Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Gantung Diri


__ADS_3

Kapal kargo yang mendarat di pesisir pantai itu sudah di kerumuni oleh banyak warga. Gerombolan demi gerombolan warga memadati pesisir pantai, melihat kapal berukuran besar yang telah menepi ke bibir pantai.


Terlihat dari jauh, seorang lelaki mengenakan abaya putih datang dengan di ampit kedua lelaki berpakaian formal dengan membawa tote bag masing-masing di tangan mereka. Suara derap langkah mereka mampu menghipnotis para warga untuk memusatkan perhatian hanya kearah mereka.


“Ini 3 kapal kargo yang saya ceritakan pada Buya. Saya tidak bohong! Ini bukti perkataan kami,” ucap Adam sambil menunjuk kearah kapal kargo yang berjejer tersebut.


Satu persatu warga menghampiri Buya Hanafi yang masih memusatkan pandangannya kearah kapal yang telah berlabuh. Mereka tak langsung menghampirinya dekat, melainkan berdiri dengan menjaga jarak di belakangnya.


“Jadi benar Melvin yang langsung mengirimnya dari Surabaya?” Adam kembali menganggukkan kepalanya. Lalu ia melambaikan tangannya kearah kapal sambil menepuk kedua tangannya, memberi perintah agar beberapa orang yang berada di kapal tersebut untuk turun. Para warga bersorak melihat beberapa awak buah kapal turun dengan mengenakan seragam berwarna navy dan putih berlabel Shinwa Nagara. Perusahaan raksasa yang berpusat di Surabaya.


“Pak, sekarang bisa kita langsung turun kan barangnya?” Tanya Lelaki paruh baya sambil membawa berkas ditangannya. Ibrahim bukannya menjawab, ia malah menolehkan kepalanya kearah Buya untuk meminta persetujuan.


“Buya, boleh kami menurunkan barangnya sekarang?” Tanya Ibrahim kepada Buya Hanafi yang hanya menganggukkan kepalanya samar. Adam dan Ibrahim pun tersenyum, lalu mereka menatap kearah anak buahnya dengan wajah tegasnya.


“Baiklah. Kerjakan sekarang!” Perintah Ibrahim yang langsung diangguki hormat beberapa anak buahnya. Mereka langsung berlari kembali kearah kapal.


Di sudut pesisir, nampak seorang wanita paruh baya yang mengenakan gamis dan hijab syar’i berlari terpogoh-pogoh kearah kumpulan orang-orang. Ia mencari suaminya yang sedang berdiri di depan bersisian dengan lelaki yang mengenakan pakaian formal.


“Buya, sebenarnya ini ada apa? Kapal itu milik siapa? Kenapa berlabuh disini?” Tanya Umi Fatimah menghampiri suaminya yang sedang berdiri melihat alat-alat berat yang baru  saja diturunkan dari dalam kapal. Buya Hanafi menolehkan kepalanya kearah istrinya dan kembali menatap kearah lautan.


“Itu kapal milik keluarga Melvin dari Surabaya. Dia sengaja mengirim barang-barang material dari Surabaya kesini, untuk merenovasi Pesantren sekaligus rumah kita.” Jawab pelan Buya Hanafi kearah istrinya yang wajahnya nampak terkejut. Umi Fatimah membulatkan matanya dengan memegang erat lengannya.


“Dari Melvin? Buya serius?” Adam dan Ibrahim pun saling pandang dengan tersenyum. Mereka pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan Umi Fatimah, mewakili Buya Hanafi.


“Betul apa yang dikatakan Buya. Bahwa 3 kapal kargo bermuatan bahan material yang Tuan Muda kirimkan ini, berasal langsung dari Surabaya.” Aisyah yang berada di kerumunan di belakang Buya Hanafi pun kembali memegang dadanya dengan membelalakkan matanya. Senyum manis tiba-tiba tersungging dari bibir tipisnya takala mendengar nama pujaan hatinya di sebut,


Apa dia ikut kesini? Yaa Allah, semoga saja dia ada disini. Melihat wajahnya, setidaknya mengobati luka hati ku.


Batinnya dengan memejamkan matanya memperlihatkan bulu mata hitamnya yang lentik. Dengan memberanikan diri ia berjalan kearah Umi Fatimah yang masih diam dengan wajah kagetnya.


Aisyah dengan lembut mengusap pundak Umi Fatimah dengan tangan sedikit gemetar dan senyum manis yang tak lekang dari bibirnya.


“Apa Melvin ikut kesini?” Tanya spontannya menatap kearah lelaki itu dengan mata tak berkedip. Kedua lelaki itu menatap aneh kearahnya, yang tiba-tiba menanyakan keberadaan atasannya.


“Tuan muda tak ikut kesini mbak. Dia masih di rawat di rumah sakit.” Tutur Ibrahim yang membuat hati Aisyah mencelos seketika. Mata Aisyah kembali meredup, senyum di bibirnya kembali menghilang.


“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan Melvin, Nak?” Tanya menyelidik Buya Hanafi menatap lembut kearah wanita yang berjasa di kampungnya tersebut. Dokter Aisyah kembali mengangkat kepalanya, ia berusaha tersenyum dengan wajah ceria menutupi kesedihan hatinya.


“Aisyah ingin mengucapkan terima kasih padanya Buya, karena Melvin akan membuatkan kita Rumah Sakit di kampung ini.” Kilah Dokter Aisyah dengan suara lembutnya. Ia kembali gugup takala Buya Hanafi menatapnya dengan sorot mata tak percaya.


“Kamu tahu dari mana, jika Melvin akan membangun rumah sakit disini, Nak?” Timpal Umi Fatimah sambil memegang lengannya. Dokter Aisyah menelan salivanya kasar sambil menggaruk dahinya.

__ADS_1


“Aisyah dengar langsung dari Hanif Umi. Dia yang menceritakan langsung pada Aisyah.” Jawabnya pelan dengan wajah merah sambil menggigitnya.


“Oh, baiklah Nak, jika kamu tahu dari Hanif. Nanti kamu bantu Buya untuk ngurus ini semua yah?” Pinta Buya Hanafi sambil mengusap kepala Dokter Aisyah yang sudah dianggap anak olehnya.


“Baik Buya.”


-


Buya mengambil ponsel di saku Abaya-nya untuk menghubungi Melvin yang berada jauhdi ujung sana. Ia meminta bantuan Hanif untuk menghubungi Melvin menggunakan panggilan video, agar bisa melihat keadaan Putra angkatnya yang katanya masih di rawat di Rumah Sakit.


“Assalamualaikum, Nak.” Sapa Buya dan Umi berbarengan ketika melihat wajah Melvin yang sedang memakai topi dan masker terpampang jelas di layar ponselnya.


“Waalaikumsalam Buya, Umi.” Jawabnya dengan wajah sumringah. Ia sengaja melepas maskernya agar Buya dan Umi dapat melihat wajahnya dengan jelas.


“Bagaimana keadaan mu dan keluarga, sehat? Istri mu sudah siuman?” Tanya Umi Fatimah dengan begitu antusias. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, karena tak percaya bisa melihat kembali wajah putra angkatnya.


“Alhamdulillah sehat umi. Istri saya pun Alhamdulillah sudah siuman, dan sekarang sedang melakukan terapi.” Melvin sengaja menggeserkan kamera ponselnya kearah Meida yang sedang melakukan traksi. Lalu kembali memperlihatkan wajahnya.


“Alhamdulillah kalau sudah sadar. Nak, Buya mau tanya. 3 kapal kargo yang mendarat di pesisir pantai membawa bahan-bahan material, mereka bilang diperintah kamu. Apa itu benar?” Buya Hanafi mendekatkan ponsel ke wajahnya. Hingga terpampang jelas di layar hanyalah wajahnya seorang.


“Alhamdulillah kalau sudah sampai. Mereka benar suruhan Melvin Buya. Melvin ingin mewujudkan cita-cita Melvin untuk memperluas Pesantren milik Buya. Dan Melvin pun menitipkan uang tunai dan cek pada suruhan Melvin. Titipan dari Melvin, apa sudah sampai ke tangan Buya dan Umi?” Buya Hanafi dan Umi Fatimah pun menganggukkan kepalanya serempak.


“Tidak papa Buya. Tapi, sedari kemarin Dokter Aisyah tidak ada menghubungi saya.” Tuturnya pelan dengan layar yang menunjukkan sepatu kets nya.


Ia berjalan perlahan kearah istrinya yang baru saja selesai terapi. Ia terlebih dahulu membantu istrinya bangun, kemudian kembali menatap ponselnya.


“Buya, Umi. 2 minggu lagi Melvin akan mengadakan resepsi pernikahan dengan istri Melvin. Buya dan Umi bisa kesini? Biar nanti Melvin yang menjemput kalian kesana.” Buya, Umi, dan Hanif wajahnya terlihat bahagia ketika mendengar acara resepsi pernikahannya. Mereka sampai tak sadar dengan kehadiran Dokter Aisyah yang sudah berada di belakang mereka yang sedang menggenggam erat rantang putih ditangannya.


“Inn Shaa Allah kami akan datang, bila tak ada halangan, Nak.” Seru Umi Fatimah dengan mata berkaca-kaca.


“Aamiin, semoga saja kalian bisa datang kesini. Umi, Buya. Perkenalkan ini istri Melvin.” Suara bariton Melvin memecahkan keheningan di ruang itu. Kini di layar ponsel itu memperlihatkan wanita cantik alami, yang mengenakan piyama abu-abu dengan hijab pashmina menatap aneh kearah kamera.


Yang, ini Buya dan Umi yang kemarin saya ceritakan sama kamu sebelum tidur. Ingat, Kan?


Wajah Dokter Aisyah tiba-tiba menjadi pucat ketika mendengar suara Melvin yang akan memperkenalkan istrinya.


Apa dia benar-benar sudah menikah? Apa benar wanita itu adalah istrinya? Kenapa hatiku sesakit ini, menerima kenyataan ini? Batin Dokter Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca.


“Assalamualaikum Buya, Umi. Perkenalkan saya Meida istri dari lelaki narsis yang berada di samping saya ini.” Sapa hangat Meida sambil menunjuk kearah suaminya. Layar itu kini di penuhi wajah mereka berdua.


Dokter Aisyah meneteskan air matanya dengan sebelah tangannya memukul dadanya yang terasa sesak. Ia seperti mimpi mendengar pujaan hatinya sudah menikah dengan wanita impiannya. Hatinya sedikit tak rela menerima kenyataan sebenarnya.

__ADS_1


“Waalaikumsalam Meida. Kamu cantik sekali Nak, pantas saja suami mu tak bisa berpaling sedikitpun dari mu. Ternyata kamu benar-benar cantik dan baik.”


Dokter Aisyah sudah tak kuat mendengar pujian yang dilontarkan Umi Fatimah untuk Meida. Dengan perasaan hancur, dia meninggalkan rumah itu dengan kepala tertunduk. Menggenggam erat rantang makanan yang masih setia berada di tangannya.


“Umi bisa saja.” Wajah Meida bersemu merah dengan mata melihat ke segala arah karena malu ketika mendengar pujian darinya.


"Buya, Umi. Meida ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, karena Buya dan Umi telah merawat suami Meida dengan baik, dan bisa kembali berkumpul dengan Meida sekarang.” Buya dan Umi menganggukkan kepalanya dengan tersenyum haru,


“Itu sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong. Apa keadaan kamu sudah membaik Nak?” Meida memperlihatkan tangan dan kakinya yang sedang berselonjoran di atas meja Traksi setelah melakukan terapi.


“Alhamdulillah, keadaan Meida menuju pulih Umi. Meida hanya tinggal terapi beberapa hari lagi.”


“Syukur, Alhamdulillah. Kapan kalian akan berkunjung kesini?” Meida menatap kearah suaminya yang sedang menyandarkan kepalanya di bahunya untuk meminta pendapat. Melvin pun kembali mengambil alih ponselnya.


“Inn Shaa Allah secepatnya umi. Setelah istri saya sembuh, setelah resepsi pernikahan, kami akan langsung pergi kesana.” Jawab tegas Melvin tanpa keraguan.


“Kami tunggu! Kami sangat merindukan mu Nak.”


“Saya pun sangat merindukan Buya dan Umi. Selalu jaga kesehatan! Masih banyak umat yang membutuhkan bimbingan dari Buya dan Umi. Semoga kalian panjang umur dan sehat selalu.” Buya dan Umi pun mengaminkan Do’a putra angkatnya dengan khusu.


Melvin kembali menggeserkan kamera ponselnya, yang kini memperlihatkan dirinya dan istrinya dengan wajah yang berdekatan.


“Umi lihat kalian pasangan yang serasi. Paras kalian cantik dan tampan, umi sangat menyukai mu Meida. Kamu memang pinter cari istri Nak.” Puji Umi Fatimah yang membuat wajah Meida  kembali memerah. Mata melvin terus saja menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta.


“Alhamdulillah Umi. Do'a kan kami semoga selalu bersama sampai tua.”


“Aamiin. Semoga kalian menjadi keluarga Sakinnah, Mawaddah, Warrahmah. Memiliki Putra-Putri yang Sholeh dan Sholehah. Keluarga bahagia di dunia dan di akhirat. Buya tunggu kedatangan kalian disini.” Melvin dan Meida menganggukkan kepalanya setelah mengaminkan doa dari Buya Hanafi, yang melihat mereka dengan mata berkaca-kaca.


“Inn Shaa Allah Buya. Kami akan segera kesana beserta keluarga besar kami.”


-


“Mom, Daddy barusan dapat kabar dari kantor polisi. Kalau Mak Lampir meninggal dunia gantung diri di lapas. Kulitnya melepuh dan bernanah, apa kita beritahu Jaslin?”  Tanya panik Gilbert kearah istrinya yang baru saja masuk keruangannya.


-


Jangan lupa ☕☕☕ sama Votenya guys..


Mau ngomong banyak, tapi takut di tolak😭 padahal banyak unek-unek wkwkwk


Hatur nuhun buat kalian yang masih stay di Novel ini♥️ Gomawooo pisan😘♥️

__ADS_1


__ADS_2