
“Sejak kapan kamar ini di dekorasi seperti ini By? Perasaan tadi pagi masih acak-acakan.” Tanya Meida memidai kamarnya yang sudah di dekorasi menjadi kamar pengantin. Ranjang yang bernuansa warna serba putih, bertaburan kelopak bunga mawar merah yang membentuk hati menutupi seprei. Sisi atas anjang dikelilingi dengan kelambu berwarna putih, di atas nakas nampak sudah tersedia beberapa lilin yang tinggal dinyalakan.
Melvin mengangkat kedua bahunya, lalu membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, hingga kelopak mawar merah itu berantakan dan berserakan di lantai.
“Palingan ini ide dari orang tua kita sayang. Padahal kita sudah melewatkan malam pertama dengan indah. Tapi gak papa, kita bisa mengulang malam pertama kita disini.” Jawab Melvin seraya mengerlingkan nakal sebelah matanya. Meida langsung mendorong tubuh Melvin untuk menjauhinya, ia menyipitkan mata menatap suaminya tajam.
“Malam pertama kita sudah lewat, tak ada malam pertama lagi. Aku lelah By, aku mau tidur! Tubuhku serasa remuk, kaki ku tak bisa digerakkan. Aku butuh tukang pijit!” Rengek Meida seraya menggerakkan-gerakkan kedua kakinya ke atas dan ke bawah karena pegal. Mulutnya tak berhenti menguap, antara lelah bercampur kantuk.
“Kamu yakin sayang kita akan melewati malam ini dengan begitu saja?” Meida menghela nafas dengan mata lelahnya. Kemudian menganggukkan kepalanya lemah,
“Bukannya aku menolak melayani mu, tapi malam ini aku benar-benar lelah. Badanku rasanya remuk bagai tak bertulang. Persendianku rasanya mau copot.” Melvin menganggukkan wajahnya mengusap kepala Meida dengan lembut. Lalu ia menyandarkan kepalanya di headboard ranjang.
“Baiklah. Jika kamu lelah, tidurlah! Tapi buka dulu gaunnya, kamu tidak akan nyaman tidur mengenakan gaun ini. Maaf membuatmu kelelahan!” Meida menggelengkan kepala menatap mata Melvin dengan tersenyum.
“Ini bukan salahmu sayang, dan bukan salah siapapun. Ini acara kita berdua. So, jangan minta maaf.” Melvin pun tersenyum seraya membantu istrinya berdiri untuk melepas gaun yang merungkup tubuhnya. Namun sebelum membuka gaun nya, ia terlebih dahulu membantu melepas hijab istrinya yang di reka sedemikian rupa.
“Jarum pentul sama penitinya dikumpulin disini By,” ucap Meida di tengah rasa kantuk sambil menyodorkan telapak tangannya, agar Melvin menyimpannya disana. Dengan hati-hati, melvin mengambil jarum pentul satu persatu hingga 2 kain panjang yang membalut kepala istrinya terbuka.
“Udah selesai sayang.” Melvin menyodorkan kedua kerudung panjang ke tangan istrinya yang sudah setengah tidak sadar. Meida meletakkan kerudung itu di ranjang, sedangkan peniti dan jarum pentul ia letakkan di atas nakas.
Setelah kerudungnya terlepas, melvin membuka resleting gaun istrinya dari belakang. Untung gaun yang dikenakan istrinya malam ini cukup simple, sehingga ia dengan mudah melepaskannya. Ia pun meminta istrinya untuk berdiri, lalu melepaskan lengan gaun kemudian menurunkannya sampai bawah. Setelah terlepas sempurna dari tubuh istrinya, ia melempar gaun itu ke sembarang arah. Menatap dalam tubuh istrinya yang terdapat banyak kiss mark buatannya.
“Udah selesai kan By? Aku mau tidur dulu!” Melvin memegang kedua bahu istrinya yang hanya mengenakan bra berwarna purple dan legging berwarna hitam dengan terkekeh.
“Pakai baju dulu biar gak masuk angin, setelah itu cuci muka. Baru kamu tidur sayang!” Meida yang sudah memejamkan mata kembali membukanya dengan pandangan sayu.
__ADS_1
“Aku tak punya tenaga untuk mengambil bajunya. By, tolong ambilin yah!” Perintah Meida seraya menunjuk kearah lemari yang berada di pojok kamar tersebut. Dengan menarik nafasnya kasar, Melvin mengambil pakaian yang sudah di sediakan di lemari dengan langkah malas. Setelah mengambil pakaian istrinya, ia kembali menghampiri Meida yang sudah tidur pulas dengan memeluk selimut erat. Melvin menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang tidur hanya menggunakan bra dengan rambut tergerai dengan pose yang sangat menggoda keimanannya.
“Ya Allah. Punya istri gini amat yah! Kalau sudah ngantuk, suka gak inget apa-apa. Menggemaskan sekali! Mana posisi tidurnya seperti itu, membangkitkan syahwat saya saja.” Tutur Melvin seraya memandang ****** istrinya yang sedang men*ngg*ng dengan mencium ibu jari tangannya. Kebiasaan istrinya setiap tertidur. Melvin menghampiri Meida lalu duduk disampingnya. Ia dengan perlahan-lahan menggeser selimut yang di peluk erat istrinya, lalu memakaikan piyama tidur miliknya. Karena pakaian yang tersedia untuk istrinya di lemari hanyalah lingerie dan gaun tipis yang menerawang.
Ia menggeser tubuh Meida agar tidur terlentang. Merapikan rambut istrinya yang memenuhi wajahnya.
“Cantik-cantik tumor!” ucapnya seraya mencakupkan bibir istrinya yang sedikit terbuka. Ia mengecupnya sekilas lalu memakaikan bajunya dengan telaten. Ia kembali membalut selimut ke tubuh istrinya sampai dada.
Sekarang giliran saya ganti baju dan bersih-bersih. Gumam pelannya sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
-
“Darling, apa yang terjadi dengan mu? Kemana aja kamu beberapa hari ini? Kenapa gak pulang ke rumah?” Tanya panik wanita berkisaran usia sekitar 60 tahun dengan rambut yang di beri cat warna pirang dengan bibir yang merah menyala. Sudut matanya sedikit keriput, namun tertutup oleh make up tebalnya.
“Aku pulang ke apartemen Mih, ada sesuatu yang harus kuurus. Maaf tidak menghubungi mu!” Jawab Singkat Sandra seraya berjalan melewati Mimih nya menuju kamarnya. Langkahnya sangat pelan, karena rasa sakit di bagian area sensitifnya masih terasa.
“A.. aku jatuh terpeleset di kamar mandi, lalu terkena serpihan ujung keramik yang tajam. I'm good, don't worry Mih.” Kilah Sandra dengan senyum terpaksa. Ia menutupi kejadian sebenarnya dari mimihnya, agar masalah dan rahasia dirinya aman. Ia tak ingin mimihnya mengetahui apa yang terjadi padanya, yang diakibatkan oleh ulah jahatnya sendiri.
Karena tak puas dengan jawaban putri-nya. Wanita itu mengikuti langkah Sandra dari belakang. Ia mengetahui keadaan putri-nya jauh dari kata baik. Insting perasaan seorang ibu mengatakan demikian, karena sikap anaknya sedikit gugup seperti berusaha menutupi sesuatu.
“Apa kamu baik-baik saja setelah melihat siaran langsung resepsi pernikahan mantan tunangan mu dan istrinya?”
Jlebbb
“Resepsi pernikahan?” Tanya kaget Sandra dengan membelalakkan mata. Ia merasa tak percaya dengan resepsi pernikahan Melvin yang di gelar sekarang, ia tak mengingat sama sekali informasi yang telah Melvin sampaikan di akun media sosialnya akibat terlalu memikirkan kejadian 3 hari lalu.
__ADS_1
“Iya, Melvin telah menggelar resepsi pernikahannya dengan megah hari ini. Padahal mimih berharap kamu yang berdiri di atas pelaminan itu, bukan wanita lain. Kamu yang sabar yah, Melvin ternyata bukan jodoh mu. Sekarang fokuslah dengan karier mu, mimih berharap kamu tegar menerima semua ini. Meskipun sangat disayangkan,” Sandra memegang dadanya yang berdegup kencang, pandangannya tiba-tiba mengabur terhalang air mata.
“Ja..jam berapa resepsi pernikahannya di gelar Mih?” Wanita itu menghampiri putri-nya lalu memeluknya. Ia tahu apa yang putri nya rasakan, akibat keputusan egoisnya. Ia harus merelakan lelaki yang dia cintai menikah dengan orang lain.
“Mimih liat sih, dari jam setengah 09:30 dan berakhir jam 22:00 sekarang.” Sahut pelan wanita itu seraya mengelus-elus bahu putrinya yang terguncang.
Ya Tuhan, aku tak mengingatnya. Padahal aku ingin sekali menghancurkan resepsi pernikahan itu, menjadi berdarah.
Batin wanita itu dengan memeluk mimihnya erat.
Setelah melihat pernikahan itu, hidupku semakin hancur. Jiwa ragaku benar-benar hancur! Rencana yang kususun selama ini ternyata sia-sia.
“Sudah ... sudah ... ikhlaskan Melvin. Dia bukan jodoh mu!” Sandra melepas pelukan mimihnya, lalu menghapus air matanya kasar.
“Aku ke kamar dulu Mih!” Wanita itu menganggukkan kepalanya. Membiarkan putri-nya pergi untuk menenangkan dirinya.
Andai dulu kau lebih memilih Melvin daripada karier mu, Mimih yakin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin kau sudah hidup bahagia dengannya! Ini akibat dari ambisi mu Sandra, kau terlalu percaya diri melvin akan menunggumu karena dia sangat mencintaimu. Tapi kenyataannya, dia memutuskan mu sebelum kepergian mu kesana.
Mimih tidak akan menyalahkan mu ataupun Melvin. Mimih hanya kecewa, keluarga Nagara tidak menjadi besan keluarga kita. Padahal mimih sangat mengharapkan itu dari dulu.
-
Wilujeng dinten senen..
Tong hilap
__ADS_1
Like, komen, vote, gift mumpung hari senin.
Hatur nuhun😘😘😘😘