Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Vitamin


__ADS_3

“Ibu Negara, tumben-tumbenan wajahmu ceria.  Kemarin wajahmu suntuk banget, sekarang wajahmu berseri-seri kayak habis menang undian.” Meida merentangkan tangan, menggerakkannya ke atas ke bawah dengan wajah sumringah yang sangat jelas kentara. Ia menghampiri adik iparnya dengan mengedikkan bahu sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Udah di suntik vitamin tadi malam, makanya ceria.” Sahut asal Meida sambil memamerkan senyum yang menawan. Ia mengambil tas tentengnya di atas meja, lalu menghampiri adik iparnya yang sedang berdiri menunggunya di pintu.


“Emang Ibu Negara di suntik vitamin apa sampai ceria seperti ini? Emang ada vitamin yang bisa bikin ceria?” Tanya bingung Melisa sambil mengerutkan dahinya mendengar perkataan kakak iparnya. Meida kembali cengengesan sambil menutup mulutnya lalu menggandeng bahu adik iparnya yang lebih tinggi sedikit dari nya.


“Adalah. Vitaminn yang bisa nyehatin sekaligus pengubah mood booster dari suntuk jadi bahagia hahaha.” Tawa Meida pecah sambil memegang perutnya melihat wajah Melisa yang sedang memikirkan ucapan nya dengan wajah berkerut.


“Semua vitamin juga buat nyehatin Bu Negara. Tapi memang ada vitamin pengubah mood? Kalau ada, bilang dong sama aku belinya dimana? Aku juga mau beli.” Tanya Melisa sambil memegang tangan kakak iparnya lalu menggandengnya menuju halaman rumah depan.


“Vitamin ini tidak diperjualbelikan, hanya konsumsi pribadi dan hak patennya sudah mendapat sertifikasi dari agama dan Negara. Jadi tidak sembarang disuntikkan ke orang.” Melisa kembali menukikkan alis dengan wajah semakin bingung. Ia belum paham dengan apa yang di ucapkan Meida, yang malah membuat pusing kepala ketika memikirkan jawabannya.


“Vitamin A B C apa D Bu Negara?” Meida menggaruk-garuk pelipisnya  dengan tersenyum. Pandangannya kembali menerawang mengingat kembali kegiatan panasnya tadi malam bersama suaminya yang selalu membuatnya kelelahan.


“Jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu pusing sendiri. Yang tahu hanya koko-mu. Sekarang kita langsung ke hotel?” Melisa menganggukkan kepala, lalu masuk ke dalam mobil Alphard berwarna putih yang sudah terparkir di halaman rumah.


“Kita langsung kesana Ibu Negara. Keluarga kita sudah berkumpul disana sekarang. Nanti malam kita semua nginap di hotel milik papih.” Meida melipat bibirnya dengan mengangguk-anggukkan kepala seraya duduk di kursi yang bersebelahan dengan adik iparnya.


Mobil Alphard itu pun melaju meninggalkan kediaman Negara menuju sebuah hotel berbintang 5, milik keluarganya.


“Tapi aku gak bawa apa-apa, cuma bawa stok obat aja. Gimana dong? Aku gak prepare sama sekali, kalau malam ini akan nginep.” Meida menunjukkan tas kecil berwarna hitam yang berada dipangkuannya kearah adik iparnya. Melisa menoleh kepala kearah Meida dengan menompang dagunya.


“Gak usah bawa apa-apa. Semua sudah siap disana. Untuk gaun pengantin atau perlengkapan lainnya, sudah disiapkan koko. Lagian apa gunanya punya suami, kalau Ibu Negara masih ribet?” Meida pun tersenyum membetulkan ucapan Melisa. Ia menyandarkan kepala dengan menerawang ke luar kaca mobil.


“Bu Negara, aku mau tanya sesuatu. Boleh?” Meida menolehkan kepala kearah adik iparnya seraya menganggukkan kepala. Melisa memegang lengan Meida agar terus melihat kearahnya.


“Apa kalian sudah melakukan ini?” Meida mengerutkan alisnya dengan bingung. Ia belum menangkap maksud dari pertanyaan adik dari suaminya.

__ADS_1


“Melakukan ini – Melisa menyatukan kedua telapak tangan lalu memiringkannya. Apa kalian sudah melakukan hubungan suami istri?” Wajah Meida langsung memerah dengan membuang muka kearah samping.


“Menurut mu?” Melisa kembali memegang tangan kakak iparnya agar kembali melihat kearahnya.


“Aku tidak tahu makanya aku bertanya pada Ibu Negara.” Melisa mendekatkan wajahnya kearah Meida dengan mengerlingkan matanya.


“Tenang, aku tak akan membocorkannya. Ini rahasia kita berdua. Sekarang, Bu Negara tinggal jawab jujur aja.” Meida menggigit bibir nya lalu memegang kepala adiknya agar lebih dekat dengannya. Ia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga adik iparnya tersebut.


“Kami sudah melakukannya.” Jawab singkat Meida dengan wajah bersemu merah. Melisa pun yang awalnya terbelalak akhirnya tersenyum.


“Ibu Negara, bolehkah aku tanya lagi? – Meida pun kembali menganggukkan kepala dengan menyipitkan matanya kearah Melisa agar tidak bertanya macam-macam.


“Kata orang, malam pertama itu sangat menyakitkan sampai ke ubun-ubun. Apakah itu benar?” Tanya polos Melisa dengan suara pelan menatap dalam wajah kakak iparnya. Meida mengusap hidungnya menerawang kearah luar sambil mengetuk-ngetuk kakinya, mencari jawaban yang pas untuk adik iparnya tersebut. Meida pun berdehem lalu meminta wajah adiknya agar lebih dekat dengannya,


“Malam pertama memang menyakitkan karena belum terbiasa, apalagi jika kita masih virgin. Tapi percayalah, setelahnya kamu akan merasa kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan. Kamu pasti menginginkan lagi lagi dan lagi, itulah yang aku rasakan sekarang. Makanya aku menyarankan kamu untuk segera menikah, agar kamu bisa cepat-cepat merasakannya.” Kekeh Meida sambil mengerlingkan sebelah matanya. Melisa yang mendengarnya pun langsung tersipu malu dengan wajah memerah ia mencubit pelan kakak iparnya dengan mengerucutkan bibirnya.


“Yang menyedihkan, sampai sekarang aku belum punya pasangan untuk menikah. Ahh Ibu Negara, aku jadi penasaran ingin merasakannya.” Meida pun tertawa melihat wajah polos adik ipar yang lebih tua darinya. Ia menepuk bahu Melisa dengan berulangkali,


“I’m Just kidding! Lagian aku gak bakal ngelakuinnya sebelum menikah, bisa di gantung aku sama Papih. Apa kalian sering melakukannya?” Meida membelai rambut adik iparnya dengan lembut. Ia tersenyum mendengar pertanyaan Melisa yang kepo terhadap hubungan int*m dengan koko-nya.


“Jangan kepoo. Nanti kamu mupeng sendiri loh! Pokoknya jika sudah menikah, tidak ada batasan untuk melakukannya. Kamu bisa melakukannya berapa kali pun terserah kamu, asal melakukannya hanya dengan suami kamu seorang.” Melisa menganggukkan kepala mendengarkan petuah dari kakak iparnya. Walaupun usianya lebih muda, tapi Meida lebih senior dalam masalah kehidupan, karena sudah menikah terlebih dahulu.


“Apa Ko Melvin memperlakukan mu dengan baik?” Meida menatap ke arah depan dengan pandangan yang kembali menerawang.


“Koko mu sangat baik dalam memperlakukan ku. Dia suami idaman, aku bersyukur telah memilikinya. Dia sosok yang kuharapkan selama ini, dia yang mengubah kesedihanku menjadi kebahagiaan. Aku merasa seperti wanita yang paling beruntung di dunia, karena telah menjadi istrinya.” Jawab jujur Meida dengan tersenyum lebar. Wajah suaminya selalu terbayang di pelupuk matanya, mengisi hampir lebih dari separuh pikiran dan jiwanya.


“Dan aku akui, aku sangat sangat sangat mencintainya lebih dari hidupku.” Kekeh Meida dengan wajah sumringah, ia tak menyadari bahwa adik iparnya sedang melakukan panggilan video dengan suaminya. Melisa yang bersandar di bahunya pun ikut tersenyum ketika melihat wajah sumringah kokonya dari layar ponsel, wajah Melvin sedikit memerah dengan hidung yang kembang-kempis.

__ADS_1


“Saya pun sangat sangat sangat mencintaimu lebih dari apapun sayang. Saya pun bersyukur karena bidadari dunia, kini telah menjadikan istri saya. Love you more my sunshine.” Meida langsung membelalakkan mata dengan wajah merah padam ketika mendengar suara suaminya. Ia langsung menundukkan wajah ke bawah, dan melihat jelas wajah suaminya yang sedang tersenyum kearahnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Melisa ahhhh... kamu nyebelin!” Meida langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia malu melihat wajah suaminya yang telah mendengar ungkapan hatinya. Ia kembali di buat malu, walaupun sering mengungkapkan perasaan pada suaminya ketika sedang berduaan.


“Kalian romantis banget deh! Aku iri. Ko, lihat bidadari mu, dia sepertinya malu.” Ledek Melisa sambil mendekatkan ponsel ke wajah kakak iparnya yang masih menutup wajahnya.


“Kamu ngegemesin, bikin saya makin cinta. Terima kasih untuk tadi malam, kamu membuat saya tergila-gila dan menginginkannya lagi lagi dan lagi.” Ceplos Melvin tanpa menyadari ucapannya. Melisa yang mendengar ucapan koko-nya pun mengerutkan dahi, lalu menggeser layar ponsel kearah wajahnya menatap wajah kokonya dengan tajam. Meida yang menangkupkan tangan di wajahnya pun langsung membukanya lalu menepuk dahinya dengan wajah yang serba salah.


By, kenapa kamu membahas itu di depan Melisa? Kamu malu-maluin. Harusnya kamu membahasnya ketika kita sedang berdua. Runtut Meida dalam hati sambil memijit pangkal hidung nya.


“Apa yang kalian lakukan semalam? Bukankah koko nginep di rumah Om Gilbert dan Tante Zaina? Kalian pasti menyembunyikan sesuatu dariku?” Melvin langsung menelan ludahnya kasar. Menatap wajah adiknya dengan cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Kami tidak bertemu dan melakukan apa-apa yah By.” Kilah Meida dengan tersenyum kaku menyembunyikan wajah gugupnya. Melisa menatap wajah kakak iparnya dengan menelisik,


“Kenapa wajah Ibu Negara gugup seperti itu? Aku tak menanyakan kalian bertemu atau tidak?” Jawab Melisa sambil menyunggingkan senyum termanisnya. Ia menaik turunkan kedua alisnya, karena kakak iparnya terjebak sendiri dengan ucapannya. Meida langsung menutup mulutnya dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Laporin Papih atau uang tutup mulut?” Senyum licik Melisa yang kembali menatap wajah kokonya yang sedang berwajah tegang.


“Yaudah, nanti koko naikan uang jajan mu, asal kamu tutup mulut. Awas, jangan sampai membuat kakak ipar mu tak nyaman,” ucap pasrah Melvin dengan menghela nafasnya. Melisa pun tersenyum lebar sambil mengerlingkan matanya sedikit menggoda Koko-nya agar kesal.


“Xie-xie koko gantengku, pokok nya paling the best. Awas jangan bohong, jika rahasia ini tak ingin diketahui papih.”


-


Xie-xie


Jangan lupa, like, komen, vote sama☕☕☕☕

__ADS_1


Hatur nuhun pisan😘


Mudah-mudahan puasa kita hari ini di beri kelancaran oleh Allah SWT, Aamiin.


__ADS_2