Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Saya Harus Pulang!


__ADS_3

[Saya akan menjelaskan semuanya dengan transparan mengenai keluarga kami tanpa ada yang di tutup-tutupi. Walaupun sebenarnya saya enggan mengatakannya, karena ini merupakan aib keluarga kami.]


[Yang pertama mengenai tentang Grace Atmadja, kami pun selaku keluarga tak menyangka terhadap kejahatan yang dilakukan olehnya pada keluarganya sendiri. Apalagi terhadap anak dan cucu kandungnya. Sebenarnya ini adalah aib paling besar di keluarga kami, tapi kami akan mengungkapnya karena publik terlanjur tahu, daripada berita ini menjadi simpang siur dan dimanfaatkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab, lebih baik kami selaku orang yang terkait mengklarifikasinya sendiri.] Andress membuka berkas yang ada di depannya lalu kembali melihat ke depan. Wajah tampannya sedikit tak bersahabat setelah membaca berkas tersebut.


[Grace Atmadja, entahlah saya harus memanggilnya apa. Mungkin saya terlalu kejam dan tak sopan memanggil namanya tanpa memakai embel-embel Nenek ataupun Oma. Tapi beginilah adanya.] Setelah berdehem Andress kembali melanjutkan ucapannya. Semua para wartawan tampak menyimak, tak ada satupun yang mengeluarkan suara kecuali suara bunyi kamera.


[Grace Atmadja, beliau sudah di tetapkan menjadi tersangka atas perampokan dan pembakaran gedung milik Pak Albert Hutapea selaku Kuasa hukum keluarga kami. Dalang di balik rencana pembunuhan terhadap Gilbert Atmadja, yang merupakan Daddy saya. Otak di balik penculikan dan penyekapan Jonathan dan Sabiru selama 3 hari, mereka berdua tak lain adalah adik dan sepupu saya. Tersangka utama pelaku pembunuhan terhadap saudari Lily, yang merupakan istri pertama mendiang Maxime Atmadja, selaku ibu kandung dari paman saya, Paman Louis Johan. Dan yang terakhir, dia bertanggungjawab penuh atas penembakan terhadap adik perempuan saya tercinta, Jaslin Putri Atmadja yang sampai sekarang masih koma.] Andress menjelaskan satu persatu kejahatan Grace dengan gamlang. Sehingga semua wartawan yang ada di ruang itu membelalakkan matanya. Keadaan diam pun kini mulai ricuh, dengan banyak spekulasi di benak mereka masing-masing.


Harap tenang!


Teriak salah satu bodyguard hingga keadaan kembali hening. Andress mengelap wajahnya dengan sapu tangan lalu melanjutkan ucapannya.


[Sebenarnya keluarga kami akan memperkenalkan Jaslin secara resmi pada publik dengan sebuah sambutan, tapi takdir berkata lain. Malah di saat seperti ini kami baru memperkenalkannya.]


[Kalian pun pasti bertanya-tanya, siapa Jaslin sebenarnya. Hanya segelintiran orang yang mengetahui tentang dirinya, karena keluarga kami tidak pernah memperkenalkannya pada publik.] Andress menyalakan layar monitor di sampingnya. Setelah menyala, monitor itu menunjukkan potret Jaslin dari mulai bayi sampai sebesar sekarang.


[Jaslin adalah adik saya yang 20 tahun lalu menghilang. Kami baru menemukannya minggu-minggu ini.


Benar apa yang dikatakan beberapa media, bahwa adik saya selama ini tinggal di Bandung, beserta orang tua angkatnya yang sudah meninggal. Kami keluarga besar Atmadja hanya ingin mengucapkan terima kasih  banyak kepada keluarga besar Almarhum Pak Zulkifli dan Ibu Ainun yang telah merawat Jaslin dengan baik. Terima kasih untuk cinta dan ketulusan kalian. Semoga Tuhan selalu memberkati kalian di alam sana.] Ucap Andress sambil tersenyum simpul menatap ke atas dengan wajah terima kasihnya. Lalu ia kembali memandang kearah beberapa kamera yang merekam sekaligus memotret dirinya.


[20 tahun kami terpisah, dan baru sekarang kami dipertemukan. Tapi takdir berkata lain, pertemuan kami malah membuat petaka baginya. Baru beberapa hari keluarga kami merasakan hidup bahagia dengan keluarga yang lengkap dan saling menyayangi, tapi dalam sekejap semua itu malah berubah menjadi duka. Sudah beberapa minggu ini adik saya koma. Kami sekeluarga mohon do'anya agar Jaslin lekas sadar, dan bisa berkumpul kembali di tengah-tengah kita.] Ujar Andress dengan suara bergetar. Ia menghapus sudut matanya menggunakan ibu jarinya. Jack pun menepuk pelan bahu sepupunya agar tetap tegar, karena semua kamera berpusat mengarah pada mereka.


Sementara itu, Melvin baru tersadar dari pingsannya, tapi ia sengaja masih memejamkan matanya agar orang yang berada di ruang itu tak menyadarinya.


[Dan kalian pasti bertanya-tanya kenapa sampai Grace, wanita tua itu melakukan banyak kejahatan seperti ini? Disini Pak Albert yang akan menjelaskan kejahatannya dengan rinci.] Pak Albert pun menganggukkan kepalanya hormat kearah para wartawan sambil tersenyum.


[Dan kami sekalian akan mengumumkan pewaris dari keluarga Atmadja biar publik mengetahui pewaris sebenarnya, yang dirahasiakan selama 20 tahun ini. Biar semua jelas dan gamblang, Pak Albert sendiri yang akan menjelaskannya, karena beliau merupakan Kuasa hukum sekaligus Notaris mendiang kakek saya, Maxime Atmadja.] Andress menundukkan kepalanya lalu memberikan micropon itu kepada Pak Albert, Pengacara senior yang identik dengan rambut putih dan kacamatanya.


Pak Albert mengambil micropon yang disondorkan Andress lalu mengawali perkataannya dengan sebuah sapaan.

__ADS_1


[Selamat malam.]


Semua orang yang berada di ruang itu menjawab perkataannya dengan serempak


[Saya akan berbicara langsung pada intinya  saja, karena saudara Andress sudah lebih dulu menjelaskannya.] Pak Albert menjeda ucapannya dengan membuka kacamatanya.  


[20 tahun lalu sebelum kepergian Mendiang Tuan Maxime Atmadja, belum mewasiatkan kepada saya dan 10 rekan kerja saya sesama pengacara. Beliau memberikan kami wasiat yang harus disampaikan kepada keluarga besarnya jika semua sudah berkumpul. Kebetulan waktu itu Jaslin menghilang, dan Johan Putra kandung dari istri pertamanya pergi meninggalkannya dan menghilang selama bertahun-tahun ini. 20 tahun ini kami baru menemukan mereka, entah itu Jaslin maupun Johan. Keluarga Atmadja kembali berkumpul walaupun sekarang Nyonya Grace berada di balik jeruji besi karena kejahatannya.] Pak Albert mengeluarkan sebuah map biru dari tasnya lalu menunjukkan surat itu kearah kamera. Setelah menunjukkannya, ia membuka map itu dan di simpan di depannya.


[Ini hanyalah copy-an dari surat wasiat yang pernah Nyonya Grace curi. Di dalam surat wasiat ini tertera, Tuan Maxime mewariskan 75% kekayaannya meliputi Perusahaan Real Estate dan Properti yang berada di benua Asia dan Eropa kepada Johan dan Lily. Sehubung saudari Lily sudah tiada, warisan 75% itu murni hak Louis Johan sebagai anak kandungnya. Dan Tuan Maxime mewariskan 25% kekayaan pada Jaslin Putri Atmadja, cucu perempuan satu-satunya dari keluarga Atmadja. Kekayaan itu meliputi Perusahaan di Bidang Farmasi, yakni seluruh rumah sakit yang didirikan atau dibangun oleh Maxime Atmadja, termasuk rumah sakit besar ini, murni 100% hak dan miliknya secara paten. Dan disini tidak ada bagian sedikitpun warisan yang jatuh ke tangan Grace Atmadja, Gilbert, dan cucu yang lainnya. Dan ini merupakan alasan jelas, kenapa Nyonya Grace melakukan semua kejahatan ini. Faktor utama pemicunya adalah karena harta warisan.


Sekian dari saya, terima kasih.]


Setelah melihat potret Meida dan pembagian harta warisannya. Dokter Aisyah pun langsung pergi terburu-buru dari ruang itu tanpa berpamitan pada Umi. Ia berjalan tertunduk tanpa menyadari kehadiran Buya dan Hanif. Air mata tak mampu dibendungnya, ia menangis sepanjang jalan. Untung saja para santri masih berada di dalam masjid, hingga tak memergokinya yang sedang menangis. Umi Fatimah hanya mengelus dada, ia memahami apa yang dirasakannya oleh Dokter Aisyah, ia hanya diam menyaksikan kepergian tanpa bisa mencegah. Ia hanya berdoa semoga Allah memberikan jodoh terbaik untuk wanita muda itu. Ketika Umi Fatimah menolehkan kepalanya kebelakang, ia baru menyadari kehadiran Buya dan Hanif. Umi Fatimah pun mempersilangkan mereka untuk duduk dan kembali melihat ke layar kaca.


Pak Albert kembali memberikan micropon itu kepada Andress. Lantas andress menerimanya dengan tersenyum.


Andress menatap dalam salah satu kamera dengan wajah seriusnya.


[Dan untuk seseorang yang disana, semoga kau melihat ini. Berjuanglah! Bertahan! Dan pulang! Jaslin dan keluarga besar saya menanti kedatanganmu untuk menepati janji yang telah kau ucapkan.]  Melvin yang mendengar perkataan Andress langsung meneteskan air matanya dengan mata terpejam. Ia yakin perkataan itu pasti ditujukan untuknya. Keluarga besar Meida pasti sudah mengetahui isi surat yang ia buat sebelum pengasingannya, dan kini mereka sedang menunggunya.


[Jika kau tak cepat kembali, kami terpaksa akan membawanya pergi.]


[Dimana pun kau berada, kuatlah! Berdirilah seperti tak ada beban di pundak, sekalipun itu berat. Kami disini menunggu kedatangan mu! Adik saya membutuhkan mu!]


Perkataan Andress membuat riuh kembali para wartawan. Mereka seakan yakin perkataannya itu dikaitkan dengan Putra sulung keluarga Nagara yang tiba-tiba menghilang setelah menyebar berita tentang keislamannya. Apalagi rumor kedekatan Jaslin dan Melvin Nagara pernah santer terdengar, ketika identitas Jaslin belum terungkap sebagai Putri tunggal dari Gilbert Atmadja.


Andress mengakhiri ucapannya. Lalu ia mengajak Jack dan Pak Albert untuk meninggalkan ruang Lobby  menuju ruang ICU, dimana keluarga besarnya sedang berkumpul. Ia tak menghiraukan pertanyaan para wartawan yang sedang mengejarnya.


[Tuan Andress, apa benar Jaslin memiliki hubungan spesial dengan Melvin Nagara? Apa perkataan yang anda tujukan tadi itu untuk Melvin Nagara yang tiba-tiba menghilang? Apa mereka benar-benar memiliki hubungan yang serius?] Andress tak menjawab pertanyaan itu, ia malah terus melangkahkan kakinya dan menghilang di balik Lift.

__ADS_1


Setelah menyusut air mata dengan tangannya, melvin langsung membuka matanya. Ia memandang nanar kearah televisi yang sedang menampilkan Foto Meida dari kecil sampai besar.


Bertahanlah, saya akan segera pulang! Saya akan datang! Saya mencintaimu! Batin Melvin yang kembali menghapus air matanya. Buya Hanafi berjalan kearahnya dengan tatapan menguatkan.


“Alhamdulillah Akhirnya kamu sadar Nak. Bersabarlah!” Buya Hanafi langsung membantu melvin bangun dengan menyusun bantal dibelakangnya. Agar melvin menyandarkan tubuhnya yang masih lemah.


“Apa yang kamu rasa sekarang?” Tanya Umi Fatimah sambil menyodorkan segelas air yang langsung di minum Melvin hingga tandas. Melvin memberikan gelas kosong itu pada Umi Fatimah, dan menatap wajah mereka dengan bergantian.


“Buya, Umi, saya harus pulang! Dia menunggu saya! Saya tak ingin kehilangannya! Saya tak ingin dia di bawa pergi ke Jepang.” Jawab lemah Melvin yang kembali menghapus air matanya. Buya dan Umi pun saling pandang, lalu mereka menganggukkan kepalanya.


“Buya dan Umi akan berusaha membantumu sebisa kami. Buya memiliki sebidang tanah sekitar 10.000 meter di kampung sebelah, Buya akan menjualnya mudah-mudahan cukup untuk ongkos mu pulang Nak. Tapi Buya mohon kamu bersabar, karena untuk penjualannya butuh proses beberapa hari, besok Buya akan langsung menawarkannya pada rekan Buya.” Mendengar perkataan Buya, Melvin langsung menggelengkan kepalanya dengan menggenggam tangannya. Ia tak ingin Buya sampai menjual tanah satu-satunya demi biaya kepulangannya.


“Jangan Buya. Buya jangan sampai menjual tanah Buya demi saya. Saya sudah terlalu banyak menerima ketulusan dan kebaikan dari Buya dan Umi. Saya tak ingin menyusahkan kalian. Biarlah saya cari jalan keluarnya sendiri.” Melvin langsung mengalihkan pandangannya kearah Hanif yang sedang duduk di samping Buya.


“Hanif, bisa antar abang ke rumah Pak Abdul sekarang?” Hanif menganggukkan kepalanya. Sementara Buya dan Umi saling pandang dengan wajah kebingungan.


-


Butuh ☕☕☕☕☕ untuk menemani kehaluan otor wkwkwk


Like, komen, vote, rate, sama hadiahnya di tunggu.


Kira-kira ngapain yah Melvin ke rumah Pak Abdul malam-malam?


Hatur nuhun buat yang udah ngelike, ngevote, ngomen, ngegift😘😘😘😘


Hatur nuhun pisan🤗


Wilujeng wengi 🥰

__ADS_1


__ADS_2