Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Ciuman Pertama


__ADS_3

“Aku sudah hafal dengan bentuk wajah mu By. Wajah yang sangat kukagumi setiap saat. Aku ingin selalu melihat wajah ini menemani hariku sampai aku menutup mata. Wajah yang membuatku takut kehilangannya. Wajah yang kini menjadi separuh hidupku. Wajah yang berhasil membuatku sangat mencintainya.” Lirih Meida meraba hidung Melvin dan memainkan alisnya. Melvin menatap wajah terpejam istrinya dengan tertegun, ia seakan terhipnotis oleh perkataan wanita yang kini duduk dipangkuannya. Matanya berkaca-kaca, merapikan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya, tangannya pun membelai wajah nya dengan lembut, mencium kening lalu  mencium kedua kelopak mata, turun mencium hidung, mencium pipinya bergantian, mencium dagu dan terakhir mencium bibirnya.


“Saya mencintai apapun yang berada pada dirimu,” ujar pelannya kemudian ******* bibir istrinya lembut penuh perasaan. Ia berdiri mengangkat tubuh istrinya  yang digendong lewat depan, yang kini sudah membelitkan kaki di pinggangnya dengan erat, lalu membawanya menuju kolam belakang.


“Kita butuh amunisi sayang, waktu siang masih panjang!” Kekeh Melvin memutar-mutar tubuh istrinya yang sedang memeluknya erat lalu menurunkannya di atas karpet yang telah terpasang. Disana sudah tersaji makanan lesehan yang sudah dirinya siapkan.


“Kamu masak By?” Melvin menggelengkan kepalanya membantu istrinya untuk duduk. Ia memberikan kain lembut untuk menutupi paha polos istrinya yang putih dan beberapa tanda merah tertinggal disana.


“Delivery sayang. Saya pun kesiangan sama seperti kamu, saya bangun jam 09:00.” Terang Melvin sambil menyedokkan nasi ke dalam piring yang di lapisi daun pisang.


“Sini, biar aku yang ambil By.” Melvin memberikan piring kepada istrinya dengan senyum yang tak pernah lekang dibibirnya.


“Kita makan satu piring berdua yah? Sunnah Nabi.” Meida menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Melvin dengan tersenyum lebar menatap wajah istrinya dari samping, menyampirkan beberapa rambut yang menghalangi pandangan ke telinga istrinya yang wajahnya sedang bersemu merah.


“Ini delivery sama daun-daun nya?” Melvin menganggukkan kepalanya dengan terkekeh sambil memainkan rambut panjang istrinya. Mengikat rambutnya, lalu menggulung asal dengan ujung sendok agar tidak berantakan.


“Sama wadahnya juga saya bayar sekalian.” Meida mengerutkan bibirnya menatap suaminya yang sedang tertawa dengan mata melihat lehernya yang totol-totol bagai macan tutul.


“Orang kayak mah bebas.” Ledek Meida sambil mencebikkan bibirnya. Di depannya terdapat satu ekor ayam bakar, ikan mas, sambal matah, sambal kecap, tahu, tempe, dan beraneka lalapan. Setelah membaca do'a, mereka pun makan dengan saling suap.


“Aaaaaa.” Melvin menyondorkan ikan ke depan mulut Meida yang langsung dilahapnya.


“Ikan nya enak banget By,” ucap Meida dengan wajah imutnya.


“Pastilah enak, wong saya yang nyuapin.” Meida pun tersenyum malu-malu dengan mulut yang penuh makanan, karena sedari tadi suaminya yang menyuapinya. Dan kini ia gantian menyuapi suaminya.


-


Setelah selesai merapikan bekas makan, mereka nampak bersandar di kursi panjang yang dilapisi bulu lembut yang posisinya persis menghadap kolam.


“By, ngantuk.” Melvin menyusupkan sebelah tangan di bawah leher istrinya yang sedang menguap.


“Jangan tidur! Belum ada 1 jam kita selesai makan. Lebih baik kita sharing-sharing sayang, agar kita lebih tahu satu sama lain.” Meida menyampingkan posisi kearah suaminya dengan tersenyum.


“Baiklah, ayo kita sharing-sharing. Aku mau tanya sama kamu, berapa mantan kamu? Siapa yang paling kamu cintai? Kamu harus jawab jujur!” Melvin menarik nafasnya kasar sambil mengelus wajah istrinya yang terpejam.


“Kenapa harus menanyakan masa lalu sayang. Jangan tanya yang aneh-aneh, jika akhirnya menyakiti perasaan kamu.” Meida mengerucutkan bibirnya menatap wajah suaminya dengan memohon.

__ADS_1


“Aku pengen tahu aja. Apa mantan kamu lebih dari 100?” Melvin pun tertawa mendengar perkataan istrinya. Ia pun mengusap rambutnya, mengumpulkan kata untuk menjawab rasa penasaran istrinya. Jika ia tak menjawab, mungkin istrinya akan terus memberondong pertanyaan padanya.


“Ini masa lalu yah. Saya waktu SMA kurang lebih punya 15 mantan, karena suami mu ini tampan dan idola seantero sekolah. Tapi waktu duduk di bangku kuliah saya tobat, saya insaf jadi playboy. Sampai Papih dan Mamih menjodohkan saya dengan anak dari rekan kerjanya. Kurang lebih saya memiliki 20 mantan.” Kekeh Melvin sambil mengusap-usap hidung bangirnya.


“Isshhh, bangga yah punya mantan 20?” Sewot Meida sambil mengerucutkan bibirnya. Melvin kembali menarik nafasnya sambil memijit keningnya.


Sudah saya duga akhirnya bakal seperti ini. Cewek memang aneh, udah tahu bakal nyakitin perasaannya kenapa ditanyain.


“First kiss kamu sama siapa?” Melvin di buat tak berdaya ketika melihat istrinya yang sudah menatapnya tajam.


“Sayang udah ah yang. Jangan mancing-mancing  sesuatu yang menyakiti perasaan mu.” Melvin sengaja mendekap tubuh istrinya erat dengan menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi meredakan rasa penasarannya.


“Jawab dulu By! Aku gak bakalan marah kok!” Meida melepaskan dekapan Melvin lalu kembali menatap wajah suaminya yang sedang salah tingkah.


“Ciuman pertama saya waktu usia 16 tahun, tapi lupa sama siapa nya.” Jawab Melvin dengan cengengesan. Meida spontan memukul pelan bibir suaminya dengan mencebikkan bibirnya.


“Bukannya sekolah yang bener, malah pacaran. Ciuman lagi! Ciuman pertama aku aja sama kamu, tapi kamu malah sama yang lain.”


Sabar Melvin sabar!


“Maaf, lagian itu masalalu sayang. Kalau tahu kamu yang akan menjadi istri saya di masa depan, mungkin saya tak akan pernah pacaran dan memiliki banyak mantan. Forgive me, baby!” Meida dengan pelan menganggukkan kepalanya lalu memeluk tubuh suaminya.


“Maaf, aku hanya baper doang By.” Melvin pun tersenyum sambil mengelus pundak istrinya. Memberi kenyamanan agar istrinya kembali tenang.


“Ada yang ingin kamu tanyakan lagi sayang? Tapi jangan tentang masa lalu, karena saya telah menguburnya.” Meida pun kembali mengingat sekelebatan nama yang tiba-tiba terlintas di kepala nya.


“Siapa dr. Aisyah By?” Melvin mengerutkan kepalanya sambil mengingat-ingat nama Aisyah, karena beberapa nama dokter di rumah sakit istrinya bernama Aisyah.


“Aisyah mana sayang? Soalnya banyak nama Aisyah yang sering saya temui.”


“Pinjem ponsel kamu By.” Melvin mengambil ponsel yang berada di meja disampingnya lalu memberikan pada istrinya. Meida langsung membuka sandi ponsel  yang menggunakan tanggal pernikahan mereka. Ia membuka satu pesan yang tertumpuk di bawah lalu membukanya, dan diberikan pada suaminya.


“Aisyah ini By.” Melvin membaca pesan itu dengan mengernyitkan dahinya lalu tersenyum kecil.


“dr. Aisyah yang kamu maksud ini?” Meida menganggukkan kepalanya dengan memainkan bibirnya. Melvin merubah posisinya, dan kini istrinya berada di atasnya dengan dipeluknya erat.


“dr. Aisyah ini adalah dokter yang menolong saya ketika di pedalaman dulu. Dia yang membantu Buya dan Umi mengobati saya selama pingsan 2 minggu, karena jarak rumah sakit dari perkampungan itu sangat jauh sayang. Bisa-bisa saya mati di jalan, jika tak segera ditangani.” Terang Melvin sambil memeluk pinggang istrinya.

__ADS_1


“Apa dia masih muda?” Melvin menganggukkan kepalanya. Ia tak menyadari kekhawatiran yang melanda hati istrinya.


“Dia masih muda sayang, usianya baru 25 tahun.” Meida merebahkan kepalanya dengan lesu.


“Apa dia cantik?” Melvin semakin bingung dengan pertanyaan istrinya yang menanyakan dokter Aisyah cantik atau tidaknya.


“Bukankah cantik itu relatif sayang? Semua wanita itu pasti cantik. Tapi yang paling cantik menurut saya, hanya kamu seorang.” Meida mendongkakkan kepala menatap wajah suaminya dalam. Wajah meneduhkan suaminya tak mampu menghalau rasa khawatirnya.


“By, apa kamu gak ngerasa dokter Aisyah itu mencintai kamu?” Melvin mengalihkan pandangannya dengan melihat pohon yang mengelilingi kolam renang mereka. Karena ia pun sadar, dokter Aisyah memiliki rasa padanya.


“Entahlah sayang, saya tak bisa membaca pikiran manusia. Karena kamu sudah memenuhi pikiran saya.” Meida kembali menyandarkan kepala di dada bidang suaminya dengan mata terpejam.


“Dia menaruh perasaan pada mu By.” Melvin mengiyakan ucapan istrinya dalam hati.


“Tapi saya tak mencintainya sayang, only you. Jangan mikirin yang enggak-enggak, mending kamu mikirin saya aja. Mikirin nanti malem kayak gimana?” Meida memukul dada suaminya dengan tersipu. Di saat seperti ini, masih saja suaminya menggodanya.


“Yang, tadi pagi saya melihat bekas luka dalam di punggung kamu. Kalau boleh tahu itu bekas luka apa?” Meida meraba punggung sebelah kanannya.


“Disini bukan By?” Melvin menganggukkan kepala melihat bekas luka yang terlihat di balik kemeja istrinya.


“Ini bekas luka terkena pecahan guci, sebelum aku memutuskan berangkat merantau kesini.” Sahut pelan Meida kembali memejamkan mata mengingat-ingat masa kelamnya.


“Subuh itu, angin berhembus menusuk pori-pori tubuhku yang ringkih. Yang tidur hanya beralaskan tikar tipis, yang hanya berselimut kain jarik, dengan keadaan perut kosong tak di isi makanan selama dua hari. Gudang kecil terbengkalai itu menjadi saksi, bagaimana rintihan ku di tengah ketidaksadaran di malam hari. Tidak bisa pergi, karena berhutang balas budi. Hidup di kampung orang, dengan tak memiliki uang sepeserpun. Bahkan tak memiliki tempat tujuan, selain kota Surabaya ini.” Melvin memeluk tubuh istrinya erat dengan mata berkaca-kaca.


“Jangan diteruskan lagi sayang! Jangan mengingat hal buruk lagi. Saya ada disini, yang akan memberikan kebahagiaan pada mu setiap harinya.” Melvin kembali mencium kepala istrinya berulang-ulang.


“I’m ok By, don't worry!” ucap tegar Meida dengan meneteskan air mata di dada suaminya.


“Kamu berhak tahu bagaimana masalalu ku By. Kamu bisa berpikir ulang, jika akan menyakitiku.” Lirih Meida sambil tersenyum getir.


“Itu tidak akan pernah terjadi sayang. Saya tidak akan menyakiti mu.” Meida menganggukkan kepalanya samar ketika suaminya memeluknya erat.


“Aku percaya dengan kesungguhan mu By.”


-


☕☕☕☕🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2