Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Tentang Jack


__ADS_3

“Mih, Melisa mana? Tumben belum turun makan udah jam segini.” Tanya Melvin heran menatap sang Mamih yang baru duduk di kursi di samping Nagara tanpa melihat kehadiran adiknya yang terkenal cerewet. Ia menatap dalam kursi yang biasa digunakan Melisa yang kini terlihat kosong, dan sedari siang ia tak melihat kehadiran adiknya yang biasa wara wiri di rumahnya tersebut. Helena menggelung rambutnya keatas, lalu menjawab pertanyaan putra nya.


“Adikmu tadi izin pergi, dia di jemput Jack sekitar jam 19:00. Katanya sih ada bisnis penting, tapi dia gak bilang sama Mamih mau kemana-mananya?”  Jawab Helena dengan tangan telaten mengambil makan malam untuk suaminya. Meida yang sedang mengambil nasi pun bingung, ketika mendengar Jack dan Melisa pergi bersama.


Ada bisnis apa mereka malam-malam? Aku baru tahu, ternyata Melisa dekat dengan Jack, sepupu menyebalkan ku.


“Melisa mengenakan apa Mih?”  Tanya Melvin yang kembali menatap Mamih nya yang sedang menuangkan kuah di piring suaminya. Ia memang terkenal protektif terhadap adiknya, ia tak akan mengizinkan adiknya pergi di malam hari jika mengenakan dress, baju ketat, ataupun rok.


“Melisa mengenakan celana jeans sama kemeja Ko. Gak terbuka. Jika dia pakai yang ketat-ketat, malu lah dia sama Jack. Jack terlihat religi seperti itu.” Jawab Helena dengan tersenyum. Ia mengerti kekhawatiran yang Melvin rasakan pada adik perempuannya. Yang selalu ia jaga, agar tidak menjadi korban pelecehan seperti orang lain.


“Syukurlah. Koko hanya khawatir aja Mih. Kejahatan pada malam hari sasarannya banyak perempuan, di berita setiap hari pasti ada aja berarti tentang pelecehan s*ksual, pemerk*saan, penculikan. Makanya Koko menyuruh Melisa jika berpergian pada malam hari wajib menggunakan celana, karena itu merupakan salah satu cara untuk melindungi dirinya sendiri.” Nagara yang sedang mengunyah makanan pun tersenyum mendengar perkataan Putra-nya. Yang begitu menjaga dan menganyomi adik perempuannya, sifat tanggung jawabnya tak berubah walaupun sudah menikah.


“Papih percaya sama Jack. Dia lelaki baik, dia sudah berjanji pada papih untuk membawa Melisa kembali. Jam 22:00 Melisa harus sudah ada di rumah, dan Jack pun sudah menyanggupinya.” Melvin pun menganggukkan kepalanya dengan menghela nafas.


“Koko pun percaya dengan Jack, dia lelaki baik dan bertanggungjawab. Dia seorang lelaki yang tulus dan berhati lembut. Namun yang koko takut kan adalah keselamatan mereka, itu saja.” Meida mengusap lengan suaminya dengan tersenyum.


“Mereka akan baik-baik saja. Jack lelaki yang bisa diandalkan By. Don't worry!” Sahut Meida seraya menuangkan satu sendok sambal di piringnya. Ia mengambil sendok lalu menyuapi suaminya. Helena menukikkan alis melihat kearah pengantin baru yang sedang makan sepiring berdua dengan saling menyuapi.


“Piring masih ada, kenapa kalian makan sepiring berdua? Gak bakalan kenyang! Tuhh piring masih ada.” Tunjuk Helena kearah piring yang berada di samping Melvin. Nagara yang duduk di samping istrinya pun mencubik pelan lengan nya sambil terkekeh.


“Mih peka dikit. Mereka itu pengantin baru, lagi romantis-romantisnya.” Ledek Nagara melihat kearah Putra dan menantunya yang sedang tersenyum dengan wajah memerah.


“Iya Pih, Mamih kayak yang gak pernah muda aja. Pih, suapin mamih, kayaknya mamih ngiler deh lihat koko nyuapin Meida.” Kekeh Melvin menyembunyikan rasa malu dengan meledek kembali Mamih nya. Dengan telaten tangannya menyuapi istrinya yang sedang tersenyum sambil menunduk.


Dengan jahil Nagara menyuapkan makanan ke mulut istrinya yang sedang tersipu malu,


“Biar kayak pengantin lagi Mih! Jangan kalah sama pengantin baru.” Kekeh Nagara yang sedang mengusap rambut istrinya yang sedang mengunyah makanan yang disuapinya.


“Melisa sepertinya berteman dekat dengan Jack. Bagaimana menurutmu, Nak?” Melvin menatap lembut kearah istrinya, untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Papihnya. Karena Meida orang yang lebih tahu tentang kepribadian Jack.


“Jack anaknya baik dan menyenangkan Pih. Jiwa sosialnya tinggi, dia penyayang, dan pikirannya pun sangat dewasa. Jika Daddy ataupun Ko Andress ada masalah, Jack selalu dilibatkan. Dia selalu menjadi penengah, dia sangat bisa diandalkan.” Tutur Meida menerangkan kepribadian sepupu lelakinya dengan tersenyum. Ia kembali menyuapi bayi besarnya yang sedang cemberut.


“Mamih juga sepemikiran dengan mu Meida. Dia  menyenangkan dan humble, dan sikapnya sopan pada siapapun.” Sahut Helena yang sedang mengunyah makanan yang berada di mulutnya.

__ADS_1


“Orang tua Jack dimana? Mamih dan Papih tidak pernah melihatnya.” Meida menarik nafasnya dalam dengan mata menerawang kearah sendok yang berada ditangannya.


“Jack sudah tak memiliki orang tua sejak kecil Pih. Orang tua nya meninggal saat kecelakaan pesawat ketika menjemputnya di rumah neneknya di Busan. Ia hidup bersama Oma Lee sampai Oma meninggal. Setelah oma meninggal, ia memutuskan hidup mandiri dengan harta peninggalan kedua orangtuanya. Dia yatim piatu sejak kecil Pih.” Tutur pelan Meida sambil menghapus sudut matanya. Jalan hidup Jack dan jalan hidupnya tak jauh berbeda, sama-sama pernah merasakan penderitaan dan kehilangan.


“Ya Tuhan, ternyata dia yatim piatu. Pantas saja Mamih sering memergoki nya menyusut sudut matanya ketika kita sedang berkumpul. Lalu ia kembali tersenyum jika melihat keluarga mu, tapi sorot matanya masih menyiratkan sebuah kesedihan.” Meida menganggukkan kepala dengan mengunyah pelan nasi yang berada di mulutnya.


“Iya Mih. Dalam hatinya ia sangat kesepian, tapi ia berusaha ceria untuk menutupi rasa kesepiannya.” Nagara menyimak pembicaraan menantu dan istrinya. Ia mengambil gelas, lalu meminum air yang berada di dalamnya.


“Sejak kapan dia tinggal disini?”  Tanya Nagara yang kembali meletakkan gelas di depannya. Ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya dengan pelan.


“Jack pernah cerita, dia kesini sekitar 6 tahun lalu Pih. Ketika ko Andress koma dan Mommy sakit, dia datang kesini untuk mengobati mereka. Ia sangat menyayangi Mommy, karena Mommy bibi perempuan yang paling perhatian padanya. Ia memutuskan pindah kesini, karena Mommy sakit, dan daddy yang memintanya.” Terang Meida dengan suara lirih nya. Melvin mengusap-usap pundak istrinya lembut, matanya tak beralih menatap wajah sendu istrinya.


“Hati Mamih tiba-tiba mencelos setelah mendengar cerita tentang nya. He's very strong. Mamih salut sama dia.” Helena menyusut sudut matanya. Ia terbawa suasana ketika mendengar penuturan tentang Jack dari  menantunya tersebut.


“Papih pun sama. Tanpa kehadiran orang tua, tidak membuatnya kehilangan arah. Hidupnya punya arah, dia memang lelaki tangguh.” Sahut Nagara sambil menyelesaikan makannya.


-


“Terima kasih Jack, karena kamu telah bersedia membantuku, apalagi sampai menjemput ku ke rumah. Gomawooo.” Jack mengecilkan suara audio dalam mobilnya. Tangan nya kembali memegang kemudi dengan mata lurus ke depan dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


“Saya hanya memastikan kamu tidak pergi kesana sendirian, karena itu tempat yang sangat berbahaya untuk kamu. Kamu tahu? Saya sampai menjilat ludah saya sendiri, dengan mengantar mu kesana. Jadi jangan sia-siakan pengorbanan saya.” Sahut Jack sambil melirik sebentar kearah Melisa yang sedang menggigit punggung tangannya. Melisa menolehkan mata kearah Jack yang sedang mengemudikan mobilnya.


“Apa kamu mengkhawatirkan ku Jack?” Jack langsung menginjak rem mobilnya mendadak. Ia menggaruk tengkuk lehernya dengan menelan salivanya kasar.


Jika saya tak mengkhawatirkan mu, mana mau saya mengantarmu kesana malam-malam. Batin Jack sambil melihat kearah Melisa yang sedang menundukkan wajah dengan ekor matanya. Ia berdehem terlebih dahulu, lalu menjawab pertanyaan wanita yang berada disampingnya.


“Tentu saja saya mengkhawatirkan mu, karena kamu perempuan Melisa. Bukankah perempuan harus dilindungi?” Jawab singkat Jack tanpa melihat wajah Melisa yang nampak terpaku oleh ucapannya. Ia kembali melajukan mobilnya dengan normal.


“Saya paling tak bisa melihat perempuan teraniaya, ataupun tertindas. Entahlah, saya paling tak tega melihat perempuan yang menangis.” Melisa mengangkat sebentar kepalanya lalu melihat Jack dengan mata terpukau.


Jack memang lelaki berhati tulus dan lembut, dia sifatnya tak jauh berbeda dengan ko Melvin. Ya Tuhan, aku merasa seperti wanita yang terlindungi bila berada didekatnya. Sisakan 1 saja lelaki untuk ku seperti Jack Tuhan.


Batin Melisa dengan mata tak beralih menatap wajah Jack yang terlihat menawan dari arah samping. Untuk pertama kalinya ia berani menatap wajah Jack dengan selama itu.

__ADS_1


“Melisa, saya belum shalat isya. Gak papa kan kita mampir dulu sebentar ke Masjid? Saya janji gak bakalan lama, palingan sekitar 15 menit.” Melisa langsung menolehkan kepalanya melihat kearah luar, ketika Jack menolehkan kepala kearahnya dengan tiba-tiba. Ia mengelus dadanya berulang-ulang untuk menetralkan detak jantung dan nafas nya yang terdengar menderu.


Ternyata Jack seorang pemeluk agama yang taat seperti kakak ipar dan Bu Ina.l


“Tapi aku non muslim Jack. Dimana aku harus menunggu mu?” Tanya Melisa tanpa berani melihat wajah santai Jack yang kepalanya sedang melirik ke kiri ke kanan untuk mencari sebuah Masjid.


“Di dalam mobil boleh, di luar masjid pun boleh. Maaf! Asal jangan sampai masuk ke dalam.” Melisa menganggukkan kepala dengan mencepol rambutnya sembarangan. Hingga beberapa anak rambutnya masih tergerai di depan telinganya.


“Kalau itu aku tahu Jack. Aku tak bisa memasuki tempat ibadah mu. Baiklah, nanti aku menunggu mu di luar saja.” Jack menganggukkan kepala dengan tersenyum. Memelankan laju mobilnya, mencari sebuah masjid untuk melaksanakan kewajibannya.


“Yaudah, sekarang saya cari Masjid dulu.”


“Silahkan Jack. Disana sepertinya ada masjid! Aku sering melihatnya ketika melewati jalan ini.” Tunjuk Melisa kearah kubah yang tidak jauh berada di depan mereka. Jack mengikuti arah telunjuk yang Melisa tunjukkan, dan mengikuti arahan wanita di sampingnya. Ia memarkirkan mobil di pelantara Masjid yang tidak terlalu besar.


“Kamu mau nunggu dimana?” Tanya nya sambil mematikan mesin mobil. Ia menatap kearah wanita cantik yang berada disampingnya dengan menumpukkan kepala di kemudi mobilnya.


“Aku nunggu disini saja Jack! Jika bosan disini, aku pasti keluar.” Jack menganggukkan kepala samar lalu keluar dari mobil tersebut dengan melambaikan tangan sebentar kearah Melisa.


“Tunggu disekitaran sini! Jangan kemana-mana!” Melisa pun tersenyum dengan mata membentuk bulan sabit. Ia pun membalas lambaian tangan Jack dengan tersipu,


Jack pandai sekali membuat hati ku berbunga-bunga seperti ini. Dia memang pandai membuat ku spot jantung.


Kekeh Melisa melihat kearah Jack sampai menghilang dari pandangan matanya.


-


Wilujeng dinten senin😘😘😘


Tong hilap vote sama ☕☕☕ nya mumpung hari senin wkwkwk


Komen nya tong pelit-pelit 🤗😘😘😘♥️♥️♥️♥️


Gomawooo 😘

__ADS_1


__ADS_2