
“Koko yakin akan berangkat besok?” Tanya Jonathan seraya memperhatikan Andress yang sedang mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari kaca miliknya.
Ruang itu tiba-tiba hening, Andress kembali melipat pakaian lalu memasukkan ke dalam koper besar berwarna hitam yang telah disediakannya. Setelah selesai melipat, ia merebahkan tubuh di atas ranjang dengan memejamkan mata.
“Koko sudah yakin Jo. Koko ingin melanjutkan study kedokteran koko disana.” Jawab singkat Andress yang masih memejamkan mata.
“Apa tak bisa di tunda? Padahal sebentar lagi kelulusan Jo di sekolah. Apa koko akan pulang ketika kelulusan Jo nanti?” Andress menghela nafasnya. Membuka mata, menatap adiknya yang sedang menyenderkan tubuhnya ke dinding dengan mata menatap dalam kearahnya. Ia pun bangun, lalu menyandarkan kepala di bantal dengan melipat tangan.
“Koko akan usahakan pulang jika tidak sibuk, tapi Koko gak janji!” Jonathan pun dengan lemah menghampiri Andress lalu duduk disampingnya dengan wajah sayu.
“Berarti ada kemungkinan koko tidak akan datang. Padahal Jo berharap, keluarga kita akan berkumpul ketika kelulusan Jo nanti, sebelum Jo berangkat ke UK.” Sahutnya seraya terbaring di samping kakaknya tersebut. Andress pun tersenyum seraya melempar bantal kearah wajah adiknya.
“Gimana nanti aja! Masa ada lelaki melow kayak gitu? Lagian koko cuman 2 tahun disana, setelah selesai koko akan langsung pulang kesini. Kamu tahu sendiri kan, Meida menyerahkan tanggung jawab rumah sakit kepada kita berdua. Jadi koko tak bisa berlama-lama disana.” Jonathan melempar kembali bantal yang mengenai wajahnya kepada Andress dengan tersenyum.
“2 tahun lama ko, mungkin kita lama tidak akan berjumpa. Apalagi jika jadwal libur kita berbeda. Tapi setidaknya Jo ada jatah 4 tahun untuk bebas berkeliaran di dunia luar tanpa beban. Sementara Koko memiliki waktu hanya 2 tahun, setelah itu mengabdikan diri untuk rumah sakit. Tapi setelah pulang kesini nanti, Jo berharap koko sudah membawa pasangan koko lalu menikah seperti Cici Meida dan Ko Melvin.” Andress mencebikkan bibirnya lalu menjitak kepala adiknya yang sedang menatap langit-langit kamar dengan tersenyum.
“Kenapa kau ingin koko cepat-cepat nikah?” Tanya menelisik Andress seraya menelisik wajah adiknya yang sudah terbangun.
“Biar rumah ini rame, dan Jo punya banyak keponakan yang lucu-lucu. Biar Mommy dan Daddy tidak kesepian di hari tuanya. Dan Jo pun akan menyusul kalian untuk menikah.” Jelas Jonathan seraya menepuk keras paha Andress dengan tertawa. Andress pun mengusap-usap pahanya dengan mengaduh.
“Isshhh, masih bocah udah mikirin nikah! Sekolah dulu yang bener!” Sungut Andress yang kembali menjitak kepala adiknya.
“Hidup itu harus terencana ko. Jo pasti menikah, tapi tidak tahu kapan. Masa membujang selamanya, tidak mungkin, kan? Jo pun harus punya generasi penerus.” Sahut Jonathan dengan terkekeh sambil memukul-mukul gemas lengan Koko-nya.
“Njirr bocah mikirnya udah kejauhan. Gue pun lewat!” Ledek andress dengan tertawa lebar. Ia mengusap-ngusap kasar wajah adiknya lalu menjitak kepalanya.
“Oh yah ko, berarti besok siang kita nganter Koko ke Bandara dong?” Andress melepaskan tangan dari wajah adiknya dengan mengangkat sebelah alisnya.
“Tak perlu diantar, koko sudah tahu jalan.”
“Tapi kami sudah sepakat akan mengantar koko. Untuk melepas kepergian koko untuk melanjutkan study kesana.” Tutur Jonathan seraya pergi meninggalkan Koko-nya.
-
“Aww .. By pelan-pelan! Ini sakit. Pake perasaan dong, aku ini masih hidup belum mati. Tadinya juga pelan kenapa sekarang jadi kasar?” Suara teriakan Meida yang terdengar memenuhi kamarnya. Helena yang berada di depan pintu menantu nya pun langsung diam, mendengarkan suara samar-samar yang terdengar di balik kamar. Niatnya ingin membangunkan Melvin dan Meida untuk sarapan, namun ia harus mengurungkan niatnya setelah mendengar teriakkan Menantunya.
“Sayang, ini udah pelan loh! Saya gak ngeluarin seluruh tenaga saya, karena saya tahu kamu kelelahan sedari malam. Saya melakukan ini dengan pelan dan lembut.” Helena yang berada di balik pintu pun tersenyum dengan wajah memerah.
Ya Tuhan, sepagi ini mereka sudah membuatkan ku cucu. Batin helena dengan menutup mulutnya menggunakan tangan.
__ADS_1
“Dasarr pengantin baru, jam segini aja udah star. Kira-kira pagi ini ke berapa ronde yah?” Gumam pelan Helena yang masih berdiam diri di depan pintu kamar.
“By, jangan di situ mulu. Ke bawah sedikit! Kata aku juga pake minyak pelumas bukan pake body lotion, kan sakit.” Suara rengek Meida terdengar dengan jelas di telinga Helena. Ia semakin mendekatkan telinga ke pintu kamar anaknya.
“Saya pikir minyak pelumas itu oli, makanya saya tidak ingin memakainya. Padahal pake body lotion juga ini cepat licin kok.” Sahut Melvin dengan nafas terengah-engah.
“Ahh By, jangan terlalu di tekan. Ini sakit sayang! Jangan kasar-kasar! Aku pengen pelan-pelan dan lembut.” Sungut Meida terdengar lirih di telinga Helena.
“Kurang lembut gimana ini? Apa ini sudah enakan?”
“Ini baru nikmat By. Terus di tekan lebih dalam sebelah sini biar sakitnya hilang. Ahh ... enak mantap By. Untung ini kamu besar.”
“Jangan terus bicara, atau saya akan menggigit mu!”
Helena langsung mengusap bulu punduknya yang tiba-tiba merinding mendengar suara lenguhan yang keluar dari mulut menantunya.
“Apa mereka melakukan olahraga ranjang dengan sepanas itu. Ya Tuhan, mupeng aku mendengar percakapan mereka. Usia seperti mereka, memang sedang di penuhi oleh gairah dan cinta. Apalagi mereka pengantin baru.” Helena pun meninggalkan pintu itu dengan menyilangkan tangan di dadanya dengan wajah memerah dan jantung berdebar.
Sementara di dalam kamar, Meida menungkupkan tubuhnya ke bantal. Terlihat Melvin sedang mengurut kaki istrinya dengan keringat yang membasahi dahinya.
“Mijit dulu yang bener! Baru kamu gigit aku! Ta.. tapi, tangan kamu memang besar by, bisa diandalkan buat jadi tukang pijit.” Meida memejamkan matanya menikmati pijitan dari Melvin yang hampir satu jam berkutat di kedua kakinya.
“Mau kamu itu By. 10 menit lagi kita gantian. Itu tangan kamu jangan macam-macam, kenapa ngangkat Bathrobe aku sampai pinggang. Kesepakatan kita sampai paha loh.” Melvin cengengesan ketika Meida mencubit tangannya yang sedang mengusap-ngusap pinggang polosnya.
“Udah diem! Sekalian saya pijit semua nya, biar tubuhmu relaks. Buka Bathrobe nya! Saya tahu pinggang sampai punggung kamu masih pegal kan?” Meida mengerucutkan bibirnya dengan membalikkan tubuhnya menatap suaminya dengan tajam.
“Kamu beneran mau mijitin aku bukan modus, Kan?” Melvin menaikkan sebelah alisnya dengan menganggukkan kepalanya.
“Iya, saya gak bakal ngapa-ngapain!”
“Awas kalau kamu mencari kesempatan dalam kesempitan!” Ancam Meida seraya membuka sampul Bathrobenya. Ia melepaskan bathrobe nya perlahan, lalu menelungkupkan tubuhnya ke ranjang yang hanya menyisakan underwear dan bra nya saja. Melvin menelan salivanya kasar, jakun nya terlihat naik turun dengan mata tak berkedip melihat tubuh molek istrinya yang hanya menyisakan pakaian dalamnya.
Semoga pagi ini mendapatkan bonus tambahan.
Batin Melvin dengan menyunggingkan senyumnya.
Dengan tangan sedikit gemetar ia mengambil body lotion ke telapak tangan, lalu diusapkan dengan merata dari punggung sampai pinggang istrinya. Ia menghela nafasnya kasar. Dalam hatinya ia terus melafalkan do,'a, agar tidak melanggar ucapannya barusan.
Meida memejamkan matanya menikmati pijatan lembut suaminya, ia tak menyadari pergulatan batin yang terjadi dalam pikiran suaminya yang tengah berkeringat panas dingin dengan wajah yang tegang.
__ADS_1
“By, kenapa diem aja? Biasanya juga kamu cerewet! Kenapa helaan nafasmu tak beraturan? Kamu gak ada keturunan asma, kan?” Melvin mencebikkan bibir. Tangannya terus fokus memijit punggung sampai leher istrinya dengan menggigit bibirnya.
“Udah diem sayang. Jangan mancing-mancing!” Meida pun cengengesan. Ia dapat merasakan telapak tangan suaminya yang memanas dengan suara berat.
“By haus! Aku mau minum dulu! Ambilin air yang ada di nakas.” Melvin menggeser posisinya sedikit lebih ke samping lalu mengambil segelas air putih untuk istrinya. Meida lalu membalikkan tubuhnya seraya terbangun, tanpa menutupi tubuhnya dengan apapun. Karena selimut dan bathrobe miliknya tertindih oleh tubuh suaminya.
“Nih saya...” Melvin menghentikan ucapannya dengan tangan menyodorkan air kearah istrinya yang sudah duduk bersila di sampingnya. Ia tertegun dengan menelan salivanya kasar, ketika melihat tubuh atas istrinya yang polos tanpa terhalang apapun. Ia tak mengerjapkan matanya, melihat kedua bukit kembar yang menjulang, yang menantang nalurinya untuk di daki.
Meida menerima gelas yang disondorkan suaminya lalu meminumnya. Sementara Melvin mendekatkan kepala kearah bukit kembar istrinya, lalu meng*ulumnya lembut.
Meida langsung menghentikan minumnya menatap kearah kepala suaminya yang sedang mengulum benda favoritnya.
“Ahh .. By, ini tidak ada di perjanjian kita! Lepasin sayang! Ingat perkataan mu semalam, kamu tidak akan melakukannya! Aku lagi datang bulan!” Sungut Meida seraya menjambak rambut Melvin agar melepaskan kul*mannya.
Plukk
Melvin langsung melepasnya lalu menatap istrinya tak percaya.
“Kamu datang bulan beneran? Atau pura-pura bohong, untuk menghindari serangan fajar dari saya?” Meida menyimpan gelas di nakas lalu menatap suaminya dengan mengedip-ngedipkan matanya.
“Aku serius sayang. Setelah shalat subuh tadi baru keluar, makanya tadi pagi aku ke kamar Melisa untuk meminta pembalut karena aku tak membawanya.” Melvin langsung menyugar rambutnya dengan wajah yang memerah, gejolak dalam dirinya ingin segera tertuntaskan.
“Berapa lama?” Meida mengangkat tangan lalu menghitung dengan jari nya.
“Gak lama, cuman 7 hari.” Kekeh Meida dengan senyum lebar memamerkan deretan giginya ketika melihat wajah suaminya yang sedang membelalakkan mata dengan frustasi.
“Apa saya harus puasa selama itu?” Meida kembali menganggukkan kepala dengan mengerlingkan sebelah mata menggoda suaminya yang sedang menatapnya sendu.
“Ahh menyebalkan! Kenapa kamu gak bilang dari tadi sayang?” Meida membelai wajah suaminya dengan senyum menggoda,
“Gimana aku mau bilang, kamu main nyosor aja sayang.”
-
Like nya jangan pelit-pelit guys😘😘😘
Semoga langsung lolos review sama pihak NT nya 🤗😘😘
Vote sama kopi nya di tunggu.
__ADS_1
Hatur nuhun😘😘😘