
“Mom, Daddy barusan dapat kabar dari kantor polisi. Kalau Mak Lampir meninggal dunia gantung diri di lapas. Kulitnya melepuh dan bernanah, apa kita beritahu Jaslin?” Tanya panik Gilbert kearah istrinya yang baru saja masuk keruangannya.
Zaina langsung memegang dadanya kaget, mendengar penuturan suaminya. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan wajah shock nya.
“Kamu serius Dad, Mami meninggal? Sekarang jenazahnya dimana?” Tanya nya dengan tubuh bergetar. Gilbert membuka jas lalu melemparkan ke sofa. Ia menyandarkan kepalanya ke rak kaca dengan memejamkan matanya.
“Jenazahnya masih di urus oleh pihak kepolisian. Saya bingung harus berbuat apa? Saya sangat membenci prilakunya, tapi di sisi lain dia ibu kandung saya.” Jawab frustasi Gilbert sambil berjalan kearah istrinya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa dengan memijit kepalanya.
“Walaupun dia jahat, walaupun dia pernah menghancurkan keluarga kita. Tetap saja itu tak akan merubah keadaan, dia tetap ibu mu, dia tetap mertuaku. Hal yang harus kita lakukan sekarang adalah mengurus pemakamannya. Kita harus memberikan penghormatan terakhir padanya. Sekarang dia telah pergi menghadap Tuhan, kita harus memaafkan segala kesalahannya, agar pertanggungjawabannya disana tak terlalu berat.” Gilbert menatap kearah istrinya dengan mata berkaca-kaca. Dengan bibir bergetar ia menjawab perkataan istrinya.
“Saya tak sanggup melihat wajahnya.” Lirih Gilbert sambil menangkup wajahnya yang sudah memerah karena menangis. Zaina mengerti kegundahan hati suaminya, ia pun menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan suaminya lalu memeluknya.
‘’Jangan begitu, tak baik. Belajarlah dari Jaslin. Sebanyak apapun kesalahan kita, dia dengan tangan terbuka memaafkannya. Bukankah hidup penuh ketenangan yang kita cari? Hapus rasa dendam, perlebar rasa ikhlas.” Tutur lembut Zaina dengan mengelus lembut pundak suaminya yang nampak bergetar.
“Hati Daddy, tak sebaik hati Putri kita yang dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Daddy hanya manusia biasa yang memiliki rasa dendam dan sakit hati Mom.”
“No dad, jangan bicara seperti itu. Hati kecilmu pasti bisa memaafkan kesalahan mami, jangan berpikiran kemana-mana. Semua akan baik-baik saja. Setelah ini, kita pergi ke kantor polisi untuk mengurus berkas-berkas pemakamannya. Kita bawa jenazahnya untuk di semayamkan di rumah kita terlebih dahulu sebelum dikebumikan,” Gilbert hanya diam saja mendengar penuturan istrinya yang dengan lembut mengusap rambutnya.
“Terserah Mommy. Daddy ikut saja!”
Zaina mengambil air minum di meja, lalu diberikan pada suaminya. Setelan Gilbert meminumnya hingga tandas, ia kembali mengajukan pertanyaan, karena kondisi suaminya sudah kembali stabil.
“Apa jenazahnya akan dikremasi seperti jenazah Papi?” Gilbert pun menganggukkan kepalanya samar dengan mata melihat kearah pigura besar yang berisi potret keluarga besarnya, tanpa kehadiran Putrinya.
“Iya. Lebih baik jenazahnya dikremasi, seperti keinginannya dulu.”
“Baiklah! Sekarang kita suruh Melvin terlebih dahulu kesini, sebelum kita memberitahunya pada Jaslin. Mommy takut Jaslin masih trauma dengan perilaku oma-nya, jika kita langsung memberitahunya.”
“Ya, kita beritahu Melvin terlebih dahulu. Daddy akan menelponnya!” Gilbert mengambil ponsel di dalam jasnya, dan kemudian menghubungi menantunya.
-
Selamat siang semuanya,
__ADS_1
Saya ingin mengklarifikasi mengenai berita yang sempat viral beberapa minggu silam mengenai kehidupan pribadi saya. Maaf, saya baru mengklarifikasi nya sekarang.
Pertama, saya ingin mengkonfirmasi berita mengenai keyakinan saya, benar apa yang dikatakan oleh beberapa media, bahwa keyakinan saya sekarang adalah Islam. Saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim 1 bulan yang lalu, tanpa paksaan dari siapapun, keluarga saya pun menerima keputusan saya dengan tangan terbuka. Kedua, apa yang dikatakan media benar, bahwa saya dekat dengan Meida atau Jaslin Putri Atmadja, Putri tunggal dari Pak Gilbert Atmadja. Mungkin pernyataan ini akan membuat kalian bertanya-tanya, ada hubungan apa sebenarnya saya dengannya. Dan saya pun akan menjawab, kami telah melakukan pernikahan siri dengan persetujuan dua keluarga. Baik dari keluarga saya, maupun dari keluarga Atmadja. Dan disini saya akan mengumumkan, bahwa 2 minggu lagi, kami akan melangsungkan resepsi pernikahan. Saya mohon do'anya pada rekan semua, semoga Tuhan memberi kelancaran dan kemudahan pada setiap rencana saya. Terima kasih untuk dukungan dan Do’a kalian selama ini pada saya.
Semoga resepsi pernikahan saya tidak ada kendala sedikitpun, Aamiin.
Sekian klarifikasi dari saya,
Terima kasih,
Melvin mengakhiri video singkatnya yang di rekam Jonathan dan langsung mengupdate nya di akun resmi milliknya. Video singkat itu mampu menjawab teka-teki publik mengenai dirinya selama ini.
“Cepet amat Ko?” Jonathan yang sedang duduk bersisian dengan Meida pun mengeluarkan suaranya. Di depannya terdapat meja penuh makanan yang Helena kirimkan barusan.
“Ngapain lagi? Segitu juga udah jelas Jo.” Kekeh Melvin berjalan kearah Jonathan. Setelah mengusap kepalanya, ia duduk di samping adik iparnya. Ia meletakkan ponselnya di meja, lalu menyandarkan kepalanya ke sofa.
“Bagaimana sekolah mu Jo?” Jonathan memasukkan makanan ke mulutnya, setelah mengunyah dan menelannya, ia baru menjawab pertanyaan dari kakak iparnya tersebut.
“Berarti sekarang kamu terkenal Jo. Pastinya kamu sudah punya penggemar wanita dong?” Tanyanya sambil menoel-noel wajah adiknya. Jonathan pun tersenyum dengan wajah memerah. Ia langsung memegang tangan cicinya dan merubah posisi duduknya dengan melipat kakinya.
“Cici tahu aja kalau Jo banyak fansnya. Tapi hampir satu sekolah nanyain Cici, setiap bertemu mereka yang ditanyain pasti perkembangan kondisi cici. Sampai Pak Bram guru olahraga pun nanyain cici, dia dengan percaya dirinya bilang, siap menjadi iparnya Jo, padahal cici udah nikah sama koko haha.” Tawa renyah Jonathan yang menular pada Meida. Mereka tertawa berdua tanpa menghiraukan kehadiran Melvin yang berada di sampingnya. Mereka tak menyadari perubahan wajah Melvin yang sumringah menjadi masam.
“Konyol sekali guru mu Jo. Dimana dia tahu cici?” Tanya Meida setelah menghentikan tawanya. Ia memandang kearah adiknya dengan posisi menyamping.
“Yah, dari televisi lah. Ko Andress sudah memperkenalkan tentang jati diri cici ke publik, ketika cici masih koma. Kami sudah mempublikasikan cici sebagai Putri tunggal dari Gilbert Atmadja, pewaris resmi rumah sakit ini sesuai dengan surat wasiat Opa.” Terang Jonathan yang kembali menguyah makanannya. Meida nampak membulatkan matanya, dengan mulut membentuk huruf o.
“Kamu serius Jo, cici pewaris resmi rumah sakit ini? Tapi, cici gak berminat dengan rumah sakit ini. Cici gak mau ngurusnya, lagian suami cici udah kaya raya, cici gak mau serakah. Bener, Kan?” Meida mengangkat sebelah alisnya kearah suaminya yang masih cemberut untuk mengiyakan ucapannya.
“Kamu kenapa? Kok cemberut? Jelek tahu! Jo, koko mu kenapa? Kayaknya dia ngambek deh, karena kita cuekin.” Ledek Meida sambil menoel-noel perut Melvin yang berada di samping adiknya yang masih cemberut. Jonathan menolehkan kepalanya kearah samping dengan mengerutkan dahinya.
“Gak ada angin, gak ada hujan. Ini tiba-tiba kayak gini. Wajah koko kenapa? Bibirnya tolong dikondisikan.” Ledek Jonathan sambil menunjuk bibir Melvin yang cemberut. Melvin pun mencebikkan bibirnya dengan melipat kakinya.
“Bilang sama guru olahraga mu. Cici-mu sudah nikah! Jangan jadi pembinor! Stock wanita lajang masih banyak, jangan suka sama istri orang.” Sewot Melvin sambil melipat tangannya. Meida pun menggelengkan kepalanya dengan mengangkat bahunya, sementara Jonathan malah tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Ya Tuhan, ternyata koko cemburu haha. Kalau cemburu bilang, jangan cemberut. Aduh ternyata cinta bisa sebodoh ini.” Jonathan menolehkan kepalanya kearah cicinya dengan tawa nyaringnya.
“Ci, bayi besar cici cemburu haha. Jo pergi dulu sebelum ada perang dunia ke 3. Silahkan selesaikan masalah kalian.” Jonathan berdiri dari posisi duduknya dan berlari kearah pintu dengan kondisi masih tertawa. Meida pun tak bisa menahan kepergian adiknya.
“Kamu kenapa tersenyum?” Sewot Melvin menatap istrinya yang sedang tersenyum dengan tatapan dinginnya. Meida pun menatap suaminya sambil cengengesan.
“Enggak papa. Kamu cemburu, berarti kamu mencintai aku.” Kekeh Meida sambil menggeser posisi duduknya mendekat kearah suaminya dengan mengedip-ngedipkan matanya. Melvin kembali mencebikkan bibirnya dengan menyampingkan posisinya membelakangi istrinya.
“Kalau tak mencintaimu, mana mau saya menikahimu.” Ketus Melvin yang dihadiahi ciuman oleh Meida
Meida dengan berani mencium sebelah pipi suaminya untuk meredakan kekesalannya, lalu ia pun membisikkan sesuatu,
“Jangan marah lagi! Aku tak mungkin berpaling dari mu.” Melvin pun langsung menyunggingkan bibirnya mendengar perkataan manis istrinya. Dan kembali menyampingkan posisi nya.
“Awas, kalau kamu berpaling pada guru olahraga itu.” Meida menggelengkan kepalanya sambil mengusap wajah suaminya. Tangannya dengan lembut menyusuri wajah tampan suaminya.
“Kamu aja, udah lebih dari cukup. Dan tak mungkin tergantikan.” Melvin kembali tersenyum mendengar penuturan manis istrinya. Ia pun langsung mencium bibir istrinya lembut, lalu mengungkapkan rasa cintanya dengan wajah bahagianya,
“I love you my life, my world, my sunshine, my... ” Melvin tak bisa melanjutkan ucapannya, karena benda kenyal telah membungkam bibirnya terlebih dahulu. Ia menikmati pagutan lembut bibir istrinya yang mulai berani padanya. Ketika ia akan membalas pagutan Meida, tiba-tiba istrinya melepaskannya.
Ia kembali di buat tak berdaya dengan tingkah istrinya, ketika menatap matanya yang tengah tersenyum dengan pipi merah merona. Ia seakan terhipnotis oleh bibir ranum istrinya, yang sangat menggodanya,
“Love you more My Hubby,” ucap pelannya yang langsung dihadiahi ciuman oleh suaminya.
“Yang, Daddy nelpon. Bentar yah saya angkat dulu!” Melvin mengambil ponselnya yang terletak di meja lalu menggeser layarnya untuk menjawab panggilan dari mertuanya.
“Hallo pih. Ada apa?”
-
Kuyy like, komen, vote, sama hadiahnya 😘😘😘♥️♥️♥️
Alhamdulillah, gak mandet lagi kayak kemarin😊
__ADS_1