Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Buka Puasa


__ADS_3

Jam 23:00


Ketika Meida sudah tidur terlelap. Ponselnya terus berdering hingga membangunkan tidurnya, Ia meraba kearah ponsel yang berada di atas nakas, untuk menjawab panggilan tersebut. Matanya setengah terbuka menyalakan layar ponselnya, tanpa melihat nama yang terpampang  jelas disana.


“Hallo ... Assalamualaikum,” Sapa nya dengan suara serak khas bangun tidur.


“Sayang, buka pintu kamarnya! Kamu kemana aja? Buka sekarang! Sebelum ketahuan Papih sama Mamih.” Meida langsung membulatkan matanya. Rasa kantuknya seakan hilang ketika mendengar suara suaminya yang terengah-engah yang kini sudah berada di depan pintu kamar yang ia kunci sedari tadi.


“Kenapa malem-malem kesini? Aku ngantuk tahu.  Tingkah kamu ada-ada aja!” Sungut Meida memutuskan panggilan tersebut. Ia berjalan pelan menuju pintu, membuka kunci terlebih dahulu lalu membuka pintu. Terlihat Melvin sedang tersenyum dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu kamarnya dengan rapat.


“By, kenapa malam-malam kesini? Ini jam tidur bukan jam kelayapan. Jarak rumah Daddy kesini lumayan jauh, kamu gak ada kerjaan banget datang malem-malem kesini.” Sewot Meida sambil berjalan menuju ranjang. Ketika ia melewati suaminya, Melvin terlebih dahulu memeluknya dari arah belakang.


“Maaf saya mengganggu tidur mu. Saya tak bisa tidur tanpa kamu sayang, makanya saya memilih pergi kesini jauh-jauh. Saya janji, setelah subuh saya langsung pulang ke rumah Daddy.” Melvin mendekap tubuh istrinya erat dari arah belakang dengan mencium pucuk kepalanya berulang-ulang.


“Daddy dan Mommy mengetahui kamu kesini?” Melvin menggelengkan kepalanya dengan cengengesan. Ia melingkarkan tangan di perut istrinya lalu menuntunnya ke ranjang.


“Yang tahu cuma Jonathan.  Dia yang membantu saya untuk kesini. Mommy dan Daddy tak membiarkan saya keluar rumah sedari tadi. Pekerjaan saya seperti raja, hanya makan, nonton, dan nyemil, tak ada kegiatan apapun. Mengobrol dengan Jonathan lumayan mengusir kebosanan saya.” Tutur Melvin sambil membalikkan tubuh istrinya lalu mencium wajahnya.


“Yaudah sekarang kamu tidur! Besok subuh kamu harus sudah pulang kesana, sebelum ketahuan oleh Papih dan Mamih. Padahal kamu gak usah kesini, besok lusa kita ketemu di pelaminan.” Meida membelai lembut rambut suaminya dengan sesekali menguap menahan kantuknya.


“Saya mau tidur dikelonin kamu! Tanpa kamu, saya tak bisa memejamkan mata sedikit pun.” Jawab Melvin seraya menuntun istrinya tertidur di bawahnya.


“Manjanya bayi besarku. Yaudah ayoo! Sini aku kelonin!” Meida merentangkan tangannya yang terbaring di tengah-tengah ranjang. Membiarkan wajah suaminya yang berada di ceruk lehernya, dengan tangan yang memeluk pinggangnya erat.


“Kamu nyaman disini?” Meida mengerucutkan bibirnya dengan tangan mengusap kepala suaminya yang tidur di dadanya.


“Sedikit membosankan. Karena gak punya temen buat  ngobrol selain Melisa. Kenapa kamu gak ngizinin aku pergi ke salon tadi sore?” Melvin mengangkat wajahnya dengan tersenyum. Ia mencium bibir istrinya sekilas lalu menyandarkan kepala di bahu istrinya.


“Gak usah ke salon, nanti tukang salonnya panggil aja ke rumah biar gak ribet. Saya gak mau kamu capek-capek, kamu baru pulih. Jika ingin ke salon kamu harus dengan saya, dan pastikan semua pekerja sekaligus pengunjungnya adalah perempuan.” Meida menghela nafasnya kasar, dengan tingkah suaminya yang mulai posesif. Ia menyugar lembut rambut Melvin dengan bibir sedikit cemberut.


“Sayang, kenapa pakai kaos oblong gak pakai baju dinas kamu?” Tanyanya seraya meraba kaos yang digunakan istrinya yang berlengan pendek yang hanya menutupi setengah pahanya.


“Ishh kamu By. Gak ada kamu ngapain pakai baju kurang bahan, lagian kita gak bawa baju haram itu dari rumah. Pakai kaos ini aja, lumayan nutupin sampai paha aku.” Melvin langsung mengelus lembut paha istrinya lalu menyusupkan ke dalam mengelus-elus lembut underwear yang dikenakan istrinya.

__ADS_1


“Kamu ngapain sayang?” Tanya panik Meida dengan mata yang tak berkedip. Melvin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia meraba kearah perut istrinya, lalu keatasnya.


“Kenapa gak pakai bra sayang? Kamu mau menggoda saya?” Meida menghela nafasnya dengan menggigit bibirnya pelan, ketika Melvin merayapi sebelah bukit kembarnya yang tidak luka.


“Bukannya kemarin Dokter Siska yang nyarinin agar tidak memakai bra supaya cepat kering? Tadi kamu yang nyuruh aku By.” Kesal Meida sambil memegang tangan nakal suaminya yang berada di balik kaos. Melvin kembali mencium wajahnya seraya berbisik, tanpa melepaskan tangannya dari bukit menjulang istrinya.


“Saya gak bakal ngapa-ngapain, cuman pegang doang kok. Yaudah sekarang kita tidur!” Melvin menyimbak bed cover dengan kakinya. Lalu menyelimuti tubuh mereka berdua sampai ke dada.


“By, nafas kamu geli. Bibir kamu jangan nyosor ihh!” Runtut Meida sambil memegang kepala Melvin yang sedang mengh*sap kuat lehernya. Melvin menggigit leher istrinya pelan lalu melepaskannya.


“Udah, saya cuman bikin satu aja kok. Jangan cemberut!” Melvin mengecup bibir istrinya sekilas dengan sebelah tangan berada di puncak dada istrinya yang hanya sebesar ujung jari kelingkingnya.


Melvin menggerakkan jari telunjuknya, memutari lingkaran pink istrinya yang mulai menegang.


Berapa lama kamu akan bertahan sayang? Saya yakin kamu akan memintanya sendiri.


Kekeh Melvin dalam hati, mer*ngsang titik puncak b*rahi istrinya yang terletak di puncak dadanya.


“By, tangan kamu diam. Kamu masih harus puasa.” Melvin mendongkakkan kepala kearah istrinya dengan menaikkan sebelah alisnya. Tangannya terus meraba dan memutari lingkaran pink istrinya dengan mengedipkan sebelah matanya. Meida memejamkan mata menahan gejolak di hatinya, tubuhnya seakan merespon apa dilakukan suaminya. Bohong jika dia tak terangsang oleh perbuatan suaminya, yang sedikit membuatnya terlena. Ia menatap wajah suaminya yang sedang menatapnya dengan tersenyum, tangan Melvin mulai turun ke bawah meraba area sensitifnya dengan lembut.


“Mau lanjut?” Tanya Melvin menatap wajah Meida sambil mengedipkan sebelah matanya. Meida mengatur nafasnya yang tak beraturan, lalu menatap suaminya dengan menganggukkan kepalanya.


“Baca do’a dulu!” Jawab Meida dengan menghela nafasnya.


Yess, buka puasa.


Batin Melvin sambil menganggukkan kepala dan langsung membaca do'a lalu ditiupkan ke ubun-ubun istrinya. Ia memagut pelan bibir istrinya dengan lembut untuk memberikan rasa nyaman. Tangannya dengan pelan namun pasti, melepaskan setiap benang yang membungkus tubuh indah istrinya.


Peluh keringat menyatu, suara kecapan bersahutan, suara hentakan terdengar. Dingin nya AC tak mendinginkan tubuh mereka yang sudah memanas dengan keringat bercucuran. Ungkapan cinta satu sama lain mulai terlontar, menggema dengan jelas menggetarkan kamar itu. Menunaikan ibadah bersama, untuk memperoleh zuriah sekaligus memperkuat tali cinta diantara mereka.


“Lanjut lagi?” Meida menggelengkan kepala lemah yang berbantal lengan suaminya.


“Sekarang kita tidur, noh udah jam 1 lebih. Jam setengah 4 kita harus sudah bangun, setelah shalat subuh kamu harus pulang ke rumah Daddy. Siang ini akan diadakan acara gladi resik, mudah-mudahan aku bisa jalan besok.” Melvin menyampingkan tubuhnya, membelai rambut Meida dan mencium dahinya lama.

__ADS_1


“Pasti bisa jalan! Kalau gak bisa jalan, biar nanti saya bopong.” Meida mencubit pelan perut suaminya dengan tersenyum.


“No, aku mau jalan aja. Gimana kamu nanti masuk ke rumah Daddy? Bagaimana kamu melewati penjagaan para satpam yang menjaga pintu gerbang?” Melvin memainkan telunjuk di wajah istrinya. Ia memainkan hidung lalu beralih pada bibirnya.


“Saya sudah sogok semua satpam yang menjaga rumah kamu, supaya nanti gampang masuknya. Lagian Jonathan sudah sediain tali dari kamarnya, saya tinggal manjat aja keatas nanti.” Kekeh Melvin sambil menggesek-gesekkan hidung di pipi istrinya. Meida menukikkan kedua alisnya dengan melipat tangannya.


“Gak baik main sogok-menyogok. Aku gak suka!” Sewot Meida sambil menyampingkan tubuhnya membelakangi suaminya.


“Yayaya, itu bukan sogok demi kursi kosong. Tapi itu sogok yang sejenis dengan memberikan uang tips atau lebih jelas nya beramal.” Kilah Melvin sambil mendekap tubuh polos istrinya dari arah belakang.


“Alesan mulu! Kamu kesini naik apa?” Melvin memilin rambut istrinya menggunakan telunjuknya, sesekali ia mencium rambut itu dengan mata terpejam.


“Saya bawa motor bebek milik Pak Iding, tukang kebun rumah kamu.” Meida menghela nafasnya, menautkan jari tangannya dengan menutup mulutnya yang menguap.


“Suamiku memang luar biasa! Aku mau tidur dulu!” Lirih Meida dengan suara lelahnya, setelah melayani hajat suaminya.


“Jangan tidur dulu! Kita belum wudhu sayang.” Kekeh Melvin sambil mencubit pipi Meida lalu menggelitik perutnya hingga Meida tertawa kegelian.


“By, ampun sayang. Udah geli! Ini aku bangun mau wudhu!”


-


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕


Voteeeeeeeee


Likeeeeeee


Komennnnnn


Love you😘😘😘😘😘😘


Maag yah, gaje wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2