
Di gazebo belakang, yang dikelilingi bermacam jenis bunga dan kolam ikan. Melvin dan Andress duduk berdua sambil menikmati pagi dengan secangkir kopi yang asapnya masih mengepul. Mereka sengaja memisahkan diri dari keramaian, memilih tempat sepi untuk menyendiri.
“Kau jadi pindah hari ini?” Tanya Andress sambil meletakkan cangkir kopi di depannya. Melvin meminum kopinya terlebih dahulu, lalu meletakkannya di pinggir kursi kayunya. Matanya tak beralih dari kolam ikan.
“Iya Ko. Siang nanti, saya dan Meida akan pulang ke rumah kami yang berada di kota Malang.” Jawab Melvin sambil tersenyum lepas. Andress menarik napasnya pelan, ia kembali meminum kopinya dengan mata melihat kearah daun yang bergoyang di terpa angin.
“Secepat itu?” Tanya Andress kembali dengan wajah yang terlihat keberatan. Tak dipungkiri ada sebercak kesedihan yang tiba-tiba menyelusup di hatinya, ketika mendengar adik perempuannya akan di bawa pergi oleh suaminya.
Melvin menggulung kemeja biru yang dikenakan nya sampai siku, lalu menselonjorkan kaki panjangnya kearah depan.
“Iya Ko, kami akan pulang ke rumah yang selama ini saya siapkan. Tadinya kami berharap kalian akan mengantar kami. Tapi hari ini bertepatan dengan diplarungkannya abu jenazah Nyonya Grace di pantai, sehingga kalian tak bisa mengantarkan kami.” Andress menganggukkan kepalanya mendengarkan penuturan adik iparnya dengan seksama. Wajahnya tak bisa menutupi rasa sedihnya. Ia berusaha ikhlas dan tegar, menerima garis takdir yang telah diperuntukkan untuknya.
Titik terbesar dalam hidup adalah mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia, walaupun bukan dengan kita. Awalnya memang sakit, tapi nanti akan terbiasa dengan sendirinya. Walaupun butuh kepura-puraan untuk berusaha tersenyum.
Percayalah, orang yang paling besar tawanya, paling lebar senyumnya, adalah orang yang sangat rapuh. Ia hanya berpura-pura bahagia, untuk menutupi duka lara nya.
“Vin, tolong jaga adik saya dengan baik. Jangan pernah menyakitinya, jika kau sampai menyakitinya, sama saja kau menyakiti hati saya.” Lirih Andress dengan pandangan menerawang kearah beberapa ikan di kolam.
Tak dipungkiri, rasa itu masih ada. Walaupun dengan sekuat tenaga ia berusaha menghalaunya. Bukankah mengobati rasa sakit itu butuh waktu? Itulah yang tengah Andress rasakan sekarang.
“Ko, saya tak mungkin menyakitinya. Saya mencintainya lebih dari hidup saya. Saya akan menjaga dia dengan sebaik-baiknya. Entahlah, ketakutkan terbesar saya sekarang adalah kehilangannya. Dia adalah hidup saya. Tanpa dia, apalah arti hidup saya ini. Dia berhasil membuat saya tergila-gila padanya.”
Andress tersenyum getir mendengar penuturan Melvin. Seharusnya ia senang dan tenang setelah mendengar penuturan adik iparnya yang akan mencintai dan menjaga adiknya sepenuh hati. Tapi kenapa, hati kecilnya malah terluka seperti tertancap belati tajam.
Mungkin melanjutkan study ke luar Negeri adalah pilihan terbaik. Melihat mereka tersenyum bahagia, membuat hati saya seakan tercubit dan kembali sakit.
Tuhan, jika pergi nanti adalah jalan terbaik saya. Berkati setiap langkah saya, saya pun ingin bahagia. Berikan saya penggantinya. Temukan saya dengan cinta sejati saya.
Andress mengusap sudut matanya yang tiba-tiba berair. Gejolak batinnya, cukup dia dan Tuhan saja yang tahu.
“Saya pegang kata-kata mu Vin. Jika kamu menyakitinya, saya akan mengambilnya dari mu, saya akan membawanya pergi jauh, saya tidak akan pernah mempertemukan kalian lagi. Saya melepaskan nya padamu agar dia bahagia, karena saya tahu kamu adalah kebahagiaannya. Saya ingin adik saya bahagia, walaupun saya yang terluka.” Parau Andress dengan wajah sendunya. Melvin menolehkan kepala kearah kakak iparnya dengan bingung, setelah mendengar perkataan terakhirnya.
“Saya janji Ko. Kebahagiaan Meida adalah prioritas utama saya.” Janji Melvin tersenyum sambil menjabat tangannya di tengah kebingungannya.
__ADS_1
Andress kembali menerawang pandangannya melihat kearah pelayan yang sedang hilir-mudik di depannya. Sekali-kali ia melihat kearah keluarganya yang berada di balik ruang yang sedang sibuk mempersiapkan penampilannya.
Da berjalan kearah kolam ikan dengan membawa pakan di tangannya.
Syurrr
Satu genggaman pakan di lemparkannya ke kolam, hingga ikan berebut untuk mendapatkan sumber makanannya.
“Vin, pertama kali saya melihat istri mu, ketika saya sedang bekerja di Rumah Sakit Tarakan di Jakarta. Pertama kali melihatnya, wajah istri mu terlihat sembab, tapi pura-pura tegar. Pertemuan pertama kami, membuat saya langsung jatuh hati padanya.” Andress kembali mengisahkan awal pertemuan dengan adik perempuannya. Melvin membelalakkan matanya mendengar pengakuan kakak iparnya, ia membiarkan isi cangkir kopi yang di pegangnya tumpah membasahi celana Chino nya.
Ya Allah, apa dia mencintai adiknya sendiri?
Andress menarik nafasnya dalam tanpa melihat kearah wajah Melvin yang masih terlihat shock.
“Setelah pertemuan itu, wajahnya selalu terbayang-bayang di mata saya. Hari demi hari, saya mencarinya di samping mencari keberadaan adik saya yang hilang. Sampai saya di pindahkan tugas ke rumah sakit ini, saya masih menunggunya. Saya kira pertemuan saya dengannya adalah karena jodoh, nyatanya pertemuan kita karena takdir. Takdir yang menggariskan dia sebagai adik saya yang hilang.” Kekeh getir Andress dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia berusaha tegar, dengan memasang topeng bahagianya. Ia sudah berjanji untuk menghapus rasa pada Meida, menjadi kakak terbaik yang bisa mengayomi adik-adiknya. Tapi itu semua butuh proses, ia harus mengobati luka hati nya terlebih dahulu.
Melisa, malang sekali nasib mu Dek. Lelaki yang kamu tunggu selama 8 tahun ini ternyata mencintai orang lain. Apa ini alasan mu menangis kemarin? Apa kau patah hati karena ini? Sadarlah, cinta mu bertepuk sebelah tangan. Jangan mengharapkan orang yang tak mencintaimu, itu sakit Dek.
Batin Melvin mengingat tentang adik perempuannya yang mencintai kakak iparnya sekarang. Namun penantiannya terasa sia-sia,
Gumam Melvin dalam hati sambil menatap punggung Andress yang berada di depannya. Ia pun berjalan kearah kakak iparnya dan berdiri disampingnya.
“Ko, apa maksud dari perkataan koko sebenarnya? Apa koko mencintai Meida?” Andress tersenyum sendu kearah Melvin dengan membagi pakan yang berada ditangannya. Ia kembali melemparkannya ke kolam.
“Melvin, bagaimana perasaan mu jika kita bertemu dengan orang yang kita cintai yang selama ini kita cari? Tapi takdir seakan menampar kita dengan keras, melihat kenyataan bahwa orang yang kita cintai selama ini, memiliki darah dan garis keturunan yang sama dengan kita. Itulah yang saya rasakan. Saya mencintai Meida, sebelum mengetahui jika dia adalah adik saya, yang selama ini saya cari.”
Hati Melvin semakin tak karuan mendengar kejujuran kakak iparnya. Ia seakan tak percaya sekaligus merasa iba dengan takdir yang menimpanya. Tapi dia bersyukur dengan takdir itu. Karena takdir lewat itu, ia akhirnya bisa menikahi wanita yang dicintainya walaupun banyak halangan.
“Koko sungguh mencintainya?” Tanya ulangnya sambil melemparkan pakan ke kolam ikan. Mereka seperti orang yang sudah lama dekat, padahal kenyataannya, mereka baru pertama kalinya bercengkrama dengan sedekat itu.
“Yah, saya mencintainya seperti lelaki dewasa yang mencintai lawan jenisnya. Tapi kini, saya mencintainya sebagai adik kandung saya. Saya sengaja mengungkapkan isi hati saya padamu agar kita sama-sama terbuka, saya tak ingin diantara kita ada yang di tutup-tutupi.” Andress menolehkan kepalanya kearah Melvin. Matanya nampak memerah, terdapat gurat kesedihan yang kentara di garis wajahnya. Namun ia berusaha tegar, dengan melengkungkan bibirnya walaupun saling bertolak belakang dengan matanya.
“Jadi saya memohon padamu sebagai sebagai seorang kakak. Jangan pernah menyakitinya, karena sama saja kau menyakiti hati saya. Saya ikhlaskan dia bersama mu, setidaknya dengan mu saya tenang. Karena kamu adalah lelaki baik.” Melvin menggeser posisi berdirinya, dan kini berada di dekat kakak iparnya yang sedang menundukkan wajahnya.
__ADS_1
“Awalnya hati saya hancur menerima kenyataan ini, tapi apa daya. Saya tak bisa memperjuangkan cinta saya karena terhalang tembok yang begitu tinggi, yang tak mungkin bisa saya robohkan. Saya hanya mampu menerimanya dengan lapang. Saya tak bisa menolak garis yang telah Tuhan berikan untuk hidup saya. Bukankah pasrah dan menerima adalah jalan yang terbaik? Bukankah melihat dia bahagia saya pun akan bahagia?” Suara parau andress, membuat pilu hati Melvin. Walaupun ia tak merasakannya, tapi ia dapat mengerti rasa sakit yang begitu dalam yang dirasakan kakak iparnya. Ternyata selama ini mereka mencintai wanita yang sama. Melvin menahan air matanya, merasakan kegetiran hati yang kakak iparnya rasakan.
Andai saja kita tak mencintai wanita yang sama, mungkin keadaan mu tak akan sehancur ini. Saya sangat mencintainya, begitupun kamu. Saya tak mungkin melepasnya, hidup tanpa nya pun saya tak sanggup
Batin pilu Melvin menghapus sudut matanya lalu menepuk-nepuk pundak kakak iparnya yang masih tertunduk.
“Apa karena alasan ini, koko melanjutkan studi keluar Negeri?” Andress mengangkat wajahnya. Matanya menatap kearah langit agar air matanya tak jatuh. Di raut wajahnya, tersimpan beribu harapan dan do'a.
“Saya ingin menemukan cinta sejati saya sama seperti mu Vin. Saya harus melanjutkan hidup saya, menemukan kebahagiaan yang saya cari. Jika saya terus disini, mungkin itu akan menyulitkan hidup saya. Karena mengobati luka hati itu butuh proses, tak instan walaupun kita sudah berusaha. Mungkin dengan pergi jauh adalah jalan terbaik untuk melupakannya. Nanti, Saya datang, bukan lagi sebagai seorang yang pernah mencintainya, tapi sebagai kakak terbaiknya.” Senyum getir Andress tersungging di bibir merah alaminya. Setetes air mata menetes diwajahnya, dengan cepat ia langsung menghapusnya.
“Pura-pura baik-baik saja ternyata tak mudah.” Gumam pelannya sambil memejamkan matanya. Melvin kembali tersentuh dengan keadaan kakak iparnya. Ia pikir kakak iparnya adalah sosok seorang yang periang, penyayang, dan bijaksana. Namun nyatanya, kakak iparnya ternyata rapuh. Tawa dan senyumnya selama ini, hanyalah kedok untuk menutupi luka batinnya.
“Mendengar cerita mu saya sangat bersimpati Ko. Tapi saya sangat mencintai adikmu. Entahlah, saya bingung harus berbuat apa?” Lirih Melvin dengan menyandarkan dirinya di tiang besi yang digunakan untuk menyangga sisi gazebo tersebut. Andress langsung memandangnya dalam,
“Bahagiakan dia. Karena kebahagiaan dia adalah kebahagiaan saya. Jaga dia dengan sepenuh hatimu, perlakukan dia dengan sebaik-baiknya, cintai dia dengan jiwa raga mu. Itulah yang saya pinta dari mu. Saya ingin dia hidup bahagia dengan mu.” Sahut Andress dengan tulus. Ia kembali duduk di kursi kayunya menikmati semilir angin pagi yang menelusup kulitnya. Melvin pun terdiam dengan mengikuti langkah kakak iparnya. Setelah ia duduk, ia baru menyahutinya.
“Saya janji ko. Saya akan menepati semua permintaan koko. Saya tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan koko selama ini. Saya sangat berterima kasih, karena Koko telah terbuka pada saya. Terima kasih dengan kebesaran hati koko ini." Melvin kembali menghapus sudut matanya lalu melanjutkan ucapannya,
“Terima kasih telah mengikhlaskan Meida untuk saya. Terima kasih telah mempercayakan dia pada saya.” Andress menolehkan kepalanya sambil menepuk bahu adik iparnya.
“Tak perlu berterima kasih, karena itu yang harus dilakukan oleh seorang kakak pada adiknya. Kamu pun pasti begitu vin, rela berkorban apapun demi adik mu agar dia bahagia.” Andress kembali menyusut sudut matanya, dan kembali berusaha tegar.
“Ketika saya pergi nanti, tolong jaga keluarga saya. Saya hanya bisa memantau mereka dari jarak jauh. Saya mempercayaimu sepenuhnya! Jangan kecewakan saya!” Melvin menganggukkan kepalanya sambil menggenggam lengan kakak iparnya.
“Semoga kalian berdua selalu berada dalam berkat Tuhan. Selalu bahagia, selalu bersama-sama sampai tua.” Melvin mengaminkan do'a tulus yang keluar dari mulut kakak iparnya dengan hati bahagia dan pilu. Ia menggenggam tangannya untuk menguatkannya.
“Semoga koko juga menemukan cinta sejati yang selama ini koko cari. Semoga koko selalu bahagia dimana pun koko berada. Semoga koko segera menemukan pendamping hidup.”
“Amin.”
-
Kuyyy like, komen, vote, sama hadiahnya 😘♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Hatur nuhun buat yang masih stay di novel amatiran ini♥️
Gak bisa ngomong banyak², sukses selalu buat kalian 😘