
“Bagaimana keadaan Jaslin Jack?” Tanya Gilbert yang berdiri di samping keponakannya. Zaina duduk di kursi di samping Putrinya, sementara Melvin berdiri di seberangnya sambil melipat piyama Meida yang akan dimasukkan ke dalam lemari nya.
“Alhamdulillah kondisi Jaslin jauh lebih membaik. Denyut jantungnya normal, darah nya normal, kondisinya sudah 95% stabil, tidak ditemukan penyakit apapun. Kita hanya tinggal menunggunya sadar saja,” Gilbert tersenyum mendengar jawaban Jack sambil mengelus hijab Putri-nya. Jack menggeser posisinya, agar Gilbert lebih leluasa mengelus-ngelus hijab Putri-nya.
Jack mengajak Melvin duduk di sofa untuk memeriksa kondisinya. Karena kemarin malam kondisi Melvin belum sepenuhnya pulih.
“Alhamdulillah, keadaan mu baik-baik saja. Apa yang sekarang kau rasa?” Melvin menyandarkan kepalanya ke sofa sambil memijit dahinya pelan.
“Sejak tadi pagi rasanya jantung saya seakan mau copot, kepala saya tiba-tiba pusing, jantung saya berdetak tak karuan. Kira-kira saya mengidap penyakit apa yah?” Tanya polos Melvin sambil mengelus-elus dadanya. Jack menahan tawanya, lalu menepuk bahunya.
“Kau terkena virus cinta! Kau butuh tempat penyaluran! Mungkin efek dari hormon tubuh mu. Wajar kau sudah dewasa, kau sudah punya istri. Tunggu Meida sadar.” Bisik Jack dengan terkekeh. Ia berhasil meledek Melvin yang sedang menatapnya bingung.
Karier sukses, wajah tampan, keturunan sultan, tapi sayang, dalam hal beginian pengetahuannya nol besar. Umur aja 27 tahun, tapi oon nya kebangetan. Tawa jahat Jack dalam hati.
“Maksudnya Jack? Apa hubungan pusing kepala saya dengan Meida? Jawaban mu membuat kepala saya semakin pusing.” Jack tertawa mendengar jawaban polos Melvin, hingga Gilbert melihat kearahnya.
“Puji Tuhan, kehadiran mu sungguh membantu pemulihan Jaslin.e Perkembangan Jaslin dari kemarin sangat signifikan. Semoga dia bisa cepat-cepat sadar.” Melvin menganggukkan kepalanya ketika Gilbert melirik kearahnya, sedangkan Jack masih menahan tawanya dengan menutup mulut menggunakan lengannya.
“Alhamdulillah Dad. Meida membaik berkat do'a kita semua.” Tutur Melvin merendah. Jack yang berada di sampingnya menepuk-nepuk bahunya dengan senyum lebar,
“Om jangan khawatir, Jaslin sebentar lagi sadar. Kan ada pawangnya.” Kekeh Jack meledek kearah Melvin sambil menepuk bahunya.
“Pawang pawang pawang. Emang istri saya ular?” Sewot Melvin sambil menjitak kepalanya.
-
Meida membuka perlahan-lahan matanya, ia menyesuaikan silau cahaya yang masuk lewat retina matanya. Ia mengamati keadaan disekelilingnya dengan pandangan yang masih berkunang-kunang, ruangan dengan warna serba putih yang pertama kali dilihatnya. Di depannya terlihat seseorang yang sedang melaksanakan shalat dengan memakai sarung hitam bergaris-garis putih, sweater berwarna toska, dan kopiah berwarna hitam. Lelaki itu nampak khusu melaksanakan shalatnya, di ruang itu tak ada seorang pun kecuali mereka berdua. Meida mengangkat sebelah tangannya yang nampak terlihat seperti bayangan, ia meraba kepalanya yang masih mengenakan hijab instan, dan ia meraba tubuhnya yang masih lengkap mengenakan pakaian.
Ternyata saya masih disini. Ternyata di akhirat juga ada rumah sakit. Racau pelan Meida yang belum sepenuhnya menyadari kesadarannya. Ia berpikir, masih berada di alam yang sama dengan orang tua angkatnya.
Kapan saya kembali? Ahh tidak seru! Saya masih disini. Bagaimana saya pulang? Apa ada agen yang bisa membantu saya kabur dari sini? Siapa lelaki itu? Apa dia amal baik saya?
Meida kembali memejamkan matanya dengan pikiran berkelana. Ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa pulang. Ummah, Abi, dan Adib telah pergi meninggalkannya sendiri di tempat itu. Ia kembali mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan sampai membuatnya seperti ini. Ia membuka pelan-pelan matanya ketika mendengar suara seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur’an di sampingnya. Meida membelalakkan matanya, melihat Melvin yang berada di sampingnya yang sedang khusu membaca satu persatu ayat suci Al-Qur’an. Pandangannya pun kembali menerawang,
Ternyata di alam ini Melvin sudah lancar membaca Al-Qur’an. Suaranya indah, dan tajwid nya pun benar. Padahal di alam manusia dia baru hafal huruf Hijaiyah. Apa yang menyebabkan dia sepintar ini? Apa Melvin jelmaan dari amal baik saya?
__ADS_1
Batin Meida menatap Melvin dengan seksama. Ia pura-pura kembali menutup matanya, menikmati bacaan ayat Al-Qur’an yang terdengar indah di telinganya.
30 menit kemudian Melvin menyelesaikan bacaannya, lalu berdo'a. Setelah itu ia mencium mushaf Al-Qur’an dan meletakkannya di atas nakas.
Melvin tersenyum memandang wajah istrinya yang masih pura-pura memejamkan mata, ia melafalkan do'a lalu meniup ubun-ubun istrinya kemudian mencium keningnya. Wajah Meida memerah, tapi ia berusaha menguasai diri agar Melvin tak menyadari perubahan wajahnya.
“Sayang, kata Mommy dan Daddy besok kamu berulang tahun. Alhamdulillah, Allah masih memberikanmu kesempatan menginjakkan usia ke 22 tahun.” Melvin memegang tangan Meida memijitnya pelan. Ia meregangkan otot di tangan istrinya agar tidak tegang.
Sayang sayang mata loh peang! Kenapa di alam ini dia bisa seromantis ini? Apa dia benar-benar Melvin? Jika memang benar, apa Melvin sudah mati sama seperti ku?
Meida mulai risih takala Melvin memijit tangan sampai bahunya, ia semakin di buat merenang ketika tangannya memijit paha sampai kakinya.
Di hari ulang tahun mu, kamu mau apa? Mau honeymoon ke Afrika? Atau mewujudkan mimpi mu yang ingin memiliki 25 anak? Jika kamu yang minta, saya pasti akan mengabulkannya. Kekeh Melvin yang terus memijit kaki istrinya.
Dia benar-benar gila! Dia benar-benar Melvin! Dia mengingat moment awal pertemuan di restoran itu. Kenapa dia bisa semesum ini? Di saat darurat seperti ini, kenapa dia malah memikirkan seorang anak? Bukannya mempersiapkan diri untuk menghadapi alam barzah. Dasarr lelaki mesum!
Melvin kini mengelus lembut wajah istrinya yang terasa panas dan memerah. Ia tak menyadari istrinya telah sadar, yang kini sedang berperang dengan batinnya.
Tak terasa sekarang sudah pukul 10 malam. Daddy dan Mommy sudah terlelap tidur di ruang sebelah, begitupun Jonathan. Tinggal saya yang belum tidur, saya belum bisa tidur. Saya masih betah menatap wajah cantik mu ini. Ternyata di saat tidur, wajahmu terlihat sangat imut dan jauh lebih menenangkan, menutupi sifat bar-bar mu ketika menghadapi 8 preman. Saya pun tak bisa membayangkan, di balik wajah imut mu terdapat jiwa ksatria layaknya pria. Wanita cantik, dengan beribu keunikan.
Jika kita punya anak nanti, kira-kira mirip siapa yah? Gak papa mirip kamu, asal jangan mewarisi sifat bar-bar nya, bahaya! Nanti gak ada yang naksir. Kekeh Melvin yang kembali memijit tangan istrinya.
Anak anak anak! Kenapa dari tadi topik pembicaraannya tak jauh dari anak. Apa dia sudah ngebet nikah? Kenapa gak nikah waktu hidup aja? Ehh tapi, bukankah dia akan menikahi saya?
Jantung Meida kembali bergemuruh seakan ingin loncat dari sarangnya, ketika nafas Melvin menerpa wajahnya. Ia membelalakan matanya ketika benda kenyal itu memanggut bibirnya pelan. Wajah Meida kembali memerah, dengan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hatinya.
Ya Tuhan, ini dimana sebenarnya? Saya masih hidup atau sudah mati? Kenapa ciuman ini berasa nyata?
Meida mencubit kulit perutnya pelan, ia kembali membelalakkan matanya ketika ciuman itu benar-benar nyata.
Ya Tuhan, ini benar-benar nyata! Aku masih hidup! Berani-beraninya dia menciumku? Ahh Melvin, kau sudah menodai bibirku. Teriak Meida dalam hati. Ia memandang kearah sekelilingnya, melihat kearah jam dinding yang menunjukkan jam 10 malam. Dengan wajah kesalnya, Meida melakukan ancang-ancang dan langsung memukul wajah Melvin dengan sebelah tangannya. Melvin langsung berteriak dan melepaskan pagutannya, ia mengamati ruang itu sambil mengelus wajahnya yang terasa nyeri nyut-nyutan.
Kenapa ruang ini tiba-tiba menjadi mistis? Ya Allah, pipi saya panas, untung gigi geraham saya tak copot. Siapa yang berani-beraninya memukul wajah tampan saya? Apa gak takut saya pidanakan? Tenaganya kuat sekali, apa dia salah satu dedemit penghuni rumah sakit ini. Dengan raut wajah merinding, Melvin berjalan kearah gorden, lalu ke arah kamar mandi untuk memeriksa keadaan di ruang itu.
Ia kembali berjalan kearah belangkar Meida dengan mata yang menelisik ke segala arah,
__ADS_1
Melvin kembali tercengang, takaIa melihat kearah Meida yang sedang menatapnya tajam dengan melipat tangan di perutnya, dengan wajah dingin nya. Ia di buat tak percaya, Ia menampar pipinya keras lalu mengusapnya dengan mata berkaca-kaca. Rasa perih di wajahnya tak terasa, hatinya dipenuhi rasa kebahagiaan ketika melihat istrinya kini sudah tersadar.
“Sayang, akhirnya kamu sadar ... ” Melvin langsung memeluknya erat, hingga Meida kesulitan bernafas. Dengan air mata haru, Melvin mengambil ponsel yang berada di dekat Meida untuk menghubungi Jack agar segera memeriksa kondisi istrinya.
“Sayang sayang sayang! Kamu kenapa cium-cium bibir saya? Kenapa peluk-peluk saya? Saya risih tahu!” Sewot Meida dengan mendelikkan matanya. Ia memukul-mukul bahu Melvin untuk melepaskan pelukannya, karena ia kesulitan bernafas. Melvin pun melepaskan pelukannya lalu kembali mencium wajah istrinya karena bahagia, ia nampak tak memperdulikan wajah istrinya yang sudah merengut.
“Kenapa kamu kembali mencium wajah saya tanpa izin? Setelah pergi meninggalkan saya, sekarang tiba-tiba kamu datang, dan memperlakukan saya sesukamu, Kenapa hah? Saya bukan wanita murahan, yang dengan mudahnya bisa kamu cium-cium! Kita bukan muhrim! Jangan kau tambah-tambah dosa saya, dosa saya sudah banyak!” Kesal Meida dalam posisi tidur nya sambil memukul dada bidang suaminya. Melvin malah terkekeh membiarkan istrinya memukul dadanya, ia malah menikmati wajah kesal istrinya. Walaupun baru sadar, tenaga istrinya masih kuat seperti orang normal.
“Dasar lelaki mesum! Lelaki mata keranjang! Yang memanfaatkan keadaan di tengah kesempitan orang lain!” Sewot Meida sambil mendorong dada Melvin yang condong kearahnya.
“Jujur saja jika kamu sudah menemukan yang baru! Ini alasan kamu menghilang kemarin, Kan? Kamu hanya ingin mempermainkan perasaan saya dan keluarga saya? Kamu lelaki jahat, yang dengan mudahnya mempermainkan perasaan perempuan.” Racau Meida dengan suaranya yang kembali lemah. Melvin menangkap kedua tangan istrinya, lalu mencondongkan tubuhnya kearahnya dan kembali mencium bibir istrinya agar diam.
Meida kembali memukul wajah Melvin dengan sisa tenaganya. Jika tenaganya stabil, mungkin wajah Melvin sudah babak belur dengan gigi depannya yang sudah tanggal.
“Kamu! Mau saya patahkan lehermu? Kenapa kamu mencuri ciuman pertama saya? Kenapa kamu menodai bibir saya. Kamu benar-benar melecehkan saya!” Meida memegang bibirnya dengan tangan yang bergetar. Ia menatap tajam Melvin dengan wajah memerah menahan amarah dan tangis
“Kenapa kamu mencium bibir saya? Seharusnya suami saya yang pertama kali menciumnya! Kamu lancang! Mau saya buat bibirmu pindah ke mata? Mata mu berganti posisi dengan hidung. Kamu mau hah?” Rengek Meida sambil menampar wajah suaminya yang berada di atasnya. Melvin hanya diam, ia malah menahan tawanya, lalu memegang sebelah tangannya.
“Shutt ngomongnya jangan keras-keras, ini di rumah sakit bukan di hotel. Daddy, Mommy, dan Jonathan sedang tidur di ruang samping, jangan bangunkan mereka dengan suara cempreng mu. Sudah ngomelnya? Capek, Kan? Sekarang biarkan saya bicara.” Melvin menyentuh lembut wajah istrinya, dan mengusap-usapnya pelan untuk meredakan kemarahan istrinya.
Saya kira Meida sadar akan langsung memeluk dan mencium saya. Tapi nyatanya, dia malah memukul dan menampar saya. Ending yang tak diharapkan. Pertemuan pertama yang banyak meninggalkan luka di wajah saya. Untung saja Meida! Kalau bukan, mungkin saya sudah menyimpannya di kamar Jenazah.
Sungut Melvin dalam hati. Karena faktanya ia tak berani mendumel di depan istrinya.
“Sayang, saya tidak merendahkan mu ... saya tidak melecehkan mu ... apalagi mencari kesempatan dalam kesempitan.” Meida langsung memotong ucapan nya dengan sorot mata tajamnya.
“Terus kenapa kamu mencium bibir saya?” Melvin menarik nafasnya pelan. Ia harus pelan-pelan menjelaskan pada istrinya agar tidak salah paham.
“Sayang, saya berhak mencium bibir mu, mencium kening mu, mencium apapun yang ada di tubuh mu. Karena kamu halal untuk saya, karena kamu istri saya. Saya tak mungkin melampaui batas, jika tak ada ikatan halal diantara kita. Bukankah pahalanya besar, jika suami mencium istrinya?” Terang Melvin lembut agar mudah di terima istrinya. Meida membelalakkan matanya menatap dalam wajah Melvin. Ia mencari kebohongan dari sorot matanya, tapi tak menemukannya. Meida malah memalingkan wajahnya ke samping, ia masih meragukan ucapannya.
“Apa saya benar-benar sudah menikah? Apa lelaki mesum ini benar-benar suami saya? Perasaan sebelum tak sadarkan diri, saya masih single? Gumam pelan Meida yang terdengar samar-samar oleh Melvin. Melvin kembali menahan tawanya, ia memegang dagu meida agar melihat kearahnya, ia memegang tangan lalu meletakkan di dadanya.
☕☕☕☕☕
Jika suka dengan novel ini jangan lupa, like, komen, vote, rate, subscribe, gift😘🥰♥️
__ADS_1
Jangan lupa add ke favorit yah🤗 Hatur nuhun😘