haru.


“Sama-sama Nak.”


-


Happy Monday guys😘😘😘


Selamat beraktivitas 🤗


☕☕☕☕☕


Inget yah guys,


Adab lebih utama daripada ilmu. Percuma punya ilmu kalau gak beradab😁 ujung-ujungnya pasti biadab🤭


Jangan lupa,


Like sama komen nya jangan pelit-pelit 😘🥰


Vote nya juga apalagi, mumpung sekarang hari senin wkwkw


Love sekebon raya buat kalian😘😘😘


Gomawoooo buat yang masih stay d novel amatiran ini♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2