Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Wo Ai Ni


__ADS_3

Setelah Jack pergi dari ruang mereka. Meida memperhatikan gerak-gerik Melvin yang sedang menggeserkan belangkar ke sampingnya. Ia di buat jengah, dengan kelakuan lelaki yang sedang memakai training hitam dengan sweater toskanya yang sedang tersenyum devil kearahnya. Meida mengeratkan selimut sampai lehernya, menatap waspada kearah lelaki yang sedang mengedipkan satu mata kearahnya.


Ya Allah, kenapa jantungku semakin berdebar? Apa yang akan dilakukan lelaki menyebalkan itu dengan menggeser belangkarnya? Apa kami akan tidur seranjang berdua seperti yang sering kulihat di televisi? Apa kita harus tidur bersisian? Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Padahal ini bukan pertemuan pertama, kami sering bertemu dan bersama. Kenapa sekarang rasanya beda? Batin Meida sambil mengusap-ngusap dadanya mengatur nafasnya yang sesak seperti akan meledak.


“Ngapain kamu geser-geser belangkar?” Tanya pura-pura Meida menunjuk kearah belangkar yang kini berada di sampingnya. Ia bangun dari tidurnya dan kembali menyandarkan tubuhnya di bantal-bantal yang sudah tersusun. Pandangannya tak lepas menatap suaminya.


Melvin tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia malah naik ke atas belangkarnya, dan tidur di sampingnya.


“Di luar lagi hujan, udaranya dingin. Lagian gak salahkan tidur di samping istri? Cuaca seperti mendukung untuk kita berdekatan.” Meida kembali mencebikkan bibirnya. Ia menggeser sedikit belangkar Melvin agar menjauhinya.


“Modusss!!! Bilang aja kalau mau deket-deket sama saya!” Melvin pun terkekeh dengan wajah menggodanya. Ia kembali menggeser belangkarnya agar lebih rapat dengan Meida. Ia menggeserkan tubuhnya dan kini satu belangkar dengan istrinya.


“Kamu tahu aja sayang! Anggap aja saya sedang melepas rindu dengan mu.” Meida pun di buat geli dengan jawaban suaminya. Ia menyentil kepala Melvin yang kini sedang memeluk pinggangnya.


“Melvin Nagara, Jauhkan kepala mu dari pinggang saya. Geli tahu! Mau saya buat kepala mu benjol?” Ancam Meida yang sudah menggeser tubuhnya sampai ketepian belangkar.


Melvin pun melerai pelukan di pinggang istrinya, ia pun terbangun lalu menggeserkan tubuh istrinya ke tengah, agar tidak jatuh. Meida kembali memelototkan matanya dengan wajah kembali memerah, ketika Melvin mengangkat tubuhnya.


“Sayang, tadi kamu diem aja saat saya cium. Kenapa sekarang sikapmu kembali menyebalkan seperti semula? Mau saya cium lagi?” Melvin memanyunkan bibirnya yang langsung mendapat tepakan dari istrinya. Ia memelototkan matanya sambil memegang bibirnya yang terasa sakit dan panas terkena tepakan tangan istrinya yang super kuat.


“Jangan membahas itu! Itu pengamalan pertama saya! Secret! ” Wajah Meida kembali memerah sampai ke cuping hidungnya. Ia mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya, dengan menyampingkan posisinya karena malu melihat wajah suaminya. Melvin mengeluarkan nafasnya dengan kepala mengadah keatas, dengan melipat tangannya.


“Apa gini jadi suami? Harus rela jadi tempat sasaran kekesalan istrinya? Malam ini kamu sudah beberapa kali melakukan KDRT sayang. Wajah saya jadi korbannya. Apa kamu mau punya suami jelek?”


Malam kayak gini, bukannya kangen-kangenan, peluk-pelukkan, ini malah kena gamparan. Istriku memang beda. Gumam pelan Melvin yang menggerutu.


Meida menatap kesal wajah suaminya yang sedang menggerutu dengan mendesis. Ia kembali merubah posisinya ke posisi semula dengan tubuh lurus ke depan.


“Kalau jelek, tinggal surgery plastik aja. Udah banyak kok klinik bedah. Lagian kamu sih ngeselin, main deket-deket aja. Saya takut terkena serangan jantung mendadak karena tingkah kamu yang sulit di tebak ini. Adrenalin saya terasa terpacu, punya suami kayak kamu,” ujar Meida yang kembali menyampingkan tidurnya. Melvin kembali menarik nafasnya sambil mengelus-elus dadanya.


Kenapa sikap Meida berubah-ubah kayak gini. Tadi udah nurut, sekarang kembali keras membatu. Yaassaalaammm, saya harus apa  menghadapi singa betina ini?


Meida yang membelakangi Melvin memegang jantungnya yang berdebar kencang. Keringat dingin keluar dari dahi dan lehernya, karena kegugupannya.


“Yaudah, saya minta maaf. Sekarang kita tidur! Kamu baru saja siuman! Harus banyak istirahat! Ini udah jam 11 lebih, waktunya kamu tidur!” Meida yang mencoba memejamkan mata untuk menguasai keadaan kembali membukanya ketika mendengar ucapan suaminya. Perasaannya kembali serba salah, karena untuk pertama kalinya ia tidur dengan lelaki dewasa yang sama-sama dalam kondisi tersadar. Karena terlalu gugup, Meida berubah menjadi orang yang lebih sensitif dan ambekan. Dan nada suaranya pun terdengar sinis dan menyebalkan.


“Saya gak ngantuk karena kebanyakan tidur. Lagian kamu aneh, ketika saya koma kamu suruh saya bangun. Tapi ketika saya bangun, kamu malah suruh saya tidur. Kamu plin-plan! Mau kamu apa sih?”  Sewot Meida sambil menyampingkan posisinya membelakangi suaminya. Melvin pun di buat mengelus dada dengan sifat baru istrinya yang kini lebih sensitif dan ambekan.


“Kenapa kamu jadi sensitif kayak gini sayang? Kayak  gadis yang sedang PMS. Bukan maksud saya begitu, ini sudah malam, Kan? Kamu dalam proses penyembuhan, jadi butuh banyak istirahat biar cepat sembuh. Biar cepat  pulang!” Meida menolehkan kepalanya kearah Melvin dengan wajah cemberutnya yang terlihat imut. Karena dalam hatinya, ia ingin mengobrol dengan suaminya, untuk menghilangkan kegugupan dan kecanggungan diantara mereka. Karena dalam hatinya tak bisa di pungkiri, bahwa ia sangat merindukan sosok yang kini menjadi suaminya.


“Kalau kamu ngantuk, kamu tidur duluan aja. Saya belum ngantuk!” Ketus Meida kembali membelakangi suami nya yang gak peka.  Ia menumpukkan kepalanya pada kedua tangannya yang terlipat dengan memejamkan matanya.


Melvin sabar! Nanti juga dia akan luluh dengan sendirinya.


Sisi kebaikan dalam hati Melvin kembali menyemangatinya, untuk bersabar menghadapi sikap istrinya yang moodnya cepat sekali berubah.

__ADS_1


Melvin pun mendekatkan tubuhnya kearah istrinya yang sedang menahan nafas dengan memejamkan matanya. Ia berusaha belajar menjadi suami idaman, dengan mengusap punggung istrinya untuk menenangkan. Lalu dengan lembut  dia mengusap kepala istrinya yang masih membelakanginya untuk membujuknya.


“Saya tidak akan tidur sebelum kamu tidur. Yaudah, saya akan menemani mu sampai pagi. Tapi jangan ngambek, wajahmu jelek kalau lagi cemberut kayak gitu.” Melvin menoel-noel pipi istrinya agar kembali melihat kearahnya. Tapi sayang, meida masih betah membelakanginya.


“Bukahkah kamu ingin menanyakan sesuatu pada saya? Saya janji akan menjawab pertanyaan mu dengan sejelas-jelasnya. Tapi setelah itu, kamu harus tidur! Gimana?” Mendengar penawaran suaminya. Meida pun langsung membalikkan posisi  menyampingnya dan kembali duduk tegak. Ia melihat kearah suaminya, sambil mengacungkan jari kelingkingnya seperti anak kecil. Kebiasaan yang sering dilakukan, agar orang lain tak mengingkari janjinya.


Melvin pun menautkan jari kelingkingnya sambil tersenyum, dan senyum itu pun menular pada Istrinya. Ia pun menyandarkan tubuhnya kesusunan bantal, agar istrinya bisa menyandarkan tubuhnya padanya agar tidak pegal.


“Sini!” Melvin merentangkan sebelah tangannya. Lalu menarik bahu istrinya agar menyandarkan punggungnya padanya. Meida pun dengan wajah malu-malunya menuruti perintah suaminya, dengan memperbaiki posisinya lalu menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya. Mereka pun mencari posisi ternyaman dengan memakai selimut, karena  dingin angin malam mulai menusuk pori-pori mereka.


“Kamu mau tanya apa dulu?” Tanya Melvin sambil mengusap-usap kepala istrinya yang berada di dada bidangnya. Untuk mengusir kegugupan nya, Meida pun memijit pelan sebelah tangan suaminya yang melingkar di perutnya, dengan harapan dapat mengusir kegugupan yang membelenggu hatinya. Berbeda dengan Melvin, setelah tangannya di pijat oleh istrinya, terasa ada sesuatu yang berdesir aneh dalam tubuhnya. Wajahnya tiba-tiba memerah, dengan menahan nafasnya, apalagi posisinya yang seperti itu.


Dia hanyalah seorang lelaki dewasa, yang memiliki naluri dan nafsu. Tapi ia dengan sekuat tenaga berusaha menahannya. Ia tak mungkin memaksa istrinya untuk melayaninya, di saat keadaan nya seperti itu.  Ia pun sudah berjanji, akan melakukan kewajibannya sebagai suami, jika istrinya sudah benar-benar siap. Dan dia akan melakukannya dengan sukarela, jika istrinya sudah menyerahkan hidupnya untuknya.


Setelah mereka terdiam cukup lama, akhirnya Meida mengeluarkan suara nyaringnya.


“Berapa hari saya koma?” Melvin kembali menarik nafasnya. Cuaca dingin di ruang itu, kini berubah menjadi panas menurutnya. Dinginnya air conditioner di tambah hujan tak bisa sedikitpun menurunkan suhu panas tubuhnya jika berdekatan dengan istrinya.


“Kam..uu koma sekitar satu bulan sayang. Makanya Jack menyuruh kamu untuk terapi, karena kamu sudah lama tidur terbaring. Otot-otot di tubuhmu kaku, karena lama tak digerakkan.” Jawab Melvin dengan suara bergetar. Meida menolehkan wajahnya kearah suaminya dengan menggerakkan sedikit tubuhnya. Lalu ia menatap kearah suaminya dengan mata menyelidik.


“Suara kamu kenapa bergetar? Kamu menangis? Kamu terharu? Aku aja yang koma biasa aja,” kata Meida dengan wajah tak bersalah. Melvin berusaha tersenyum menahan keketiran dihatinya.


Meida please, jangan bergerak! Tolong pahami kondisi saya!


“Sa..ya terharu, karena ka..mu sekarang berada dipelukan saya.” Melvin memeluk erat istrinya. Yang tadinya ia memeluk istrinya dari arah belakang, dan kini ia memeluknya dari arah depan. Meida belum memahami keadaan yang menimpa suaminya, dengan wajah tak berdosa ia melanjutkan pertanyaannya.


Melvin berusaha mengusai dirinya dengan mengucapkan dzikir untuk mengatasi gejolak di hatinya yang semakin membara. Setelah perasaannya cukup tenang, dengan getaran jantung yang belum normal, ia pun menjawab pertanyaan istrinya.


“Sayang, setelah Daddy mengetahui Keislaman saya. Saya diasingkan ke pulau terpencil. Sebenarnya saya tak ingin pergi meninggalkan mu, tapi keadaan yang memaksa saya untuk pergi.” Jawab Melvin sambil memejamkan matanya. Mendengar Jawaban dari suaminya, Meida pun langsung mendongkakkan wajahnyanya kembali.


“Kamu serius?” Melvin menganggukkan kepalanya mencium pucuk kepala istrinya. Dengan tangannya yang sudah melingkar erat dipundak dan pinggang istrinya.


“Saya diasingkan ke perkampungan di pedalaman Sulawesi. Papih menyita semua akses yang saya miliki. Mamih dan Melisa pun terkena imbasnya. Itulah alasan, kenapa kamu tak bisa menghubungi kami selama ini.” Meida masih menatap wajah suaminya dengan kedua tangan diletakkan didada suaminya, untuk memberikan jarak diantara mereka. Perasaannya kembali ketar-ketir ketika Meida menatapnya dengan binar penuh kekaguman.


“Kapan kamu kembali kesini?” Melvin membalas tatapan istrinya dengan binar mata penuh cinta.


“Ketika kamu kritis, saya datang dan langsung menikahi mu. Dan kamu tahu? Papih sudah merestui pernikahan kita, dia datang kesini dan menyaksikannya. Dia menasihati saya agar tidak pernah menyakiti perasaan mu. Karena jika saya menyakiti mu, papih akan membunuh saya,” ucap Melvin yang kini tangannya sudah mendarat di kepala istrinya. Ia pun melanjutkan perkataannya,


“Sayang, mulai sekarang kita harus saling terbuka ya. Jika kamu tak menyukai sesuatu tentang saya, ungkapkanlah. Saya akan memperbaikinya, begitupun kamu. Saya tak ingin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari saya. Kita harus saling transparan. Saya lebih baik kamu memarahi ataupun memukul saya, daripada kamu diam dan menahannya sendiri. Karena saya bukan Tuhan, yang bisa menyelami hati-mu.” Meida menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkat kedewasaan suaminya. Melvin pun mencium kening istrinya lama, dengan mata menilisik ke arah jam dinding. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 00:01, ia langsung mendekap istrinya erat dan membisikkan sesuatu.


“Happy Milad sayang.” Meida mendongkakkan kepalanya kearah Melvin dengan menautkan kedua alisnya.


“Saya Milad? Itu terdengar sangat aneh! Karena saya tak pernah merayakannya. Saya pun tak tahu, kapan saya dilahirkan.” Lirih Meida dengan mata sendu. Melvin berusaha menghibur istrinya melalui perkataannya.


“Benar sayang. Kata Mommy, hari ini bertepatan dengan tanggal kamu dilahirkan. Bertepatan tanggal ini, 22 tahun telah lahir putri cantik bernama Jaslin Putri Atmadja. Kelahirannya membuat iri bulan, hingga tak berani menampakkan dirinya pada malam itu,” Hibur Melvin dengan wajah antusias agar istrinya kembali ceria. Berbeda dengan Meida, matanya malah berkaca-kaca dengan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


“Jangan mengatakan itu. Karena kenyataannya, dulu kehadiran saya tak diharapkan. Dan saya pun terbuang. Hidup saya terombang-ambing oleh takdir, sebelum akhirnya menemukan tempat untuk menepi.” Lirih istrinya. Mendengar kesedihan dari nada suaranya, Melvin pun merasa bersalah. Niat hati nya untuk menyenangkan istrinya, tapi endingnya malah seperti ini.


“Sayang, maksud saya bukan seperti itu. Ingat, kehadiran mu berharga. Jangan mengingat-ngingat sesuatu yang menyakiti mu! Kehadiran mu adalah anugerah untuk hidup saya.” Melvin mengangkat dagu istrinya yang sedang meneteskan air mata. Ia cepat-cepat menghapusnya dengan lembut.


“Maafkan saya!” Pintanya dengan mencium kedua mata istrinya yang sedang terpejam. Meida kembali membuka matanya, sambil menyentuh lembut wajah suaminya.


“Jangan mengingatkan saya akan hal itu. Hati saya baru sembuh, hati saya baru membaik. saya sedang berusaha menerima mereka sepenuhnya. Jika mengingat hari kelahiran itu, bukannya saya bahagia, tapi saya malah terluka.” Melvin menganggukkan kepalanya. Ia memegang tangan istrinya yang berada di wajahnya lalu menciumnya.


“Maaf sayang, saya tak akan mengulanginya lagi. Saya janji akan membantu mengobati luka hati mu. Saya janji akan menyembuhkan luka-mu.” Janji Melvin pada istrinya.


“No, kamu tak salah. Hati saya yang terlalu sensitif. Entahlah, tiba-tiba hati saya jadi melow seperti ini. Terima kasih selalu ada untuk saya.” Meida mengikis jarak diantara mereka. Tangannya mengusap lembut wajah suaminya dengan tatapan dalam. Melvin pun seakan terhipnotis oleh tatapan istrinya, ia hanya diam takala istrinya membisikkan sesuatu di telinganya.


“Wo ai ni (Saya mencintaimu)” Melvin tertegun dengan menelan salivanya kasar. Ia menahan nafasnya selama beberapa detik dengan perasaan yang membuncah, mendengar pengakuan istrinya langsung. Ia kembali tersenyum lebar, mencium bibir istrinya sebentar, lalu kembali menatapnya.


“Wo ye ai ni bao bei. (Saya juga mencintaimu sayang)” Penuturan Melvin mewakili apa yang dirasakannya selama ini.  Mereka pun kembali tersenyum dengan menyatukan kening mereka, mengagumi satu sama lain. Dan berakhir dengan saling berpelukan, dengan perasaan yang sama-sama bahagia. Melvin kembali memangut sebentar bibir istrinya, dan melepaskannya.


“Sekarang kita tidur! Besok kita lanjut sesi pertanyaannya.” Bujuk Melvin sambil mengusap wajah istrinya yang memerah.


“Kenapa gak diberesin sekarang?” Melvin kembali terkekeh melihat wajah cemberut istrinya.


“Saya takut khilaf! Saya takut kebablasan! Sekarang kita tidur ya!” Pinta Melvin dengan perasaan yang kembali membuncah dan memeluk istrinya erat.


“Takut khilaf kenapa?” Tanya polos Meida yang melerai pelukannya dan posisi mereka kembali berhadapan. Melvin memejamkan matanya menetlarkan perasaannya.


“Jika terlalu lama berhadapan dengan kamu, saya takut tak bisa mengontrol diri sayang. Kamu dan saya sudah sama-sama dewasa. Kamu tahu kan apa yang terjadi pada orang dewasa setelah menjadi suami istri?” Tanya Melvin yang kembali mendekap istrinya erat. Dengan harapan keinginan dalam dirinya menghilang. Tapi pundaknya semakin meremang, takala nafas meida menerpa hangat dadanya.


“Tahulah. Mereka akan sering bertengkar, karena kurang resiko dapur, Kan?” Cicit Meida yang membuat Melvin mengeratkan dekapannya.


“Ya itu. Saya takut bertengkar dengan kamu, karena akhirnya saya yang harus mengalah.” Parau Melvin sambil memejamkan matanya. Ia kembali di buat tegang, takala Meida terus bergerak.


“Sayang, saya mohon jangan bergerak! Jangan membangunkan adik saya.” Meida mengangkat wajahnya dengan dahi berkerut.


“Maksudnya? Saya tak akan membangunkan adik kamu. Lagian mbak Melisa ada di rumah bukan disini, Kan?”


“Bukan itu! Tapi adik saya yang berada di bawah. Kamu diam sayang, Please! Kalau gak diam, saya terpaksa menerkam mu.” Meida langsung diam dengan membelalakan matanya. Ia pun merasakan ketegangan yang suaminya rasakan. Meida tak bergerak sama sekali, ketika suaminya memeluknya erat. Ia bahkan menahan nafasnya, ketika merasakan sesuatu yang menegang di bawah suaminya.


Apa ini yang dinamakan malam pertama?


-


Happy Monday Guys🤗


Wilujeng beraktivitas ♥️


Always safe healthy yah, apalagi musim hujan♥️

__ADS_1


Sekalian ☕☕☕☕☕ mumpung hari senin wkwkwk.


Jangan lupa, vote, like komennya hatur nuhun 🤗😍🥰♥️


__ADS_2