Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Sakit


__ADS_3

Setelah tak mendengar suara teriakan di kamar mandi, Jack kemudian menghampiri Melisa dengan membawa Bathrobe dan handuk miliknya. Wajah Melisa nampak pucat dengan tubuh yang bergetar karena kedinginan, tatapannya sayu dengan mata yang memerah. Jack dengan lembut mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya disisian bath up, ia tak mempedulikan kaos oblongnya yang kini basah terkena percikan dari baju yang Melisa kenakan. Ia membuka perlahan ikatan di tangan dan kakinya dengan cepat.


“Maafkan saya melakukan ini! Saya tak ingin kehormatan mu hilang Melisa! Saya pun takut tak bisa mengendalikan diri, jika menghadapi mu seperti tadi.” Lirih Jack yang langsung mendapatkan pelukan erat dari tubuh basah Melisa. Jack dengan lembut melerai pelukannya, dan memberikan bathrobe dan handuk kearah Melisa.


“Pakailah ini! Saya harus mencari baju ganti untukmu! Tunggu sebentar!” Setelah memberikan baju ke tangan Melisa yang pucat pasi dan tubuhnya lemas. Jack kembali pergi ke kamarnya, mencari baju yang pas untuk Melisa. Setelah menemukan barang yang dicarinya, sepotong training panjang, kaos oblong dan Hoodie berwarna coklatnya. Ia langsung mengetuk-ngetuk pintu untuk masuk,


“Yaa Tuhan Melisa!” Jack kaget melihat tubuh Melisa yang terduduk di pojok kamar mandi dengan Bathrobe yang sudah melekat di tubuhnya dengan memeluk lututnya erat. Pakaian basahnya berceceran di lantai. Jack langsung membopong tubuhnya menuju ranjang miliknya.


“Jack, aku kedinginan! Tolong aku!” Rintih Melisa yang kulitnya dingin bagai es. Jack langsung membelitkan selimut bed cover ke dalam tubuhnya, dan membantunya berbaring di ranjang.


Karena tubuh Melisa semakin bergetar, ia langsung mengambil bed cover di kamar yang biasa Andress tempati.


“Semua akan baik-baik saja! Maafkan saya Melisa! Maaf telah membuatmu seperti ini!” Lirih pelan Jack dengan rasa bersalahnya. Ia menyentuh dahi Melisa yang sangat panas.


“Kamu demam Melisa. Saya harus menghubungi keluarga mu!” Melisa menggelengkan kepalanya lemah. Memegang tangan Jack dengan sisa tenaganya.


“Jangan ganggu Mereka! Ini sudah malam Jack, mereka sudah tidur. Papih pasti marah, jika mengetahui kondisiku yang seperti ini.” Sahut lemahnya dengan tubuh yang menggigil. Jack memijit kepalanya dengan pikiran kacau.


“Tapi keluarga mu harus tahu Melisa! Apalagi Papih mu.” Melisa kembali menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


“Aku mohon Jack, jangan! Karena aku membohongi Papih. Aku bilang akan menginap di apartemen Bu Ina. Sebenarnya aku pergi bertemu dengan seseorang, dan setelah selesai baru akan ke apartemennya. Tapi keadaan tak sesuai rencanaku.” Terangnya yang kembali menangis. Raut wajah Jack kasian bercampur kesal, karena ulah wanita didepannya yang membohongi Papihnya.


“Yaa Tuhan Melisa. Inilah akibat kamu membohongi orang tuamu. Jadinya seperti ini, Kan?” Melisa menganggukkan kepala dengan wajah menyesalnya. Air mata terus saja menetes dari sudut matanya.


“Saya harus mengabari Melvin! Koko-mu harus tahu keadaan mu!” Jack berdiri akan mengambil ponsel di ruang kerjanya. Namun lengannya dipegang erat oleh Melisa kembali.


“Please, jangan menghubungi ko Melvin. Jangan membuatnya khawatir! Dia di Malang Jack bukan di Surabaya. Lagian ini sudah malam! Dia sudah tidur!” Jack mengurungkan niatnya dengan menyugar rambutnya frustasi.

__ADS_1


“Saya harus menghubungi siapa Melisa? Saya tak ingin orang salah paham pada kita! Saya takut mereka berspekulasi bahwa saya menculikmu, apalagi keadaan mu seperti ini!” Melisa bangun dari kondisi terbaringnya. Ia menyandarkan kepalanya di headbord ranjang, dengan tubuhnya masih menggigil.


“Subuh nanti, antarkan aku ke apartemen Bu Ina. Kau jangan khawatir! Kejadian ini tak akan mengurangi reputasi mu. Justru, aku yang berhutang budi padamu.” Jack memejamkan matanya dengan bertolak pinggang. Ia menghela nafasnya kasar, dengan mencebikkan bibirnya.


“Baiklah! Tapi kau harus memberitahu saya, siapa yang menjebakmu? Dengan siapa kau bertemu malam ini?” Melisa menarik nafasnya, dengan mengeritkan dahinya menatap kearah Jack dengan malas.


“Sudahi interogasi mu Jack. Aku kedinginan! Aku akan memberitahumu nanti.” Jack Melipat tangannya dengan menukikan alisnya. Dengan sebelah tangan menggaruk dagunya.


“Baiklah! Awas kau bohong!” Melisa menganggukkan kepalanya lemah. Mengiyakan ucapan lelaki yang kini sedang berdiri di sampingnya.


“Tunggu disini, saya ke dapur dulu! Pakai baju ini agar kau tak kedinginan! Maaf saya tak memiliki dalaman perempuan.” Jack menyondorkan pakaian yang telah ia siapkan. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Melisa menuju dapur.


-


“Apa Buya yakin, sakitnya dokter Aisyah berkaitan dengan Melvin?” Tanya Umi Fatimah sambil menyandarkan kepalanya di dipan tuanya. Buya Hanafi berjalan mendekat kearah istrinya dan duduk di sisi ranjang dengan abaya lengkapnya.


“Emang benar sih Buya, Aisyah pernah mencintai Melvin. Tapi umi gak yakin, jika karena itu.” Buya Hanafi menarik nafasnya pelan memainkan tasbih yang berada di tangannya.


“Buya yakin karena itu Mi. Buya pernah memergokinya menangis di pinggir pantai menyebut nama Melvin. Dia sepertinya patah hati melihat Melvin yang sudah menikah dengan wanita pujaannya. Buya melihat, dia sangat mencintai Melvin dengan teramat dalam, sebelum mengetahui Melvin sudah memiliki calon istri.” Umi Fatimah menundukkan wajahnya dengan sendu. Merapikan mukena putih yang di pakainya. Ia pun menyetujui apa yang diucapkan suaminya, bahwa wanita yang selama ini mengabdi di kampungnya sangat mencintai putra angkatnya.


“Buya, apa kita beritahu Melvin?” Buya Hanafi mengangkat bahunya dengan menggelengkan kepalanya. menaikkan kedua kaki lalu duduk dengan posisi bersila.


“Jika kita beritahu sekarang, Buya takut menyakiti perasaan istrinya. Umi pun tahu sendiri, mereka baru saja menikah. Buya tak ingin istrinya salah paham, gara-gara masalah ini.” Umi Fatimah kembali menganggukkan kepala dengan mengusap wajahnya.


“Terus kita harus berbuat apa sekarang Buya?” Buya memegang tangan istrinya dengan mengelus kepalanya lembut.


“Kita berdo'a sekarang untuk kesehatan Aisyah. Semoga dia cepat-cepat sembuh dan bisa melupakan Melvin. Jika memang kondisinya memang tidak membaik, baru kita beritahu Melvin.” Putus Buya Hanafi sambil menepuk lembut bahu istrinya yang matanya sedang berkaca-kaca yang diam menunduk.

__ADS_1


“Buya tahu, umi sangat menyayangi Aisyah. Tapi kita tak bisa menyakiti hati Meida. Umi tahu sendiri kan, Melvin sangat mencintainya?” Umi Fatimah kembali menganggukkan kepala dengan mendongkakkan wajahnya.


“Umi tahu Buya. Umi hanya kasihan saja pada Aisyah, cintanya tak terbalas. Bertapa sakit perasaannya, hingga ia jatuh sakit seperti ini.” Lirihnya dengan suara bergetar.


-


Jam 3 pagi, Melvin sudah terbangun. Ia tersenyum melihat kearah istrinya yang sedang tidur terlelap dipelukannya dengan tubuh yang sama-sama polos. Ia mengusap pundaknya lembut seraya mencium pucuk kepalanya berulang-ulang.


“Tidur nyenyak sayang. Terima kasih untuk malam indah ini.” Bisik pelan Melvin ke telinga istrinya yang masih tertidur. Ia mengangkat lengan yang digunakan untuk menahan kepala yang dijadikan bantal istrinya dengan hati-hati, agar tak membangunkannya. Dengan gerakan perlahan-lahan, ia meletakkan kepala istrinya di bantal, membenarkan selimut , menutup tubuh istrinya sampai ke leher. Ia kembali mencium kening istrinya lalu dengan pelan-pelan turun dari atas ranjang dengan memungut pakaian dirinya dan istrinya yang berserakan di lantai.


Malam ini benar-benar luar biasa.


Kekeh nya sambil mengambil Bathrobe lalu mengenakannya asal, setelah itu ia berjalan ke kamar mandi untuk melaksanakan mandi wajib.


Setelah 15 menit, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan bathrobe hitamnya. Ia terlebih dahulu masuk ke dalam walk in closet untuk mengambil underwear lalu masuk ke ruang ganti untuk mengenakan koko lengan pendek dan sarung hitamnya.


Ia menyampirkan sajadah di bahunya, lalu keluar dari ruang ganti.  Setelah menyisir rambut, ia langsung mengenakan kopiah hitam dan langsung membentangkan sajadah di samping ranjangnya. Terlebih dahulu ia melihat kearah istrinya yang sedang memeluk guling, setelah di rasa posisi istrinya cukup aman. Ia baru menunaikan Shalat Sunnah Taubat, di lanjut dengan Shalat Sunnah Hajat, di lanjut dengan Shalat Sunnah Tahajud, dan terakhir melaksanakan Shalat Sunnah Witir. Kebiasaan yang sering dilakukannya, sejak masih berada di pesantren Al-Muttaqin.


Ia masih mengingat dengan jelas, didikan yang diberikan orang tua angkatnya, yang dengan sabar mengajarnya dulu.


-


Kuyy vote sama hadiahnya ♥️♥️♥️♥️


Yang part hari Minggu gak lulus review 😭 udah 5x revisi sama 5x di tolak, padahal hampir 2,5 K. Jadi kayaknya di skip deh 😭


Maaf yah🙏

__ADS_1


__ADS_2