Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Bangunlah Nyonya Nagara


__ADS_3

Setelah selesai berdzikir dan berdo’a. Melvin terlebih dahulu membuka mushaf Al-Qur’an lalu membacanya dengan penuh khidmat, suaranya mengalun merdu membangunkan tidur lelap istrinya. Meida mengerjapkan matanya, menolehkan kepala kearah suaminya yang sedang membaca Al-Qur’an dengan wajah penuh kekaguman.


Semoga kamu tetap istiqamah By. Menjadi imam yang baik untuk aku dan anak-anak kita kelak. Melihat mu seperti ini, membuatku jatuh cinta berkali-kali. Yaa Allah, terima kasih telah mengirimkan dia untuk mendampingi  hidupku.


Abadikan rasa kami, ridho setiap langkah kami, semoga kami bisa selalu bersama-sama sampai Jannah-Mu. Batin Meida dengan memandang punggung suaminya yang membelakanginya.


Melvin Nagara, wo ai ni.


Lirih pelan Meida yang memeluk gulingnya erat. Ia kembali memejamkan matanya, takala suaminya menyelesaikan bacaan Al-Qur’annya. Melvin mencium mushaf itu terlebih dahulu, setelah itu ia kembali menyimpannya ke atas rak.


Detingan jam di dinding baru menunjukkan pukul 04:10 menit, ia kembali naik ke atas ranjang, memperhatikan wajah istrinya yang masih betah terlelap sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Tangannya mengusap wajah istrinya, seraya melafalkan do'a,


اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ أَنْ تَحَفَظَ زَوْجَتِيْ مِنَ الْفِتَنِ ظَاهِرِهَا وَبَاطِنِهَا، وَأَنْ تَرْزُقَهَا رِزْقاً حَلَالاً، وَأَنْ تَجْعَلَهَا لِيْ خَيْرَ الزَّوْجَاتِ، وَأَنْ تَجْعَلَنِيْ لَهَا خَيْرَ الْأَزْوَاجِ


(Ya Allah, aku memohon pada-Mu, jagalah istriku dari fitnah lahir dan batin. Karuniai ia rizki halal. Jadikan ia sebaik-baik istri bagiku dan jadikan aku sebaik-baik suami baginya.)


Lirih pelannya, meniup ubun-ubun kepala Meida lalu mencium wajah istrinya yang memerah.


Melvin mengambil satu bantal yang berada di belakang istrinya, lalu meletakkannya bersisian. Ia menumpu sebelah tangan, menahan kepalanya dengan tangan di atas bantal tersebut.


Ia memperhatikan wajah istrinya dengan tersenyum. Merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya dengan lembut. Wajah putih istrinya yang tersorot cahaya bagaikan rembulan di tanggal 15, Bibir ranum merah alaminya memberikan harmoni keindahan pada Makhluk ciptaan Tuhan yang kini bergelar istrinya. Tak hentinya, ia menatap wajah istrinya dengan tersenyum manis. Sementara Meida menahan nafasnya dengan wajah memanas, ketika helaan nafas suaminya menerpa wajahnya karena jarak mereka yang sangat dekat. Ia pun yakin, kini suaminya sedang menatapnya.


Tangan Melvin menyusuri alis rapi istrinya, yang tidak pernah di permak apapun. Telunjuknya menyusuri hidung sedangnya, yang tidak mancung ataupun pesek. Ia mengelus bibir ranumnya lalu turun ke dagunya yang tirus tanpa di operasi plastik. Di leher dan pundaknya nampak banyak tanda merah berbentuk lingkaran kecil, yang sangat kentara dengan kulit putihnya.  Ia pun tersenyum melihat tanda merah tersebut dengan mengelus-ngelusnya pelan.


“Ini tanda kepemilikan, Jika kau benar-benar milik saya sayang.” Bisiknya pelan sambil mencium pelipisnya. Membuat bulu kunduk Meida kembali meremang dengan seketika, ia kembali mengelus lembut maha karya yang di buatnya semalam.


Melvin pura-pura terpejam dengan melingkarkan tangan di atas selimut istrinya, karena ia menyadari istrinya tengah pura-pura tertidur. Ia dapat merasakan kulit istrinya yang memanas dengan wajah memerah, dan jantungnya bergemuruh.


Setelah tak merasakan pergerakan dari suaminya. Dengan perlahan Meida membuka matanya, melihat wajah suaminya yang persis berada di depan matanya. Ia kembali mengatur nafasnya pelan, menetralkan detak jantungnya yang berdetak cepat. Ia belum menyadari dengan kondisi nya, yang bertelanjang bulat yang hanya tertutupi selimut bed cover abu-abu. Ketika Meida akan menggeserkan tangan suaminya dengan pelan-pelan, ia baru tersadar melihat lengan polos nya yang tak memakai apapun. Ia membulatkan matanya, melihat ke dalam selimut  dengan wajah tercengang dan memerah, melihat kondisi tubuhnya yang tak memakai sehelai benang pun. Ia langsung menenggelamkan tubuhnya ke dalam  selimut sampai leher dengan wajah memanas bercampur shock.


“Yaa Allah, berarti semalam itu nyata. Itu bukan mimpi, kami telah melakukannya. Bagaimana ini? Aku tak punya muka untuk menghadapinya setelah ini.” Gumam pelan Meida dengan wajah frustasi dengan menutup setengah wajahnya dengan selimut. Melvin yang melihat tingkah istrinya kembali memejamkan matanya dengan tersenyum, ia tak ingin memergoki wajah istrinya yang bersemu merah karena malu padanya. Melvin pura-pura menggeser posisinya dengan memeluk istrinya yang tampak panik dengan tubuh mematung dan menahan nafas.


“Mending aku pura-pura tidur saja. Melihat wajahnya sekarang, aku tak sanggup. Aku malu jika mengingat kejadian semalam, ketika bibirnya dengan lembut menelusuri setiap inci tubuhku.”


Melvin menahan tawanya ketika mendengar gumaman pelan istrinya. Ia langsung membuka matanya melihat wajah istrinya yang sedang pura-pura tidur dengan memejamkan matanya erat, namun wajahnya merah bagai tomat busuk.


Melvin pura-pura menggeliatkan tubuhnya, seperti orang yang tengah bangun tidur. Ia pura-pura menguap dengan wajah yang dicondongkan ke wajah istrinya.


“Bangun sayang! Sudah jam 04:20 menit, sebentar lagi waktu shalat subuh.” Karena tak mendapat respon dari istrinya, ia mencium keningnya terlebih dahulu.


“Bangunlah Nyonya Nagara! Apa kamu masih kelelahan karena kegiatan kita semalam? Maaf, saya membuatmu bergadang!” Melvin kini bergantian mencium pipi istrinya dengan harapan ia akan bangun mengakhiri kepura-puraannya. Namun yang ada, Meida masih memejamkan matanya dengan wajahnya yang bagaikan kepiting rebus dengan nafas beratnya. Ia pun tersenyum licik ketika mengingat ide yang terlintas begitu saja dibenaknya.


“Saya harap dengan ini kamu bangun sayang.” Tangan Melvin dengan jahil menurunkan selimut istrinya sedikit, yang kini mengekspos punggung polosnya. Ia menatap punggung itu dengan mengerutkan alisnya bingung, melihat 3 bekas jahitan dan satu luka yang menggores punggungnya membentuk horizontal sepanjang 5 cm.

__ADS_1


Luka bekas apa ini? Yang 3 ini saya tahu, luka bekas jahitan akibat peluru. Sedangkan yang ini, saya baru melihatnya.


Batinnya menatap bekas luka di punggung istrinya dengan wajah bertanya-tanya. Ia dengan lembut mencium bekas luka itu bergantian. Meida menggigit bibirnya dengan menahan nafasnya dengan tubuh panas dingin, ketika suaminya mencium punggungnya. Ia di buat menyerah ketika suaminya menghisap punggung polosnya dan meninggalkan tanda merah disana.


“By, udah! Aku bangun bangun!” Melvin langsung melepaskan bibir dari kulit punggung istrinya dengan tersenyum.


Akhirnya kamu menyerah juga sayang. Gumam pelannya sambil merubah posisi yang kini berhadapan dengan istrinya.


“Kenapa kamu susah dibangunin? Hanya dengan cara ekstrim, saya baru bisa membangunkan mu. Tapi gak papa, saya gak keberatan kok ngebangunin kamu seperti ini setiap pagi.” Goda Melvin mengedipkan sebelah matanya. Menatap wajah istrinya yang tegang dengan menyembunyikan setengah wajahnya dengan selimut.


“By, aku malu sama kamu.” Sahut pelan Meida yang langsung memeluk tubuh suaminya. Ia tak punya keberanian untuk menatap wajah suaminya setelah kejadian semalam. Melvin terkekeh dengan mengelus-elus pundak istrinya.


“Ngapain harus malu? Kita berhak melihat satu sama lain. Sekarang kamu mandi, sebentar lagi adzan subuh.” Meida meleraikan pelukannya dengan wajah menunduk tanpa melihat suaminya. Ia perlahan-lahan bangun, dengan selimut yang melingkar di atas dadanya.


“Tunggu sebentar sayang!” Melvin langsung terbangun dan duduk di samping istrinya. Memegang lembut bahunya dengan merapikan anak rambut Meida ke telinganya.


“Kamu mau apa By?” Tanya panik Meida ketika Melvin memegang lembut anting yang berada di telinganya.


“Aku mau lepas anting-anting kamu.” Jawab pelan Melvin. Meida langsung memegang tangan suaminyadengan menggelengkan kepalanya.


“Gak usah di lepas By. Anting-anting aku gak bisa di jual, nota pembeliannya sudah hilang! Kalau pun di jual harganya pasti murah,” ujar Meida sambil memegang anting rabunya yang dibelikan Ummah dan Abi nya dulu. Melvin menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.


“Sayang, anting kamu saya lepas, bukan untuk di jual. Saya masih ingat nasihat dari Buya Hanafi ketika ada pengajian dulu. Dia bilang, setiap istri yang hendak mandi wajib setelah berjima' dengan suaminya. Tugas suaminya adalah melepas anting-antingnya, agar air bersuci masuk ke dalam lubang sini.” Terang Melvin sambil membuka anting istrinya, dan menunjuk lubang kecil bekas tindikan di daun telinganya.


“Bagaimana jika seseorang suami tak melepaskan anting-anting istrinya ketika akan melakukan mandi wajib?” Melvin mengerucutkan bibirnya pertanda berpikir sambil menyimpan anting-anting istrinya di atas nakas.


“Wallahu a'lam. Jika tak tahu, yah gak papa. Allah maha pengampun atas kealfaan hambanya. Jika sudah tahu, yah harus di jalani. Kan sudah tahu? Jadi nanti kamu ingetin saya yah, jika saya lupa melepas anting-anting mu ketika akan melakukan mandi wajib.” Meida menganggukkan kepalanya dengan wajah merah merona. Melvin merapikan rambut istrinya kebelakang, lalu mencium pelipisnya.


“By jangan di tindih selimutnya. Aku mau mandi!” Melvin menggeserkan tubuhnya lalu mengangkat selimut yang di tindihnya dengan memegang ujungnya,


“Gak usah pake selimut aja sayang! Lagian saya sudah melihat semuanya, dari atas sampai bawah! Dari ujung rambut sampai ujung kaki.” Kekehnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Jangan mesum, masih pagi!” Sewot Meida dengan wajah memerah. Ia perlahan-lahan berdiri dengan membelalakan matanya, dan  langsung kembali duduk sambil menggigit bibirnya, merasakan sakit yang teramat dalam pada area intimnya. Melvin langsung menghampiri istrinya, memegang bahunya dengan panik.


“Kamu kenapa sayang?” Meida memejamkan matanya. Menarik nafasnya dengan teratur.


“By sakit. Ini gara-gara kamu sih! Semalaman ngebombardir pertahanan aku, ini aku sakit.” Lirih Meida mencengkeram selimutnya erat menunjuk kearah bawahnya. Melvin  menatap istrinya dengan rasa bersalah, tangannya dengan lembut mengusap-ngusap pundaknya.


“Iya iya maaf, saya yang salah. Lagian kamu semalam menikmatinya kan, sampai merem melek? Malam, saya benar-benar khilaf.” Meida langsung mencebikkan bibirnya memukul lengan suaminya keras hingga Melvin  mengaduh memegang pahanya yang terbungkus sarung.


“Aku bilang stop it. Kamu terus aja lanjut, sampai aku ketiduran. Kamu semalam melakukan berapa kali?” Melvin menghitung jarinya dengan tersenyum.


“Aku tidak ingat sayang, yang pasti lebih dari sekali. Sini saya lihat?” Meida kembali memukul lengan suaminya yang akan mengangkat kakinya. Ia sampai tak sadar, selimut yang menutupi dadanya melorot sampai perut. Melvin tertawa melihat kearah istrinya dengan tersenyum smirik.

__ADS_1


“Kamu ingin menggodaku sayang?” Tunjuk Melvin melihat buah dada istrinya yang menggantung dengan beberapa tanda merah dengan ekor matanya. Meida langsung menutup dadanya lalu mendorong bahu suaminya kesal hingga jatuh ke lantai.


“Otak kamu benar-benar mesum By!” Sungut Meida yang berusaha berdiri dengan menumpu sebelah tangan ke sisi ranjang. Ia berjalan dengan pelan-pelan sambil memegang selimut yang melingkar di tubuh mungilnya.


Melihat istrinya yang berjalan bagai siput. Melvin berjalan kearah istrinya, lalu membopong tubuhnya menuju kamar mandi.


“By lepasin! Kamu jangan mesum!” Meida memukul-mukul pelan bahu suaminya untuk melepaskannya. Bukannya melepaskan, melvin malah membungkam mulutnya istrinya dengan bibirnya.


“Jangan teriak-teriak, sayang! Lagi adzan!” Bisik pelan Melvin ketika mendengar suara Adzan berkumandang yang terdengar sampai kamarnya. Meida pun langsung terdiam, dengan menatap wajah suaminya sambil tersenyum-senyum.


-


-


☕☕☕☕☕☕☕♥️♥️♥️♥️, votenya jangan lupa 😘😘😘


Like, komen nya di tunggu 🤗🤗🤗


Do'a suami istri agar saling mencintai,


Agar cinta Moms dan Dads tetap Allah jaga, berikut adalah amalan doanya:


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ


Artinya: "Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS Ali Imran: 31).


Dan untuk suami yang harus melepaskan anting-anting istri, otor pernah dengar dari kajian seorang Ustadz dari Sukabumi, lupa lagi namanya hehe. Pokoknya waktu tahun 2016, waktu otor masih duduk di bangku SMK. Kebetulan waktu itu ada acara hari besar Islam sehingga mendatangkan seorang ustadz dari jauh. Isi kajiannya waktu itu tentang mandi wajib, ketika mendengarkan keterangan ini, hebohlah para guru perempuan. Karena mereka pun baru mengetahui keterangan tentang ini  hari itu. Kajian itu pun berubah singkat menjadi sesi tanya jawab😂 Pokoknya kalau inget itu suka lucu, lihat wajah paniknya ibu-ibu 🤭


“Aduh, gimana ini Pak Ustadz? Dari dulu sampai saya punya anak 4, suami saya belum pernah melepaskan anting saya. Saya pun udah 1 tahun gak ngelepasin anting saya. Apa mandi wajib saya selama ini sia-sia?”


Itulah pertanyaan salah satu guru yang terngiang-ngiang di otak otor yang membuat heboh seantero sekolah, kebetulan lagi semua guru dan siswa berkumpul di lapangan. Apalagi ketika mendengar ini, murid laki-lakinya yang paling bersemangat.


“Bu, jangan cemari otak suci kami!” Ibu guru itu pun tersenyum dengan wajah malunya,


“Ini edukasi anak-anak! Ilmu buat kalian nanti.”


Dan bersambung.


Otor pun gak tahu sumbernya dari kitab mana, otor hanya membagi sedikit pengetahuan otor pada emak-emak pembaca setia NT. Semoga bermanfaat 🤗😘


Gomawoooo 😘😘😘♥️♥️♥️


 

__ADS_1


__ADS_2