Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Kekuatan Cinta


__ADS_3

Melvin yang keadaannya masih lemas di dorong oleh Gilbert menuju rumahnya menggunakan kursi roda. Steven diperintahkan oleh Melvin untuk mengatur kelengkapan berkas dirinya dan menyuruhnya untuk mengambil cincin nikah yang sudah ia siapkan di lemari pakaiannya yang berada di apartemen. Melvin sudah menyiapkan cincin nikah itu dari bulan lalu, cincin yang terpahat indah yang terukir namanya dan Meida. Jonathan dan Andress berinisiatif ke rumah Ustadz Zhafran untuk memintanya menjadi saksi pernikahan, sementara Jack pergi ke rumah penghulu yang rumahnya berada di sekitar rumah sakit untuk menikahkan sepupu perempuannya.


Bi Ina, dan Zaina bertugas mengganti pakaian meida dan merias nya. Bukan lagi mengenakan baju piyama khas rumah sakit, melainkan mengenakan gamis dan hijab yang berwarna putih. Dian dan Sabiru merapikan ruang itu, karena sebentar lagi keluarganya akan berkumpul disana.


“Kamu siap? Kita sudah sampai di rumah Mu.” Melvin menganggukkan kepalanya. Driver terlebih dahulu turun mengambil kursi  di bagasi, lalu di susul Gilbert yang memapah Melvin untuk keluar. Mereka sengaja turun di depan pos penjagaan, agar tidak menimbulkan keributan di kediaman Nagara.


Sekuriti yang sedang berjaga tercengang ketika melihat kedatangan Melvin. Tuan Muda Nagara yang sudah sebulan lebih menghilang. Ia menundukkan kepalanya hormat lalu membuka lebar pintu gerbang rumah megah itu.


Gilbert dengan telaten mendorong kursi roda Melvin. Ia baru mengetahui, ternyata rumah megah Nagara benar-benar di jaga ketat oleh para Bodyguard bertumbuh tinggi tegap dengan muka sangarnya. Mereka menatap tajam kearah Melvin dan Gilbert bergantian.


“Ada perlu apa anda kemari? Apa sudah membuat  janji temu dengan Tuan Nagara?” Salah satu bodyguard menyetop langkah Melvin dan Gilbert lalu menahannya. Bodyguard itu tidak mengetahui lelaki yang sedang memakai kacamata dan topi hitam itu adalah Putra Mahkota keluarga majikannya. Melvin sengaja menundukkan kepalanya, agar tak ada orang yang mengenalinya. Ia tak ingin papihnya mengetahui keberadaannya terlebih dahulu, karena ia takut terusir sebelum bertemu dengannya.


“Apa harus membuat izin dulu?” Tanya bingung Gilbert sambil mengerutkan dahinya.


“Betul Tuan. Anda harus membuat izin dulu jika ingin bertemu dengan Tuan Nagara.” Jawab Bodyguard itu dengan wajah dinginnya.


“Apa Pak Nagara ada di dalam? Sampaikan pada Nagara, saya Gilbert Atmadja ingin menemuinya!” Ucap lantang Gilbert. Satu bodyguard itu masuk ke dalam, dan satu nya lagi menjaga mereka berdua untuk tidak masuk ke dalam.


“Rumah mu benar-benar ketat Nak. Ternyata benar, Papih mu banyak menyewa bodyguard untuk menjaga Mamih dan adikmu.” Bisik Gilbert dengan terkekeh.


Salah satu bodyguard menganggukkan kepalanya setelah mendapat informasi melalui earphone nya.


“Silahkan masuk! Tuan Nagara menunggu kalian di lantai 3 di ruang kerjanya.” Ucap salah satu bodyguard yang mengawal mereka menuju lantai 3.


Di setiap ruangan terdapat satu bodyguard. Melvin langsung masuk ke dalam lift menuju lantai 3, hunian yang keluarganya tempati. Ia berharap bisa bertemu dengan Mamih dan adiknya, untuk mengobati kerinduan yang ditahannya selama ini.


Di ruang yang lain. Setelah mendapat informasi jika Gilbert ingin menemuinya, Nagara langsung masuk ke dalam ruang CCTV yang berada di ruang kerja untuk memastikannya. Ia takut itu hanya seorang penyusup yang ingin masuk ke dalam rumahnya untuk mencuri informasi dengan menggunakan nama rekan bisnisnya.

__ADS_1


 Nagara nampak berdiam diri di depan layar monitor besarnya dengan meneteskan air mata. Ia yakin lelaki yang menggunakan kursi roda yang di dorong Gilbert adalah Putra sulungnya. Ia bersyukur, anaknya bisa kembali walaupun menggunakan kursi roda.


“Akhirnya kamu kembali Nak. Papih akan menepati janji papih untuk memaafkan mu. Dan papih akan memberimu restu sesuai janji papih, jika kamu benar-benar mencintai wanita itu .” Lirih Nagara sambil menghapus sudut matanya kasar. Ia buru-buru keluar dari ruang CCTV menuju meja kerjanya dan kembali memasang wajah dingin dan seriusnya ketika melihat anaknya sedang berjalan menuju ruangnya. Ia pura-pura sibuk dengan berkasnya ketika pintu di ketuk.


“Tuan, Bolehkah kami masuk?” Nagara langsung mengiyakannya dan pura-pura tidak mengetahui jika itu adalah anaknya.


Pintu itu terbuka menampakkan Gilbert yang sedang mendorong kursi roda Melvin.


“Selamat malam Nagara.” Panggilan non formal Gilbert jika di luar pekerjaan. Nagara pun mengangkat wajahnya lalu membuka kacamatanya, ia menatap kearah Gilbert sementara Melvin masih menundukkan wajahnya.


“Malam Gilbert. Ada yang bisa saya bantu? Tumben-tumbenan malam-malam kamu kesini? Sudah lama kita tak bertemu setelah insiden penembakan Putri mu. Apa Putri mu baik-baik saja?” Tanya basa basi Nagara sambil menyuruh mereka duduk. Melvin masing menundukkan kepalanya, ia segan melihat papihnya, karena ia yakin papihnya masih marah padanya, walaupun kenyataannya tidak.


“Puji Tuhan, Putri saya membaik setelah kedatangan seseorang. Mungkin seseorang itu sangat istimewa di hati Putri saya, hingga ia terus membaik setelah kedatangannya. Demi putri saya, saya rela malam-malam datang kesini untuk memperjuangkan kebahagiaan nya. Kau pasti akan melakukan hal yang sama seperti apa yang saya lakukan, jika itu berkaitan dengan Putra-putri mu.” Jawab Gilbert dengan tenang. Nagara pun mengerti maksud dari perkataan Gilbert. Tapi ia masih dalam kepura-puraannya. Ia ingin tahu, sejauh mana Gilbert dan Melvin memperjuangkan orang yang dicintainya.


“Maksudnya apa? Saya kurang paham.” Gilbert berdehem. Ketika ia akan menjawab pertanyaan Nagara, Melvin terlebih dahulu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Papihnya dengan mata berkaca-kaca, tak dipungkiri ia sangat merindukan sosok penyayang yang selama sebulan ini tak di lihatnya.


“Seperti yang kamu lihat, Papih baik-baik saja.” Jawab dingin Nagara. Padahal dalam hatinya ia menangis melihat keadaan putranya.


“Syukurlah jika Papih baik-baik saja. Melvin pulang Pih. Tapi maaf, Melvin pulang masih memegang teguh pada keyakinan baru Melvin, pengasingan itu tak sedikitpun menggoyahkan keyakinan Melvin. Sekarang terserah Papih, mau menerima Melvin ataupun tidak. Walaupun kenyataannya Melvin sangat menyayangi kalian.” Melvin memajukan kursinya dan kini berhadapan dengan Nagara. Ia memegang tangan Nagara dan menciumnya, sebagai rasa hormat pada Ayahnya.


“Karena sampai kapanpun Papih dan Mamih adalah orang tua Melvin. Walaupun keyakinan kita berbeda. Bukankah perbedaan tak jadi penghalang Pih?” Nagara hanya diam menatap Putra sulungnya yang sedang menangis di pangkuannya. Ia kembali mengingat serpihan-serpihan kenangan Putranya ketika kecil, tentang kebiasaannya yang sering menangis dan tertidur di pangkuannya. Melvin mendongkakkan wajahnya, memandang dalam wajah Papihnya yang kini berada di depannya.


“Pih, Melvin datang kesini ingin meminta restu Papih untuk menikahi Putri dari Om Gilbert. Melvin sangat mencintainya, dia wanita yang selama ini bertahta di hati Melvin. Melvin mengikuti nasihat papih untuk mencintai hanya satu wanita, dan dia benar-benar wanita yang sangat Melvin cintai Pih.” Mata Nagara kembali berkaca-kaca di balik kaca matanya. Ia melihat sebentar kearah Gilbert lalu kearah Putranya.


“Apa alasan mu begitu mencintainya?” Tanya Nagara sambil melepaskan lembut tangan anaknya lalu berjalan kearah meja kerjanya dengan membelakangi Melvin dan Gilbert.


“Bukankah cinta tak perlu alasan Pih? Begitupun perasaan yang Melvin miliki untuk Meida. Melvin hanya yakin, Meida adalah pasangan terbaik yang ditakdirkan Allah untuk Melvin.” Nagara meneteskan air matanya. Anak nya benar-benar mencintai Putri dari rekan kerjanya. Gilbert yang sedang duduk di sofa menghampiri Nagara dan berdiri di belakangnya.

__ADS_1


“Nagara, anak kita saling mencintai. Tak bisakah kau merestuinya? Putri saya sangat membutuhkan Melvin sekarang, dan Melvin pun sangat membutuhkan putri saya.” Parau Gilbert sambil menepuk pelan bahu Nagara yang masih terdiam membelakanginya. Sementara wajah Melvin terlihat putus asa. Karena ia yakin, ia akan menikahi Meida tanpa restu dari papihnya


“Saya mohon, kita jangan egois sebagai orang tua. Bukankah kebahagiaan anak-anak adalah prioritas kita? Andai kau tahu, saya pun berat melepaskan putri saya untuk di pinang Melvin. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa, putri saya sangat mencintainya. Putra mu adalah kebahagiaan nya. Saya tak punya alasan sedikitpun untuk menolak niat baik Putra-mu pada Putri saya.” Lirih Gilbert yang berusaha membujuk Nagara yang masih terdiam mematung.


“Asal kau tahu! 2 minggu ini putri saya belum sadarkan diri dari koma-nya. Kami sekeluarga sudah merencanakan keberangkatan untuk pengobatan ke Jepang. Administrasi sudah selesai kami urus, dan tinggal pergi. Tapi kau tahu apa yang terjadi? Setelah Putra-mu datang, putri saya mampu melewati masa koma-nya. Keadaannya kini membaik dan tinggal menunggu sadar. Dari sana saya dapat melihat, kekuatan cinta mereka sangat luar biasa. Apa yang kau pikirkan lagi Nagara?” Melvin menghapus air matanya. Ia memajukan kursi rodanya untuk lebih dekat dengan papihnya.


“Benar apa yang dikatakan Om Gilbert Pih. Melvin bisa pulang kesini karena kekuatan cintanya. Mungkin jika bukan karenanya, Melvin sudah menyerah akan hidup ini Pih. Karena dia, Melvin bisa bertahan dan memiliki mimpi untuk kembali. Dan Alhamdulillah, sekarang Melvin ada disini Pih.” Sahut Melvin sambil memegang tangan Nagara yang masih membelakanginya.


“Asal papih tahu! Melvin tak bisa tidur setiap malam, setiap hari perasaan Melvin gelisah, nafsu makan Melvin hilang. Itu di sebabkan karena apa? Karena Melvin merasa, jika sesuatu yang buruk telah terjadi. Dan memang benar, sesuatu yang buruk telah terjadi pada Meida.” Tutur parau Melvin sambil menyandarkan dahinya di lengan Papih nya.


“Apa yang kau inginkan?” Tanya dingin Nagara tanpa membalikkan tubuhnya.


“Pih, malam ini Melvin akan menikahi Meida sesuai janji yang pernah Melvin ucapkan. Melvin harap Papih merestui pernikahan kami, dan menyaksikan pernikahan kami malam ini. Karena bagaimanapun, papih tetaplah Ayah Melvin ... Melvin akan melakukan apapun, asal papih merestui kami. Karena restu dari papih yang melvin butuhkan sekarang.”


Nagara terdiam cukup lama. Ia kembali mempertimbangkan ucapan Putra-nya. Ia memijit kepala nya pelan. Walaupun Melvin menentang segala keinginannya, tapi ia tetap menyayangi darah dagingnya itu. Bahkan ia sudah berjanji akan merestui hubungan Putra-nya, jika Putra-nya kembali dengan selamat. Dan kini Melvin berada di depannya dengan selamat walaupun harus menggunakan kursi roda.


“Saya mohon Nagara ... biarkan mereka bahagia ... sudahi penderitaan mereka, gantilah dengan kebahagiaan. Mari kita hidup bahagia bersama-sama dengan berdampingan.” Lirih Gilbert dengan suara parau nya ketika melihat tubuh Nagara yang tidak bergeming.


“Jika kamu memang mencintai Putri Gilbert, nikahilah dia! Cintai dia dan jangan pernah melukainya! Jadilah seperti Papih dan Mamih! Jangan pernah jadi lelaki berengsekk karena papih tak pernah mengajarkannya! Papih merestui mu. Tapi papih hanya minta satu, kembalilah ke perusahaan! Uruslah perusahaan keluarga kita! Kembali lah menjadi CEO, Karena Kamu dan Melisa adalah pewaris kekayaan Papih.” Tutur Nagara memutuskan segalanya dengan gamblang. Ia membalikkan tubuhnya kearah Gilbert dan Melvin yang masih tercengang dengan meneteskan air mata. Gilbert langsung memeluk Nagara haru, ia berterima kasih karena Nagara merestui hubungan putra nya. Setelah berpelukan dengan Gilbert, Kini Nagara memeluk putra nya yang sedang menangis bahagia.


“Terima kasih Pih, terima kasih.” Ucap terbata-bata Melvin dengan memeluk papihnya erat.


 


-


Jangan lupa ☕☕☕☕☕ sama vote nya guys🤗😘♥️

__ADS_1


Hatur nuhun


__ADS_2