
Hotel bintang 5 berlantai 20 itu kini sangat ramai. Berpuluh-puluh mobil mewah terparkir rapi di halaman hotel untuk menghadiri acara resepsi pernikahan mewah Putra-putri konglomerat ternama, antara pewaris kekayaan Nagara, dengan pewaris dari keluarga Atmadja. Nama kedua keluarga yang sangat berpengaruh di bidang bisnis di tanah air.
Satu persatu tamu keluar dari mobil mewah menuju ballroom hotel yang sudah ramai, yang terletak di lantai 1 yang sudah di hias sedemikian rupa megahnya.
Jam 09:00
Meida sudah mengenakan gaun panjang berwarna merah dengan warna kerudung yang sama, make-up fawless menambah kecantikan naturalnya sejak lahir. Sedangkan Melvin di kamar sebelah, mengenakan baju berlengan panjang berwarna senada dengan yang dikenakan istrinya di padu dengan celana berwarna hitam, ia tampil gagah memesona dengan rambut hitam klimisnya yang di sisir rapi. Wajahnya nampak bercahaya dengan senyum lebar yang Menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Setelah penampilannya di rasa cukup perfect, ia berjalan ke kamar Meida yang berada di sebelah kamarnya, untuk memberitahu istrinya bahwa 30 menit lagi Acara Tea Pai akan di mulai.
“Sayang...” Panggil Melvin seraya membuka pintu kamar Presiden suite istrinya yang fasilitasnya sangat lengkap. Nampak istrinya di kelilingi oleh 3 MUA ternama langganan keluarganya. Posisi Meida membelakangi dirinya, karena baru saja selesai di rias. Ke 3 MUA itu saling mengkode, untuk keluar kamar itu karena canggung dengan kehadiran Melvin.
“Karena sudah selesai, kami izin keruang sebelah dulu Nyonya, untuk mempersiapkan gaun pengantin anda.” Meida menganggukkan kepala seraya tersenyum. Ke 3 MUA itu pergi, sambil menundukkan kepalanya karena berpapasan dengan Melvin yang berdiri di depan pintu.
“Kami permisi ke ruang sebelah dulu Tuan.” Melvin pun menganggukkan kepala dengan wajah ramah. Lalu berjalan kearah istrinya yang sedang berdiri menghadap cermin besar dengan menundukkan wajahnya. Ia menghampiri Meida, melihat bayangan wajah istrinya dari cermin dengan tersenyum,
“Cantiknya istriku.” Seru Melvin seraya memeluk istrinya dari arah belakang. Ia bisa menikmati kecantikan istrinya dari cermin besar yang berada di depannya. Meida menyunggingkan senyum dengan tersipu malu, lalu mendongkakkan wajah melihat wajah suaminya di balik cermin. Ia di buat terpana oleh penampilan suaminya yang sangat menawan.
“By, kamu tampan sekali, membuatku jatuh cinta berjuta-juta kali.” Melvin terkekeh mendengar gombalan istrinya. Ia menatap wajah Meida dengan senyum-senyum dengan tangan memegang kedua bahunya, yang tinggi nya hanya sedagunya.
“Sayang, kamu tahu? Saya tak rela kecantikan mu di lihat orang lain, cukup saya saja yang melihatnya. Kamu terlalu cantik hingga mata saya tak bisa berkedip.” Meida terkekeh dengan mengelus lengan baju suaminya. Ia menatap dalam wajah suaminya yang tinggi menjulang di belakangnya,
“Yaudah, bungkus aja By pakai koran biar gak di liat orang. Lagian kamu ada-ada aja sayang, aku di rias gini kan biar cantik, biar gak malu-maluin kamu. Ini acara kita, masa aku tampil biasa-biasa aja.” Melvin melingkarkan tangan di perut Meida dengan mencium pucuk kepalanya berulang-ulang.
“Saya takut nanti banyak orang yang terpesona sama kamu. Nanti kamu jadi bahan rebutan, dan banyak orang yang menyaingi saya.” Meida terkekeh sambil membelai wajah suaminya,
“Kamu lucu sayang. Lagian siapa yang berani merebut aku dari seorang Melvin Nagara, mereka pasti berpikir ribuan kali untuk melakukannya. Lagian aku tak bisa berpaling dari mu,” ucapnya serasa mencubit hidung suaminya gemas. Melvin melepaskan dekapannya, merapikan hijab istrinya dari belakang.
“Saya tidak akan membuat mu berpaling sedikitpun!” Sahut Melvin seraya mengedipkan sebelah matanya. Ia melihat jam tangan yang melingkar ditangannya lalu kembali menatap istrinya.
“20 menit lagi acara di mulai. Kita masih ada waktu sekitar 5 menit lagi disini. Kamu sudah sarapan?” Meida menggelengkan kepala seraya memegang dadanya yang berdebar-debar karena gugup.
“Aku gugup, sampai gak ingat sarapan. Ini pertama kalinya aku menampilkan diri di depan banyak orang ternama. Kamu tahu By? Perasaan ku berdebar-debar dari semalam, hingga aku tak bisa tidur.” Melvin membalikkan pelan tumbuh Meida hingga mereka berhadapan.
“Kamu gak tidur?” Tanyanya dengan dahi yang berkerut. Meida menarik nafasnya pelan meletakkan kedua tangan di dada suaminya.
“Malam aku tidur jam 01:00, bangun jam 04:00. Cuman tidur 3 jam.” Jawabnya dengan pelan. Melvin pun melipat bibirnya lalu tersenyum.
__ADS_1
“Sama, saya pun tak bisa tidur semalaman karena guling hidup saya tidak ada. Berapa kali saya mencoba memejamkan mata, tapi tetap saja tak bisa. Karena gak ada yang ngelonin saya.” Kekeh Melvin sambil melingkarkan tangan di pinggang istrinya. Meida mengerucutkan bibirnya dengan tangan mencubit perutnya.
“Dasarrr. Aku pun sama, karena gak ada yang meluk aku, jadi gak bisa tidur.”
Mereka berdua sama-sama tersenyum, dengan saling bertatapan, mengagumi wajah satu sama lain.
“Sekarang kita ke bawah! Banyak orang yang sudah menunggu kita.” Meida menganggukkan kepala melepaskan tangan dari dada suaminya.
“Ayoo kita ke bawah By. Jalannya pelan-pelan, aku tak terbiasa jalan mengenakan high heels tinggi seperti ini.” Melvin dengan senyum lebar menyondorkan sebelah tangannya dengan sedikit membungkuk, agar Meida menyambut uluran tangannya. Mereka laksana seorang Pangeran dan Cinderella yang akan menghadiri pesta besar kerajaan.
Dengan wajah sumringah, Meida menerima uluran tangan Melvin lalu menggenggamnya erat tak ingin terpisahkan. Mereka berjalan bergandengan kearah pintu dengan tangan yang bertautan erat.
“Saya kasih kamu vitamin dulu biar gak gugup!” Meida menghentikan langkahnya dengan wajah bingung. Melvin menundukkan wajahnya, mencium dahi istrinya, kemudian pipinya, yang terakhir ia mencium bibirnya sekilas.
“Jangan gugup lagi! Pegang tangan saya dimana pun!” Meida menganggukkan kepalanya samar. Mematuhi perkataan suaminya.
“Acara Tai Pai ini berapa lama By?”
“Di jadwalnya sih di mulai dari jam 09:30 sampai jam 11:00. Kita istirahat sebentar untuk makan dan ganti baju, nanti di lanjut lagi acara resepsi jam 13:00 sampai jam 17:00. Dan puncak acara akan dilaksanakan dari jam 19:00 sampai jam 22:00, berikut Dansa dan hiburan lainnya.” Terang Melvin sambil membuka pintu. Mereka berjalan kearah lift khusus yang hanya diperuntukkan untuk keluarga mereka.
“Satu lagi, acara pernikahan kita ditayangkan secara langsung di salah satu stasiun televisi milik Om Michael, jadi seluruh Indonesia menyaksikan resepsi pernikahan kita nanti sayang. Dan seluruh orang pasti tahu, bahwa kamu adalah istri saya.”
-
Para santri berkumpul di rumah Buya untuk melihat pernikahan Melvin dan Meida yang akan di tayangkan langsung di Televisi. Mereka begitu antusias akan melihat pernikahan Abang mereka, yang sudah lama tak mereka jumpai.
“Kamu yakin Nif pernikahan bang Faris jam setengah sebelas sekarang?” Tanya Ilham melihat kearah televisi yang masih menampilkan iklan. Semua santri menatap kearah Hanif yang sedang menganggukkan kepala, seraya menunjukkan pesan di layar ponsel kepada Ilham.
“Bang Faris sendiri yang bilang sama saya kalau resepsi pernikahannya akan dilaksanakan jam segitu di salah satu stasiun televisi swasta milik keluarga nya. Saya tak mungkin berbohong pada kalian, kita tunggu aja sembari menunggu Buya dan Umi selesai melaksanakan shalat Dhuha.” Jawab santai Hanif dengan meyakinkan teman-temannya sambil memindahkan channel menggunakan remot.
Setelah membaca isi pesan itu. Ilham kembali mengembalikan ponselnya kearah Hanif yang sedang fokus melihat ke layar televisi.
“Tuhh tuhh lihat tuh! Itu Bang Faris, Kan? Saya gak mungkin bohong pada kalian! Lihatlah! Acaranya ternyata sudah di mulai sedari tadi, dan kita salah stasiun Tivi.” Tunjuk Hanif kearah televisi dengan wajah sumringah ketika melihat Melvin yang berjalan menggandeng istrinya kearah kursi yang diduduki oleh orang tua mereka.
Mendengar suara heboh para santri di ruang tengah, Buya dan Umi keluar dari kamar mereka dengan mengenakan peralatan shalat yang masih lengkap.
__ADS_1
“Istri bang Faris cantik banget! Kayak bidadari yang turun dari khayangan, mana mengenai hijab lagi. Bikin aku jatuh cinta. Istri idaman banget.” Teriak salah satu santri menunjuk kearah Meida yang berdiri di samping Melvin dengan tersenyum kearah kamera. Ilham langsung menyentil dahinya dengan mengangkat telunjuk ke depan bibirnya.
“Dias mah kebanyakan baca dongeng Jaka Tarub, makanya jadi begini. Kebanyakan ngehalunya! Cubit pipinya, biar dia bangun dari alam khayal nya.” Para santri tertawa mendengar ucapan Ilham mereka sontak mencubit perut Dias sambil tertawa.
(Acara Taipei kurang lebih seperti ini yah guys. Foto hanyalah contoh🤭)
“Buya, itu Bang Faris! Bang Faris ganteng banget Buya!” Tunjuk Ilham kearah televisi ketika melihat Buya Hanafi dan Umi Fatimah yang baru saja keluar dari kamar dan menghampiri mereka.
“Ohh sudah di mulai resepsi pernikahannya?” Tanya antusias Buya Hanafi yang langsung duduk di tengah-tengah mereka.
“Belum Buya, katanya acara Tea Pai dulu sebelum resepsi. Tuh bacaannya tertulis di layar!” Jawab salah satu santri setelah membaca tulisan yang tertera di layar televisi.
“Pasti acara Tea Pai dulu, karena abang mu dan istrinya keturunan Tionghoa. Dan acara itu merupakan salah satu rangkaian acara yang sering diadakan dalam pernikahan ala China. Buya pernah melihat acara seperti ini ketika pernikahan teman Buya keturunan Chinese menikahi salah satu perempuan dari Etnis Uighur, yang berada di Xinjiang, China.” Terang Buya Hanafi seraya menunjuk kearah Melvin yang memberikan secangkir teh kepada mertuanya.
“Buya, istri Bang Faris cantik banget. Wajahnya menenangkan untuk di lihat, jika ada kembarannya Hanif mau menikahinya.” Buya Hanafi tergelak mendengar ucapan polos Hanif, sementara santri lain tertawa ketika mendengarnya.
“Istri abang mu memang cantik Nif. Abang mu pun sangat mencintainya. Lihatlah mimik mukanya! Abang mu terlihat sangat bahagia dengan senyum lebar, matanya terus melirik kearah istrinya dengan penuh cinta, padahal istrinya berada di sampingnya.” Sahut Umi Fatimah menunjuk kearah Melvin yang sedang curi-curi pandang kearah istrinya yang sedang menuangkan teh untuk mertuanya.
“Nanti Hanif tanyain sama Bang Faris, siapa tahu istrinya punya kembaran.” Ilham sontak menoyor kepala Hanif seraya tertawa.
“Sekolah dulu yang bener Nif, baru nyari istri. Sekolah aja baru SMP, udah mikirin nikah. Matematika aja nilainya masih 5, udah mikirin istri.” Hanif menggaruk kepalanya dengan cengengesan. Wajahnya memerah karena malu di ledek teman-temannya. Apalagi Buya Hanafi dan Umi Fatimah pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya.
“Ayah nya Bang Faris mata nya sipit banget. Tapi Ibunya awet muda. Bang Faris aja usianya mau 28 tahun, tapi ibu nya seperti usia 30 tahunan.” Sahut Ilham menunjuk kearah Helena dan Nagara yang nampak tersenyum setelah mendapat secangkir teh dari menantunya.
Nampak Meida dan Melvin menundukkan sedikit tubuhnya dengan mengepalkan kedua tangan di depan wajahnya tanda mengucapkan terima kasih.
“Buya, mereka sangat serasi. Lihatlah tatapan mereka, matanya menyiratkan banyak cinta satu sama lain. Semoga mereka selalu bersama sampai Jannah-Nya,” ujar Umi Fatimah yang duduk di samping suaminya yang berada di tengah-tengah para santri dengan melihat dalam kearah dua mempelai,
“Aamiin. Mari kita doakan semoga mereka selalu bahagia seperti itu. Buya senang melihatnya.” Para santri pun mengaminkan do'a guru mereka dengan mata tak beralih menatap kearah pasangan suami istri yang berada di layar kaca.
-
☕☕☕☕☕
__ADS_1
Like, komen, Votenya Tong hilap♥️♥️♥️
Hatur nuhun😘😘😘