Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Nasihat Daddy


__ADS_3

“Maaf Daddy tak bisa mengantarmu pulang ke rumah baru mu. Hari ini Daddy harus melarungkan jenazah Oma-mu ke pantai,” ucap Gilbert sambil mengusap kepala anaknya yang sedang bercengkrama dengan keluarga besarnya di ruang makan. Mereka sudah rapi dengan mengenakan kemeja putih dan kacamata hitamnya.


“Tidak papa Dad. Justru aku yang meminta maaf, karena tak bisa ikut melarungkan jenazah Oma. Melvin tak mengizinkanku untuk ikut kesana karena kejauhan.” Zaina mengangkat sebelah alisnya sambil mengusap wajah sedih putri semata wayangnya.


“Gak papa sayang, sudah ada kami ini yang mewakili mu. Kami tahu keadaan mu dalam tahap pemulihan, gak boleh capek-capek. Apalagi perjalanan ke pantai lumayan jauh. Wajar jika Melvin tak mengizinkan mu untuk ikut.” Seru Zaina sambil menambahkan beragam sayuran dan lauk ke piring putrinya. Meida dengan malas kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Iya ci, cici istirahat aja. Besok atau lusa kami akan berkunjung ke rumah cici dan ko Melvin yang berada di Malang.” Sahut Jonathan dengan mulut yang penuh makanan. Gilbert menyodorkan segelas air putih di depan putra bungsunya  dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Jo, telan dulu makananmu, baru ngomong. Nanti kamu keselek.” Tegur lembut Gilbert sambil mengusap rambut Putranya.


Meida menatap kearah Bi Ina dengan wajah yang  di buat semelas mungkin. Kebetulan Bi ina duduk di depannya dengan di ampit oleh Jonathan dan Jack.


“Bibi ikut Meida pulang ke rumah yah?” Bi Ina meletakkan sendok makannya. Lalu meminum air putih. Setelah itu, ia baru menjawab ajakkan Meida dengan tersenyum.


“Tidak bisa sayang. Bibi tak ingin mengganggu Quality time kalian berdua, apalagi kalian masih pengantin baru.” Ledek Bi Ina yang langsung membuat pipi Meida memerah. Ruang itu kembali riuh, takala Jonathan dan Jack menggoda Meida yang wajahnya seperti kepiting rebus.


“Lagian siang ini bibi sudah ada janji dengan adik ipar dan mertuamu. Jadi bibi tak bisa ikut dengan siapapun. Nanti bibi pulang ke apartemen aja yah?” Meida mengerucutkan bibirnya karena tak mendapat dukungan dari bibi angkatnya.


Hatinya di buat ketar-ketir, jika pulang hanya berdua dengan suaminya. Ia sudah membayangkan suaminya akan menerkamnya. Apalagi ia mengingat janjinya sebelum shalat subuh tadi, yang akan menyerahkan segalanya pada suaminya nanti malam.


Yaa Allah, mati aku! Dia pasti tak akan melepaskan ku nanti malam. Tapi tenang, masih ada Pak Muin dan Bi Asih. Mereka pasti menolong ku dari jeratan kemesuman suamiku itu.


Tapi, mungkin nanti malam, saatnya aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri. Menjadi istri yang seutuhnya. Melayani suamiku dengan sebaik-baiknya.


Batin Meida yang wajahnya kembali memerah dengan jantung yang berdetak cepat. Membayangkan kejadian yang akan terjadi nanti malam.


“Kamu kenapa sayang?” Tanya Zaina ketika melihat anaknya menoyor kepalanya sendiri. Meida cengengesan dengan memamerkan gigi rapi nya, ternyata mommy-nya memergoki tingkah konyolnya.


“Gak papa Mom, cuman iseng doang.” Gilbert menatap putrinya dengan mengerutkan dahinya. Dan kini ia memandang kearah Bi Ina yang sedang melanjutkan makannya.


“Kenapa gak tinggal disini aja Bu? Kamar di atas masih banyak yang kosong. Kami akan menjamin kenyamanan dan keamanan ibu jika tinggal disini,” ujar Gilbert setelah menelan makanannya. Bi Ina kembali menggelengkan kepalanya dengan senyum hangatnya.


“Tidak Pak, terima kasih. Saya sudah nyaman tinggal di Apartemen. Melvin sudah menjamin hidup saya disini.” Mendengar jawaban Bi Ina. Jonathan langsung memegang sebelah tangannya dengan memohon.


“Ibu tinggal disini aja bareng Jo. Jo tak bisa jauh-jauh dari ibu.” Rengek Jonathan menggoyangkan tangan Bi Ina seperti anak kecil yang sedang merajuk.

__ADS_1


“Iya Bi. Tinggal disini saja atau dengan Meida. Meida tak bisa meninggalkan bibi sendirian di apartemen. Pokoknya bibi harus memilih, antara tinggal disini atau tinggal bersama Meida.” Bi Ina memijit kepalanya bingung untuk mengambil keputusan.


“Yaudah, nanti bibi pikir-pikir dulu yah. Untuk hari ini bibi pulang dulu ke apartemen untuk merapikannya dulu, sudah beberapa minggu ini bibi gak pulang kesana.” Putus Bi Ina yang diangguki oleh semua orang yang duduk di meja makan tersebut.


“Baiklah bu, kami tunggu keputusan ibu. Padahal benar apa yang dikatakan anak-anak, ibu tinggal disini saja bersama kami. Saya tidak keberatan sama sekali, yang ada saya bahagia karena memiliki teman bicara sekaligus memiliki ibu baru.” Kekeh Zaina dengan wajah bersahabat nya.


“Inn Syaa Allah, nanti saya pikir dulu yah!” Jack yang berada di samping Bi Ina pun memegang lengannya dengan menghiba. Ia menyampingkan posisi duduknya agar menghadap kearahnya.


“Bu, tinggal aja sama Jack yah. Jadi orang tua Jack. Jack yatim piatu, apa ibu gak kasian sama Jack? Nanti ibu bantu Jack buat seleksi calon istri yah?” Jonathan yang berada di samping bi ina pun langsung berdiri dengan wajah kesal. Ia langsung mengibaskan tangan Jack, lalu memeluk bahu Bi Ina dari arah samping.


“Jack, Bu Ina adalah Ibu saya. Jangan kau merebutnya dari saya, jika tidak ingin kaki dan tangan mu patah!” Ancam Jonathan dengan wajah cemberut. Sementara Jack hanya tersenyum sambil menggaruk pelipisnya.


“Jo, Bi Ina juga ibu sekaligus bibi cici. Jangan merebutnya dari cici.” Meida menggeser posisi Jonathan. Ia tak mau kalah, ia memeluk Bi Ina dari arah belakang. Bi Ina menggelengkan kepalanya dengan tersenyum melihat kelakuan dua kakak beradik tersebut. Sementara Gilbert dan Zaina memandang haru kearah Bi Ina, yang begitu dekat dengan anak-anaknya.


“Sudah-sudah jangan ribut. Biar adil, Bu Ina adalah ibu kita semua. Setuju, Kan?” Bi Ina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia bahagia, karena kehadiran dirinya sangat dihargai di keluarga besar keponakan angkatnya tersebut.


“Setujuuuu!” Jawab mereka dengan serempak.


“Andress dan Melvin mana?” Tanya Gilbert yang baru menyadari ketidakhadiran Putra sulung dan Menantunya.


-


Sebelum berangkat melarungkan abu jenazah Grace. Gilbert terlebih dahulu masuk ke kamar Putrinya yang di ampit oleh kamar kedua Putranya. Di kamar, meida sedang merapikan beberapa stok obat untuk di bawa ke rumah suaminya.


Gilbert membantu putrinya, lalu duduk berhadapan dengannya. Sebelum kepergiannya melarung abu jenazah ibunya ke pantai. Ia dengan lembut mengelus kepala putrinya yang kini sedang menyandarkan tubuhnya di sampingnya.


“Ada yang ingin kamu bawa lagi Nak?” Meida menggelengkan kepalanya. Lalu menyandarkan kepalanya di  bahu ayahnya.


“Cuma segitu dad. Suamiku sudah mempersiapkan semuanya, aku tinggal memakainya saja.” Kekeh Meida sambil mengingat sosok mesum suaminya.


“Baik sekali suami mu Nak.” Meida hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Dia memang baik Dad. Dia memperlakukan aku dengan sangat baik.” Gilbert tersenyum sambil mengelus kepala putrinya. 


“Nak, kamu adalah harta berharga untuk daddy. Sampai kapanpun selama daddy masih hidup, daddy akan menjagamu dengan sepenuh hati.” Meida tersenyum mendengar ucapan Daddy-nya. Gilbert memeluk erat putrinya sebelum melepas kepergiannya bersama suaminya yang berbeda kota dengannya.

__ADS_1


“Daddy, aku gak kemana-mana. Kita cuman berbeda kota. Jarak Surabaya-Malang itu deket dad. Aku sedih liat daddy kayak gini. Aku janji, nanti aku akan sering berkunjung kesini bersama suamiku.” Sahut Meida yang menyandarkan kepalanya di pelukan Ayahnya. Hatinya begitu senang, karena bisa sedekat ini dengan ayah kandungnya sendiri. Sifat manjanya akan keluar, bila bersama dengan ayahnya.


“Daddy sedih aja Nak. Kamu di bawa pergi oleh suami mu. Daddy belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu, apalagi memanjakan mu.” Meida dengan tersenyum mengusap  pelan lengan ayahnya. Memainkan bulu yang tumbuh di tangannya.


“Aku sudah bahagia dad. Hidupku sekarang sudah lengkap. Ada Daddy, Mommy, Jonathan, Ko Andress, Jack, Bi Ina, Suamiku, Mertuaku, Iparku, pokoknya sudah lengkap. Aku memiliki keluarga yang sempurna.” Gilbert tersenyum mendengar penuturan putri semata wayangnya. Ia dengan lembut melepaskan pelukannya, lalu menyentuh wajahnya.


“Nak, ketika kamu mengatakan: “Daddy, aku membutuhkanmu!”. Apakah kamu tidak sadar, bahwa Daddy selalu membutuhkanmu ribuan kali lebih banyak? Kamu adalah kebahagiaan Daddy yang tak terhingga.” Meida tersenyum lalu kembali memeluk Daddy-nya. Mereka tak menyadari kehadiran Melvin yang sedang tersenyum menatap mereka dari ruang ganti. Melvin dengan wajah sumringah, melihat interaksi hangat ayah dan anak didepannya.


Yaa Allah, semoga hati ko Andress segera sembuh. Agar mereka bisa berkumpul kembali tanpa kecanggungan. Semoga mereka benar-benar menjadi keluarga sempurna. Do'a Melvin tanpa mengganggu keduanya.


“Daddy jangan berkata seperti itu, aku terharu.” Gilbert mengusap punggung putrinya dengan menghapus sudut matanya dengan terkekeh.


“Untuk putri Daddy yang paling cantik. Terima kasih telah menjadi putri terbaik yang pernah daddy miliki.” Mata meida berkaca-kaca mendengar penuturan ayahnya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya, menutupi wajahnya yang memerah karena menangis.


“Sekarang kamu telah menikah Nak. Dengarkan nasihat dari daddy. Tetaplah menjadi putri daddy yang baik, dan juga jadilah istri yang baik bagi suamimu. Daddy akan selalu mendoakan yang terbaik untuk keluargamu kelak. Semoga keluarga kalian selalu diberkati Tuhan, Selalu diberikan kebahagiaan, dan kalian segera memberikan lelaki tua ini cucu-cucu yang lucu.” Kekeh Gilbert dengan terus mengelus pundak putri nya yang sedang menangis.


“Pesan daddy adalah taatilah setiap perintah suamimu asalkan itu baik. Dan jadilah ibu yang mengayomi anak-anakmu kelak. Kamu akan memiliki keluarga sendiri, tapi jangan lupa kamu tetap putri Daddy dan Mommy. Jika kamu membutuhkan sesuatu, datanglah kepada kami dan kami dengan segenap hati akan membantunya.” Meida menganggukkan kepalanya sambil melepaskan pelukannya.


“Daddy paling pinter bikin aku nangis. Do'akan aku, semoga aku bisa menjalankan semua nasihat Daddy. Menjadi istri sekaligus ibu yang baik.” Melvin yang berada di ruang ganti pun mengaminkan do'a istrinya dengan tersenyum.


Tenang dad, kami akan segera memberikan mu banyak cucu.


“Amin. Daddy yakin kamu akan menjadi ibu yang baik, karena kamu putri Daddy.” Kekeh Gilbert menggenggam bahu putrinya dan mencium keningnya lama.


“Daddy sangat menyayangi mu melebihi dunia ini.” Meida pun tersenyum dengan ucapan sayang ayahnya.


“Akupun pun menyayangi daddy.”


-


Vote sama ☕☕☕ tong hilap nya..


Like sama komennya tong pelit🤗


Gomawooo 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2