Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Patah Hati


__ADS_3

Para santri bahu membahu membantu pembangunan pondok pesantren. Mereka bergotong royong mengangkut bahan material dari pesisir pantai menuju ke tempat pesantren mereka.


Suasana siang itu cukup terik, sinar matahari membakar kulit mereka menjadi kehitam-hitaman, keringat mengucur membasahi wajah dan tubuhnya. Namun itu semua tak menyurutkan semangatnya, mereka acap kali tertawa lepas tanpa beban, dengan wajah cerianya.


Pemandangan itu bertolak belakang dengan seorang wanita yang sedang mengawasi mereka di depan rumah Buya Hanafi. Raut wajahnya terlihat murung, wajah tirusnya terlihat pucat pasi, pandangannya terlihat kosong, memandang kearah orang yang sedang hilir mudik membawa ember coran dan batu bata.


“Nak Aisyah, sudah makan?” Umi Fatimah mengusap bahu wanita yang sedang melamun itu. Aisyah pun terlonjak kaget dengan memegang dadanya,


Astaghfirullah.


Ia menolehkan kepalanya kearah samping, melihat Umi Fatimah yang sedang tersenyum padanya.


“Kamu kenapa Nak? Dari tadi umi perhatikan kamu melamun terus?” Dokter Aisyah pun mengusap wajahnya dengan mengucap Astaghfirullah berulang-ulang. Ia menarik nafasnya pelan, lalu menjawab pertanyaan yang umi Fatimah lontarkan.


“Aisyah tidak papa mi. Aisyah suka saja lihat para santri yang gesit mengangkut batu bata itu.” Kilahnya sambil menunjuk kearah santri yang sedang mengangkat batu bata di bahunya.


“Dikirain umi ada apa. Umi juga senang melihat kearah mereka. Mereka dengan sukarela membantu pembangunan pondok pesantren ini tanpa di perintah, walaupun ada tukangnya. Mereka bekerja dengan Lillah tanpa kenal lelah. Semoga keringat mereka yang mengucur menjadi saksi kelak, bahwa mereka sedang berjuang di jalan Allah dengan mambantu mendirikan pondok pesantren ini.” Aisyah mengaminkan Do’a wanita paruh baya di sampingnya dengan menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaannya yang kembali kosong, takala mengingat wajah seseorang. Tubuhnya pun kembali lesu, dengan wajah piasnya.


“Wajah mu terlihat pucat, apa kamu sakit, Nak?” Tanya umi Fatimah sambil menyentuh dahi dokter muda itu. Aisyah menggelengkan kepalanya lemah dengan wajah lesunya.


“Aisyah hanya tidak enak badan umi.” Jawabnya sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja. Ia mulai merasa tak nyaman dengan kondisi tubuhnya, yang sudah beberapa hari ini tak makan. Nafsu makan dan semangatnya hilang, setelah melihat rekaman pernikahan Melvin. Dan hatinya semakin sakit, ketika ia melihat video klarifikasi Melvin yang sudah beredar di jagat maya mengenai pernikahan dan istrinya.


“Kalau kamu tak enak badan, istirahatlah di dalam! Kamar bekas Faris kosong kok. Laporan ini tinggalkan saja disini! Biar Buya nanti yang lanjutkan.” Umi Fatimah dengan lembut mengambil proposal yang berada di depan dokter Aisyah. Ia menggandeng wanita itu ke dalam untuk beristirahat.


“Makan siang dulu, Nak. Habis itu minum obat.” Dokter Aisyah menggelengkan kepalanya. Ia meminta umi Fatimah untuk langsung membawanya ke kamar kosong yang pernah di tempati oleh putra angkatnya.


Aisyah merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang Melvin tempati. Wangi tubuh Melvin masih tertinggal di tempat itu, ia sengaja memejamkan matanya, menghirup udara di kamar itu dengan sebanyak-banyaknya.


“Umi tinggal dulu yah! Kalau ada apa-apa, panggil umi di dapur!” Aisyah membuka matanya lalu menganggukkan kepalanya. Setelah pintu itu di tutup dari arah luar, ia menyampingkan tubuhnya lalu memeluk erat guling yang berada di ranjang, dan menenggelamkan kepala diatasnya.


Aku rindu ...


Ternyata rindu dan sakit itu hanya berbeda tipis.


Kau bahagia disana, sementara aku disini menderita karena mu.


Tuhan, kenapa sulit sekali menghapus rasa ini?


-


Melvin dan Meida di buat terheran-heran dengan kedatangan Melisa yang tiba-tiba menangis di kamarnya. Mereka pun saling pandang dengan wajah bingung. Melvin dengan lembut membantu adiknya untuk duduk di ranjang dan mengusap-ngusap kepalanya agar tenang.


“Lisa, are you oke? Kamu menangis? Ada apa? Cerita sama koko.” Melisa tak menjawab. Ia malah menyandarkan kepalanya di samping kakak iparnya, yang usianya lebih muda 2 tahun darinya.


Ia memejamkan matanya dengan matanya yang kembali memanas.


“Kamu sedih di tinggal wanita itu meninggal? Atau jangan-jangan kalian dekat?” Tanya ulang Melvin yang kini duduk di samping adik perempuannya. Meida yang berada di samping Melisa pun mengelus bahunya lembut untuk menenangkannya.

__ADS_1


“Ada apa? Cerita pada kami. Siapa tahu kami bisa bantu.” Tanya lembut Meida dengan wajah keibuan. Melisa menolehkan kepala kearahnya lalu memeluknya dari arah samping. Ia kembali menangis di bahu kakak iparnya, setelah menangis di bahu Jack. Air matanya kembali keluar, ketika mengingat perkataan Jack bahwa Andress pernah mencintai seseorang hingga kondisinya kacau. Di saat dia setia mencintai dan menunggunya, tapi Andress malah mencintai wanita lain. Ia tak tahu wanita yang dicintai oleh lelaki yang dicintainya itu kini sedang dipeluknya.


Meida dengan lembut mengusap pundak adik iparnya yang usianya lebih tua darinya. Ia tahu, adik iparnya sekarang sedang bersedih dan terpuruk.


“Dek, ada apa? Kenapa kamu datang-datang langsung menangis? Apa Papih kembali menyita fasilitas mu? Jika masalah itu, kamu jangan khawatir, koko masih bisa memberi mu jatah uang jajan lebih dari biasanya. Jangan nangis lagi! Malu sama umur!” Melvin mendekatkan dirinya pada adiknya lalu mengelus pundaknya. Melisa melepaskan pelukan dari Meida lalu memandang kearah koko satu-satunya.


“Aku sedang patah hati ko,” ucapnya dengan wajah polos sambil mengusap air matanya. Melvin dan Meida membulatkan matanya saling pandang, mereka menutup mulutnya masing-masing agar tidak tertawa mendengar pengakuan polos adiknya.


“Patah hati kenapa? Bukannya kamu wanita strong anti melehoy. Siapa yang bisa bikin kamu patah hati? Lelaki itu sangat luar biasa,” ucap Melvin dengan menahan tawanya sambil memegang perutnya.


“Mendengar mu patah hati, rasanya lucu sekali haha.” Meida langsung mencubit perut suaminya yang sedang tertawa lepas. Sementara melisa langsung mendelikkan matanya kearah Melvin lalu memukul lengannya keras.


“Jika berkaitan dengan perasaan, aku lemah ko. Koko juga sama, Kan? Malahan koko lebih mengenaskan dari ku ketika sedang patah hati. Mamih sampai bawa Dokter Jiwa ke rumah.” Sewot Melisa yang melipat tangannya. Ia merebahkan tubuhnya di samping meida, lalu memasukkan dirinya ke dalam selimut. Ia tak peduli dengan wajah kesal kokonya, ia malah menjulurkan lidahnya meledek wajah Melvin yang sedang menatapnya tajam.


“Sesama berpengalaman dalam patah hati, jangan saling meledek.” Sinis Meida kearah Melvin yang sedang mencebikkan bibirnya. Melisa pun kini tertawa memandang kearah Meida yang sedang menatap tajam Koko-nya hingga tak berkutik.


“Aku numpang tidur disini yah kakak ipar. Menghadapi kenyataan, ternyata butuh banyak tenaga. Kalau Mamih nanyain aku, bilang aja aku disini. Aku mau tidur dulu!” Melvin yang duduk di samping adiknya pun menggelengkan kepalanya dengan melipat tangannya. Sementara Meida menahan tawanya melihat sikap kekanak-kanakan adik iparnya yang tak sesuai dengan umurnya. Ia menggeser tubuhnya agar melisa lebih leluasa untuk tidur, dan dalam hitungan menit, melisa benar-benar tidur dengan lelapnya.


“Wanita unik. Dia lucu sekali!” Gumam Meida. Ia pun merebahkan tubuhnya di samping melisa.


Melvin yang tadinya kesal pun kembali tersenyum, melihat kearah kedua wanita yang dicintainya yang sedang memejamkan matanya.


“Yang, patah hati bikin otak gak berfungsi yah?” Tanya Melvin sambil menoel-noel pipi istrinya. Meida menepis tangan suaminya dengan kesal.


“Entahlah, pikir aja sendiri. Kamu pun pernah patah hati, Kan?” Melvin mengerucutkan bibirnya dengan malas. Ia pun merebahkan posisinya di samping adiknya.


“Makanya, jangan ngeledek Melisa kalau kamu pun gak mau di ledek sepertinya. Udah ah, aku mau tidur dulu!” Meida memejamkan matanya untuk menyusul Melisa ke alam mimpi. Melvin mendelikkan matanya melihat istrinya yang malah tertidur, ia mengambil ponsel di atas lalu memainkannya.


Ko, pemasaran brand kemarin di luar ekspektasi kita. Untuk dress terbaru, sangat diminati oleh pelanggan VVIP dengan omset di atas 1 M. Namun sayang, untuk produk pakaian lama, omsetnya menurun sekitar 25%, imbas dari pernikahan koko. Rata-rata pelanggan kecewa karena koko tiba-tiba menikah.


Melvin mengerutkan dahinya membaca pesan itu.


[Tak masalah turun 25%, kita harus giat lagi. Luncurkan desain terbaru ke pasaran. Gunakan marketing yang baik, untuk menggaet 50%/ ibu-ibu, 30% anak muda, dan 20% anak-anak. Saya beri waktu seminggu untuk membuat desain terbaru, saya tunggu report dari kalian.]


Melvin mengirimkan balasan pesannya. Ia sengaja tak langsung menelpon steve, karena takut mengganggu adik dan istrinya yang sedang tertidur.


[Bagaimana perkembangan bisnis real estate saya? Ada masalah?]


Melvin kembali mengirimkan pesan, ia menunggu balasan dari steve dengan memandang kearah dua wanita disampingnya.


Karena masih berlangsung PPKM, restoran sedikit sepi imbas dari pandemi ini. Tapi para supplier pun paham, kami sudah berunding dengan mereka, agar pendistribusian bahan-bahan makanan diberhentikan untuk sementara waktu sampai stock kita habis.


[Baiklah. Saya yakin kamu bisa mengatasinya!]


Siap ko. Untuk laba penjualan bulan kemarin, saya sudah mentransfer nya ke rekening koko.


[Baik, terima kasih steve.]

__ADS_1


Melvin langsung membuka aplikasi m-banking nya dengan tersenyum. Ia melihat saldo ATM nya yang bertambah beberapa digit.


Bagaimana saya menghabiskan uang ini? Bukannya harta saya semakin berkurang di pakai sedekah, tapi ini malah semakin banyak. Janji Tuhan benar-benar nyata.


-


“Kau yakin dengan keputusan mu ko? Ini dadakan loh!” Andress yang duduk di kursi tunggu itu menganggukkan kepalanya dengan wajah sendunya. Ia melipat kakinya, memutar-mutar ponsel yang berada di tangannya dengan menggigit bibirnya.


“Saya yakin Jack. Saya akan melanjutkan study kedokteran saya di Selandia Baru. Mommy kini telah sembuh, Daddy telah berubah, Jonathan telah dewasa, dan Meida sudah ada Melvin yang menjaganya. Jadi saya tidak berat meninggalkan mereka. Setidaknya saya butuh tempat untuk menenangkan diri, saya butuh suasana baru.” Putusnya dengan wajah yang di paksa tegar.


“Apa koko mencoba melarikan diri dari kenyataan? Melarikan diri dari hadapan Meida?” Tanya Jack dengan beruntun. Ia menangkap sesuatu yang tidak beres dari sepupunya.


 Andress kembali terkekeh dengan senyum getirnya.


“Kau ada-ada saja Jack. Meida itu adik kandung saya, apa saya pantas menyimpan perasaan pada adik saya sendiri? Tidak Jack. Walaupun dulu saya pernah mencintainya, tapi saya tahu batasan. Saya tak ingin membiarkan rasa kesedihan saya berlarut-larut. Waktu terus berjalan, umur saya semakin bertambah. Saya ingin mencari cinta saya yang sesungguhnya Jack.” Terang Andress dengan wajah menerawang kearah lukisan besar yang berada di ruang tersebut. Jack menatap iba kearah nya dengan senyum getirnya,


“Jika ada seseorang yang meminta koko untuk tetap tinggal, apa koko akan tetap pergi?” Andress menganggukkan kepalanya menatap kearah Jack dengan senyum lebar menutupi kesedihannya.


“Saya akan tetap pergi. Lagian siapa yang akan menahan kepergian saya.” Jack memandang lekat kearah Andress dengan memegang lengannya.


“Ada wanita yang menunggu koko selama 8 tahun ini. Dia masih setia, dia menutup hatinya untuk orang lain, karena mencintai koko.”


“Siapa yang menunggu saya selama 8 tahun ini?” Andress pun mulai menduga-duga siapa wanita yang mencintainya.


Apa itu Melisa? Tanyanya dalam hati.


“Melisa Nagara. Dia menunggu koko dari zaman sekolah sampai sekarang.” Jawab Jack dengan mantap.


Benar, ternyata dia.


“Berarti dia menunggu saya selama itu. Tapi sayang, saya tak memiliki perasaan padanya. Saya hanya menganggapnya sebagai adik kelas saya tak lebih.” Jack menarik nafasnya dalam. Menatap wajah sepupunya dengan memohon,


“Apa koko tidak bisa mempertimbangkan perasaan koko padanya.” Andress dengan mantap menggelengkan kepalanya,


“Tidak Jack. Saya tidak perlu mempertimbangkannya. Cukup Meida dan Melvin saja yang bersatu."


-


Happy Monday


Kuyy vote sama hadiahnya mumpung hari senin😘😘😘


Jempolnya jangan pelit-pelit 🤗


Komen nya di tunggu guys♥️


Gomawoooo 😘♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2