
Setelah mengantarkan Andress ke Bandara. Keluarga Atmadja terlebih dahulu mampir ke restoran milik Melvin yang belum di klaim miliknya di hadapan keluarga besarnya. Ia memilih ruang privat yang terletak di lantai 2, agar mereka lebih leluasa, dan aktivitas mereka tidak terlihat oleh orang lain.
Udara sejuk, menyambut mereka ketika mereka melangkah kan kaki ke dalam restoran yang bernuansa nature. Beberapa pelayan menyambut mereka dengan tersenyum hangat lalu menuntun mereka ke lantai 2. Restoran luas berlantai 2 itu tidak terlalu ramai di siang hari, karena rata-rata banyak pengunjung di waktu sore dan malam hari. Nampak terlihat beberapa meja yang terlihat masing kosong, dan beberapa pelayan yang sedang hilir mudik.
“Dad, tahu gak ini restoran milik siapa?” Tanya Jonathan membuyarkan kekaguman mereka pada interior restoran tersebut. Gilbert menggelengkan kepala, berjalan menggandeng bahu Putra bungsunya yang kini tingginya melebihinya.
“Daddy sering makan disini, tapi gak tahu pemiliknya siapa. Daddy sering tanyain sama pelayanannya siapa bosnya. Tapi mereka tidak buka mulut sama sekali, mereka hanya bilang restoran ini milik Tuan Muda. Padahal Tuan Muda di Surabaya ini banyak, Kan?” Papar Gilbert. Melvin yang berjalan di belakang mereka pun hanya tersenyum sambil menggandeng bahu istrinya. Ia mengkode kearah pelayanan, agar meninggalkan mereka. Ia tersenyum simpul mendengar pembicaraan antara mertua dan adik iparnya mengenai siapa pemilik restoran tersebut.
“Ada yang tahu pemilik restoran ini siapa?” Tanya Jonathan kembali kearah Zaina, Jack, Bi Ina, dan Meida. Dan akhirnya ia tersenyum menatap kearah Melvin yang sedang membuang muka ke samping.
Ke empat orang itu menggelengkan kepala secara serempak. Mengisyaratkan, bahwa di antara mereka tidak ada yang tahu satu pun.
“Asal kalian tahu, Restoran ini milik ko Melvin. Jadi kita bisa makan sepuasnya disini, gratis tak usah bayar. Benarkan Ko?” Melvin pun mengedikkan bahu mengangkat kedua tangannya dengan tersenyum. Sementara Jack dan Gilbert mengedip-ngedipkan mata tak percaya.
“Kata siapa restoran ini milik koko? Kamu tahu dari mana?” Jonathan menunjuk kearah beberapa Insial ML yang terletak pada dinding dan pigura.
“Bukankah ML itu brand singkatan nama koko? ML itu Melvin, Kan? Semua bisnis koko pasti brand-nya ML, mulai dari bisnis Fashion sampai real estate. Koko tak bisa membohongiku, aku sering ke restoran ini sepulang sekolah. Daddy bisa lihat Inisial ML di lobby pas kita masuk, dan di dinding itu. Itu nama Ko Melvin.” Terang Jonathan dengan tersenyum seraya menaiki beberapa anak tangga menuju lantai 2. Sontak Gilbert, Bi Ina, Meida, Zaina dan Jack pun terkejut, sampai menghentikan langkah mereka di tengah-tengah tangga tersebut. Ternyata restoran mewah itu milik Melvin. Mereka pun spontan membalikkan tubuhnya menatap kearahnya. Melvin pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menatap kearah istrinya seraya tersenyum.
“Benar itu Melvin?” Tanya Gilbert seraya membenarkan kaca matanya. Sementara yang lain diam menunggu jawaban darinya.
“Restoran ini bukan milik Melvin Dad, tapi milik Putri Daddy.” Sahut singkat Melvin dengan memegang kedua bahu Meida yang berdiri di depannya dengan wajah tersipu malu. Mereka pun tersenyum dengan pengakuan tidak langsung Melvin, lalu kembali melanjutkan perjalanan ke lantai 2.
“Aku tidak pernah buka restoran. Ini milik kamu By,” ujar Meida seraya mengusap tangan kekar Melvin yang berada di bahunya. Melvin sengaja memegang kedua bahu istrinya, agar tubuh istrinya seimbang menaiki anak tangga agar tidak terjatuh. Sementara yang lainnya berjalan di depan mereka.
“Bukankah harta suami adalah harta istri juga?” Meida menyunggingkan senyumnya sambil menganggukkan kepala. Ia memegang erat tangan suaminya dan menggenggamnya erat. Yang berjalan di depan mereka pun geleng-geleng kepala, melihat keromantisan yang dipertontonkan pasangan halal tersebut.
“Berarti harta cici Meida banyak dong, double!” Sahut polos Jonathan yang berjalan paling depan. Semua orang yang berjalan di belakang mereka pun tertawa mendengar perkataannya.
“Jelaslah cici-mu kaya. Terlahir dari keluarga kerajaan bisnis, dan dipersunting oleh keturunan Sultan properti. Mungkin hartanya tidak bakalan habis, jika hanya membeli 10 jet pribadi berikut anak-anaknya.” Timpal konyol Jack menggandeng bahu Jonathan yang sedang senyum-senyum dengan menggelengkan kepalanya.
“Apa kau ingin menjadi anak angkat kami?” Meida pun tertawa mendengar pertanyaan suaminya.
“Jika bisa, adopsi saya lah Vin. Saya tidak akan keberatan di berikan warisan jet pribadi beserta hotel bintang 5 kemarin. Tenang, saya tidak akan menyusahkan mu, saya akan menjadi anak yang baik.”
__ADS_1
“Daripada mengadopsi mu yang sudah tua, mending kita bikin anak yang banyak. Benarkan By?” Ceplos Meida yang belum menyadari ucapannya. Semua orang pun menahan tawanya tak terkecuali Jack yang sedang memegang kedua telinga Jonathan.
“Waduh, sekarang mah ranahnya bikin anak mulu. Mentang-mentang kerjaan nya sekarang nyangkul dan berkembang biak.” Meida langsung menutup mulutnya dengan membulatkan matanya. Ia baru sadar, barusan ia keceplosan. Wajahnya pun langsung memerah, sementara yang lainnya tertawa menuju kearah meja bulat yang sudah di penuhi bermacam-macam makanan berat.
“Kamu malu, sayang?” Kekeh Melvin seraya mendekap istrinya dari samping. Meida langsung menyusupkan kepala ke pelukan suaminya, ia tak berani menatap anggota keluarganya. Yang kini memandang mereka dengan geleng-geleng kepala.
“Setelah ngomong bikin banyak anak, dan sekarang malah bermesraan-mesraan. Ahh kalian bikin jomblo gigit jari. Jo ayoo kita makan duluan! Melihat mereka, bikin kita lapar!” Ledek Jack seraya menggandeng tangan Jonathan kearah meja yang sudah terhidang beberapa makanan. Yang berada disana pun terkekeh, tersenyum meledek kearah pasangan pengantin baru itu yang sedang saling pandang.
“Dasar pasangan bucin.” Sahut Gilbert seraya tertawa berjalan menyusul putra dan sepupunya. Sedangkan Zaina dan Bi Ina hanya geleng-geleng kepala.
“Mereka memang bucin Dad. Yang banyak bikin anaknya, biar Mommy punya banyak cucu!” Ledek Zaina sambil menyusul suaminya kearah meja.
“Yang rajin berkembang biaknya, supaya bibitnya langsung jadi,” ujar Bi Ina dengan menepuk bahu Melvin yang tersenyum malu. Wajah mereka sama-sama merah, karena di ledek berjamaah oleh anggota keluarganya.
Dengan menarik nafas kasar, dan mengibas-ngibas tangan ke wajah. Meida dan Melvin pun berjalan menghampiri keluar besarnya yang sudah menunggu mereka di meja bulat besar untuk makan.
“By, itu meja yang kita pesan? Perasaan kita belum memesan makanan?” Melvin menggandeng tangan istrinya seraya berbisik.
-
“Nyonya Melisa terhormat, ada seseorang yang ingin bertemu nyonya. Dia menunggu nyonya di luar.” Ucap Dion menghampiri Melisa yang tengah fokus memainkan ponsel di sofa. Melisa mengalihkan pandangan kearah lelaki jantung yang kini sudah berdiri di depannya dengan mencebikkan bibirnya.
“Jangan meledekku Dion! Biasanya kau memanggil saya dengan sebutan nama, kenapa sekarang berubah menjadi Nyonya terhormat? Kau paling anti memanggil saya dengan embel-embel. Saya yakin kau ada maunya.” Ketus Melisa yang kembali fokus memainkan ponselnya. Dion menarik nafasnya dan kembali tersenyum,
“Tidak ada maksud apa-apa Nyonya. Saya hanya ingin meminta kelonggaran waktu, bahwa siang ini saya akan makan siang dengan pacar saya di luar kantor. Jadi Nyonya harus memaklumi, jika nanti saya terlambat masuk,” ucap Dion dengan satu tarikan nafas. Melisa membulatkan matanya dengan malas, ternyata benar. Sekretaris kokonya itu akan berubah baik, jika ada mau nya.
“Ckckck sudah saya duga. To the point aja kali dari tadi. Saya kasih kelonggaran waktu 5 menit untuk kamu makan siang dengan pacarmu. Jika saja kau terlambat setelah itu, maka permenit nya gaji mu di potong 100 ribu. Setelah itu terserah kamu! Jika kamu terlambat 10 menit saja, otomatis gaji mu di potong 1 juta. Gimana?” Tanya Melisa dengan senyum liciknya. Dion menelan salivanya kasar, ia menatap kesal kearah wanita menyebalkan didepannya yang tak lain adalah atasannya sekarang.
Wanita ini lebih kejam dari pada Tuan Melvin. Benar-benar menyebalkan! Dari pada gaji saya potong, mending jadwal lunch saya cancel.
Sungut Dion dalam hati seraya duduk di depan Melisa.
“Apa tidak ada tawar menawar? 100 ribu kebesaran. Kalau 10 ribu saya tidak keberatan.” Melisa mengetuk-ngetuk kaki ke lantai memikirkan penawaran dari Dion. Ia tersenyum simpul, mencari ide untuk mengerjai bawahannya tersebut.
__ADS_1
Aku tahu caranya, agar dia tidak jadi lunch bareng pacarnya. Lelaki menyebalkan ini, sesekali perlu dikerjai. Kekeh Melisa dalam hati.
“Baiklah, jika kamu keberatan dengan penawaran yang saya berikan. Setelah di pikir-pikir, akan lebih bijaksana jika saya menguranginya menjadi 500 ribu permenit. Bagaimana?” Kekeh Melisa sambil melipat tangannya. Ia berusaha menahan tawa, ketika melihat wajah kesal Dion yang merenggut.
“Dasar gila! Itu bukan mengurangi tapi menambahnya!” Sungut Dion dengan mencebikkan bibirnya. Ia melipat tangannya dengan memalingkan wajahnya ke samping.
“Kau berani mengumpat saya?”.
“Lagian kau benar-benar menyebalkan Sasa!” Jawab santai Dion sambil melipat tangannya. Menantang kearah Melisa dengan menyunggingkan senyum sinisnya.
“Sasa sasa saya Melisa bukan Micin!” Teriak Melisa memandang tajam lelaki yang duduk di depannya.
“Suka-suka saya dong!”
“Dasar menyebalkan! Suruh masuk wanita yang ingin menemui saya! Lama-lama dengan mu saya bisa gila!” Runtut Melisa seraya merapikan rambut panjang nya.
“Sama saya juga.” Sewot Dion seraya merapikan jas yang dikenakan nya.
Dion berjalan kearah pintu, lalu membukanya dari dalam. Ia menghampiri wanita yang memakai terusan senada yang sedang duduk tertunduk di sofa dengan wajah pucatnya.
“Silahkan masuk mbak. Bu Melisa sudah menunggu mbak di dalam.” Wanita itu berdiri dengan membungkukkan sedikit tubuhnya. Mengucapkan terima kasih lewat bahasa tubuh. Ia berjalan membuka pintu lalu berjalan kearah sofa.
Melisa yang melihat wanita itupun terdiam, menatapnya setengah tak percaya.
“Kamuuu.....
-
Jangan lupa vote dan ☕☕☕
Maaf yah, jarang up. Biasa mau lebaran, sibuk pisan🙏
Hatur nuhun banget buat yang masih stay di novel ini😘😘😘😘♥️♥️♥️
__ADS_1