Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Cinta Membuat Orang Bodoh


__ADS_3

Wanita yang masih terbalut selimut melenguh, mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan sambil memindai ruang buram tersebut. Ia membuka gorden dengan sebelah tangannya, menyesuaikan sinar matahari yang masuk lewat retina matanya. Tempat itu sangat asing baginya, ruang bernuasa serba putih dan cokelat dengan ukuran yang tidak terlalu luas.


“Dimana ini?” Lirih wanita muda tersebut sambil  meraba sofa yang ditidurinya. Rambutnya berantakan dengan tubuh polos yang hanya tertutup selimut. Ranjang di depannya tampak terlihat rapi, pertanda tak ada seorang pun yang menidurinya. Ia berusaha terbangun dengan tubuh lemas, sekujur tubuhnya berasa nyeri bagai tak bertulang.


“Bukankah kamar ini yang aku pesan untuk Melisa? Kenapa aku yang tertidur disini? Apa yang sebenarnya terjadi?” Batin wanita itu yang tak lain adalah Sandra.


Ia membulatkan mata terkejut, melihat tubuh polosnya di balik selimut. Pakaiannya tercecer di lantai, dan di ruang itu ia tak menemukan seorang pun selain dirinya sendiri.


Ia membuka sedikit selimutnya yang memperlihatkan tubuh polosnya yang terdapat banyak tanda merah.


Siapa yang melakukan ini? Berani-beraninya dia berbuat lancang padaku.


Gumam pelan Sandra dengan mengepalkan tangannya erat hingga kuku-kukunya memutih. Gigi geraham nya bergemulutuk dengan mata memerah menandakan kemarahan. Ia merasakan rasa sakit yang teramat dalam di kedua area sensitifnya.


Ia merapikan rambutnya lalu mengambil pakaian itu dengan meringis.


Ini pasti ulah Melisa! Melisa, tunggu pembalasanku! Sial, sepertinya dia sudah mengetahui rencana ku dari awal. Siapa yang sudah memperk*saku? Kenapa aku tak mengingat kejadian semalam sama sekali?


Sandra dengan cepat mengenakan pakaiannya yang tercecer, ia buru-buru keluar dari ruang itu untuk menemukan waiter suruhannya semalam. Ia melihat kearah waiter yang menatapnya dengan pandangan jijik yang sedang memegang gagang sapu.


“Kenapa lihat-lihat?” Tanya garang Sandra pada wanita yang sedang menyapu koridor club tersebut. Wanita itu tersenyum sinis kearahnya dengan tatapan yang merendahkan.


“Ohh, berarti mbak ini yang semalam b*rcinta dengan 5 pria hingga d*sahan mbak terdengar memenuhi ruang ini. Wah, bagaimana rasanya bercinta dengan 5 pria? Mbak mengobral diri mbak sendiri dengan melepas semua pakaian mbak, di depan lelaki yang masuk ke ruang mbak dan mengajaknya untuk b*rcinta. Mbak cantik, namun kecantikan mbak harganya murah. Sayang, mbak seperti wanita yang tak memiliki harga diri.” Sindir wanita itu sambil melanjutkan pekerjaannya. Sandra langsung mengepalkan tangannya, ia menahan amarah sampai kedua tangannya bergetar.


“Apa maksudmu? Siapa saja yang masuk ke ruang ku tadi malam?” Tanya Sandra seraya mencengkram kerah waiter tersebut. Wanita itu berusaha melepas cengkraman tangan Sandra di lehernya dengan cara mendorongnya hingga jatuh ke lantai.


“Sudi saya di pegang mbak! Saya sebagai perempuan, melihat mbak telanjang aja udah jijik, apalagi mengingat setiap lelaki yang mbak ajak untuk bercinta. Mbak bagai piala bergilir, dinikmati lelaki dengan bersama-sama. Mbak tak sadar? Mbak semalam  melayani sekaligus 5 pria.” Sandra langsung memegang dadanya karena terkejut, jantungnya serasa copot. Antara percaya atau tidak percaya melayani 5 pria yang tak dikenalnya sama sekali. Ia merasa semalam tak sebringas itu, yang ada dalam memori otaknya hanyalah b*rcinta dengan Melvin seorang.


Ya Tuhan, sepertinya efek obat perangsang itu sampai aku bercinta dengan 5 pria yang kupikir adalah Melvin. Ya Tuhan, Kenapa aku yang meminumnya? Seharusnya Melisa yang meminumnya! Sial, rencanaku gagal! Dan  berbalik padaku. Batin Sandra sambil membentur-benturkan kepala kearah dinding sesekali ia memukul kepala mengenakan sebelah tangannya.

__ADS_1


“Mana penjaga club semalam? Saya ingin menemuinya!” Waiters itu menunjuk kearah bawah dengan wajah malasnya. Ia menepuk bahu Sandra lalu membisikkan sesuatu.


“Apa yang ada tanam, itulah yang ada tuai.” Sandra kembali mengepalkan tangan. Menatap tajam  punggung wanita yang berjalan membelakanginya.


-


Seorang wanita nampak termenung di gazebo yang menghadap kearah bermacam-macam tanaman bunga yang sudah mekar. Wangi bunga menguar, membuat wanita itu menghirup dalam wangi yang terbawa angin dengan memejamkan matanya. Aneka bermacam bunga menghiasi taman tersebut, warna bunga yang di dominasi oleh mawar berwarna merah dan putih.


“Selamat siang ibu Nagara! Maaf baru menyapa mu.” Meida mengelus dadanya kaget. Ia langsung membalikkan tubuhnya melihat kearah adik ipar yang kini berdiri di depannya. Melisa mengenakan celana hotpants yang di balut kaos oblong, ia menggandeng bahu Meida sambil menghirup bunga mawar merah kesukaan Mamih-nya.


“Mulai deh, panggil aku ibu Negara.” Melisa pun tersenyum. Ia membuka mata lalu menuntun kakak iparnya berjalan mengelilingi tanam belakang yang sangat terawat. Di pinggir jalan ditanami oleh pohon palem, dan di setiap sisinya ditanami oleh bunga tulip.


“Entahlah, aku lebih nyaman menyebut kakak ipar dengan sebutan itu. Ibu Negara kenapa sendirian disini? Ko Melvin mana? Biasanya kemana-mana kalian bersama.” Meida melambaikan tangan kearah  ranting pohon palem. Lalu menyandarkan tubuhnya di pohon tersebut.


“Melvin sudah pergi ke rumah Daddy sejak tadi pagi. Di dalam bosen, makanya aku kesini.” Jawab Meida yang kembali berjalan bersisian dengan adik iparnya. Ia menggandeng tangan Melisa untuk memutari taman bunga keluarga Nagara untuk mengusir kebosanannya. Melisa menganggukkan kepala, membawa Meida kearah ayunan yang terletak di bawah pohon rindang.


“Kasian sekali kakak iparku ini. Aku juga bangun kesiangan, baru sekarang bisa keluar. Bosen yah disini? Mamih dan Papih sekarang sedang melihat dekorasi hotel, makanya disini gak ada orang.” Melisa terlebih dahulu duduk di 2 ayunan yang bersisian tersebut. Ia kembali memejamkan mata menikmati semilir angin yang memainkan rambut panjangnya. Kebetulan siang itu cahaya matahari tidak terlalu panas, terhalang awan yang sedikit mendung.


“Gimana kalau kita perawatan ke salon langgananku? Daripada kita disini gak ada kegiatan. Ayolahh Ibu Negara! Tenang, aku yang bayar.” Meida melipat bibir ranumnya dengan telunjuk mengetuk-ngetuk pelan dahinya.


“Aku harus izin dulu sama koko-mu. Tapi feeling aku, dia gak bakalan ngizinin. Kalau pergi kemana-mana, harus sama dia. Kamu tahu sendiri kan, watak koko mu seperti apa?” Melisa mengerucutkan bibirnya sambil mengayun-ayunkan kaki jenjangnya ke bawah.


“Ko Melvin memang seperti itu, dia sangat protektif dan posesif. Apalagi jika berkaitan dengan Ibu Negara, dia bucin parah. Yang sabar yah Bu Negara dalam menghadapi sikap koko-ku yang kadang-kadang kekanak-kanakan dan menyebalkan itu.” Meida menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia menerawang kearah kupu-kupu yang sedang menghisap sari bunga mawar.


“Koko kamu memang nyebelin, tapi kalau gak ada malah ngangenin. Aku sangat menyukainya.” Seru Meida dengan wajah tersipu malu. Melisa yang berada di pinggirnya pun tergelak lalu tertawa.


“Ternyata Ibu Negara sudah terkontaminasi jerat racun ko Melvin. Dan lucunya, yang dulu kayak Tom and Jerry yang kagak pernah akur. Ehh sekarang, sama-sama bucin. Luar biasa, cinta sebodoh itu.” Ledek Melisa sambil menoel-noel lengan Meida yang wajahnya memerah dan tertawa. Dengan wajah menghadap ke Langit.


“Cinta memang kadang membuat orang bodoh, kebodohan itu yang orang cari hahaha.” Tawa Meida sambil menggerakkan ayunan tersebut menggunakan kakinya. Melisa yang berada di samping nya kembali tertawa sambil menyusut sudut mata menggunakan ujung kaos oblongnya.

__ADS_1


“Kemarin kamu dan Jack malam-malam habis kemana? Wajahmu terlihat sumringah seperti ini, apa kalian pacaran?” Tanya Meida sambil memelankan laju ayunannya. Ia menatap kearah Melisa dengan mata yang menyipit.


“Tidak Ibu Negara, kami tidak pacaran. Kami hanya dekat. Semalam, kami hanya menjalankan misi.” Jawab Melisa memamerkan gigi putihnya. Ketika mendengar nama Jack, tiba-tiba hatinya berbunga-bunga. Ia tiba-tiba lupa pada Andress yang 8 tahun ini dicintainya. Bersama Jack, walaupun baru beberapa hari. Ia berhasil menghapus bayang-bayang Andress di setiap langkahnya.


“Misi?” Meida menukikan kedua alis, menatap adik iparnya dengan wajah curiga. Melisa mengerucutkan bibirnya lalu tersenyum.


“Yah misi rahasia.” Ia mengedipkan sebelah mata dan tersenyum.


Misi memberi pelajaran pada Sandra, dan akhirnya berhasil. Aku sudah tak sabar dia menghubungiku hihihi. Dan sekarang aku berhasil memiliki Kartu As nya. Xie-xie Jack, kamu memang bisa diandalkan.


Batin Melisa menatap kearah kupu-kupu yang berterbangan dengan wajah cerianya.


“Apa kamu tahu banyak tentang Sandra? Mamih pernah cerita sama aku, tapi gak banyak.” Lirih pelan Meida berjalan kearah kupu-kupu yang sedang berterbangan diantara bunga-bunga. Melisa pun mengikuti langkah kakak iparnya dengan pelan.


“Kakak ipar pernah bertemu dengannya?” Meida menganggukkan kepalanya malas. Ia menarik nafasnya kasar sambil memetik bunga mawar yang berada di depannya.


“Kemarin aku dan koko-mu bertemu dengan nya. Dia dengan terang-terangan mengakui masih menyukai Melvin, dan mengharapkannya. Dia sepertinya tidak akan tinggal diam, aku takut dia terus menggoda koko-mu, dan perasaan koko-mu goyah. Hingga koko-mu memberi celah padanya untuk masuk ke dalam rumah tangga kami. Walaupun aku percaya 100% dengan koko-mu, namun masih ada sedikit ketakutan, karena wanita itu pernah dicintai koko-mu.” Meida mengeluarkan kekhawatiran dalam hatinya setelah melihat Sandra kemarin. Ia tak berani bicara langsung pada Melvin, karena sedikit segan. Melisa menghampiri kakak iparnya lalu menepuk-nepuk bahunya.


“Ibu Negara tak usah khawatir, Ko Melvin orang yang bisa dipercaya. Dia tak mungkin menyakiti mu, karena dia sangat mencintaimu. Jika akan menyakiti hati mu dia pasti berpikir ulang ribuan kali, bagaimana perjuangannya dalam mendapatkan mu. Terlebih lagi, dia tak mungkin mengingkari janji yang telah di buatnya di depan Tuhan, dan keluarga besar kita. So, don't worry!” Meida menganggukkan kepala membenarkan ucapan adik iparnya. Namun kehadiran Sandra mengusik hatinya 2 hari ini.


“Dan untuk masalah Sandra, Ibu Negara jangan khawatir. Kami tak akan sedikitpun membiarkan dia mengganggu rumah tangga kalian. Jangan meragukan kemampuan kami, untuk memberi pelajaran pada wanita pengganggu rumah tangga orang. Walaupun dulu ko Melvin pernah mencintainya, itu kan dulu bukan sekarang. Jika dia macam-macam, bilang saja padaku oke!” Melisa menggandeng bahu kakak iparnya lalu membawanya kearah kolam renang.


“Jangan memikirkan Sandra! Lebih baik memberikan ku keponakan yang banyak.”


-


Dǎrǎo yīxià, kemaren gak up🙏 kuota nya abis hehe.


Jangan lupa vote, ☕☕☕, like, komen, sama giftnya..

__ADS_1


Gomawooo 😘😘😘


__ADS_2