
“Jaslin, kesini sebentar! Daddy ingin memberikan ini padamu!” Meida menghampiri Gilbert dan Jack yang sedang bersantai di gazebo sementara yang lain masih asik bersuka ria di pinggir kolam.
“Apa Dad?” Tanya Meida sambil duduk di samping Daddy-nya. Gilbert menyondorkan berkas yang di bawanya sedari tadi sambil tersenyum.
“Kartu Indentitas mu hilang kan akibat penembakan itu? Daddy sudah memperbaharui ulang data kamu Nak. Maaf Daddy sedikit terlambat memberikannya.” Meida membuka berkas itu dengan tersenyum, nampak di dalam terdapat beberapa lembar data mengenai identitas dirinya
“Meida Jaslin Atmadja.” Gumam pelan Meida membaca nama yang tertera di Kartu Identitas tersebut sambil tersenyum. Ia memeriksa dokumen satu persatu, yang semuanya tertera nama baru dirinya.
“Nama mu sekarang Meida Jaslin Atmadja, anak sah hasil perkawinan antara Gilbert Atmadja dan Zaina Lee. Data mu sudah sah tercatat di Negara. Kamu tak keberatan dengan nama baru mu nak?” Meida menggelengkan kepalanya sambil memeluk lengan Daddy-nya.
“Tidak sama sekali Dad. Aku senang, karena Daddy tak membuang nama yang telah diberikan orang tua angkatku.” Gilbert tersenyum sambil mengelus kepala Putri perempuannya
“Daddy tidak akan membuangnya. Itu bukti terima kasih dan rasa hormat Daddy pada orang tua angkat mu yang telah tulus merawatmu. Daddy sangat menghargainya.” Meida tersenyum sambil merapikan kembali dokumen tersebut. Ia ingin menanyakan keberadaan kakak lelakinya yang tak dilihatnya sejak tadi.
“Oh yah Dad, ko Andress kemana? Kenapa gak ikut kesini?” Gilbert menolehkan kepalanya kearah Jack yang sedang memainkan ponselnya. Jack yang di pandang om nya pun langsung meletakan ponselnya lalu menjawab pertanyaan sepupu perempuannya.
“Nanti Ko Andress akan menyusul kesini. Dia sedang memperpanjang visa di Surabaya.” Jawab santai Jack yang membuat Meida langsungnya membelalakkan mata.
“Visa? Ko Andress mau kemana?” Tanya menyelidik Meida kearah Daddy dan sepupunya.
“Iya. Koko mu akan melanjutkan study kedokteran nya di New Zealand bulan ini.” Sahut Gilbert sambil mengusap kepala Putrinya.
“Kenapa ko Andress belum bilang sama aku Dad? Aku baru tahu dari kalian loh.” Seru Meida dengan wajah sendunya.
“Ko Andress tak ingin mengganggu waktu mu dan suami mu Ibu Negara. Nanti juga dia bilang sendiri.” Sahut Jack yang kembali merebahkan tubuhnya.
Dia pergi karena ingin menghindari mu Meida. Dia ingin menghapus rasa cintanya padamu dan merubahnya menjadi rasa sayang. Rasa sayang kakak, pada adik perempuannya.
-
“Kebetulan sekarang anggota keluarga Mendiang Pak Atmadja sudah lengkap. Disini saya akan menyampaikan wasiat beliau sekaligus mengurus perdataan pengesahan mengenai ahli warisnya.” Ruang keluarga itu kembali hening. Meida dan Johan berjalan mengarah pada Pak Albert dan 3 rekannya yang sudah mempersiapkan tumpukan berkas.
“Silahkan Tuan Johan dan Nyonya Jaslin untuk mendatanginya beberapa berkas disini. Dan ini ada surat titipan dari Mendiang Tuan Max untuk Tuan Johan sebelum meninggal.” Johan mengambil surat dengan sampul berwarna putih lalu menyimpan di balik jas navy nya.
“Terima kasih.”
“Di tangan saya ini berisi berkas penting beserta aset yang Tuan Atmadja tinggalkan kurang lebih selama 20 tahun ini, untuk disampaikan pada Putra kandung beserta cucu perempuannya.” Meida dan Johan saling pandang dengan mengangkat kedua bahunya.
“Tuan Johan dan Nyonya Jaslin bisa membaca ulang surat wasiat tersebut agar tidak ada kekeliruan. Disaksikan langsung oleh anggota keluarga, agar tidak ada kesalahpahaman untuk kedepannya.” Albert menyodorkan surat wasiat asli yang disimpannya kehadapan Meida dan Johan yang sama-sama belum paham. Mereka baru dengar dari orang sekelebatan mengenai warisan tersebut, dan tidak langsung dari sumbernya seperti sekarang.
“Seperti yang kita ketahui bersama, mendiang Tuan Maxime Atmadja mewariskan 75% kekayaannya kepada Saudara Louis Johan Atmadja, selaku Putra kandung dari istri pertama nya. Dan 25% diwariskan kepada Saudari Jaslin selaku cucu perempuan satu-satunya. Berkas ini merupakan bukti pengalihan kepemilikan Rumah Sakit Hospital Internasional Centre dari pemilik sebelumnya Mendiang Tuan Maxime Atmadja kepada Nyonya Jaslin selaku pemilik generasi selanjutnya. Dan berkas ini berisi aset-aset milik Mendiang Tuan Maxime Atmadja, baik berupa aset properti maupun real estate yang diwariskan pada Tuan Johan.”
__ADS_1
Meida dan Johan pun menandatangani beberapa berkas tersebut dengan teliti, mengesahkan kekayaan yang diwariskan pada mereka yang kini telah sah menjadi milik mereka sepenuhnya.
-
Setelah shalat isya, Meida dengan antusias membuka kado yang diberikan oleh orang tercintanya. Ia dengan di bantu Melvin membuka satu persatu kado tersebut.
“Wahhh By, kalung ini indah.” Meida dengan antusias menunjukkan sebuah kalung berlian berliontin biru yang sama dengan yang dikenakannya
“Ini kado dari siapa sayang?” Tanya Melvin sambil mengamati kalung tersebut. Kalung berlian yang harganya sangat fantastis.
“Ini kado dari Mamih. Ini pasti mahal By ... kalung ini sama dengan kalung yang kupakai sekarang.” Tunjuk Meida kearah kalungnya yang terhalang mukena.
“Coba saya lihat!” Meida membuka mukenanya. Lalu memperlihatkan kalung yang tersembunyi di balik bajunya.
“Beda bentuk berliannya sayang. Warna berliannya doang yang hampir sama. Mau dipakai sekarang?” Meida menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia mengangkat rambutnya membiarkan suaminya memasang kalung dilehernya.
“Perfect!” Puji Melvin sambil mencium pipi istrinya.
Makasih Mamih, kalungnya udah aku pake. Kekeh Meida dengan mengelus kalung berliannya. Ia kembali membuka kado yang diberikan orang tuanya.
“By, kita dapet tiket honeymoon keliling Eropa.” Melvin tersenyum sambil memeluk istrinya dari samping.
“Gak usah sayang. Aku dulu itu ngomong cuman ngasal. Kamu tahu sendiri kan waktu itu aku takut bercampur gugup.” Melvin memainkan bibirnya sambil menyandarkan kepala di bahu istrinya.
“Kalau kamu mau kesana. Saya mah ayo aja! Yang penting kamu seneng.” Meida kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia membiarkan kepala Melvin tidur dipangkuannya.
“Yang, kata Papih sama Daddy. Pernikahan kita kan 4 hari lagi. Gedung sama WO nya udah siap, pokoknya udah clear semua. Tinggal besok jadwal kita Fitting baju pengantin di butik saya. Kamu udah kuat kan jalan? Kalau itu nya masih sakit, biar besok saya yang gendong.” Meida pun terkekeh sambil mencubit pelan pipi suaminya. Sebelah tangannya dengan lembut mengelus rambutnya.
“Aku udah bisa jalan By, tapi gak bisa cepet-cepet. Berarti besok kita ke Surabaya dong?” Melvin menganggukkan kepalanya seraya memegang tangan istrinya lalu menciumnya.
“Besok siang kita berangkat ke Surabaya. Terus nginep di rumah Papih dan Mamih. 2 harinya kita di pingit sayang, saya di rumah Daddy dan kamu di rumah Papih. Selama 2 hari kita gak bisa ketemu nanti. Ketemu-ketemunya di acara resepsi pernikahan.” Meida pun tertawa melihat wajah tak bersemangat Melvin. Ia dengan lembut membelai wajah suaminya,
“By, itu cuman 2 hari bukan sebulan. Kamu bisa melewatinya sayang, lagian nanti kita ketemu lagi ini.”
“Gimana kalau saya kangen?” Meida menggigit bibirnya dengan alis yang bertautan.
“Kamu bisa telpon aku sayang, kamu bisa video call. Ada yang mudah kenapa di bikin susah.” Sahut Meida yang kembali membuka kado yang diberikan oleh Bi Ina dan Melisa.
Ia terlebih dahulu membuka kado dari Melisa yang terbungkus kotak warna pink.
Meida langsung mengangkat 5 ling*rie yang diberikan adik iparnya sambil menggelengkan kepalanya. Melvin yang tidur pun langsung terbangun dengan tersenyum,
__ADS_1
“Pake malam ini yah sayang.” Melvin mencium pipi istrinya yang bersemu merah sambil merapikan rambut istrinya.
“By, ini transparan banget. Lihat! Kayak puring! Bawahnya gak nutupin paha aku, sementara atasnya cuman ada tali yang cuma bisa nutupin setengah dada. Gak pake ini ataupun pake ini, kamu tetep aja ngegarap ladang aku.” Melvin kembali tertawa sambil mengambil lingerie tersebut dari tangan istrinya.
“Yaudah yang ini jangan di pake, tapi pake yang di lemari aja yah. Menyenangkan hati suami itu besar loh pahalanya.” Rayu Melvin sambil mengedipkan sebelah matanya dengan tangan menoel-noel dagu istrinya. Meida menarik nafasnya kasar, la menatap kearah suaminya yang sedang mencium tangannya. Ia selalu saja kalah jika berhadapan dengan suaminya yang selalu saja membuatnya tak berkutik.
“Yaudah gimana nanti aja By.” Meida kembali merapikan kadonya. Membuang sampah yang berserakan di atas karpet lalu bersandar di bahu suaminya.
“Oh yah sayang, tunggu sebentar!” Melvin berjalan kearah laci untuk mengambil dompetnya.
“Sayang, aku mau kasih ini! Kamu boleh pegang semuanya!” Melvin mengeluarkan beberapa kartu debit dari dalam dompetnya.
“Tadi aku juga dapet kartu debit dari Papih dan Paman Johan By, katanya buat uang jajan.” Meida mengambil kartu debit yang di simpan di balik casing ponselnya lalu memperlihatkan pada suaminya.
“Kartu itu kamu simpan aja sayang. Bukannya saya tak menghargai pemberian Daddy ataupun Paman Johan, tapi saya masih mampu menafkahi kamu.” Meida menganggukkan kepalanya dengan mengerucutkan bibirnya. Melvin memberikan satu kartu debit berwarna gold ke tangan istrinya,
“Ini nafkah dari saya. Kamu bisa menggunakan kartu ini untuk membeli apapun sesuai keinginan kamu. Bila perlu kamu habiskan saldonya. Beli apapun yang membuat kamu senang selagi itu ada manfaatnya.” Terang Melvin lalu memberikan kartunya lagi.
“Ini tabungan saya untuk masa depan kita. Untuk dipergunakan buat anak-anak kita kelak, agar mereka tak kekurangan apapun.” Lanjutnya sambil meletakkan kartu debit yang satunya lagi.
“Ini gaji saya selama bekerja di perusahaan Papih, tidak tahu berapa saldonya karena saya belum pernah mengeceknya.” Meida diam mematung melihat beberapa kartu debit yang berada ditangannya.
“Ini pendapatan saya dari butik dan toko yang setiap bulan Steven kirim.” Meida memandang wajah Melvin dan kartu Debit itu bergantian.
“Dan yang terakhir ini pendapatan saya dari restoran. Kamu boleh pegang semuanya.” Melvin meletakkan ke 5 kartu debit di tahan istrinya.
“Ini kebanyakan sayang.” Melvin menggelengkan kepala dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Yaudah, kamu pegang 4 saya ambil 1. Gimana?”
“Gimana kalau saldonya aku habisin semua.” Melvin pun tersenyum lalu mencium bibir istrinya.
“Habisin aja. Nanti saya ngumpulin lagi, karena istri yang baik itu istri yang menghabiskan uang suami. Karena saya kerja pun hanya untuk kamu dan anak kita nanti sayang. Do'akan saya agar selalu sehat, agar saya bisa ngumpulin banyak uang buat kamu.” Meida pun tersenyum sambil mencium bibir suaminya.
“Wo ai ni, Hubby!”
-
☕☕☕☕☕
Jempolnya jangan pelit-pelit yah🤗😘🥰
__ADS_1