
“Kamuuuu ....” Lirih Melisa menatap dalam wanita pucat yang berdiri didepannya yang usianya sebaya dengannya. Lalu ia tersenyum simpul dengan tatapan mengintimidasi.
“Yah aku. Maaf mengganggu waktu mu Melisa!” Sahut wanita itu langsung duduk di sofa tanpa menunggu persetujuan dari Melisa. Ia menelisik setiap penjuru ruang yang tidak mengalami perubahan sama sekali sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di tempat itu. Beberapa foto keluarga besar Nagara terpampang jelas di dinding ruang tersebut, yang di dominasi warna putih dan abu-abu.
Sejak 2 tahun lalu, ruang ini tetap sama saja. Aku yakin, Melvin sulit melupakan ku. Dulu, ruang ini kami tata bersama. Aku ingat sekali, sering menghabiskan waktu bersamanya disini. Batin wanita itu yang kembali menatap Melisa yang sedang menatapnya tajam.
“It's Okey. Darimana kau tahu aku disini?” Wanita itu membuka kancing mantelnya. Kondisi wajahnya sangat berbeda dengan pertemuan terakhir mereka. Wanita yang biasanya tampil glamor dan berkelas, kini berpenampilan seadanya. Kelopak mata yang sedikit hitam dan membengkak, wajah yang pucat, hidung yang memerah, menandakan wanita itu menangis dalam waktu yang lama.
“Kau tak perlu tahu. Aku mudah menemukan mu disini!” Jawabnya dengan dingin. Ia menyembunyikan sebelah tangannya yang bergetar ke dalam kantong mantel agar Melisa tak melihatnya, bahwa dirinya sekarang sedang ketakutan. Ketakutan terhadap mimpi-mimpi buruk yang beberapa hari ini menghantuinya hingga ia tak berani untuk terlelap.
“Kukira kau melarikan diri. Karena nomor ponsel mu, sejak kemarin tidak bisa dihubungi. Tapi aku dengan berbaik hati menunggu itikad baik dari mu, hingga sampai sekarang video itu belum tersebar.” Ketus Melisa seraya melipat tangannya. Wanita itu langsung menundukkan wajah, memilin ujung mantel yang dikenakannya.
“Aku tidak akan melarikan diri. Aku bukan pengecut!” Melisa terkekeh melihat wajah wanita yang duduk didepannya yang sedang menahan amarah di balik wajah ketakutan. Walaupun dia menyembunyikan tangan di balik mantel, Melisa dapat melihatnya dengan jelas bahwa tangan itu bergetar.
__ADS_1
“Apa kau takut Sandra?”
Yah, wanita itu adalah Sandra. Wanita yang akan menghancurkan hidup orang lain, yang kini berbalik pada dirinya sendiri. Ia tinggal menunggu kehancurannya, setelah menggali kubur nya sendiri.
“Apa yang harus kutakut, Kan?” Tanya nya dengan suara dingin namun bergetar. Melisa pun tersenyum dengan menukikkan kedua alisnya, ia mengerlingkan matanya dengan tangan yang masih bersedekap dada.
“Hanya dirimu sendiri yang mengetahuinya!” Ejek Melisa seraya meminum air yang berada di depannya. Sandra menatap nyalang wanita yang berada di depannya dengan tangan yang mengepal erat. Ia sangat membenci wanita sok polos yang kini menjadi duri dalam hidupnya. Menjadi ancaman, hingga dirinya tidak bisa bergerak bebas.
“Oh yah, apa maksudmu datang kesini menemuiku? Aku merasa tersanjung dengan kehadiran mu disini. Maaf, aku tidak bisa menjamu mu dengan layak.” Sandra menatap tajam Melisa yang kini sedang tersenyum meledek kearahnya. Amarah dalam dadanya kini memuncak, tapi ia berusaha menahannya. Ia tidak ingin berbuat gegabah sebelum mendapat kesempatan.
“Bagaimana keputusan mu? Karena ini semua tergantung padamu.” Sandra menarik nafasnya kasar. Ia memejamkan mata untuk mengumpulkan kekuatan. Ia ingin mengakhiri masalah yang di buatnya, dan tak ingin hidup dalam ketakutan. Ia akan menerima semua konsekuensi yang telah diperbuatnya, walaupun jika nanti ia hamil tanpa seorang suami.
“Aku sudah memutuskan untuk tidak menggangu mu dan keluarga mu. Aku tidak akan menggangu hidup Melvin berserta istrinya, asalkan kamu menghapus Video itu. Aku janji akan menghilang dari pandangan kalian. Aku ingin menata hidup ku menjadi lebih baik lagi. Karena kusadar, sesuatu yang bukan milikku, walaupun ku jatuh bangun memperjuangkannya, itu tetap tidak akan menjadi milikku.” Ujarnya dengan suara yang melemah. Ia menatap Melisa dengan tatapan Menghiba dengan mata yang memerah.
__ADS_1
“Apa aku bisa mempercayai ucapan mu? Bagaimana setelah aku menghapus video itu kau malah mengingkari janji mu?” Sandra langsung memegang lengan Melisa dengan wajah penuh kesungguhan. Matanya sudah berkaca-kaca, pertanda air mata sebentar lagi akan jatuh.
“Aku janji tidak akan Melisa. Sudah cukup aku hidup dalam ketakutan beberapa hari ini. Aku ingin hidup normal. Karena prioritas ku sekarang bukan ego dan ambisi ku lagi. Tapi perasaan kedua orang tuaku. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa karena perbuatan ku. Sudah dulu aku mengecewakan mereka dengan meninggalkan Melvin, dan aku tak ingin mempermalukan mereka jika video itu tersebar. Dan aku pun menyesal, kenapa dari dulu aku tidak bisa berpikir jernih, dan malah mementingkan egoku.” Hati Melisa tersentuh, ketika melihat kesungguhan Sandra yang memegang lengannya dengan menangis. Ia pun tahu, beberapa hari ini wanita di depannya tidak bisa hidup tenang, karena kunci kehancuran hidupnya berada ditangannya.
“Jika kau bersungguh-sungguh dengan ucapan mu, aku akan mempertimbangkannya. Aku bukan kasihan pada mu, tapi aku sangat kasihan pada tante Lucky. Kau tahu bagaimana tante lucky bersimpuh di kaki ko Melvin agar keluarga kami tidak memutuskan hubungan dengan keluargamu, sebelum kau berangkat ke Amerika? Dan aku tidak bisa bayangkan perasaannya jika melihat video itu, bertapa kecewanya ia kepada putri kesayangan yang di bela-belanya selama ini malah melempar kotoran ke mukanya.” Melisa memegang bahu Sandra agar melihat kearahnya. Hingga mata mereka saling bersitatap.
“Sandra, jika keluarga kami tidak berbelas kasihan, dan dendam pada keluarga mu. Mungkin perusahaan ayah mu sudah bangkrut dan dia mendekam di penjara. Tapi keluarga kami tidak seperti itu, tidak mencampurkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan. Kau tahu, walaupun keluarga kami kecewa padamu. Tapi Papih tetap membantu ayah mu agar perusahaan tetap berdiri sampai sekarang, keluarga kami pemilik lebih dari setengah saham di perusahaannya ayah mu. Papih membelinya, ketika ayah mu membutuhkan seorang investor.” Melisa menghentikan ucapannya. Ia melepaskan pegangannya lalu berdiri memandang foto keluarga besarnya yang terpampang jelas di dinding.
“Dan jika kemarin Papih mengetahui kau sudah merencanakan perbuatan asusila pada ku. Mempersiapkan preman untuk menculik dan memperkosa ku, kau pasti tahu apa yang akan dilakukan papih? Bisa saja kau mendekam di penjara, dan keluarga mu menjadi gelandangan dalam waktu beberapa menit. Tapi aku tak sampai hati berbuat seperti itu, karena itu bukan sikap ku. Tuhan telah menganugerahkan sikap lembut dan belas kasih pada ku, hingga aku tak sampai hati menceritakan pada Papih. Dan jika Ko Melvin mengetahui soal kemarin, kau pasti tahu apa yang terjadi? Kau pasti hancur melebihi ini Sandra. Kau tahu sendiri, ko Melvin tidak akan diam jika ada orang yang mengusik keluarga nya. Dan maaf kemarin aku melakukan itu, karena aku terpaksa. Aku harus memberi pelajaran pada mu, agar kau tak bisa berbuat seenaknya dengan menghancurkan kehidupan orang lain. Itu saja?” Sandra menangis tergugu seraya menundukkan kepalanya. Ia malu telah berlaku aniyaya kepada keluarga Nagara yang selama ini menolong keluarganya. Ia sangat malu pada Melisa, ia sempat merencanakan perbuatan keji untuk menghancurkan hidup gadis itu untuk kembali mendapatkan kakaknya.
“Ma..maafkan aku Melisa...”
-
__ADS_1
Maaf yah Up nya sedikit 🙏🙏🙏
Jangan lupa like sama Votenya 😘😘😘