
“Yang, bangun! Shalat subuh.” Meida mengerjapkan matanya. Ia menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya, dengan menutup matanya kembali.
“Jam berapa sekarang By?” Melvin mengambil ponsel di atas nakas. Lalu mengganti lampu tidur menjadi lampu kamar, agar kamar itu kembali terang.
“Jam setengah empat, yang. Ayoo bangun, kita shalat subuh berjamaah.” Ajak Melvin sambil menyampingkan tubuhnya kearah istrinya. Ia merapikan rambut istrinya yang menutupi matanya yang masih terpejam.
“Mandinya gantian! Kamu dulu aja yah. Kalau udah selesai, nanti bangunin aku.” Pinta Meida sambil mengeratkan selimutnya.
“Gak mau mandi bareng yang? Pahalanya besar loh!” Goda Melvin sambil menoel-noel wajah istrinya. Meida membuka matanya lalu menepis tangan suaminya dengan cemberut.
“Gak mau, kamu mesum. Sana mandi!” Melvin tersenyum ketika Meida mendorong tubuhnya untuk menjauh darinya. Bukannya menjauh, Melvin malah merebahkan dirinya kembali sambil memeluk istrinya.
“By, bukannya kamu mau mandi, kenapa peluk-peluk aku?” Kesal Meida karena Melvin kini membelit tubuhnya dengan kaki dan tangannya.
“Diem sayang, cuma 5 menit kok!” Melvin mengelus rambut istrinya dengan mencium pucuk rambutnya berulang-ulang. Meida pun diam, ia kembali memejamkan matanya, karena masih ngantuk.
“Jangan tidur lagi sayang! Bentar lagi waktu subuh!” Melvin menepuk-nepuk pundak istrinya yang kembali tertidur.
“By, aku masih ngantuk. Kamu mandi duluan aja gih!” ucap Meida yang malah melingkarkan tangannya di perut Melvin. Dengan menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.
“Bukannya kamu nyuruh saya mandi? Kenapa kamu yang nemplok sih? Gimana saya perginya?” Meida semakin erat memeluk suaminya dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
“Diem By, Hanya 10 menit.” Melvin tak bisa berkata lagi mendengar permintaan istrinya. Ia membiarkan istrinya memeluknya, sementara tangannya memainkan rambut panjangnya.
Meida kembali memasuki alam mimpi. Tidur di pelukan suaminya, membuatnya nyaman dan cepat terlelap. Dada bidang suaminya seperti memberinya magnet untuk tidak berjauhan dari nya.
“Yang udah 10 menit. Bangun atau saya cium.” Meida tak menyahuti perkataan suaminya. Ia masih terlelap ketika suaminya menggoyang-goyangkan tubuhnya agar bangun.
Karena tak mendapat respon dari istrinya. Melvin membalikkan posisi tidur istrinya yang menyamping menjadi di bawahnya. Ia menumpu sebelah tangannya di samping kepala istrinya.
“Bangun atau saya cium kamu? Saya serius loh.” Ancamnya dengan tersenyum. Meida langsung membuka matanya dan mendapati wajah suaminya yang sudah berada di atasnya. Wajahnya langsung panik dan ia mendorong pelan dada suaminya agar bangun.
“Kamu mah ngancam mulu! Aku udah bangun kok.” Sewot Meida dengan mengerucutkan bibirnya. Melvin malah tersenyum dengan tubuh yang konsisten berada di atas istrinya walaupun istrinya terus mendorongnya agar menjauh.
“By, jangan mesum, masih pagi.” Melvin malah mengedipkan sebelah matanya dan mengikis jarak dengan istrinya. Meida pun tak bisa berkutik ketika suaminya langsung ******* bibirnya dengan memegang tangannya agar tak bisa bergerak.
“Morning kiss sayang.” Kekeh Melvin sambil mengusap wajah istrinya yang cemberut.
“Kenapa sih kamu hobi banget nyium bibir aku?” Kesal Meida sambil memegang bibirnya yang terasa kebas. Melvin malah tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Bibir kamu memabukkan sayang. Bibir mu candu untuk saya.” Melvin mengusap lembut bibir istrinya yang merah marun.
“Kamu pernah mendengar Hadist yang diriwayatkan oleh Ibunda Siti Aisyah Radhiyallahu Anha, alasan kenapa saya sering mencium mu?” Meida menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. Sementara Melvin menciumi wajahnya dengan bertubi-tubi.
“Kamu ingin mendengarnya?” Meida kembali menganggukkan kepalanya. Menahan kepala suaminya yang akan menciuminya kembali.
__ADS_1
“Dari Siti Aisyah R. A, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memegang tangan istri sambil merayunya (dengan kata-kata indah), maka Allah SWT akan menuliskan satu kebaikan, dan melebur satu kejelekan serta mengangkat satu derajat. Apabila merangkul istri, maka Allah SWT akan menuliskan sepuluh kebaikan dan melebur sepuluh keburukan, dan mengangkatkan sepuluh derajat baginya. Apabila mencium istri, maka Allah SWT akan menuliskan dua puluh kebaikan, melebur dua puluh keburukan, dan mengangkat dua puluh derajat baginya. Apabila bersenggama dengan istri, maka hal yang demikian lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Terang Melvin menatap wajah istrinya yang diam terpaku. Meida mengerjap-ngerjapkan matanya menepuk-nepuk wajah suaminya,
“Kamu tahu darimana By?” Tanya Meida dengan wajah tak percaya mendengar suaminya mengucapkan sebuah hadist dengan jelas dan benar.
Melvin merebahkan tubuh di samping istrinya dengan memandang langit-langit kamar dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman.
“Tahu dari kitab yang diberikan Buya Hanafi sebelum saya pulang kesini. Tahu gak? Saya membacanya sambil tersenyum-senyum.” Kekeh Melvin menyampingkan posisinya mengarah pada istrinya. Meida pun memiringkan tubuhnya, menumpu kedua tangannya menatap kearah suaminya.
“Emang kitab apa yang kamu baca?” Melvin menumpu kepalanya dengan sebelah tangannya. Dengan sebelah tangan merapikan rambut istrinya yang tergerai menggunakan tangannya.
“Kamu yakin ingin tahu?” Meida menganggukkan kepalanya. Membiarkan tangan suaminya memainkan rambutnya.
“Saya membaca Kitab Qurratul 'Uyun tentang malam pertama yang merupakan karangan dari Syaikh Muhammad Al-Tahami. Dan saya juga membaca Bab Nikah Kitab Fiqih Matan Goyah Wa Taqrib (Panduan Rumah Tangga). Saya mendapat banyak ilmu setelah membaca kitab tersebut, mengenai kehidupan berumah tangga dan hubungan suami istri,” ucapnya pelan. Meida mendengarkan ucapan suaminya dengan seksama.
“Saya jadi tahu, adab dan etika berjima itu seperti apa. Tidak sesuka kita, tapi ada aturannya.”
Blusshhhh
Wajah Meida langsung merah merona mendengar penjelasan suaminya. Ia menatap dalam wajah Melvin dengan malu-malu.
“By, apa kamu akan meminta hak mu sebagai suami?” Tanya nya sambil membelai wajah suaminya.
“Tidak. Saya tidak akan memaksamu, saya akan menunggu mu sampai kamu siap sayang. Saya hanya tergiur dengan pahalanya saja. Tapi bohong jika saya tak tergoda padamu, wanita cantik dengan status istri sah saya, siapa yang tak akan tergoda dengan istrinya sendiri bila berdekatan seperti ini?” Meida menggigit bibirnya sambil memainkan hidung mancung suaminya. Lalu memainkan alis hitam tebalnya tanpa berani melihat matanya.
“Jika aku memberikan mu segalanya, apa kamu akan meninggalkanku?” Melvin mengerutkan dahinya. Ia menangkap tangan istrinya agar menatap matanya. Sorot mata kehitamannya berhasil membuat istrinya terdiam dengan menelan salivanya kasar.
Melvin mengeratkan pelukannya. Ia membalikkan tubuh istrinya yang kini berada di atasnya.
“Are you sure?” Meida menahan bobot tubuhnya dengan menumpu kedua tangan di dada suaminya agar ia tak menindihnya.
“Mata mu, hidung mu, bibir mu, rambut mu, adalah satu kesatuan yang ingin saya miliki dari dulu. Saya sudah berjanji di hadapan Allah, di hadapan keluarga mu, di hadapan keluarga saya. Jika saya akan menjadikan mu satu-satunya. Kamu berhasil membuat saya cinta mati pada mu sayang.”
Meida mengangkat tangannya. Ia merapikan rambut suaminya dengan menyisir menggunakan tangannya.
“Kamu pun berhasil By. Membuatku sangat mencintai mu. Membuatku takut kehilanganmu. Membuatku ketergantungan padamu. Jangan pernah menghilang lagi, kamu adalah hidupku.”
Melvin tersenyum sambil membelai wajah istrinya. Ia kembali mengikis jarak dengannya sambil menyusupkan sebelah tangan di pundak istrinya. Sebelah tangan melingkar di pinggangnya. Mereka pun saling pandang dengan tersenyum,
“Wo ai ni My Sunshine.” Ia kembali ******* bibir istrinya yang seperti candu baginya. Ia menggulingkan pelan tubuh istrinya yang kini berada di bawahnya. Meida membelai wajah suaminya lalu turun meraba lehernya dengan mata terpejam.
Ia membalas ******* dan hisapan suaminya dengan lembut. Nafas mereka kembali menderu seiring pertukaran salivanya. Suara kecapan mereka terdengar, memenuhi kamar tersebut.
Melvin dengan liar membelit lidah istrinya dengan mata terpejam. Ia menyesapnya lalu kembali **********. Bibirnya mulai menyusuri leher jenjang istrinya dengan matanya yang masih terpejam memegang kepalanya, tangannya mulai bergelirya meraba perut lalu naik kearah dua bukit kembar. Ketika ia akan memegangnya, Meida lebih dulu memegang tangannya. Hingga Melvin melepaskan bibirnya dari ceruk leher istrinya lalu menatapnya. Meida melepaskan tangannya dari kepala suaminya dengan nafas terengah-engah, ia kembali tersenyum dengan mengusap-usap bibir suaminya yang masih diam mematung menatapnya dengan menghiba.
“Kita lanjutkan nanti malam yah, biar leluasa. Sekarang udah Tahrim, sebentar lagi Adzan.” Senyum tiba-tiba terbit di wajah lesu Melvin. Ia seakan mengerti kode yang disampaikan istrinya secara terang-terangan melalui perkataannya.
__ADS_1
“Kamu serius yang?” Meida menganggukkan kepalanya dengan wajahnya yang kembali memerah.
“By, kamu berhak atas hidup dan matiku. Kamu berhak mendapatkannya, karena kamu adalah suamiku. Aku berdosa jika tidak menyerahkannya pada mu, dan tak menjalani tugas dan kewajiban ku sebagai seorang istri dengan baik. Aku takut Malaikat melaknatku, karena tak melayanimu dengan baik.
Bukankah Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 223:

Nisaa'ukum harsul lakum fa'tu harsakum annaa syi'tum wa qaddimu li'anfusikum, wattaqullaaha wa'lamuu annakum mulaaquh, wa basysyiril-mu'miniin
Artinya:
"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman."
“Sekarang kamu mandi, sebelum aku berubah pikiran.” Melvin kembali mencium kening dan bibir istrinya lalu bangun dengan wajah sumringahnya.
“Saya mandi dulu! Saya sangat menantikan ibadah bersama kita nanti malam. Saya mencintaimu.” Melvin turun dari ranjangnya dengan penuh semangat. Lalu masuk terburu-buru ke dalam kamar mandi. Sementara Meida memegang wajahnya yang memanas dengan merenungi perkataannya.
Meida apa yang kamu ucapkan barusan? Apa yang akan terjadi nanti malam? Bagaimana jika dia benar-benar menuntut haknya?
Gumam pelannya sambil memukul-mukul pelan kepalanya. Ia kembali menutup tubuh dengan selimutnya dengan mengguling-gulingkan tubuhnya,
Apa kami akan melakukannya nanti malam?
Arrgghhhhhh
Meida kembali mengguling-gulingkan tubuhnya dengan wajah frustasi, ia tidak menyadari bahwa ia sudah berada di pinggir ranjang.
Yaa Allah, apa aku harus menyerahkan lahir dan batin ku untuk ahhhhh
Meida terguling ke bawah ranjang. Melvin yang baru melepaskan pakaian pun langsung berlari keluar ketika mendengar teriakan istrinya,
“Sayang, kamu kenapa?” Melvin membulatkan matanya melihat kearah selimut yang tergulung di bawah ranjang. Ia membuka selimut istrinya dengan panik lalu membopong tubuhnya ke ranjang. Meida mengaduh dengan mengusap-usap lengan dan kakinya.
“Kamu kok bisa jatuh kayak gini sih?” Meida langsung memandang suaminya dengan cengengesan. Ketika ia melihat kearah bawah, ia terlonjak kaget dan berteriak sambil menutup matanya ketika melihat benda bergelantung di bawah pusar suaminya.
“Kamu kenapa yang?” Tanya Melvin yang belum menyadari keadaannya yang tak memakai sehelai baju pun.
Meida membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya, dengan tangan menunjuk kearah suaminya.
“By, kenapa kamu gak pake handuk? Mata ku sudah ternodai pagi-pagi.” Sungut Meida sambil mengibaskan tangannya agar Melvin pergi. Wajahnya kembali memerah ketika melihat benda pusaka suaminya untuk pertama kalinya.
Mendengar perkataan istrinya, Melvin membulatkan matanya, ia menundukkan kepalanya melihat kearah bawah. Ia pun terlonjak kaget dengan tubuhnya yang tak memakai sehelai benang pun. Dengan wajah shock, ia kembali lari terbirit-birit kearah kamar mandi dengan secepat kilat.
-
__ADS_1
Kuyy vote sama ☕☕☕nya
Jangan lupa like sama komennya😘♥️♥️♥️