
Ruang perawatan itu kini kembali diselimuti keharuan, ketika Melvin menyalami satu persatu orang yang berada di dalam ruang itu. Ia meminta do' a pada mereka untuk kelangsungan rumah tangganya agar sakinnah, mawaddah, warrahmah sampai ke Jannah-Nya.
Kini giliran Melvin bersalaman dengan Gilbert, ia mencium tangan mertuanya dengan takdzim.
“Melvin menantuku. Mulai sekarang, kamu jangan panggil Om lagi, tapi Daddy. Sama seperti Jaslin, Jonathan, dan Andress. Sekarang kamu adalah Putra Daddy.” Melvin menangis tergugu ketika Gilbert mengelus kepalanya yang mengenakan peci hitam. Gilbert menyeka air matanya lalu memegang kedua bahu Melvin untuk melihatnya.
"Yang pertama kali memeluk Putriku adalah aku, bukan kamu. Yang pertama kali mencium Putriku adalah aku, bukan kamu. Yang pertama kali merawat Putriku adalah aku, bukan kamu. Tapi aku berharap kamu akan menjadi orang yang menemani Putriku seumur hidupnya," ucap Gilbert dengan suara paraunya. Melvin menganggukkan kepalanya dengan berlinang air mata. Nagara yang berada di samping Gilbert kembali menyusut sudut matanya, melihat Putra-nya yang sedang mendengarkan nasihat dari mertuanya.
"Jangan kau sakiti dia ataupun perasaannya. Dan bila suatu hari nanti kamu tak mencintainya lagi, tolong jangan beritahu dia, katakan saja pada Daddy. Daddy akan membawanya pulang," tambahnya sambil menyeka air matanya. Melvin menggelengkan kepalanya lalu meletakkan tangan Gilbert di kepalanya.
“Demi Tuhan, yang hidup mati saya berada dalam genggamannya. Saya berjanji akan terus mencintainya, menjaganya, menyayanginya, sampai akhir hayat saya. Cinta yang saya miliki tak akan lekang di gerus waktu. Saya mencintainya karena Allah.” Gilbert menganggukkan kepalanya dengan haru. Lalu ia mencium kening menantunya dengan berurai air mata. Setelah mencium tangan Gilbert, kini Melvin mencium tangan Papihnya yang duduk bersisian dengan mertuanya.
Nagara nampak sedang menghapus sudut matanya dengan menggunakan tisu lalu memeluk Putra-nya.
“Terima kasih untuk segala kebaikan yang Papih berikan untuk Melvin. Terima kasih untuk ketulusan Papih merawat Melvin sampai sebesar ini. Terima kasih untuk restu Papih. Do'akan Melvin, semoga Melvin dan Meida bisa menua bersama-sama. Menjadi keluarga bahagia seperti kalian. ” Nagara menganggukkan kepalanya lalu memeluk Putra-nya erat. Ia mengelus pundaknya dan berkata,
“Nak, perjalanan hidup mu baru saja di mulai sekarang. Nasihat Papih, Jangan pernah meninggikan suara mu, karena itu akan menyakiti hati istrimu, walaupun dia tak mengungkapkannya secara langsung. Jangan pernah mengangkat tangan mu, semarah apapun itu, karena itu akan menyakiti fisik dan batinnya. Jika dia marah, jika dia sedih, peluklah dia! Tenangkanlah.. karena dada bidang mu ini adalah tempat ternyaman untuk meluapkan keresahan hatinya. Selalu berikan dia berjuta-juta cinta setiap harinya. Perbanyaklah mengalah agar istri mu senang, agar rumah tangga mu penuh ketenangan, dan menjadi keluarga yang harmonis.” Tutur Nagara menasehati anaknya sambil mengusap-usap pundak Putra-nya yang kini sedang menangis di pelukannya.
“Karena selama Papih mengarungi rumah tangga bersama Mamih mu yang sudah tiga dekade ini. Papih tidak pernah mengangkat sedikitpun tangan Papih untuk memukulnya, walaupun Papih benar-benar marah padanya. Karena papih sadar, Mamih mu adalah pelita hidup Papih yang harus di jaga sampai mati.” Melvin menganggukkan kepalanya lalu melerai pelukan Papihnya, ia menatap wajah Papihnya dengan rasa penuh kebahagiaan.
“Melvin janji akan menunaikan semua nasihat Papih. Karena Melvin pun sangat mencintainya, karena dia adalah tulang rusuk yang harus Melvin jaga.” Nagara mengusap-usap kepala anaknya lalu memegang kedua bahunya.
“Papih merestui semua langkah mu. Semoga Tuhan selalu memberkati hidup kalian berdua.” Melvin menganggukkan kepalanya lalu berjalan kearah Andress untuk bersalaman dengannya. Andress menahan tangannya, agar Melvin menatapnya.
“Tolong jaga adik saya! Jangan pernah membiarkannya menangis. Jika saja kau membuatnya menangis dan terluka, jangan salahkan jika saya akan menjemputnya langsung, dan menjauhkan mu dari hidup nya. Saya akan membawanya pergi jauh dari hidup mu.” Melvin menganggukkan kepalanya takala Andress menatapnya dengan tatapan menghunus, namun tersirat beribu kasih sayang dan ketakutan untuk adiknya.
“Saya janji, akan menjaga Meida dengan sebaik-baiknya. Saya rela koko membunuh saya, jika saya terbukti menyakitinya.” Jawab Melvin dengan penuh kesungguhan.
Setelah menyalami semua orang yang berada di ruang itu satu persatu untuk mendapatkan wejangan dan do’a. Melvin kembali duduk di tengah-tengah mereka, obrolan-obrolan ringan terus saja terlontar hingga tak terasa waktu sudah memasuki dini hari.
-
Ruang itu kembali hening. Helena, Nagara, dan Melisa sudah kembali ke rumah mereka yang berada di Surabaya. Dian, Johan, Bi Ina, Sabiru, dan Jonathan sengaja pulang terlebih dahulu ke apartemen Meida untuk beristirahat. Zaina dan Gilbert masih berada di ruang itu namun terhalang oleh dinding, mereka sengaja memberikan ruang untuk Melvin agar lebih leluasa dekat dengan Putrinya. Malam itu, Melvin menyuruh mereka semua beristirahat dengan tenang di rumah masing-masing, karena ia tahu, mereka pasti lelah menjaga Meida selama sebulan ini. Dan Mulai malam ini dan seterusnya, biarlah dia yang menjaga istrinya.
Melvin duduk di belangkar Meida. Ia menatap dalam wajah istrinya, yang kini pakaiannya sudah berganti kembali dengan piyama tidur.
Melvin melafalkan do'a- do'a lalu di tiupkan ke ubun-ubun Meida. Ia mengusap lembut wajah istrinya, dengan tersenyum.
__ADS_1
“Sayang, apa kamu masih betah disana? Tapi jangan lama-lama. Saya merindukan mu disini!” Melvin mencium kening istrinya lama, lalu mencium kedua matanya, turun ke pipinya, yang terakhir ia mencium bibir ranum istrinya. Ketika mencium bibir istrinya, ada geleyar aneh yang tiba-tiba menggelitik hatinya, perasaannya tiba-tiba menghangat wajahnya tiba-tiba memerah. Karena ini merupakan kali pertamanya mencium bibir merah ranum istrinya secara sembunyi-sembunyi.
Melvin kembali menatap istrinya dari jarak dekat, dengan tangan yang masih membelai lembut pipinya.
“Nggak papa kalau kamu masih betah di dunia manapun yang kamu sekarang tinggali. Hanya satu pesan saya, setelah bosan disana, cepat kembali. Saya akan setia menunggumu! Disana, bukan rumah mu sayang. Tapi, disinilah rumah mu yang sebenarnya,” Melvin berbisik pelan, mengecup kembali dahi istrinya yang matanya masih terpejam. Ia menggeserkan belangkarnya agar lebih dekat dengan Meida. Ia pun berbaring di sampingnya dengan terlebih dahulu menatap wajah istrinya,
“Selamat malam sayang.” Bisik Melvin dengan menggenggam erat tangan kiri istrinya lalu menciumnya. Ia menyampingkan posisi tidurnya agar menghadap istrinya, tangannya melingkar sempurna di perutnya. Dengan bibir tersenyum dan wajah menyiratkan kebahagiaan, ia terlelap tidur sambil memeluk istrinya.
-
Jam 4 subuh, Melvin sudah terbangun dari tidurnya. Ia mengambil tape pemberian steven, lalu memutar rekaman murotal Al-Qur’an di dekat kepala istrinya. Suara merdu orang yang melantunkan Al-Qur’an memberikan kesan kehangatan di ruang itu. Ia terlebih dahulu berwudhu, dan melaksanakan shalat sunnah. Sambil menunggu waktu shalat subuh tiba, ia terlebih dahulu membalas pesan dari Buya Hanafi dan Umi Fatimah yang baru di lihat olehnya, karena ponselnya baru dinyalakan.
[Video pernikahan mu sudah Buya dan Umi lihat. Alhamdulillah, akhirnya kamu mempersunting wanita pilihan mu. Baarakallaahu Laka Wa Baaraka'alaika Wa Jama'a Baina Kumaa Fii Khoir, “Mudah-mudahan Allah memberkahi mu dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan,” Semoga kalian menjadi keluarga Sakinah, mawaddah, Warrahmah. Langgeng sampai Jannah-Nya. Aamiin.]
Melvin membaca pesan itu dengan tersenyum lalu ia menatap kearah wajah Meida yang masih betah terpejam.
“Sayang, jika kamu sembuh nanti. Saya akan membawamu kesana. Saya ingin memperkenalkan mu pada mereka. Saya ingin kamu tahu, lewat mereka saya bisa lebih banyak belajar tentang Islam,” ujar Melvin sambil mencium tangan istrinya yang masih betah terpejam. Setelah mencium kening dan bibir istrinya, Melvin masuk kembali ke dalam toilet untuk berwudhu, karena Adzan subuh sebentar lagi akan berkumandang.
“Sayang, cepatlah sadar. Saya ingin sekali menjadi imam shalat mu. Kamu harus tahu, sekarang saya sudah lancar membaca ayat suci Al-Qur’an, saya sudah berhasil menghafal beberapa surat panjang. Kamu harus melihat dan mendengarnya. Saya harap kamu bangga terhadap saya. Ternyata pengasingan itu memberikan banyak pelajaran dan hikmah untuk saya.” Lirih Melvin dengan terus mengajak istrinya bicara walaupun tak ada jawaban.
Setelah adzan subuh berkumandang, ia terlebih dahulu melaksanakan shalat sunnah qabliyah, lalu melaksanakan shalat subuh.
-
Jam 6 pagi, ketika Melvin masih membaca ayat suci Al-Qur’an di samping istrinya. Zaina menghampirinya sambil membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil, ia duduk di belangkar Melvin, memperhatikan menantu dan anaknya bergantian, ia mendengar bacaan Al-Qur’an Melvin sambil memejamkan matanya. Karena menyadari kehadiran ibu mertuanya, Melvin mengakhiri bacaannya. Dan menyimpan Mushaf Al -Qur'an pemberian Buya Hanafi di atas nakas istrinya.
“Maaf, pagi-pagi Mommy mengganggu mu,” Ucap Zaina sambil membuka matanya ketika Melvin melihat kearahnya dengan tersenyum.
“Tidak mengganggu kok Mom. Emang ada apa? Mommy kok bawa baskom segala?” Tanya Melvin menatap aneh kearah baskom kecil yang berada di pangkuan Zaina. Zaina pun berjalan kearah menantunya dengan membawa baskom tersebut.
“Setiap jam 6 pagi adalah jadwal Mommy melap tubuh Jaslin, harusnya dilakukan oleh perawat, tapi Mommy memaksanya agar tugas itu bisa dialihkan pada Mommy. Dan Mommy bersyukur, perawat menyetujuinya. Karena nanti setelah ini, setiap jam 7 adalah jadwal rutin pemeriksaannya. Jadi ini salah satu jadwal Jaslin sehari-hari.” Terang Zaina yang masih berdiri di sampingnya. Ia menyelupkan handuk itu dan memerasnya.
“Mom, boleh Melvin yang melap tubuhnya? Biar ini menjadi tugas Melvin.” Tanya Melvin dengan mengangkat kedua alisnya meminta persetujuan mertuanya. Zaina menatap wajah menantunya tak percaya,
“Kamu yakin? Kamu bisa menahannya? Jangan sampai kebablasan loh!” Tanya Zaina sambil tersenyum memastikan keinginan menantunya. Karena tugasnya tak main-main, Melvin harus melap seluruh tubuh Putri-nya, dan dengan jelas lelaki yang berada di depannya itu pasti melihat lekuk tubuh istrinya. Melvin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, karena yang berada dalam pikirannya adalah melap tangan dak kakinya sajam
“Baiklah. Mamih yakin kamu pasti bisa. Setelah di lap, kamu harus mengganti pakaiannya. Semua dalaman dan piyama Jaslin sudah tersedia di lemari itu. Jangan lupa gorden di tutup dan pintu di kunci.” Perintah Zaina sambil mencium wajah Putri-nya, tanpa melihat wajah shock menantunya. Setelah mencium wajah Putri-nya, ia kembali meninggalkan ruang itu menuju ruangnya yang terhalang dinding pemisah.
__ADS_1
“Senam jantung pagi-pagi biar sehat.”
Kikik pelan Zaina sambil menghampiri suaminya.
Melvin mencium wangi yang menguar dari baskom tersebut. Mertuanya pasti memberikan aroma terapi pada airnya, hingga menimbulkan harum hingga tercium di ruang tersebut. Melvin menghilangkan kegugupannya, dan mendekat ke belangkar istrinya.
Melvin membuka terlebih dahulu hijab instan istrinya, hingga memperlihatkan wajah dan leher putihnya. Ia terlebih dahulu melap wajah putih istrinya yang nampak berseri nan cantik.
“Kamu memang benar-benar cantik sayang. Kamu berhasil meluluhlantakkan hati saya, saya benar-benar jatuh cinta padamu,” ucap Melvin kembali mengajak Meida berbicara. Tak lupa ia sematkan banyak ciuman di wajah istrinya.
Ketika melihat piyama tidur istrinya, jakun Melvin naik turun, karena ia harus membukanya dan pasti melihat isinya.
“Sayang, saya izin buka piyama tidur mu yah? Jangan marah, saya tidak akan berbuat mesum.” Setelah meminta izin pada Meida, tangannya dengan bergetar membuka kancing piyamanya satu persatu hingga terlepas. Melvin menelan salivanya kasar, wajahnya memerah ketika melihat dua gundukan di dada istrinya yang masih terhalang kain, lalu melihat perut istrinya yang putih bersih tanpa noda. Untuk pertama kalinya ia melihat tubuh seorang wanita. Nafasnya naik turun dengan dada bergemuruh, ia masih terpana melihatnya.
Please Melvin, jangan mesum! Buang pikiran kotor mu! Jangan jadi lelaki berengsekk! Walaupun dia istri mu, walaupun dia sudah halal untuk mu, kau harus mendapatkan izin terlebih dulu untuk menyentuhnya.
Melvin membuang pikiran kotornya, dengan menoyorkan kepalanya dan menampar keras pipinya sendiri, agar pikirannya tidak berkelana jauh pada tubuh istrinya.
Dengan menarik nafasnya berulang-ulang, Melvin mengambil handuk lalu memerasnya, ia perlahan-lahan melap tubuhnya istrinya dengan mata terpejam karena ia takut khilaf ketika melihatnya lagi.
Melvin semangat! Kau pasti bisa menahannya.
Ia menyemangati dirinya sendiri dengan membuka matanya. Ia kembali melap tubuh istrinya, melap tangannya sampai ke sela-sela jarinya, dan melap lipatan-lipatan disekitar tubuh istrinya.
Siapa yang tak akan tergoda melihat tubuh molek istrinya? begitupun dengan Melvin. Ia hanya lelaki biasa yang memiliki nafsu dan cinta.
Dengan berkeringat dan wajah memerah, Melvin menyelesaikannya dalam waktu sekitar 30 menit. Pakaian istrinya telah berganti, dan tercium wangi dari tubuhnya.
Akhirnya ujian pertama terlewatkan.
Ucap Melvin sambil menyandarkan kepalanya di kursi di samping istrinya. Ia menarik nafas dalam lalu melihat kearah istrinya.
Jangan marah! Saya tak sengaja melihat semuanya. Sadarlah! Suami tampan mu ini merindukan mu.
-
Kuyyy kopinya merapat wkwkwk 😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1