
“Yang, aku ke ruang Daddy dulu! Kamu tunggu disini sebentar, Mamih sama Bu Ina on the way kesini. Gak papa kan aku tinggal?” Meida menganggukkan kepalanya dengan mengerucutkan bibirnya. Ia mengambil jus yang ada di depannya lalu meminumnya.
“Jangan ngambek, saya gak bakal lama kok. Jangan kemana-mana! Only 20 minute.” Melvin menangkupkan kedua tangannya dengan wajah menghiba, hingga Meida menganggukkan kepalanya terpaksa.
“Janji untuk kembali kesini!” Meida mengacungkan jari kelingkingnya kehadapan suaminya dengan mengerjapkan matanya pelan. Melvin pun menganggukkan kepalanya tersenyum sambil menautkan jari kelingkingnya.
“Awas kayak dulu lagi. Janji pulang sebentar, tapi perginya lebih sebulan.” Melvin menggigit bibirnya dengan tersenyum melihat wajah cemberut istrinya. Ia pun mencium pipinya dan berdiri.
“Tapi pulang nya tetap ke kamu, kan? Saya janji gak bakalan lama! Jangan kemana-mana! Mamih dan Bu Ina sebentar lagi sampai.” Ia mengusap kepala istrinya sambil mengecek layar ponsel lalu menyodorkan kearah istrinya.
“Biar gak bosen, pegang ponsel saya. Kamu bebas streaming, kuotanya unlimited baru di isi. Buka YouTube aja biar kamu gak kesepian.” Meida menerima ponsel yang di sondorkan suaminya. Terlebih dahulu ia membopong tubuh istrinya untuk di pindahkan ke belangkar, tak lupa ia menyusun bantal agar istrinya bisa bersandar.
“Saya pergi dulu! Jangan kangen!” Kekeh Melvin sambil mencium kening istrinya lalu pergi dari ruangan itu.
Meida tersenyum lebar, takala melihat wallpaper ponsel suaminya ternyata foto dirinya yang sedang tertidur nyenyak di pelukannya. Ia dengan antusias membuka galeri, yang banyak memperlihatkan potret-potret nya ketika masih bekerja di perusahaan suaminya.
“Gak ada kerjaan. Kenapa potretku banyak di ponselnya? Ternyata selama ini dia seorang paparazi.” Meida cekikikan melihat gambarnya yang tengah cemberut duduk di samping Melvin yang tengah bekerja.
Pasti ini ulah Dion.
Rival jadi Jodoh hahaha
Meida kembali menelusuri ponsel suaminya, dan kali ini ia membuka daftar kontak. Ia penasaran, apa nama yang diberikan suaminya untuknya.
Ia dengan tersenyum lebar menekan beberapa digit nomor ponselnya yang hilang ketika kejadian penembakan nya bulan lalu.
‘Singa betina'
Senyumnya tiba-tiba meredup takala melihat nama kontak dirinya di ponsel suaminya.
Jadi dia selama ini menamaiku singa betina? Tak bisa dibiarkan! Benar-benar harus di beri pelajaran.
Sungut Meida sambil mengepalkan tangannya kesal. Moodnya tiba-tiba memburuk setelah melihat nya. Ia sudah tak berminat menelusuri ponsel suaminya yang telah menamainya singa betina.
Dia yang menyebalkan, kenapa aku yang di sebut singa betina? Padahal aku tidak galak padanya, kecuali dalam keadaan darurat.
Batin Meida sambil meletakkan ponsel di pahanya. Ia menggigit pelan jari tangannya pertanda sedang berpikir.
Cling
Suara pesan masuk ke ponsel suaminya. Walaupun ia tak berniat membukanya, tapi matanya menangkap tulisan yang berada di layar ponselnya tersebut. Ia mendekatkan ponsel ke wajahnya dan membaca isi pesan yang terpampang di layar tanpa membukanya,
__ADS_1
Assalamualaikum,
Faris, bagaimana kabarmu? Aku berharap kamu selalu baik-baik saja dimana pun kamu berada.
Tadi aku dapat kabar dari Buya dan Umi bahwa kau sudah menikah dengan gadis pujaan mu. Walaupun awalnya shock, tapi aku turut bahagia. Selamat atas pernikahan kalian, semoga selalu dalam keberkahan Tuhan. Aku sangat terharu melihat kau dengan lantang mengucap ijab qabul, di samping istri mu yang masih terbaring tak sadarkan diri, padahal dulu aku berharap itu adalah aku. Cinta kalian sangat luar biasa, semoga aku bisa menemukan lelaki seperti mu, Do’akan aku.
dr. Aisyah
“dr. Aisyah? Siapa dr. Aisyah? Kenapa dia belum menceritakannya padaku? Panggilan nya pun aku kamu, sepertinya mereka pernah dekat? Atau memang dekat? Sepertinya wanita ini memiliki perasaan pada suamiku. Apa Aisyah ini adalah salah satu mantan nya?” Gumam pelan Meida sambil menatap dalam nomor kontak baru tersebut.
Tetap positive thinking Meida, jangan berpikiran macam-macam. Percaya pada suami mu! Biar nanti aku tanyakan langsung padanya!
Di lain tempat, nampak seorang wanita yang sedang menangis sambil menatap layar ponselnya. Ia membaca pesan yang dikirimnya dengan berulang, isi pesan itu sangat berlainan dengan isi hatinya. Ia mendoakan pujaan hatinya baik-baik saja, padahal hatinya sendiri pun sedang tak baik.
Berusaha melupakan mu, kenapa semakin membuat hati ku sakit. Ya Allah, ikhlaskan hatiku. Dia bukan yang terbaik untukku.
Lirih pilunya sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Ia dengan sekuat tenaga menahan perasaannya, ia tak bisa membohongi perasaannya yang sakit teramat dalam. Serpihan demi serpihan kenangan bersama pujaan hatinya, berputar begitu saja di pikirannya. Tak urung suara tangisnya semakin kencang dan air matanya bercucuran.
Penantian, sendirian, dan kesunyian
Jiwa terbelenggu oleh indahnya pengharapan
Jalan yang di tempuh, tak semulus yang di pikir
Meninggalkan diri, tak berujung pada asa
Mengikhlaskan, mungkin jalannya
Tanpa melihat seberapa beratnya
(dr. Aisyah)
“Assalamualaikum, Dok.” Suara ketukan pintu menyadarkan dokter Aisyah dari kubangan keterpurukan. Ia dengan cepat menghapus air matanya, lalu membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu ia baru membuka pintu.
-
“Meida, kenapa kamu melamun, Nak?” Meida langsung terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba mengagetkannya. Ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara dengan memegang dadanya,
“Bibi, Mamih. Sejak kapan kalian disini?” Bi Ina pun menghampiri Meida lalu duduk disampingnya. Meida menyodorkan tangannya, lalu mencium tangan Bi Ina dan Helena bergantian.
“Kami disini dari tadi. Kamu nya aja yang ngelamun, makanya gak sadar kami ada disini. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Sepertinya serius?” Tanya Helena sambil duduk di sebelah menantunya. Meida menggigit bibirnya dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Gak ada papa Mih. Oh yah, besok aku sudah di izinkan pulang oleh Jack. Hari ini terakhir aku terapi loh.” Helena tersenyum melihat wajah antusias menantunya.
“Alhamdulillah,” sahut Bi Ina dengan memegang lengan Meida lalu memeluknya.
“Syukurlah, Mamih seneng dengernya. Kalian besok pulang kemana? Ke rumah Mamih apa rumah Mommy-mu?” Meida menggelengkan kepalanya sambil menyandarkan kepalanya. Ia tak bisa mengambil keputusan sendiri, karena harus dirundingkan dengan suaminya.
“Aku gimana anak Mamih aja. Kemanapun dia pergi, aku pasti ngikut hehe.” Helena pun ikut tersenyum. Ia turun dari belangkar meida, berjalan menuju sofa untuk mengambil ponselnya yang berada dalam tas.
“Nanti Mamih rayu Melvin biar kalian pulang ke rumah Mamih beserta Bu Ina.” Meida mengangkat bahunya menolehkan kepalanya kearah Bi Ina yang sedang tersenyum padanya.
“Kamu beruntung, mertuamu sangat baik Meida.” Bisik Bi Ina sambil memeluk Meida dari arah samping.
-
Setelah mengetuk pintu, Melvin masuk ke dalam ruang kerja mertuanya yang berada di lantai 5. Di dalam ruang tersebut sudah ada Zaina dan Gilbert yang sudah menunggunya.
“Ada apa Dad, Mom? Maaf saya datang terlambat!” Gilbert langsung membuka matanya dan menegakkan duduknya ketika melihat menantunya sudah berdiri di depannya,
“Duduk Nak!” Perintahnya dengan santai. Zaina yang berada di sampingnya pun membuka matanya dan tersenyum kecil kearah menantu lelakinya.
“Daddy sengaja memanggil mu kesini, karena ada hal penting yang ingin daddy sampaikan pada mu. Daddy sangat membutuhkan pendapat mu mengenai hal ini.” Tutur Gilbert dengan melipat tangannya dan kembali menyandarkan kepalanya ke sofa. Melvin menatap aneh kearah mertuanya yang sikapnya tak seperti biasanya.
“Ada apa Dad? Sepertinya serius sekali. Apa ini berhubungan dengan istri saya?” Tanya Melvin dengan seksama.
Gilbert pun memandang istrinya, dan mereka pun menganggukkan kepala bersamaan.
“Benar sekali ini berkaitan dengan Jaslin. Karena sekarang Jaslin adalah istri mu, daddy ingin melibatkan kamu mengenai tentang pribadinya. Karena kamu pun wajib tahu sebagai suaminya.” Melvin mengerutkan dahinya. Perasaannya pun semakin bertanya-tanya apa yang di maksud mertuanya pada istrinya.
“Nak, mak lampir yang merupakan Oma Jaslin, orang yang menembaknya kini telah berpulang. Daddy bingung harus memberitahunya atau tidak. Walaupun oma- nya jahat, tetap saja itu Oma-nya. Andress sekarang sedang mengurus surat-surat di kantor polisi, agar berita kematiannya tak terendus oleh media terlebih dahulu. Karena Oma-nya meninggal sangat memprihatinkan, dan daddy takut ini akan menjadi buah bibir publik, dan mencoreng nama baik keluarga besar kita jika berita nya terendus media.” Gilbert menjeda ucapannya. Kemudian melanjutkannya dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar.
“Daddy ingin meminta solusi dari mu Nak, karena Daddy yakin, kamu menginginkan yang terbaik untuk putri daddy. Daddy takut Jaslin kembali trauma jika di beri tahu sekarang. Daddy minta tolong sama kamu, tolong beritahu dia pelan-pelan, tapi jangan sampai menyakiti hatinya.” Melvin pun menganggukkan kepalanya. Kini ia pun paham maksud mertuanya.
“Baik Dad. Nanti saya akan beritahu istri saya pelan-pelan. Putri Daddy memiliki hati yang baik, saya yakin dia pasti memaafkan kesalahan oma-nya yang telah meninggal.” Gilbert kembali memandang wajah menantunya dengan penuh harap. Ia menggigit bibirnya kemudian meneteskan air matanya,
“Daddy harap, Jaslin dapat melihat Oma-nya untuk yang terakhir kalinya.” Melvin memegang bahu mertuanya untuk memberikan kekuatan.
“Saya usahakan dad! Saya akan membujuknya!”
-
Operator oh operator 😢
__ADS_1
Jangan lupa di vote sama di ☕☕☕
Gomawooo 😘😘😘