
“Terima kasih Pih, terima kasih.” Ucap terbata-bata Melvin dengan memeluk papihnya erat. Nagara menghapus air matanya, ia menangis haru, akhirnya ia bisa memeluk Putra-nya kembali.
“Kamu berhak bahagia Nak. Kamu bahagia, Papih pun bahagia. Maafkan Papih yang sempat menentang hubungan kalian. Maafkan papih yang pernah memukuli mu tanpa ampun. Maafkan Papih yang mengasingkan mu ke pulau terpencil. Maafkan Papih yang menjauhkanmu dari Mamih dan Melisa. Sebenarnya Papih tidak marah ataupun benci padamu, Papih hanya merasa menjadi orang tua yang gagal dalam mendidik mu. Tapi sekarang, Papih serahkan semuanya padamu, karena kamu sudah besar, kamu sudah bisa menentukan hidup mu. Papih hanya ingin kamu belajar hidup di luaran, yang semuanya tidak serba instan. Dan Papih mengakui, Papih menyerah untuk membujukmu, Papih menerima semua keputusan mu. Walaupun begitu, tetaplah menjadi Melvin Nagara anak kebanggaan Papih.” Lirih Nagara sambil menepuk-nepuk pundak Putra-nya. Mereka pun menangis sambil berpelukan. Senyum lebar terbit dari wajah Melvin yang sedang menangis, kini beban hidupnya telah hilang seiring dengan restu dari Papihnya.
“Sampai kapan pun Melvin tetaplah Putra Papih. Terima kasih! Karena Papih, Melvin dapat belajar lebih banyak hal tentang kehidupan, terutama tentang kesabaran dan kesetiaan. Terima kasih, Papih telah merestui jalan hidup yang Melvin pilih.” Nagara menganggukkan kepalanya lalu mengurai lembut pelukannya. Ia menatap wajah Putra-nya dan mengacak-acak rambutnya yang mulai melewati telinga. Gilbert yang menyaksikan itupun tersenyum haru. Ia dapat melihat kedekatan dua lelaki yang berada di depannya.
Wajar jika Melvin menjadi lelaki baik, Papihnya sendiri yang mencontohkannya. Nagara memang seorang Ayah yang luar biasa, hingga bisa menjadikan Putra-putrinya seperti ini. Alangkah menyesal saya, jika sampai sekarang tidak dekat dengan anak-anak, dan masih menjunjung tinggi sifat egois itu. Wajar jika mereka berontak, karena yang mereka butuhkan bukanlah harta dan kemewahan, tetapi sosok Ayah yang mengayomi mereka.
Andress, Jaslin, Jonathan, Daddy janji, Daddy akan menjadi Ayah yang terbaik untuk kalian.
Janji Gilbert meneteskan air matanya sambil mengingat ketiga anaknya.
“Sudah, jangan menangis lagi. Kita akhiri semuanya. Jangan ada lagi penderitaan diantara kita, saatnya kita bahagia bersama-sama. Bukankah begitu Gilbert?” Gilbert menganggukkan kepalanya tersenyum kearah mereka. Nagara kembali menatap dalam Putra-nya lalu memegang kedua bahunya.
“Jika kamu mencintai Meida, cintailah dia sampai akhir. Sayangi, hormati, dan jaga dia sepenuh hati mu, Bila perlu dengan nyawa mu. Jangan pernah mempermalukan Papih! Jangan pernah menyakiti nya! Dan jangan pernah mengecewakan kami! Karena sekarang bukan lagi tentang kamu dan dia, melainkan kita bersama. Kini tugas mu bukan lagi menyatukan satu keluarga, melainkan harus menyatukan 2 keluarga. Jadilah suami yang baik, Suami yang mengayomi keluarga kecil mu nanti.” Nasihat Nagara yang diangguki Melvin dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Nasihat bijak Papihnya akan selalu ia ingat dan jaga, sampai nyawa hilang dari raganya.
Melvin langsung mengambil tangan Papih-nya, lalu di letakan di atas kepalanya.
“Melvin janji di hadapan Papih dan di depan Om Gilbert. Demi Tuhan, Saya Melvin Nagara akan menunaikan semua janji saya dan nasihat Papih. Saya akan mencintai Meida sampai akhir hayat saya. Menjadikan dia wanita satu-satunya, sekarang dan selamanya.” Janji Melvin dengan bercucu air mata. Nagara menganggukkan kepalanya dengan haru atas kesungguhan Putra-nya. Sementara Gilbert menangis di samping Melvin, ia tak bisa mengungkapkan perasaannya. Ia benar-benar kagum dengan kesungguhan lelaki yang ada di sampingnya. Ia tak menemukan sedikitpun kecacatan dari diri lelaki tersebut.
“Papih pegang janji mu! Jangan pernah menyakiti Meida! Jika kamu menyakiti nya, janganlah salahkan Papih, jika Papih sendiri yang akan memulangkan nya langsung pada orang tuanya!” Melvin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia mencium tangan Papih-nya lama. Nagara mengelus kepala Putra-nya, yang sedang menangis sambil mencium tangannya.
Gilbert sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, Ia di buat takjub dengan interaksi hangat Ayah dan anak yang saling menyayangi yang berada di hadapannya. Hubungan mereka sangat luar biasa, ia takjub dengan didikan Nagara. Ia merasa malu, dengan kelakuan yang pernah dilakukan pada anak-anaknya dulu.
__ADS_1
Kini semua sudah menemukan titik nadirnya. Ujian demi ujian mampu mereka lewati, masalah demi masalah mampu mereka atasi. Kini mereka memulai merancang mimpi, mimpi bahagia setelah melewati banyak duka.
“Bersiaplah! Papih, Mamih dan Adik mu akan mengantar mu kesana. Kamu bisa kan ke kamar sendiri? Ada sesuatu yang ingin Papih obrolkan dengan Ayah nya Meida.” Melvin menganggukkan kepalanya tersenyum. Ia berpamitan pada Nagara dan Gilbert lalu meninggalkan ruang itu.
-
Melvin masuk ke dalam kamar yang sudah lama tak di tempatinya. Kamar berukuran luas dengan nuasa putih abu-abu menampakan kemaskulinan pemiliknya. Kamar itu masih tertata rapi, dan terlihat elegan. Lemari kaca berderet panjang, memajangkan kemeja panjang dan jas-jas mewah miliknya. Karpet bulu terbaik, terpasang di kamar tersebut. Rak buku berdiri tegak, memperlihatkan bermacam-macam koleksi bacaannya.
Melvin berusaha berdiri dari kursi rodanya. Ia terlebih dahulu berjalan kearah walk in closet untuk mencuci wajahnya dan berwudhu, karena ia belum melaksanakan shalat Magrib dan Isya, karena keadaannya yang baru siuman setelah Isya.
Melvin melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu ketika Mamih dan Adiknya datang. Mereka menunggu Melvin dengan duduk di ranjangnya sambil memperhatikan gerakan yang dilakukannya. Setelah mengucapkan salam dan do'a, mereka langsung berjalan dan memeluknya.
Mereka berdua memeluk Melvin dari arah belakang sambil berlinang air mata.
“Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan Melvin untuk pulang Mih.” Helena menangis tergugu di pelukan Putranya. Putra sulungnya benar-benar pulang. Melvin mengelus-ngelus pundak Mamihnya dengan lembut, dan mulai menyadari sesuatu.
“Kenapa badan Mamih kurusan? Apa Mamih baik-baik saja?” Tanya Melvin sambil melepaskan pelukannya. Ia memegang lembut lengan mamihnya lalu mencium kedua pipinya yang masih menatapnya dengan binar penuh kerinduan. Helena tak menjawab pertanyaan Melvin, karena masih fokus menatap wajah Putra-nya. Yang menjawab adalah Melisa yang kini sudah berada di sampingnya.
“Mamih sangat merindukan Koko hingga seperti ini. Kami takut Koko tak kembali pulang.” Melisa meneteskan air matanya lalu menyusupkan tubuhnya kepelukan Koko-nya. Ia sangat merindukan Koko yang selalu ada untuknya, yang menjaga dan mencintainya tak kenal lelah. Melvin mengelus lembut kepala adiknya yang berada di pelukannya. Akhirnya mereka bisa melepas rindu di atas sajadah di kamarnya.
“Kami sangat merindukan Koko. Kami tak bisa hidup tenang, memikirkan kondisi Koko di luaran sana. Kami takut Koko hidup terlunta-lunta, menjadi gembel jalanan atau jadi pengemis.” Melvin menghapus air mata di wajahnya lalu mencium kepala adiknya dengan berulang-ulang. Lalu ia memeluk bersamaan Adik dan Mamihnya.
“Koko baik-baik saja disana. Koko tak hidup terlunta-lunta. Malah koko menemukan keluarga baru. Maaf, kepergian koko membuat kalian khawatir. Koko pun sangat merindukan kalian, dan sekarang koko baru bisa pulang.” Jawab Melvin memeluk erat kedua nya. Melisa melepaskan pelukannya lalu menatap koko nya dengan sendu sambil mengelus-ngelus lengannya.
__ADS_1
“Nafsu makan Mamih berkurang setelah kepergian koko, hingga penyakit lambungnya kumat. Dan Puji Tuhan, keadaan Mamih baru saja sembuh kemarin. Tak ada orang yang jahat pada Koko, Kan disana?” Melvin menggelengkan kepalanya dengan menatap hangat wajah adiknya yang nampak terlihat khawatir.
“Tidak ada Dek. Koko malah menemukan banyak orang baik disana, menemukan keluarga baru. Malah koko banyak belajar arti kehidupan sebenarnya di sana. Kenapa nomor kontak kalian susah di hubungi? Apa Papih masih menyitanya?” Melisa menggelengkan kepalanya dengan mengerucutkan bibirnya.
“Papih baru memberikannya barusan.” Melvin terkekeh sambil mengacak-acak lembut rambut panjang adiknya ketika mendengar jawabannya.
“Mendingan. Akses koko aja sampai sekarang belum di kasih,” Sahut Melvin sambil tersenyum mengusap wajah adiknya yang sedang cemberut.
“Ko, apa benar kamu akan menikahi Meida sekarang?” Tanya Helena menatap dalam wajah Putra sulung-nya yang sedang menatapnya lembut sambil tersenyum.
“Benar Mih. Tepat hari ini pernikahan kami. Koko gak bisa mempersiapkan apa-apa, karena Koko pun baru pulang sekarang. Jadi semuanya terkesan dadakan, walaupun sudah direncanakan. Koko tak ingin mengingkari janji koko pada Meida Mih, kondisi dia sampai seperti ini karena terlalu lama menunggu koko yang pergi tanpa pamit.” Helena kembali menatap nanar wajah Putra-nya. Sementara melisa anteng di pelukan Koko-nya.
“Tapi Meida masih koma Nak. Apa kamu yakin akan menikahinya sekarang? Apa kamu tidak ingin mengundurkannya sampai kondisi Meida membaik?” Melvin menggelengkan kepala sambil mengelus kepala adiknya. Ia menatap sorot mata mamihnya dengan sorot mata penuh keyakinan.
“Tidak Mih. Karena memang hari ini, hari yang kami rencanakan dari dulu. Dan semoga dengan pernikahan ini, keadaan Meida cepat membaik. Melvin tak bisa diam saja melihat keadaannya yang seperti ini, Melvin ingin langsung turun tangan menjaga dan merawatnya. Biarlah sekarang giliran Melvin menggantikan tugas keluarganya.” Helena tersenyum sambil mengelus kepala Putra nya. Ia bangga dengan sikap Melvin, yang bertanggung jawab dan penyayang.
“Baiklah jika itu keputusan mu! Mari kita bersiap untuk pergi kesana!” Ajak Helena sambil berjalan kearah lemari kaca milik anaknya.
-
☕☕☕☕☕☕☕☕☕
Jangan lupa like, komen, vote, rate sama hadiahnya guys😘😘♥️♥️♥️
__ADS_1
Hatur nuhun♥️